Rindu menerima tawaran Azahra bos di kantornya untuk menjadi surrogate mother. Walaupun pamannya melarangnya, Rindu tetap nekad menjadi surrogate mother. Karena ia ingin menebus sertifikat rumah pamannya yang digadaikan ke bank.
Namun rencana tidak seindah yang dibayangkan. Ketika Rindu sedang hamil empat bulan, Azahra meninggal dunia karena penyakit jantung. Sedangkan suami Azahra yang bernama Nizam sulit untuk dihubungi.
Bagaimanakah dengan nasib Rindu dan bayi di dalam kandungannya?
Follow ig Deche @deche62
Fb Deche
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Deche, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
10. Baso
Nizam dan Zahra duduk di ruang periksa dokter kandungan. Mereka mengantarkan Rindu untuk check_up ke dokter kandungan. Pandangan mereka tertuju pada layar televisi yang menempel di tembok.
“Janin berkembang dengan baik. Ukurannya sesuai dengan usianya,” kata dokter sambil memaikan alat USG di atas perut Rindu.
“Alhamdullilah,” ucap Zahra.
“Tapi Nona Rindu harus tetap berhati-hati karena masih di trisemester pertama. Masih rawan untuk keguguran,” kata dokter.
“Ada keluhan, tidak?” tanya dokter kepada Rindu.
“Tidak, Dok. Hanya saja saya masih sering mual,” jawab Rindu.
“Itu wajar. Bagi sebagian wanita hamil akan mengalami mual dan muntah,” kata dokter.
“Nanti saya kasih lagi obat mualnya,” kata dokter.
Dokter berdiri dari tempat duduknya dan kembali ke meja kerja. Ia menulis resep obat untuk Rindu. Rindu duduk di sebelah Zahra.
“Dok, sampai kapan dia akan muntah-muntah terus?” tanya Nizam.
“Biasanya setelah melewati semester pertama mual dan muntahnya akan berkurang,” jawab dokter.
“Kalau dia muntah-mutah terus nanti anak saya kekurangan gizi,” ujar Nizam.
“Tidak akan kekurangan gizi. Asalkan makannya sedikit-sedikit tapi sering,” jawab dokter, “saya juga memberinya vitamin dan obat mual, agar dia tidak terlalu mual.”
“Saya minta vitamin yang bagus untuk anak-anak saya,” kata Nizam.
“Saya selalu memberikan vitamin yang bagus untuk pasien saya,” jawab dokter.
Dokter memberikan resep obat kepada Zahra.
“Check_up kembali setelah sebulan,” kata dokter.
“Baik, Dok.Terima kasih, Dok,” ucap Zahra. Mereka meninggalkan kamar periksa. Mereka berjalan menuju ke apotik.
“Kamu mau makan apa?” tanya Zahra kepada Rindu sambil menunggu obat.
“Kalau baso ada yang halal tidak di sini?” tanya Rindu.
“Kalau sejenis baso di sini susah cari yang halal,” jawab Zahra.
Mendengar jawaban Zahra wajah Rindu berubah jadi kecewa.
“Kenapa? Kamu mau baso?” tanya Zahra.
“Iya,” jawab Rindu.
“Jangan minta yang macam-macam! Makanan seperti itu susah cari yang halal. Kalau di sini mendingan cari makanan melayu, India, Turki, itu makanan halal semua,” ujar Nizam.
“Dia tidak bisa makan makanan yang berempah, nanti muntah,” kata Zahra.
“Repot banget, sih. Tidak bisa bisa makan ini makan itu,” kata Nizam dengan kesal.
“Bang, dia juga tidak mau seperti itu,” ujar Zahra.
Nizam menghela nafas.
“Suruh bibi masak baso. Beli bahannya di supermarket,” kata Nizam.
“Ah, betul kata Bang Nizam. Kita suruh bibi yang masak baso,” ujar Zahra, “dari rumah sakit kita langsung ke supermarket.”
***
Rindu memandangi semangkok mie baso di depannya, terlihat sangat menggiurkan. Mienya menggunakan mie instan yang biasa ada di Indonesia. Kuahnya menggunakan air rebusan tulang sapi. Tinggal dikasih baso dan sawi hijau. Walaupun tidak bisa seperti yang biasa ia makan di Indonesia, namun bagi Rindu ini sudah cukup untuk mengobati rasa rindu terhadap baso.
Rindu memakan mie baso sedikit demi sedikit, agar perutnya tidak mual. Nizam dan Zahra juga makan mie baso seperti Rindu. Nizam makan mie baso dengan rakus, ia seperti orang kelaparan.
“Bang, makannya pelan-pelan nanti keselek,” kata Zahra.
“Enak mie basonya,” ujar Nizam. Nizam terus saja menyantap mie baso hingga tinggal sedikit lagi.
“Bi, buatkan mie baso satu mangkok lagi,” kata Nizam.
“Ya, Tuan,” jawab Bibi.
Nizam melanjutkan lagi makannya. Zahra kaget mendengar Nizam meminta tambah mie baso. Setahu Zahra Nizam tidak menyukai mie instant. Alasannya kebanyakan pecin.
Tanpa menunggu lama mie baso pesanan Nizam selesai dibuat, bibi mengantarkan ke meja makan.
“Bi, jangan lupa rujaknya. Untuk makanan penutup,” kata Nizam.
“Baik, Tuan,” jawab bibi.
Zahra dan Rindu berhenti makan ketika mendengar Nizam meminta rujak. Mereka perpandangan satu dengan yang lain.
“Kenapa?’ tanya Nizam ketika Zahra memandanginya.
“Nggak apa-apa,” jawab Zahra. Zahra melanjutkan makannya.
***
Waktu terus berlalu, kehamilan Rindu memasuki empat bulan. Zahra membawa Rindu untuk check_up ke dokter kandungan. Nizam tidak bisa ikut mengantar ke dokter karena ia sedang berada di Surabaya.
Zahra memperhatikan dokter yang sedang USG perut Rindu.
“Bayi dalam keadaan sehat. Ukurannya bayi sesuai dengan semestinya,” kata dokter. Kemudian dokter menempelkan alat untuk mendengar denyut jantung bayi ke perut Rindu. Terdengarlah suara detak jantung bayi. Dug dug dug.
“Detak jantungnya bagus,” kata dokter.
“Alhamdullilah,” ucap Zahra dan Rindu.
Dokter selesai memerika Rindu, ia kembali ke meja kerjanya.
“Ada keluhan tidak, Bu?” tanya dokter sambil menulis resep obat.
“Tidak ada, Dok,” jawab Rindu.
“Mualnya masih ada?” tanya dokter.
“Sudah tidak, Dok,” jawab Rindu. Dokter memberikan resep obat kepada Zahra.
“Bulan depan check_up lagi ke sini,” kata dokter.
“Baik, Dokter,” jawab Zahra.
Zahra dan Rindu keluar dari kamar periksa, seperti biasa mereka menuju ke apotik untuk membeli obat. Setelah dari apotik mereka langsung pulang ke rumah.
.
.
.