Semua bermula dari keisengan dan kenakalan remaja SMA, sosok Pandu lelaki badboy terpaksa menikahi teman wanita yang sering ia bully.
Pernikahan yang tidak dilandasi rasa cinta melainkan karena sebuah tanggung jawab karena Pandu telah membuat gadis tersebut buta untuk selamanya.
Akankah kedua musuh ini akan menemukan cinta setelah menikah? Dapatkah Pandu mencintai gadis yang telah di buat buta olehnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Virus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penasaran
Nesty memeluk Pandu dari belakang saat pria itu fokus melihat jalanan. Pandu melihat tabgan Nesty yang mendekapnya dari belakang, terasa tidak nyaman karena di belakang punggungnya terasa dia gundukan besar membuat jiwa laki-lakinya sedikit tegang
"Nes... Lu bisa singkirin tangan ku ga? Risih gue," jujur Pandu
"Gak bisa ndu.. Gue takut jatuh," ucap Nesty
Yaelah bocah manja, gue aja kagak ngebut, batin Pandu
"Gue kan gak ngebut jadi gak bakalan jatuh," ucao Pandu
Nesty tak ada alasan lagi, dengan cemberut ia menurunkan tangannya.
Sesampainya di sebuah toko ponsel, Nesty memilih ponselnya yang baru. Kemudian mencoba kamera terbarunya. Diambilnya pose selfie dirinya dan menunjukkannya pada Pandu
"Bagus ya Ndu," tanya Nesty
"Paan?"
"Lihat nih," Nesty mendekat ke arah Pandu dan mengarahkan kamera depan ke wajahnya. Kini di kamera itu terlihat wajahnya Nesty dan Pandu, dengan nakalnya Nesty mencium pipi Pandu lalu memotretnya.
Pandu reflek bergerak menghindari Nesty.
"Nes, gue udah punya bini," ucap Pandu
"Halah, Elu gak cinta kan ma dia. So Have fun aja Ndu," ucap Nesty tersenyum sendiri menatap wajah Pandu yang seperti orang bule.
Kumis tipisnya tidak dipanjangkan, janggutnya sedang masa pertumbuhan. Dia berniat memelihara kumis dan janggut saat sudah selesai kuliah nanti.
Pandu akui, Nesty sangat cantik. Dia juga pernah ada rasa tapi hanya sekedar naksir. Tetapi Pandu tidak berniat untuk mendekati Nesty lebih jauh lagi sejak setelah menikah dengan Dewi.
"Ya walaupun gue belum cinta tapi gue ma dia nikah di saksikan Allah. Hubungan kita hanya sebatas teman aja Nes, gak lebih," ucap Pandu mengingatkan Nesty agar wanita itu menjaga diri
Nesty tidak terlalu menanggapi ucapan Pandu. Wanita itu kemudian membayar ponsel yang baru dibelinya. Setelah itu ia mengajak Pandu untuk duduk sembari mentransfer data yang ada di ponsel lamanya ke ponsel yang baru.
"Ndu, gue udah pindahin data gue. Kalau misal ada yang belum kehapus, lu hapus sendiri ya?" Ucap Nesty
"Kalo datanya udah ditransfer semua, kenapa gak angsung lu ubah ke setelan pabrik," ucap Pandu
"Gak ngerti caranya ehhe," ucap Nesty sengaja, dia tahu Pandu tidak bisa menyettibg ponselnya ke setelan pabrik, semua smdi sengaja agar Pandu yang menghapusnya sendiri. Dengan begitu semua foto dirinya dilihat Pandu berharap pria itu kembali mendekati Nesty.
Sejujurnya Nesty juga menyukai Pandu, badannya yang atletis terlihat macho dan laki banget. Hanya saja kekurangan Pandu adalah, dia terlahir dari keluarga miskin. Tidak sederajat dengannya dan otomatis membuat Nesty kehilangan restu dari kedua orang tuanya yang selalu mewanti-wanti Nesty untuk mencari pasangan yang sederajat dengannya
Setelah selesai, Pandu mengantar Nesty pulang. Sesuai perjanjian Pandu akan menjadi sopir lribadinya. Kapanpun dan dimanapun Pandu harus menurutinya. hingga empat bulan ke depan.
Ini sudah ke dua kalinya Pandu mengantar Nesty pulang, tetapi pria itu tidak pernah masuk ke dalam rumahnya.
"Makasih ya Ndu," ucap Nesty srtelah turun dari motornya
Pandu mengambil helm yang selalu dia bawa meski sedang jalan sendirian, gunanya agar jika sewaktu-waktu dirinya bertemu dengan kawan atau keluarga, maka mereka tidak perlu takut jika tidak memiliki helm, karena selalu tersedia di motornya.
Nesty terus melambaikan tangan hingga Pandu tak terlihat lagi.
Sesampainya di rumah Dewi, Adzan sudah berkumandang. Pandu datang dengan mengatakan salam masuk.
"Waalaikumsalam," sahut Dewi berjalan ke depan menemui Pandu.
Dewi mengulurkan tangan dengan maksud ingin mencium tangan Pandu sebagai suaminya.
"Mau ngapain Lu?" tanya Pandu keheranan karena Dewi berdiri di sebelahnya.
Dewi mencari asal suara, dia pikir Pandu ada di depannya rupanya tepat ada di sampingnya.
"Hmm mau... mau nyuruh Lu masuk," ucap Dewi sedikit berbohong
"Katanya Lu gak pulang kesini?" tanya Dewi lagi
"Dimarahin nyokap katabya gue harus tidur sekamar," ucap Pandu yang juga sedikit berbohong. Padahal sebelum karena dia ingin makan masakan Dewi.
"Gue ibadah dulu ya," pamit Pandu
"Iya," jawab Dewi singkat lalu segera ke dapur menyiapkan makanan yang hampir di buang
Untung saja Bik Asih belum sempat membuang semuanya. Dia menyiapkan lagi semua makanan buang dimasak Dewi.
Usai melakukan ibadah Maghrib, Pandu bergegas ke ruang makan. Perutnya sudah tidak bisa diajak kompromi. Sedari tadi perutnya terus berputar meminta untuk di isi.
Pandu memasukan makanan ke mulutnya dengan suapan besar. Sementara Dewi penasaran dengan komentar Pandu
"Enak gak?" tanya Dewi
"Lumayan," jawab Pandu berbohong, padahal sebenarnya sangat enak sampai-sampai pria itu menambahkan porsi nasinya hingga penuh satu piring.
"Jadi menurutmu kurang enak ya?" tanya Dewi
"Lu udah nyobain belum masakan lu sendiri?"
Dewi menggelengkan kepala, tanda belum.
"Udah makan?" tanya Pandu sambil mengunyah makanannya
"Belum," ucap Dewi dengan tersenyum
"Mau cari penyakit lu, makan dong masak cuma liatin gue makan," ucap Pandu salah bicara
"Gue kan gak bisa liat ndu,"
"Ehh maksudnya, masak Lu gak makan sementara gue makan, gitu loh," jelas Pandu.
"Gue suapin ya," tawar Pandu mengambil satu piring untuk Dewi dan mengisinya beberapa lauk
"Gak ah, udah gede juga," tolak Dewi
"Kelamaan liat lu makan, nih buka mulutnya," ucap Pandu seraya menempelkan ujung sendok ke bibir Dewi
Dewi lantas membuka mulutnya dan menerima satu seakan dari Pandu.
Rasanya sedikit aneh, walaupun Dewi tidak bisa melihat namun dia bisa merasakan kalau Pandu juga memperhatikan dirinya.
Bik Asih yang melihat keduanya terus berdoa agar keduanya dibukakan pintu hati untuk mengisi cinta diantara keduanya.
Sudah tujuh kali suapan, tiba-tiba saja ponsel Pandu berdering. Bingung antara angkat atau tidak.
"Angkat dulu gih, siapa tahu penting," sahut Dewi
Karena melihat nama Nesty di layar ponselnya. Pandu langsung bergegas ke kamar mandi. Tempat yang aman dia rasa.
"Halo," jawab Pandu sambil menutup pintu kamar mandi
"Halo sayangku cintaku muach muach," ucap Nesty dari balik telepon.
Dewi yang tadinya ingin ke dapur mengambil buah tak sengaja mendengar suara Pandu yang sedang mengangkat telepon
Ngapain sih angkat telepon ke kamar mandi batin Dewi
"Ya elah pake sayang-sayang lagi, biasa aja keles," ucapan Pandu didengar Dewi dan membuat semuanya jadi salah paham.
"Ya... besok gue jemput lu, di rumah atau dimana?" tanya Pandu lagi
Pandu mau jemput siapa ya? Kok pake sayang-sayang batin Dewi yang berpikir macam-macam
/Facepalm/
/Facepalm/
/Facepalm/
/Facepalm/
terima kasih banyak buat novelnya /Kiss/