Bima Liem wakes in another's body—a young Chinese-Javanese man in Waringin, East Java, crushed by family pressure, insults, and silent injustice.
This time, he won't stay silent. A mysterious Golden Defiance System binds to him: every time he resists moral blackmail, social pressure, or unfairness, he earns points for extraordinary abilities—god-level legal skills, deadly combat, hacking, spy drones, and hidden wealth.
Armed with law and the system, he begins an unprecedented mission: send every wrongdoer to prison—one by one. Trolls, bullies, corrupt officials, fake doctors, campus thugs, cruel neighbors—none escape the People's Prosecutor.
Everyone sees a humble village youth, unaware behind that calm face lurks a hidden billionaire, national hero, and the most dangerous man in any courtroom. You can choose silence. But if you choose evil—don't expect me to choose good.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Galih Lestari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 10
Bab 010: Jalur Hukum Dimulai
Sore itu, rumah Bima seperti kapal kecil yang dilempari batu dari semua sisi.
Telepon terus berbunyi. Pesan masuk tidak berhenti. Beberapa tetangga pura-pura lewat depan pagar lebih dari sekali. Di grup RT, ada yang menulis kalimat sopan yang tajam: "Mungkin keluarga Pak Harto perlu klarifikasi supaya lingkungan tidak ikut malu."
Bima membaca semuanya tanpa membalas.
Balasan terbaik berupa berkas yang membuat orang menyesal pernah menekan tombol unggah.
Ia menutup tirai kamar, membuka laptop tua milik Ratna yang biasa dipakai kuliah, lalu menghubungkan ponselnya. Peretas Tingkat Tinggi aktif dengan cara yang tenang. Tidak ada layar hijau penuh angka. Yang muncul di kepala Bima justru struktur: jalur unggahan, kompresi video, sisa metadata, pola akun, jam sunting, perangkat yang digunakan, dan kesalahan kecil orang yang terlalu percaya diri.
[Peretas Tingkat Tinggi aktif.]
[Mode: Investigasi digital defensif.]
[Tujuan: validasi sumber, pemulihan konteks, pengamanan bukti.]
Bima mulai dari video viral pertama. Akun pengunggah bernama @airmata_siska, dibuat dua jam sebelum video naik. Foto profilnya bunga putih. Bio-nya kosong. Terlalu bersih untuk akun asli, terlalu tergesa untuk operasi yang matang.
Ia mengunduh salinan publik video itu, menyimpan hash file, lalu membandingkannya dengan rekaman Drone Bayangan dan potongan CCTV restoran yang bisa ia akses dari jaringan kamera luar restoran. Ia tidak mengambil semua data sembarangan. Ia hanya mengamankan frame yang memperlihatkan urutan asli: Darmawan memaksa Pak Harto minum, Bima mengambil gelas, cairan berubah, Siska mengangkat ponsel, Lina berdiri, keluarga Bima keluar.
Bima menulis catatan waktu.
Video Siska: 38 detik.
Rekaman asli: 17 menit 42 detik.
Potongan hilang: konteks paksaan alkohol, obat Harto, amplop penghinaan, dan percakapan sebelum konflik.
Ia tersenyum tipis. "Ceroboh."
Fifi memang bisa memotong gambar, tetapi ia lupa membersihkan jejak ekspor. Nama perangkat muncul di metadata bayangan: FIFI-A54. Aplikasi penyunting video meninggalkan waktu ekspor: 02.17 dini hari. Satu menit setelah itu, file dikirim ke folder awan milik akun Melati.
Melati lebih pintar. Ia menghapus foldernya.
Menghapus file tidak membuat jejaknya lenyap. Peretas Tingkat Tinggi menunjukkan bekas sinkronisasi, notifikasi pemulihan, dan thumbnail yang masih tertinggal di cache. Bima tidak perlu membobol hidup seseorang sampai ke kamar mandi digitalnya. Ia hanya perlu membuktikan bahwa tiga orang ini merencanakan fitnah.
Dan bukti itu muncul di chat yang mereka kira sudah aman.
Melati: "Potong bagian Om Dar, jangan sampai keliatan dia maksa minum."
Fifi: "Biar Siska keliatan mundur takut. Tambah suara napas?"
Siska: "Aku mau orang lihat dia kasar. Kalau bisa bawa-bawa keluarga miskin tapi sombong."
Melati: "Caption jangan terlalu kriminal dulu. Pancing netizen ngomong sendiri."
Bima menyimpan tangkapan layar, metadata, dan file cadangan. Ia membuat folder berlapis: sumber publik, bukti edit, rekaman asli, chat perencanaan, ancaman warganet, intimidasi fisik telur di pagar.
Ia juga membuat satu keputusan penting: bukti sistem tidak boleh muncul telanjang. Drone Bayangan memberi rekaman paling lengkap. Polisi tidak akan menerima cerita tentang benda tak terlihat yang datang dari SBE. Maka Bima menjadikan rekaman itu peta. Jawaban akhirnya harus datang dari bukti yang bisa diterima penyidik.
Dari peta itu, ia mencari sumber yang bisa dijelaskan: kamera restoran di sudut kasir, kamera parkir minimarket seberang, unggahan pendek pelayan yang sempat merekam suasana karena meja VIP ribut, serta timestamp transaksi pembayaran restoran. Satu demi satu, potongan yang legal dan wajar itu membentuk kerangka sama persis dengan feed Drone.
Ia menamai foldernya dengan kata yang akan dimengerti penyidik.
01_Kronologi.
02_Video_Asli.
03_Video_Editan.
04_Metadata.
05_Chat_Perencanaan.
06_Ancaman_Dan_Doxing.
07_Saksi_Digital.
Setiap file diberi tanggal, jam, sumber, dan catatan singkat. Tidak ada drama. Tidak ada hinaan. Bukti yang bagus tidak perlu berteriak.
Jumlah file naik cepat.
17.
23.
31.
Ketukan pelan terdengar di pintu.
"Mas?"
"Masuk, Dik."
Ratna masuk membawa piring nasi, telur dadar, dan sambal. Matanya masih sembap. Ia memaksa suaranya terdengar ringan. "Mama nyuruh makan. Katanya kalau mau perang hukum jangan lapar dulu."
Bima melirik piring. "Mama mulai belajar istilah perang hukum?"
"Mama bilang begitu sambil nangis. Jadi jangan bercanda terlalu keras."
Bima mengambil piring itu. "Terima kasih."
Ratna berdiri di samping meja, melihat folder-folder di layar. "Mas lagi apa?"
"Lagi masak."
"Masak apa?"
"Masak besar. Kalau matang, Siska dan teman-temannya tidak akan suka aromanya."
Untuk pertama kalinya hari itu, Ratna tertawa kecil.
Lalu ia melihat salah satu screenshot komentar ancaman. Senyumnya hilang. "Mas, orang-orang ini... bisa benar-benar datang?"
"Bisa. Karena itu semua disimpan. Nama akun, tautan, waktu komentar, tangkapan layar. Kalau mereka merasa berani karena ramai-ramai, kita buat mereka dipanggil satu-satu."
Ratna meletakkan flashdisk kosong di meja. "Ini punya aku. Kalau perlu buat cadangan."
Bima mengambilnya. "Kamu yakin? Nanti bisa ikut masuk laporan."
"Mas, namaku sudah mereka bawa-bawa. Kampusku sudah mereka masuki. Kalau aku diam, besok mereka pikir bisa pakai nama Mama juga."
Bima menatap adiknya beberapa detik. Ia menyukai keberanian Ratna. Yang lebih penting, keberanian itu tidak asal meledak. Ratna menyerahkan screenshot grup kampus, lengkap dengan nomor, waktu, dan nama admin yang membiarkan hinaan berjalan.
"Bagus," kata Bima. "Urusannya sudah melebar dari Siska. Ini soal siapa saja yang merasa aman karena ramai."
Ratna menatap kakaknya lama. "Kamu yakin?"
"Aku tidak janji semua orang langsung percaya. Tapi aku janji, yang sengaja merusak nama keluarga kita tidak akan pulang hanya dengan kata maaf."
Ratna mengangguk. Kali ini ia percaya setelah melihat pekerjaan nyata di layar. File. Waktu. Nama. Bukti.
Setelah Ratna keluar, Bima melanjutkan pencarian. Di akun lama Siska, ia menemukan pola yang lebih busuk: grup sekolah lama, tangkapan layar ejekan terhadap seorang siswi bernama Reni, komentar yang mendorong orang lain mengucilkan gadis itu. Kasus lama. Mungkin belum masuk dakwaan utama. Polanya tetap menunjukkan kebiasaan: Siska berulang kali membuat panggung, memilih korban, lalu berpura-pura paling terluka.
Bima menyimpan bukti itu dalam folder karakter dan motif.
[Sub-misi investigasi selesai.]
[Folder bukti awal lengkap.]
[Poin +500]
[Total file: 47]
Ia menata semuanya menjadi paket yang bisa dibaca manusia biasa: ringkasan kronologi, tabel waktu, tautan video publik, perbandingan frame, screenshot chat, daftar akun penyebar awal, dan ancaman yang mengarah ke rumah.
Terakhir, ia menyiapkan dua versi video asli. Satu versi penuh untuk polisi. Satu versi publik yang menyamarkan wajah pelayan dan anggota keluarga yang tidak perlu diseret.
Bima menutup laptop saat langit di luar sudah gelap.
Di layar SBE, folder bukti tersusun rapi: 47 file. Metadata, chat, bukti bullying lama, komentar ancaman, semua berada di tempatnya.
Ia membuka kontak, mengetik pesan kepada nomor Polsek Waringin yang tertera di situs layanan publik, meminta informasi jam penerimaan laporan dan prosedur membawa bukti digital.
Balasan otomatis masuk beberapa menit kemudian.
Buka pukul 08.00. Bawa KTP, kronologi, dan bukti pendukung.
Bima menyimpan nomor itu.
"Besok," katanya pelan, menatap nama Siska di folder utama, "kita mulai."