Jika ada yang harus disalahkan, maka permainan Truth Or Dare-lah yang harus disalahkan.
Karena semua berawal dari sana.
Permainan yang telah dicap sialan oleh cowok gondrong anggota inti The Lion. Sebuah permainan tidak masuk akal dari teman-temannya yang mau tidak mau harus ia selesaikan dikarenakan kebodohannya memilih 'Dare'.
Alhasil, cewek ketua ekskul modern dance yang mendapat julukan Queen Shadow SMA Garuda itu pun menjadi sasaran empuk permainannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nurul Zakinah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAGIAN # 10
“Sebelum kita UN kita liburan dulu, kuy. Touring atau nanjak apalah gitu.”
Dalam rangka ingin me-refresh otak sebelum mengikuti ujian nasional yang sudah sangat pasti soal-soalnya akan membuat mereka beristigfar berkali-kali, Ezra mengeluarkan pendapat untuk mengajak teman-temannya melakukan acara yang dapat membuat mereka tidak tegang-tegang amat.
“Gue sih yes,” sahut Adnan.
“Gue juga setuju. Mayan, lah, biar otak gak suntuk amat,” timpal Tian.
“Tapi kemana?” tanya Malik.
Seperti biasa, jika bukan berkumpul di warung belakang sekolah, maka mereka akan berkumpul di apartemen milik Alka. Tidak hanya mereka yang ada di sana, Gilang dan juga dua teman kampusnya yang kebetulan liburan ke Jakarta ikut berkumpul. Walau baru pertama kali bertemu, keduanya langsung akrab dengan anak-anak inti The Lion termasuk ketuanya sendiri.
“Lo mau kemana, Al?” tanya Gilang yang saat itu tengah menyeruput susu coklat pemberian seseorang. Entah dari siapa, ia hanya berkata dari seseorang saat ditanyai oleh teman-temannya karena heran melihatnya.
“Terserah kalian aja. Tapi jangan yang nginepnya lama-lama amat. Belum tentu dapat izin dari kepsek soalnya.”
“Ke Jogja aja, kuy. Asik tuh di sana. Kalian nginep di kost-an kita-kita aja.” Cowok ber-hoodie maroon yang sejak tadi disapa Laskar itu menyahut memberi pendapat.
“Aelah, Bang. Perjalanan Jakarta ke Jogja aja udah lama banget. Liburan kita gak lama dong kalo gitu,” sahut Ezra.
“Iya, juga, yah. Terus kemana dong?”
“Aing mah dari tadi pengen ngusul ke Bandung aja, sok. Nanti teh nginap di rumah aing. Tapi pasti protes jadi Dimas diam aja, deh.”
Malik menoyor kepala Dimas. “Itu lo baru aja ngomong, sat. Bukan diam.” Dimas nyengir kemudian menselonjorkan diri dengan kepala yang berbantalkan paha Arnold yang kebetulan memanjangkan kaki.
“Jijik, b4ngsat. Bangun lo!” Dimas hanya memasang wajah cuek kemudian beralih bermain game tanpa mengindahkan teguran Arnold. Alhasil, kepalanya beradu dengan lantai ketika Arnold tiba-tiba berdiri dan berpindah ke dekat Devan.
“Kamu jahat!” Arnold memutar mata malas.
“Jadi gimana, nih? Kalau gak mau ke Jogja, kita ke puncak aja gimana? Gak terlalu jauh juga, kan?” Ezra kembali bertanya.
Semuanya saling melempar tatapan dengan wajah berpikir kemudian mengangguk. “Boleh,” sahut Alka.
“Oke fix kita ke puncak. Lusa, ya?”
“Boleh bawa cewek gak, nih?” pertanyaan itu datang dari teman Gilang yang satu lagi. Nando namanya, cowok berambut undercut coklat gelap dengan mata yang agak sipit namun tajam. “Cewek aja di otak lo, Ndo,” cibir Gilang.
“Yaelah, gue normal kali, Lang. Lagian, kan, bagus tuh, lo juga boleh bawa bu dosen nanti.”
“Hah? Siapa yang mau bawa dosen?” semuanya menoleh pada seorang Bagus yang baru saja datang. Seragam putihnya sudah tidak terlihat digantikan dengan kaos hitam polos. “Dari mana lo?” tanya Devan.
“Siapa yang bawa dosen?” mata Bagus menyapu pada satu-persatu orang tanpa menjawab Devan. Laskar menyenggol lengan Gilang. “Nih, temen lo satu ini lagi deket sama dosen cantik di fakultas kita.”
Mendengar itu membuat Gilang melempar tatapan protes sedangkan yang lain terkejut. “Gila, selerah lo sekarang yang lebih matang, Lang?” sahut Tian terdengar mengejek. “Iyalah, biar si Mei dapat kakak ipar langsung. Kan, yang matang bisa langsung diajak serius,” timpal Malik terkekeh geli.
Gilang mendengus. “Enak aja! Yang ada tuh dosen yang kecentilan sama gue. Selalu aja cari-cari alasan buat deket sama gue.”
Mereka tertawa kemudian Bagus menepuk bahu Gilang. “Itu artinya dia bener-bener suka sama lo, Man. Udah sih terima aja. Lagian ada untungnya lo sama dosen tau. Kan, enak tuh ada yang bantuin ngerjain tugas atau bantu nyariin bahan skripsi.”
Gilang menoyor kepala Bagus. “Tau apa lo bocah!”
####
Krystal yang baru saja keluar dari kamar apartemennya dikejutkan dengan kehadiran pria berbadan kekar dengan setelan hitam-hitam dari ujung kepala hingga ujung kaki. “Siapa?” tanyanya.
Pria tersebut menunduk hormat membuat Krystal semakin keheranan. “Tuan menyuruh Nona untuk ikut saya ke restaurant Gleus malam ini menghadiri makan malam bersama Tuan.”
Sekarang Krystal tahu. Pria di hadapannya ini adalah suruhan papanya. Menghela napas kasar, Krystal menggeleng. “Gue gak kenal sama tuan lo!” balasnya kemudian melangkah pergi setelah mengunci pintu kamar apartemennya.
Perkiraan Krystal yang mengira pria itu akan pergi ternyata salah, rupanya pria suruhan papanya itu mengikutinya. “Tapi, Non. Tuan sudah mempercayai saya jika saya bisa membawa Nona sekarang. Saya mohon, Non. Saya bisa dipecat jika tidak bisa membawa Nona ke tuan.”
Dengan tetap melanjutkan langkah gesahnya Krystal menyahut tanpa berbalik. “Gak peduli gue mau lo dipecat atau dibuang sekalipun.” Iya, kata-katanya memang kejam.
Tapi jangan sepenuhnya salahkan Krystal dan mulutnya karena, semua itu juga ia peroleh dari papanya dan keluarganya yang selalu berkata-kata kejam pada mamanya. Ketidakpeduliannya juga berasal dari mereka jadi buat apa Krystal peduli pada mereka semua?
Apalagi mengingat jika dulu ada banyak pria berseragam hitam suruhan papanya yang menarik mamanya dengan kejam saat mamanya sedang memohon pada papanya untuk tidak ditinggalkan. Jadi buat apa Krystal menaruh belas kasih pada orang yang sudah menyakiti fisik dan hati mamanya?
“Saya mohon, Non. Saya punya istri dan anak yang sakit-sakitan. Kalau saya kehilangan pekerjaan nanti saya akan memberi meraka apa?”
Krystal menghentikan langkahnya kemudian berbalik, menatap dingin pria yang tertunduk di hadapannya lalu berdecih sinis. “Lo dan temen-temen lo pernah nyeret-nyeret nyokap gue yang lagi sakit. Lo mikir gak kalau nyokap gue kenapa-kenapa, gue anaknya harus gimana?”
Pria di hadapannya itu semakin menunduk kemudian menggeleng setelah lama diam. “Saya hanya menjalankan perintah, Non.”
Krystal tertawa, tertawa sarkas dan sinis. “Kalo gitu sama. Gue juga gak mikirin anak dan istri lo. Dan gue juga cuma ngejalanin apa yang diperintahin oleh diri gue sendiri.” Krystal mendekat kemudian menepuk bahu pria itu, pelan namun terkesan mengejek. “Gue bukan anak majikan yang baik hati. Pergi lo!”
.
.
.
KRYSTAL JAHAT TAPI SAYA SUKA😂
LIKE SEBELUM BACA PART BERIKUTNYA!
bukan kah di seniornya
alka sm meira dah nikah
Nyesek sumpah😭😭
aq banjir thorrrr... ikutan nyeri kaya bagus..
😭😭😭😭😭
sekarang tinggal kisahnya aluna ama devan ya... ya.. ya.. ya..