NovelToon NovelToon
KIDUNG KINANTI UNTUK PANGLIMA KABUT

KIDUNG KINANTI UNTUK PANGLIMA KABUT

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Balas Dendam / Misteri
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Tiga Alif

Kirana Paramitha terbangun dari Peti Kaca Rembulan menghadapi Hukum Sumpah Sejiwa: wanita berusia dua puluh tahun wajib bersuami. Saat tunangannya kabur demi adik angkatnya, Kirana menjumpai Rangga Adinata, Panglima Kabut yang dilanda Krisis Api Darah. Dengan kidung dan ramuan ia menenangkannya, lalu bersumpah sejiwa. Tersembunyi sebagai penyanyi "Kinanti", Kirana membangun rumah tangga, melahirkan tiga anak bertalenta naga, dan bersama Rangga menyatukan ras-ras Cakrawala dalam Majelis Sejagat.

note : support para pembaca sangat berarti bagi penulis untuk tetap berkarya dan upload minimal 3 bab per hari

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tiga Alif, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

3 - NIKAHI AKU

Rangga menggembungkan dadanya sedikit, seolah ingin terlihat lebih dewasa di depan gadis yang baru saja dikenalnya itu. "Aku... aku sudah dewasa!" Ia mengerutkan kening, tampak tengah menghitung-hitung usianya sendiri dengan susah payah, lalu akhirnya berkata dengan wajah yang sangat serius, "Seharusnya, aku sudah berumur empat puluh tahun!"

Blukutuk! Kirana nyaris tersedak oleh tawanya yang tidak tertahankan, sampai-sampai ia harus menutup mulutnya dengan telapak tangan. Rangga tampak bingung mendengar suara tawa itu, tidak mengerti apa yang membuat gadis di depannya tertawa seperti itu. Alisnya berkerut, dan sepasang tanduk kecilnya ikut bergetar.

Dengan wajah semungil dan semenggemaskan itu, ia mengaku sudah berumur empat puluh tahun? Siapa yang akan percaya dengan perkataan polos seperti itu?

"Si kecil manis, kau sedang bercanda, kan?"

Segala kesedihan Kirana akibat kaburnya Danendra seolah tersapu bersih dalam sekejap, seperti debu yang terbawa angin dan tidak pernah ada. Ia hampir lupa bahwa beberapa jam lagi ia genap berusia dua puluh tahun, karena kehadiran pemuda ini berhasil mengalihkan seluruh perhatiannya.

Ia pun menggoda pemuda itu dengan senyuman. "Kalau begitu, keluarkan Gelang Lentera milikmu. Jika usiamu sudah genap dua puluh tahun, kau bisa membantu kakak menikah. Nanti, setelah semua masalah ini selesai, kalau kau mau pergi, kau boleh pergi sesukamu."

Meskipun perceraian di Kekaisaran Cakrawala tidak semudah yang dibayangkan orang kebanyakan, tetap saja jauh lebih baik daripada dijodohkan secara acak dengan pria yang tidak diketahui rupa maupun perangainya sama sekali.

Yang terpenting, Kirana termasuk orang yang sangat mementingkan wajah. Ia tidak tahan melihat suami yang jelek. Jika kelak ia menikah dengan pria yang buruk rupa, ia bisa kehilangan nafsu makan dan tidak bisa tidur setiap malam! Ia bahkan punya kebiasaan kecil: jika melihat wajah yang terlalu buruk, ia akan merasa mual seharian dan tidak bisa berkonsentrasi pada apa pun.

Dulu, ia bersedia menunjukkan kesetiaannya kepada Danendra dan menikah dengannya semata-mata karena wajah Danendra masih bisa ia toleransi.

Namun jika dibandingkan dengan Rangga yang berdiri di hadapannya ini, Danendra tidak lebih dari sekadar ubi di antara hidangan mewah!

Gelang Lentera? Rangga menunduk, menatap pergelangan tangannya sendiri, lalu menemukan Gelang Lentera yang melingkar erat di sana, seolah benda itu adalah bagian dari tubuhnya.

Namun tampaknya gelang itu sedang rusak. Ia mengutak-atiknya cukup lama sebelum akhirnya berhasil membuka tampilan pengajuan Sumpah Sejiwa di cermin gema. Meskipun ia tidak begitu memahami cara kerja gelang ini, nalurinya tetap menemukan pilihan yang tepat untuk dibuka.

"Kakak, yang ini, kan?"

Kirana mencondongkan tubuh untuk memeriksanya dari dekat. Gelang itu berwarna hitam pekat, dan ia tidak bisa menebak mereknya, tetapi teksturnya halus dan mengilap, pasti bukan barang yang murah.

Mungkin ada lapisan pengaman yang aktif, atau mungkin memang rusak, sehingga ia tidak bisa melihat hal lain. Tampilan informasi pribadi pemuda itu tampak agak kacau, tetapi untungnya kode gema untuk pengajuan sumpah masih terbaca dengan jelas. Kirana tidak terlalu memikirkan hal itu, yang terpenting kode itu utuh, karena hanya itulah yang bisa menyelamatkannya dari jodoh acak Arsip Agung.

Selama Kirana membuka catatan informasi pribadinya dan keduanya saling menautkan kode gema, itu sudah dianggap sebagai pengajuan Sumpah Sejiwa kepada Arsip Agung Kekaisaran Cakrawala.

Jika kedua pihak memenuhi segala syarat pernikahan, Arsip Agung akan mengesahkannya tanpa banyak bertanya. Prosesnya singkat, tetapi hasilnya mengikat, dan tidak seorang pun bisa membatalkannya sesuka hati.

Dan pada saat itulah, terdengar suara langkah kaki yang datang dari belakang mereka.

Kirana menoleh dan melihat dua orang perempuan tengah berjalan mendekat ke arahnya.

Yang satu lebih tua, mengenakan kebaya ungu yang anggun dan mewah, dengan perawakan yang sangat berwibawa dan sikap yang terkesan mahal.

Yang satu lagi terlihat lebih muda dan berjalan di samping perempuan berbaju ungu itu, dengan langkah yang ringan namun penuh arti, sesekali menoleh ke arah Kirana dengan sorot mata yang tidak bersahabat.

Ternyata, ibu dan kakak perempuan Danendra yang datang mencarinya.

"Kirana, kakakku belum juga datang. Nah, bagaimana dengan pernikahan ini?" Daniati mengerutkan bibirnya dengan senyum yang tampak puas dan sedikit mengejek di ujung-ujungnya. Ia memang dikenal suka mencari masalah, dan tidak pernah melewatkan kesempatan untuk meremehkan Kirana di depan umum, terlebih di hari yang paling penting seperti ini.

Daniati memang selalu tidak menyukai Kirana yang dianggapnya anak sakit-sakitan. Dalam pandangannya, Kirana hanya terus menempel pada kakaknya dengan sikap yang sombong.

Yang lebih penting lagi, ia dan Sekar adalah sahabat karib yang sudah saling mengenal selama tujuh tahun lamanya.

Ibu Danendra sebenarnya tidak keberatan dengan pernikahan ini, lagipula hubungan kedua keluarga memang sudah dekat sejak bertahun-tahun.

Terlebih lagi, di mata Ibu Danendra, Sekar hanyalah anak angkat keluarga Wijaya, bukan darah daging sungguhan.

Bagaimana mungkin ia bisa menandingi Kirana, seorang gadis bangsawan yang pantas dan terhormat?

Ia berkata dengan nada yang sungguh-sungguh, "Rara, jika kau menunggu Danendra, ia pasti akan kembali untuk menikahimu."

Kirana menunduk dan melihat waktu yang tertera di Gelang Lentera miliknya. Saat itu sudah lewat pukul sembilan malam. Ia menatap angka di cermin gema itu lama-lama, seolah menunggu sesuatu yang tidak kunjung datang.

Tinggal kurang dari tiga jam menuju tengah malam, dan waktu terus berjalan tanpa ampun.

Jika Danendra benar-benar ingin kembali, seharusnya ia sudah berada di Provinsi Seruni sejak sekarang.

Namun ia tidak datang.

Kirana tersenyum dan berkata, "Bibi, pernikahan ini tetap akan dilangsungkan seperti biasa. Bibi sebaiknya kembali ke balai jamuan saja, agar para tamu tidak bertanya-tanya." Ia memilih untuk tetap tersenyum karena tidak ada gunanya bertengkar di depan orang-orang yang sedang menonton; ia jauh lebih tenang daripada yang mereka kira.

Ibu Danendra mengangguk puas. Meskipun Kirana ini kurang sehat, latar belakang keluarganya baik, perawatannya rapi, dan ia terlihat patuh serta cerdas.

Daniati menyangga ibunya, menoleh ke belakang sambil mencibir, "Kasihan sekali, aku sudah tidak tega melihat wajahmu nanti!"

Keduanya pun pergi tanpa menyadari bahwa Rangga berada di sudut koridor itu sejak tadi hingga akhir. Mereka sibuk dengan pikiran mereka sendiri sehingga melewatkan sosok di sudut yang paling penting.

Kirana mengerutkan mata, lalu berbalik. Ia mendapati Rangga masih duduk di tempatnya semula. Tadi ia menyembunyikan ekornya karena takut terlihat, dan sekarang ekor itu kembali muncul dengan gemas.

Rangga sedang dengan cermat mencoba mengaitkan ekornya ke pergelangan kaki Kirana lagi, seperti anak kecil yang sedang bermain. Ekornya bergoyang pelan, dan matanya yang besar menatap Kirana penuh harap, seolah meminta persetujuan.

1
falea sezi
ini kisah kayak saranjana kuno modern jd satu bner gak🤭
Kartika Candrabuwana: novel saya yang berjudul putri malam untuk panglima senja juga cukup menghibur
total 2 replies
Indriyati
novel sungguh bagus untuk pembaca wanita. penuh drama dan seru. semangat thor. kutunggu bab bab berikutnya
Kartika Candrabuwana: terima kasih atas votenya. supportnya sangat berarti bagi penulis
total 1 replies
falea sezi
lanjut
Kartika Candrabuwana: makasih. sudah siap 3 bab per hari terjadwal. supportnya sungguh berarti🙏
total 1 replies
falea sezi
rangga ini aneh g bertanggung jawab bingung aq novel gendre apaan inj😒
Kartika Candrabuwana: agar ada permainan emosi disini. makasih banyak komennya😍
total 1 replies
falea sezi
q bingung ini kisah apa di bilang dr jaman masa depan tp kayak kuno bgt baju dan dll tp ada dokter ada hape ada pesawat atau di sebut kapal terbang 🤣🤣 ini jaman apa thor jelasin klo. kerajaan mahh meski jaman dlu aja rakyat bebas makan buah sayur kali ahh🤣
Kartika Candrabuwana: iya untuk zaman saya buat unik agar bawa nuansa baru. makasih banyak komennya👍
total 1 replies
falea sezi
ini cerita fantasi kahh🤣 kok aneh bgt ada dokter tp kisahnya kayak kuno
Kartika Candrabuwana: ini cerita fantasi, sengaja biar unik. makasih komennya.
total 1 replies
falea sezi
baru nemu
Kartika Candrabuwana: semoga bisa menghibur
total 1 replies
prameswari azka salsabil
sekali membaca novel ini, saya langsung penasaran untuk membaca terus sampai akhir. luar biasa novel ini
Kartika Candrabuwana: terima kasih banyak atas votenya
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!