Mungkin semua orang mengatakan aku lah wanita yang paling beruntung di dunia ini,dimana aku yang hannya lulusan sekolah menengah dinikahi seorang pegawai negri yang memiliki pangkat tinggi.Aku bahkan rela meninggalkan agama dan orang tuaku yang tidak merestui hubungan kami demi suamiku.
Tapi siapa yang menyangka pernikahan ini telah membuatku menyesal seumur hidup bahkan aku sudah menggadaikan agama ku demi suami yang hannya menganggap ku babu.
Mungkin ini karma yang harus ku jalani,yang menentang orang tuaku demi pria yang memiliki pangkat tinggi.
ikuti kisah rumah tanggaku,akankah aku bertahan dengan suami yang ringan tangan ditambah mertua yang sangat kejam? Akan kah orang tua ku menerima aku kembali setelan aku murtad dari agamaku demi pilihan ku?
jangan lupa dukungannya kak
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agustina Pandiangan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10 ~ Aku bukan pesuruh ~
Dewi sangat kesal mendengar jawaban Kenan,dia merasa Kenan semakin berani,tidak seperti dulu-dulu mereka hannya makan tidur tampa memikirkan pekerjaan rumah,makan tinggal makan, dan minum tinggal minum semuanya sudah siapkan oleh kenan.
"Aku tidak mau tau Kenan sekarang kamu lakukan apa yang aku minta,kamu jangan menjadi orang yang tidak tau diri,hidup mu sudah sangat enak di buat abang ku kamu harus tau diri dong." Ucap Dewi sambil berkacak pinggang sambil menatap Kenan.
Kenan tidak peduli dengan apa yang di katakan oleh Dewi sekarang dia beranjak dari tempatnya menuju kamar mandi.
Kenan menghela napas panjang melihat tumpukan pakaian kotor mertuanya dan juga kedua adik iparnya.
"Kenan...Kamu tidak dengar apa yang aku katakan...Kamu semakin hari kok semakin belagu ya kamu sudah berani melawan kami!!"Dewi menghampirinya ke kamar mandi sementara Naira bermain ponsel sambil menunggu Kenan ibunya di ruang makan.
"Maaf Dewi,kamu lakukan saja kamu lihat sendiri kan kalau pekerjaan masih banyak." Jawab Kenan Acuh.
"Kamu sudah berani membantah ya,lihat ya Kenan aku pastikan kamu menyesal sudah melawan ku." Ucap Dewi lalu dia kembali ke kamar menemui adiknya yang sibuk telponan dengan kekasihnya.
Kenan melakukan semua pekerjaannya di rumah mertuanya,sampai dia selesia mengerjakan semua pekerjaan rumah mertuanya belum juga kembali Kenan tidak peduli sama sekali,dia kembali ke rumahnya setelah semuanya beres.
"Capek juga,dasar Dewi enak saja dia mau menyuruh aku,apa dia tidak punya kaki hingga harus aku yang mengerjakan semuanya,dasar anak-anak manja suatu saat kamu menikah aku yakin kamu akan merasakan pahit yang aku rasa."Ucapnya sambil mengelus dada lalu dia beranjak dari tempatnya.
"Naira kamu tidur sayang." Kenan mengangkat tubuh Naira ke kamar mereka lalu dia mulai mengerjakan pekerjaan rumah.
Pada saat dia sedang berperang dengan semua pekerjanya rumah tiba-tiba dia mendengar suara mobil suaminya,dia berlari ke depan pintu sebelum dia membuka pintu dia menyingkap gorden lalu mengintip keluar rumah.Dia melihat jam dinding dan sekarang belom waktunya suaminya pulang.
Saat Kenan mengintip dari jendela pintu dia melihat suaminya keluar dari dalam mobil diikuti seorang wanita yang sangat cantik dan elegan.
"Siapa dia,kenapa dia bisa keluar dari mobil mas Irwan." Tanya nya dalam hati,Kenan tidak mau keluar dari dalam rumah apalagi dia melihat kedua adik ipar dan mertuanya menyambut wanita itu dengan penuh bahagia.
"Siapa dia? apa mungkin mereka ada tamu,tapi siapa aku belum pernah melihat wanita itu." Tanyanya kemabli dalam hati.Ada rasa sesak di dada Kenan saat melihat Leo membawa koper milik wanita itu masuk ke dalam rumah mertuanya,padahal dia tau betul dengan sikap suaminya yang tidak pernah sekali pun mau membantunya,apalagi sampai membawa barang berat dia tidak akan mau melakukan itu.
Lama sekali Kenan berdiri di depan pintu sayup-sayup dia mendengar suara tawa mereka semua yang membuat Kenan semakin sakit hati.
Kenan masih berdiri di depan pintu,tiba-tiba saja dia malas melakukan semua pekerjaan rumah dia memandangi rumahnya yang begitu kotor dan berantakan bekas mainan Naira.Pada saat dia hendak beranjak dari tempatnya tiba-tiba pintu rumahnya didorong mertuanya dari luar lalu dia masuk dan berdiri di hadapan Kenan.
"Kenapa kamu berdiri disini? apa kamu melihat Leo barusan, dia pulang bersama Meri,dia itu pacarnya waktu kecil dia anak dari Abang ku,yang baru saja datang dari Jakarta,kamu harus menyambutnya dengan baik dan melayaninya,dia ingin pelatihan di puskesmas di kota ini,dia kuliah kedokteran kalau saja Leo tidak menikahi wanita bodoh sepertimu, mungkin mereka akan menikah dan menjadi pasangan yang cocok." Ucap Maya Tampa menjaga sedikit pun perasan Kenan.
"Kenapa harus di rumah ini Bu,aku tidak peduli dia siapa dan apa pekerjanya,aku tidak akan menyambutnya di rumah ini?"
"Plak...Sejak kapan kamu berani membantah ucapan ku,masih untung kamu saya pertahankan di rumah ini ya..Dasar wanita tidak tau diri,apa susahnya melayani Meri dia seorang wanita yang berpendidikan dan pastinya dia tidak banyak tingkah." Ucap Maya.
Kenan memegangi wajahnya, yang sudah memanas karena bekas tamparan ibu mertuanya,dia tidak menyangka mertuanya langsung melayangkan pukulan kasar ke wajahnya hannya karena menolak wanita itu.
"Kenan,bersihkan kamar sebelah,Meri untuk sementara tinggal bersama kita,untuk enam bulan ke depan setelah itu kamu belanja ikan dan semua kebutuhan rumah." Ucap Leo lalu memberikan uang ratusan lima lembar.
"Ibu ngapain disini,bukannya ibu di dapur tadi?
"Tidak ibu juga datang ke rumah mu untuk menyuruh Kenan menyiapkan makanan dan juga kamar,tapi Kenan menolak itulah makanya ibu tidak mau kamu memanjakan dia sekarang dia malah ngelunjak." Maya mengadu kepada Leo.
"Apa benar apa yang dia katakan ibu Kenan? kamu tidak mau melayani Meri selama dia tinggal di rumah kita ini?" Tanya Leo dengan wajah yang sudah mulai emosi.
"Tidak mas aku akan melakukannya." Ucap Kenan.Dia langsung pergi ke belakang lalu mengambil keranjang dia tidak ingin melihat suaminya marah lagi karena jika itu terjadi suaminya sangat sulit di kendalikan.
"Mas titip Naira dia sedang tidur di kamar." Kenan langsung pergi saat mengucapkan kata-katanya itu.Kenan berjalan sambil membawa keranjang sampahnya,dia bingung harus bagaimana menjalani hari-hari selama enam bulan ini bersama wanita lain yang tinggal di rumah mereka.
"Kenan kamu mau kemana,kamu kok melamun ribut lagi sama mertua kamu?"
"Tidak bude,aku hannya ingin belanja.
"Oohh...Kamu yang sabar ya..Apa pun yang terjadi di rumah mertua mu kamu harus sabar,ingat mungkin sikap suamimu akan berubah jika mertua mu sudah meninggal selagi mertua mu masih hidup kamu lebih baik mengelus dada." Ucap Rohani tempat Kenan curhat disaat pikirannya sangat frustasi dan dia juga wanita yang sudah di anggap sebagai ibunya sendiri.
"Iya Bu...Makasih ya Bu,Kenan pamit ya Bu." Ucap Kenan lalu pergi meninggalkan Rohani yang masih memandangi Kenan sampai dia menghilang di persimpangan jalan.
"Kasihan sekali Kenan,semoga anak-anak ku di jauhkan dari mertua seperti Maya,dia memang wanita yang sangat kejam,dia tidak pernah berpikir bagaimana kalau anak-anaknya suatu saat dinikahi pria yang memiliki sikap seperti dirinya bahkan kedua adik iparnya memilki sikap yang buruk juga." Ucap Rohani dalam hati.
"Bu...Rohani kok bingung disini,memangnya apa yang ibu lihat." Ucap seorang pembeli yang mampir ke warungnya.
💗💗💗bersambung 💗💗💗