NovelToon NovelToon
Survival Kiamat: Ibu Peternak Dan Gudang Tanpa Batas

Survival Kiamat: Ibu Peternak Dan Gudang Tanpa Batas

Status: sedang berlangsung
Genre:Sci-Fi / Zombie / Sistem
Popularitas:350
Nilai: 5
Nama Author: miichi

Dunia berubah dalam semalam. Langit di atas tanah perbatasan Amerika berubah warna, bumi terbelah, dan makhluk-makhluk yang dulunya manusia atau ternak kini bangkit sebagai monster haus darah. Di tengah kekacauan itu, Elena Cross — janda pemilik Rocking Spur Ranch yang tengah hamil delapan bulan — berjuang sendirian mempertahankan tanahnya dari serangan pertama gerombolan ternak yang bermutasi.

Di saat paling genting, sebuah kekuatan misterius bangkit dalam dirinya: **Gudang Tanpa Batas**, sebuah sistem ajaib yang bisa memunculkan senjata, makanan, obat-obatan, dan perbekalan apa pun dari udara kosong — aktif hanya karena satu syarat: melindungi kehidupan baru di tengah kehancuran dunia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon miichi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1: Debu, Darah, dan Sebuah Kotak Aneh

Langit di atas Rocking Spur Ranch berubah warna jingga kehijauan tiga hari yang lalu, dan sejak itu tidak ada satu pun kereta pos yang lewat.

Elena Cross berdiri di teras rumah kayunya, satu tangan menopang punggung, satu tangan lagi menggenggam senapan lever-action mendiang suaminya. Perutnya sudah delapan bulan, besar dan keras seperti tong wiski penuh. Di kejauhan, ternak-ternak yang tadinya tenang kini mengembik dan melenguh liar, berlarian menabrak pagar seolah ada sesuatu yang mengejar mereka—sesuatu yang tak terlihat.

Lalu bau itu datang. Bau daging busuk bercampur belerang, terbawa angin gurun yang tiba-tiba terasa dingin di tengah teriknya Juli.

"Bu Cross!" Seorang buruh ranch, Tommy, berlari dari arah kandang kuda, wajahnya pucat pasi. "Sapi-sapi di padang selatan... mereka— mereka jadi sesuatu yang lain, Bu. Matanya... matanya bercahaya."

Elena tidak sempat bertanya lebih jauh. Sesosok bayangan besar—dulunya seekor banteng jantan—menabrak pagar kayu seolah itu hanya ranting kering. Kulitnya sudah membusuk di beberapa bagian, memperlihatkan otot yang berdenyut dengan cahaya ungu pucat.

Elena mengangkat senapan, menarik pelatuk. Satu tembakan tepat di antara kedua matanya. Makhluk itu roboh, namun dua lagi muncul dari balik bukit berdebu.

Di saat genting itulah, sesuatu yang aneh terjadi.

Sebuah cahaya keemasan berkelebat di depan matanya, dan muncullah kotak transparan melayang setinggi dada—seperti peti besi tembus pandang yang tidak mematuhi hukum alam.

> **[SISTEM GUDANG PERBEKALAN TANPA BATAS TELAH DIAKTIFKAN]**

> **[Selamat, Penjaga Terpilih. Anda kini memiliki akses ke Gudang Abadi.]**

> **[Syarat aktivasi: melindungi kehidupan baru di tengah kehancuran dunia.]**

Elena mengerjap. Dunia sedang runtuh, ternaknya berubah jadi monster, dan dia baru saja diberi semacam... gudang ajaib?

Tidak ada waktu untuk bingung. Dua makhluk itu semakin dekat, mendengus dan mengeluarkan suara seperti besi berkarat digesek batu.

"Butuh senjata," gumamnya, setengah putus asa, setengah penasaran.

Kotak cahaya itu berdenyut, lalu dari dalamnya meluncur keluar sebuah peti amunisi penuh, dan di sampingnya—senapan berburu dengan teleskop yang jelas bukan buatan tahun ini.

Elena tidak sempat bertanya dari mana asalnya. Ia menyambar senapan itu, membidik, menembak. Dua tembakan, dua makhluk roboh.

Keheningan sesaat menyelimuti ranch, hanya disela suara napasnya yang memburu dan detak jantung ganda—miliknya, dan milik bayi yang masih dikandungnya.

Tommy menatapnya dengan mulut menganga. "Bu Cross... dari mana itu tadi?"

Elena menatap tangannya sendiri, lalu ke kotak cahaya yang masih melayang samar di sudut penglihatannya, seolah menunggu perintah berikutnya.

"Aku juga tidak tahu, Tommy," jawabnya pelan. "Tapi sepertinya... kita baru saja dapat alasan untuk bertahan hidup."

Ia menoleh ke arah rumah, ke kamar kosong yang sudah disiapkannya untuk sang bayi—kini dikelilingi dunia yang telah berubah menjadi neraka berdebu penuh monster. Tangannya terangkat, mengelus perutnya yang membuncit.

"Kita akan bertahan," bisiknya. "Ibu janji."

Di kejauhan, lolongan panjang menggema dari arah kota kecil Redcliff—tempat di mana kekacauan yang jauh lebih besar baru saja dimulai.

 

## Bab 2: Kafilah Para Buronan

Malam turun lebih cepat dari biasanya, seolah matahari sendiri enggan menyaksikan apa yang telah terjadi pada dunia. Elena duduk di meja dapur, menatap kotak cahaya yang kini mengambang tenang di sudut ruangan, berkedip pelan seperti api lilin yang setia menemani.

"Bu, itu... itu benar-benar nyata?" Tommy masih belum bisa melepaskan pandangannya dari kotak transparan itu. Sejak insiden di padang selatan, ia tak henti mengintai dari balik bahu Elena, seolah takut kotak itu tiba-tiba melahap mereka berdua.

"Kelihatannya begitu." Elena mengulurkan tangan, dan seperti sebelumnya, kotak itu merespons. Sebuah daftar samar muncul di udara—peti amunisi, kotak obat, karung gandum, bahkan sebuah selimut wol tebal.

> **[Gudang: 3 unit tersimpan]**

> **[Kapasitas: TANPA BATAS]**

> **[Catatan: item hanya dapat dikeluarkan, tidak dapat disimpan sembarangan. Prioritaskan kelangsungan hidup.]**

"Tanpa batas," gumam Elena pelan. Kata-kata itu terasa seperti mimpi di tengah dunia yang baru saja runtuh berkeping-keping.

Dari luar, suara derap kuda dan roda kereta memecah keheningan malam. Elena bangkit, menyambar senapan, isyarat pada Tommy untuk memadamkan lampu minyak.

Melalui celah jendela, ia melihat serombongan orang—delapan, mungkin sepuluh—berjalan kaki dan menuntun kuda yang keletihan, membawa gerobak penuh barang seadanya. Wajah-wajah mereka dipenuhi debu dan ketakutan, khas orang-orang yang baru saja lolos dari sesuatu yang mengerikan.

Seorang pria tua berjanggut lebat berjalan paling depan, menyandang senapan tua di bahu. Ia mengetuk pagar ranch dengan gagang senapannya.

"Halo rumah!" serunya, suara serak namun masih berwibawa. "Kami bukan bandit. Kami dari Redcliff—kota itu sudah tak ada lagi. Kami butuh tempat berlindung, walau cuma semalam."

Elena menimbang situasi dengan cepat. Delapan orang asing di tengah malam, di dunia yang para hewan ternaknya saja bisa berubah jadi monster—ini adalah pertaruhan besar. Namun di antara rombongan itu, ia melihat dua anak kecil menggigil kedinginan, dan seorang wanita muda yang tampak begitu kelelahan hingga nyaris ambruk.

"Redcliff kenapa?" teriak Elena dari balik jendela, senapan masih siaga.

Pria tua itu menghela napas panjang, matanya menerawang seolah masih melihat bayangan kengerian yang baru saja ditinggalkannya. "Langit di atas kota berubah warna, lalu tanah sendiri yang terbelah. Yang keluar dari sana bukan lagi manusia atau hewan, Nyonya. Setengah kota sudah rata. Kami kabur begitu ada kesempatan."

Elena menatap Tommy sejenak, lalu mengangguk pelan. Ia menurunkan senapannya dan membuka pintu gerbang ranch.

"Kalian bisa istirahat di gudang jerami," katanya. "Tapi aku ingin nama dan jumlah kalian yang pasti. Dunia sudah cukup berbahaya tanpa orang-orang yang saling curiga membunuh satu sama lain karena panik."

Pria tua itu mengangguk hormat, memperkenalkan dirinya sebagai Marshal Abel Whitlock—mantan penegak hukum Redcliff—yang kini memimpin sisa-sisa warga yang selamat.

Saat rombongan itu mulai masuk, wanita muda yang tadi terlihat nyaris ambruk tersandung, jatuh berlutut di tanah berdebu. Perutnya juga membuncit—mungkin enam bulan, tebak Elena.

"Sarah!" seorang pemuda berlari menghampirinya, memeluk bahunya erat. "Bertahanlah, kita hampir sampai—"

Elena bergegas mendekat, kotak cahaya di sudut penglihatannya berdenyut seolah tahu apa yang dibutuhkan. Ia mengulurkan tangan, dan sebuah botol air bersih beserta sepotong roti gandum meluncur keluar dari udara kosong, tepat ke telapak tangannya.

Beberapa orang dalam rombongan terperanjat, mundur selangkah dengan mata melebar.

"Jangan takut," kata Elena tegas, menyerahkan air itu pada Sarah. "Ini... hadiah aneh dari dunia yang sudah gila ini. Tapi selama masih bisa menyelamatkan nyawa, aku tidak akan bertanya kenapa."

Marshal Whitlock menatap Elena dengan sorot mata yang berubah—dari kelelahan seorang pengungsi menjadi sesuatu yang lebih tajam, lebih menghitung. "Nyonya Cross," katanya pelan, "kurasa Tuhan—atau apapun yang tersisa di langit itu—baru saja mengirim kami ke tempat yang tepat."

Elena tidak menjawab. Ia hanya menatap ke arah cakrawala gelap, ke arah Redcliff yang kini hanya tinggal bara dan kenangan, dan bertanya-tanya berapa banyak lagi rombongan seperti ini yang akan datang mengetuk pintunya sebelum malam benar-benar berakhir.

 

1
Dorinaanakjunny Dorinaanakjunny
bodoh buat apa bilang ada kekuatan
ajaib kenapa tidak rahsia kan saja
gila !!
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!