Ria seorang gadis berdarah Aceh yang berasal dari keluarga sederhana. Saat duduk di SMP ia menemukan cinta pertamanya.
Di masa SMA Ria membentuk sebuah persahabatan antara dua perempuan dan satu laki-laki. Laki-laki tersebut berasal dari keluarga yang kaya raya, diam-diam laki-laki ini mulai jatuh cinta kepadanya. Bahkan, ketika Ria mendapatkan beasiswa kuliah ke Jakarta ia selalu mengikuti kemana Ria pergi.
BUGH...
Ria terjatuh di kamar kosnya.
Apa yang terjadi dengan Ria?
Siapakah yang akan menjadi belahan jiwanya?
Cinta pertama atau sahabatnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Farida Ariani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 10 Sama-sama Perhatian
"Jam 9 kalian kumpul di lapangan, kita akan mengikuti lomba tarik tambang melawan kelas 2.1". Jelas Dayat kepada kami.
Aku dan teman-temanku yang disebut namanya tadi oleh Dayat bergegas mengganti pakaian olahraga.
"Pukul 08.20 sudah, Ayo cepat!". Ajakku sambil melihat jam ditangan kananku.
Jam 08.50 Kami sudah berkumpul di lapangan. Kami sangat siap mengikuti lomba.
Kami sudah memegang tali tambang, dan berhadapan dengan siswi kelas 2.1. Rina berdiri paling depan, lalu diikuti oleh Liani sedangkan Aku berdiri di bagian tali paling ujung belakang. Sengaja Aku mengikatkan sisa tali tambang itu di pinggang Ku. Agar Aku bisa lebih kuat menarik tali saat lomba sudah dimulai.
"SATU..DUA..TIGA..". Teriak Juri yaitu Abang kelas kami.
Dengan bersemangat Aku tarik tali tambang dari belakang dengan sangat kuat. Sehingga tali itu sedikit demi sedikit berhasil kami tarik hingga lawan terjungkal ke hadapan kami.
"Yeeeeee kita menang". Sorak Liani dan teman-teman dengan senang.
Ternyata tidak hanya sampai disitu, Kami harus mengikuti 2 babak lagi untuk menentukan siapa pemenangnya.
Saat babak kedua kami kalah. Karena kami sempat terjatuh disebabkan oleh tarikan yang sangat kuat dari lawan.
Kini babak ketiga.
Aku sekarang berdiri paling depan pas berada di hadapan lawan yang paling depan juga. Rina dan Liani paling belakang.
"SATU, DUA, TIGA..". Teriak juri.
Aku tarik tali itu dengan sangat kuat. Kami kerahkan semua tenaga kami untuk sebuah kemenangan.
Alhamdulillah Kita menang....
"HORE... KITA MENANG!!!". Sorak siswa-siswi kelas 2 inti tanda kemenangan.
"Syukurlah". Kataku dalam hati, Aku terduduk kecapean. Asmaku kambuh. Nafasku terasa berat.
Dayat memperhatikanku, segera dia berlari ke arahku. Saat dia hampir sampai di hadapanku. Ada Enta yang sedang berlutut menanyakan keadaanku.
"Ria, Kamu kenapa???". Tanya Enta lembut.
Aku hanya mencoba bernafas pelan-pelan.
Belum sempat Aku menjawab pertanyaan dari Eta.
"Maaf Enta, Asma Ria kambuh". Jelas Dayat sambil meminta Eta untuk geser kesamping.
"LIANI...". Panggil Dayat kepada Liani yang sedang berdiri tidak jauh dari tempat Aku duduk di lapangan.
"Tolong bantu bawa Ria ke ruang UKS, Asmanya kambuh". Minta Dayat kepada Liani.
Liani langsung membantu Aku berdiri dan berjalan menuju ruang UKS. Dayat mengikuti Kami dari belakang.
Sedangkan Enta, hanya melihat kami pergi menjauh dari hadapannya.
Sesampai di ruang UKS, Aku berbaring di tempat tidur. Lalu Aku tinggikan bantal di kepalaku dengan menambah 1 bantal lagi menjadi dua bantal.
Aku mencoba mengatur pernafasanku pelan-pelan tapi tidak berhasil. Lalu Aku meminta air putih hangat ke Liani. Dayat langsung keluar ruang UKS untuk mengambil air hangat.
Ku coba longgarkan pakaian dalamku agar Aku bisa mudah bernafas. Dan air hangat itu pun tiba, Ku mulai minum dengan beberapa tegukan besar.
"Bagaimana keadaanmu sekarang Ria?". Tanya Liani khawatir.
Aku hanya menggeleng-gelengkan kepala.
"Tolong panggilkan Bu Nisa Dayat". Bujuk Liani kepada Dayat.
Dayat keluar dan sedikit berlari memanggil Bu Nisa.
"Asmamu kambuh Ria??? Ada bawa obat tidak?". Tanya Bu Nisa dengan lembut.
Aku mengangguk pelan.
"Kalau tidak kita ke IGD Rumah Sakit saja ya nak?". Minta Bu Nisa.
"Tolong belikan Ria obat asma saja Bu". Pintaku.
"Ini obatnya Ria". Masuk Enta ke ruangan UKS dengan tergopoh-gopoh. Sambil memberikan obat asma kepadaku.
Aku mempunyai sakit keturunan berupa asma sejak kecil, Aku tidak boleh kelelahan, kena polusi udara dan banyak pikiran. Karena itu dapat memicu asmaku bisa kambuh kapan saja.
Saat Enta memberi obat itu, Dayat hanya melihatnya sekilas. Liani mengucapkan terima kasih. Berangsur-angsur nafasku mulai normal pertanda mulai baikkan.
Tanpa kusadari Aku terlelap.
Pukul menunjukkan jam 11.30. Aku tersentak dan terbangun. Aku lihat Aku berada di dalam ruang UKS, ada Liani disana bersamaku.
"Maaf Liani, Aku tertidur". Kataku sambil mencoba untuk duduk.
"Iya Ria, bagaimana sudah keadaan Kamu?". Tanyanya.
"Alhamdulillah, sudah sangat baik". Jawabku.
"Aku sudah membawakan tas untukmu. Kata Bu Nisa kalau kamu sudah bangun Kamu akan segera diantarkan pulang untuk istirahat". Liani mencoba menjelaskan dengan panjang lebar.
Aku hanya mengangguk pelan tanda setuju.
Lalu Aku dan Liani keluar dari ruang UKS dan jalan menuju ke halaman ruang guru. Ada becak disana seperti menunggu seseorang.
Ibu Nisa menghampiriku.
"Kamu pulang naik becak ya Ria?". Ucap Bu Nisa.
"Sepeda saya Bu?". Tanyaku kepada Bu Nisa.
"Jangan khawatir Ria, biar Aku yang antar kerumahmu nanti selepas pulang sekolah ya". Sambung Liani.
Lalu Aku langsung naik becak yang sudah dibayar Ibu Nisa. Saat becak mulai berjalan menjauhi sekolah tampak Dayat dari kejauhan bersama Liani dan Bu Nisa.
😁
suka banget sama karya kaka
salam dari *make sure you love me*
karya baru kak..
Tentang Kenangan💙 disini
Salam dari ❤️Sepenggal Kisah di Negeri Jiran❤️
di tunggu feedbacnya.. 😊