Riuh derap langkah di koridor kampus hari itu menjadi saksi hangatnya hubungan yang membendung segala keraguan. Di bawah naungan pohon angsana yang menggugurkan bunganya, Amanda duduk bersama Zahra, menatap lembaran tugas akhir yang hampir rampung. Enam tahun bukan waktu yang singkat untuk merajut benang persahabatan. Sejak mengenakan seragam putih-biru di bangku SMP, Zahra selalu menjadi tempat Amanda pulang, berbagi tawa, hingga rahasia terkecil sekalipun. Bagi Amanda, Zahra bukan sekadar teman biasa, melainkan saudara kandung yang tidak terikat oleh darah. Setiap keputusan besar dalam hidup Amanda selalu melewati pertimbangan Zahra, termasuk ketika seorang pria bernama Zidan datang mengisi hatinya dua tahun lalu.
Zidan adalah sesosok pria berkarisma dengan senyum menenangkan yang berhasil meluluhkan hati Amanda. Selama masa perkuliahan, ketiganya hampir tidak pernah terpisahkan. Di mana ada Amanda dan Zidan, di situ pula ada Zahra. Amanda sering kali merasa menjadi wanita paling
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kedamaian Yang Dinanti
Di balik celah pintu kayu yang sedikit terbuka, ibunda Arya berdiri membisu. Tatapan matanya yang senantiasa hangat kini dipenuhi binar haru. Air mata bahagia perlahan mengalir di pipinya yang mulai berkerut, menyaksikan momen indah di mana putra tunggalnya akhirnya bisa mendekap kembali wanita yang selama bertahun-tahun selalu ada dalam setiap doa dan ingatannya.
Sebagai seorang ibu, ia menyaksikan betul bagaimana Arya dulu terpuruk saat Amanda menikah dengan pria lain. Ia ingat betapa putranya memilih untuk mengubur perasaannya dalam-dalam, mengalihkan seluruh rasa sakitnya dengan bekerja keras hingga menjadi pengacara sukses, tanpa pernah merajut kasih dengan wanita mana pun.
Malam ini, melihat Arya mengusap air mata Amanda dan saling memberikan kehangatan, dada ibunda Arya dipenuhi rasa syukur yang membuncah. Takdir memang berputar melalui jalan yang penuh kerikil dan rasa sakit, namun pada akhirnya, takdir membimbing Amanda kembali ke tempat di mana ia benar-benar dihargai.
Ibunda Arya melangkah mundur perlahan dengan gerakan tanpa suara, tak ingin merusak momen berharga dua insan tersebut. Sambil menyapu air mata bahagianya, wanita tua itu tersenyum tulus sembari berbisik pelan dalam hatinya, 'Terima kasih, Ya Allah... Akhirnya anakku menemukan kembali kebahagiaannya.'
Ia pun berjalan menuju kamarnya dengan hati yang begitu lapang, siap menyambut esok hari dengan penuh keyakinan bahwa badai dalam hidup Amanda dan Arya telah resmi berganti menjadi pelangi.
Arya merenggangkan pelukannya perlahan, lalu memegang kedua bahu Amanda dengan lembut. Ia menatap wajah wanita di hadapannya dengan pendar mata yang begitu hangat dan penuh perhatian.
"Sekarang tidurlah, besok adalah persidangan pertamamu," ucap Arya lembut, suaranya tenang bagai usapan angin malam. "Kamu butuh istirahat yang cukup agar besok bisa berdiri dengan tegak di hadapan majelis hakim."
Amanda mengangguk pelan sembari mengulas senyum tulus yang memancarkan ketenangan. Rasa lelah, cemas, dan beban berat yang menyiksanya bertahun-tahun seolah menguap begitu saja. "Terima kasih, Arya. Selamat tidur."
"Selamat tidur, Amanda," balas Arya. Ia mengambil cangkir teh yang sudah mulai dingin dari meja, lalu melangkah menuju pintu. Sebelum menutup pintu kayu itu rapat-rapat, Arya sempat menoleh sekali lagi, memberikan senyuman menenangkan yang membuat hati Amanda merasa benar-benar aman.
Amanda merebahkan tubuhnya di atas ranjang yang empuk, menarik selimut hingga ke dada. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia memejamkan mata tanpa rasa takut akan masa depan.
Di luar kamar, malam kian melarut menuju fajar. Fajar yang tidak hanya menyongsong awal persidangan perdananya melawan Zidan, tetapi juga menyongsong babak baru dalam hidupnya—sebuah kehidupan yang merdeka dan dipenuhi oleh cinta yang sesungguhnya.
Amanda akhirnya bisa terlelap. Napasnya teratur dan halus, menyatu dengan keheningan malam yang kian pekat. Tak ada lagi mimpi buruk tentang kebohongan Zidan, tak ada lagi dinding-dinding kecemasan yang mengimpit dadanya. Di kamar yang tenang itu, rasa lelah yang menumpuk bertahun-tahun meluruh sepenuhnya, digantikan oleh rasa aman yang merengkuh jiwanya.
Di luar ruangan, fajar perlahan merayap di ufuk timur. Cahaya keemasan mulai menembus celah gorden, menyapa wajah Amanda yang tampak begitu damai dalam tidurnya. Senyum tipis yang terukir di bibirnya menjadi saksi bahwa luka lama telah mulai terobati, dan ia siap menyambut hari baru.
Saat jam alarm berdering pelan menunjukkan pukul enam pagi, Amanda membuka matanya dengan binar yang jauh lebih segar. Ia bangun, menatap sekeliling dengan mantap. Hari ini adalah persidangan pertamanya—langkah awal untuk memutus seluruh ikatan masa lalu dan menuntut haknya hingga tuntas.
Di meja makan, aroma kopi hangat dan nasi goreng buatan ibunda Arya sudah menyambut. Arya yang telah rapi berbalut stelan jas formal tampak tersenyum menatapnya dari kursi utama.
"Sudah siap untuk hari ini, Amanda?" tanya Arya penuh keyakinan.
Amanda mengangguk tegas sembari tersenyum manis. "Aku sangat siap, Arya."