Arsyila Almahira, seorang mahasiswi tingkat pertama yang berprestasi tetapi mengalami kejadian pahit. Tersebarnya video scandal itu membuat dirinya harus pergi jauh dari ibukota. Ayahnya bahkan mengusirnya dari rumah dan tak lagi menganggapnya anak.
Arsyila memutuskan untuk merubah penampilannya menjadi wanita bercadar. Ia berpindah kuliah di universitas Islam dengan jurusan berbeda dari sebelumnya. Ia juga tinggal di pesantren untuk memperdalam ilmu agamanya. Jujur, kejadian yang menimpanya membuatnya sedikit trauma dan berniat untuk memperbaiki diri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amallia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode.10
Arsyila mencoba menutup mata dan telinganya jika ada yang menggosipinya. Ia sudah tak lagi sakit hati mendengar apa pun yang dikatakan oleh orang lain. Ya, ia memang bukan wanita suci, tapi setidaknya masih banyak kesempatan untuknya memperbaiki diri. Biarlah orang lain menghakimi dan memandangnya rendah. Ia tak mau peduli lagi apa kata orang.
"Assalamu'allaikum, Arsyila," ucap Gus Ilham saat berpapasan dengan Arsyila.
"Waalaikum'sallam, Gus," jawabnya sambil menunduk.
"Bagaimana kabarmu?" tanya Gus Ilham.
"Seperti yang Gus lihat, saya baik-baik saja. Kalau begitu saya permisi dulu." Arsyila berjalan cepat dari sana, mencoba menghindar dari Gus Ilham.
Walaupun sudah terlihat biasa-biasa saja tetapi tidak dengan hatinya. Jujur, Arsyila masih mengharapkan Gus Ilham. Namun, ia sadar diri, yang di harapkan tak mungkin bisa ia gapai. Perbedaan keduanya bagikan langit dan bumi.
Arsyila mengusap air matanya yang menetes begitu saja.
'Kenapa rasanya menyakitkan?' batin Arsyila.
Ia merasa jika cintanya kini bertepuk sebelah tangan. Padahal Gus Ilham juga masih memiliki rasa kepadanya. Hanya saja terpaksa menerima perjodohan itu karena mendapat ancaman. Jika ia menolak maka Arsyila akan di keluarkan dari pesantren karena skandalnya itu. Tentu Gus Ilham ingin melindungi Arsyila, bahkan ia rela mengorbankan perasaannya.
Adam menghampiri Gus Ilham yang sedang menatap ke arah asrama putri. "Kak, boleh pinjam ponsel sebentar?"
Gus Ilham mengalihkan arah pandangnha sehingga kini menatap Adam. "Untuk apa?"
"Aku mau menghubungi Mamah," ucapnya.
"Baiklah, ayo ikut kakak!" ajaknya.
Adam mengikuti Gue Ilham yang sudah melangkah duluan. Kini Adam langsung saja menelepon ibunya. Ia berbicara jika ia akan melamar seseorang. Di seberang sana ibunya tampak tertawa. Menganggap omongan anaknya hanya candaan saja. Bahkan Adam diminta untuk fokus kuliah dan mengaji dulu. Soal cinta-cintaan itu urusan belakangan.
Adam menghela napasnya saat panggilan itu sudah berakhir. Ia akan mencari waktu yang tepat untuk mengatakannya lagi kepada orang tuanya. Mungkin nanti, jika mereka kembali dari luar negeri.
...
...
Penyebar gosip Arsyila kini sudah di temukan. Seperti dugaan, mereka adalah Dinda dan Sela. Kini keduanya sedang di panggil oleh pengurus pesantren. Mereka tak bisa berbuat apa-apa lagi selain mengatakan yang sejujurnya. Bahkan ponsel milik Dinda dan Sela disita oleh pengurus.
"Dinda, Sela, kami benar-benar tak habis pikir dengan apa yang kalian lakukan. Kalian harus minta maaf kepada Arsyila karena kalian sudah bersalah dengan menyebarkan gosip. Walaupun itu adalah kebenaran, tetapi apa yang kalian lakukan sudah keterlaluan. Kalian tidak memikirkan bagaimana perasaan Arsyila yang mungkin saja semakin terpuruk," ucap Abah Ahmad kepada mereka.
"Baik, Abah. Nanti kami akan langsung meminta maaf kepada Arsyila," ucap Dinda.
"Bagus, dan sebagai hukumannya besok pagi kalian harus membersihkan kamar mandi di area asrama putri, menyapu halaman depan pesantren, dan membersihkan masjid," ucap Abah Ahmad.
"Maaf, Abah. Apa hukumannya tidak terlalu berlebihan?" tanya Sela.
"Harusnya kalian bersyukur hanya di suruh bersih-bersih. Abah rasa itu hukuman bahkan belum setimpal dengan apa yang Arsyila lakukan. Jadi, apa kalian tak sanggup dengan hukuman itu? Jika tak sanggup nanti saya tambahi lagi."
"Sanggup, Abah," jawab keduanya bersamaan. Mereka tak ingi jika hukumannya ditambah lagi.
Setelah selesai bicara dengan Abah Ahmad, kini mereka kembali ke asrama. Mereka langsung mencari keberadaan Arsyila. Dinda menarik mengajak Arsyila keluar kamar. Di depan beberapa santri putri yang sedang berkumpul, Dinda sengaja berlutut di depan Arsyila lalu Sela juga ikut berlutut. Tingkah keduanya membuat Arsyila tak nyaman.
"Arsyila, maafkan aku ya. Aku sudah bersalah sudah menyebarkan gosip tentangmu," ucap Dinda dengan memperlihatkan raut wajah bersalah.
"Aku juga minta maaf ya. Aku janji tidak akan mengulanginya lagi," sahut Sela sambil menatap Arsyila.
"Aku sudah memaafkan kalian. Kalian berdirilah!" pinta Arsyila.
Mereka berdiri lalu memeluk Arsyila. Semua yang menyaksikan menganggap perminta maafan keduanya tampak tulus. Padahal keduanya hanya akting saja. Setelah melepaskan pelukannya, Dinda dan Sela berpamitan pergi. Sedangkan Arsyila kembali ke kamarnya dengan perasaan lega.
....
....
Keesokan harinya Dinda dan Sela benar-benar menjalankan hukumannya. Namun, mereka di suruh mengenakan papan yang di kalungkan di lehernya. Papan tersebut bertuliskan "Kami tidak akan menyebarkan gosip". Tentu mereka menjadi pusat perhatian. Beberapa santri putri banyak yang menertawakan.
"Sial, ini semua gara-gara cewek so suci itu," gumam Dinda sambil menyapu halaman. Namun, ia sama sekali tak bersemangat.
"Sudah, Din. Lebih baik kita fokus dulu menyelesaikan hukuman kita. Dari pada tidak selesai-selesai. Urusan Arsyila, kita bahas lagi nanti. Sepertinya kita memang harus memberinya pelajaran," ucap Sela.
"Benar juga apa kata kamu." Dinda tersenyum menyeringai.
Arsyila dan Fatimah yang kebetulan lewat menatap ke arah mereka. Dinda atau pun Sela menyunggingkan senyuman kepada Arsyila. Itu membuat Fatimah yang berdiri di samping Arsyila menjadi heran.
"Kenapa duo racun jadi so ramah gitu?" tanya Fatimah kepada Arsyila.
"Mungkin mereka memang sudah berubah," jawab Arsyila yang tak mau ambil pusing.
Berbeda dengan Arsyila yang percaya begitu saja. Fatimah tampak curiga kepada mereka. Sepertinya ada sesuatu yang mereka rencanakan dibalik senyumannya itu.
"Tetap saja kita harus berhati-hati, Cil. Bisa saja mereka bersikap ramah hanya pura-pura saja."
"Jangan suudzon!" ucap Arsyila.
"Tapi setidaknya kamu harus hati-hati. Kita tidak tahu hati orang seperti apa. Entah tulus atau tidaknya."
"Iya, Fa. Aku akan selalu mengingat apa kata kamu," ucapnya sambil tersenyum.
Arsyila dan Fatimah sudah sampai di kamar mereka. Tiba-tiba ada salah satu teman kamarnya yang menghampiri Arsyila.
"Maaf, Cila. Ini ada titipan surat," ucapnya sambil memberikan dua surat kepada Arsyila.
"Oh iya terima kasih," ucap Arsyila.
Arsyila membuka surat itu karena penasaran. Fatimah pun sudah merapatkan badannya, bersiap-siap ikut membaca. Kini keduanya mulai membaca surat yang ternyata adalah surat cinta. Arsyila menanggapinya biasa saja, apalagi saat melihat nama pengirim surat yang tak lain adalah Aldo.
"Gila nih anak bandel berani juga kirim surat ke kamu, Cil. Kamu banyak yang naksir juga ternyata. Lumayan juga nih kalau jadian sama Aldo bisa di jadikan body guard,"ucap Fatimah.
"Kamu bicara apa sih, Fa. Aku nggak mungkin membalas cintanya," kata Arsyila.
"Iya iya aku tahu. Hati kamu sudah tepatri untuk Gus Ilham. Em coba buka surat yang satunya. Aku jadi penasaran. Siapa tahu itu dari pengagum rahasiamu yang lain," ujar Fatimah yang merasa penasaran.
Arsyila mulai membuka surat yang kedua. Senyumannya mengembang saat melihat nama Gus Ilham disana. Perlahan ia mulai membaca surat itu. Ternyata Gus Ilham memintanya untuk terus menunggunya. Begitu pun Gus Ilham yang akan berusaha memperjuangkannya walaupun tanpa restu.
'Bagaimana cinta kita bisa di perjuangkan jika dirimu saja sudah menerima perjodohan dengan orang lain,' batin Arsyila yang tampak kecewa. Ia takut jika Gus Ilham hanya memberikan harapan palsu.
"Lebih baik kamu lupakan saja Gus Ilham, Cil. Aku sedih saat dengar kamu cerita tempo hari. Lagian jangan sampai kamu terkena masalah. Yang di jodohkan dengan Gus Ilham itu anaknya Abah loh. Sainganmu begitu berat," ucap Fatimah memberikan nasihat.
"Akan aku pikirkan, Fa," ucapnya sendu.
hahaha 🤣🤣🤣
kamana wae eta .. 🤣🤣🤣
🤣🤣🤣
saudaranya mungkinn . atau adiknyaa . 🤣🤣🤣🤣🤣
org tua ga tau apa manten baru
pake nannya lagi ga buka pntu lama ngapain . 😝😝😝😝
habs ini apalgi konflik nyaa . 🤣🤣 seruu yaaa.