Ardi Pratama pernah menjadi dokter bedah yang menjanjikan — sampai ia dijebak masuk penjara, diceraikan istrinya, dan kehilangan hak asuh kedua anaknya. Keluar dari balik jeruji dengan tangan kosong, yang tersisa hanyalah foto lusuh Gatra dan Sari yang selalu ia genggam.
Tapi di malam paling gelap dalam hidupnya, di tengah operasi transplantasi jantung yang nyaris gagal, sesuatu yang mustahil terjadi — sebuah panel virtual muncul di hadapannya.
[Sistem Modifier Aktif]
[Poin Modifikasi: 100 PM]
[Upgrade skill tersedia. Pilih sekarang.]
Satu klik. Skill bedahnya melonjak dari Pemula ke Lanjutan. Jantung pasien yang sekarat kembali berdetak.
Sejak malam itu, Ardi bukan lagi dokter biasa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 16
Bab 016: Rasa dari Keluarga
Ini bau kasus lama.
Kalimat itu mengikuti Ardi sampai malam turun di Surabaya.
Bronkosol. Nama obat itu terus muncul di belakang matanya seperti lampu kecil yang tidak mau padam. Ia ingin langsung membuka jurnal, mencari data BPOM, membongkar rekam medis lama yang mungkin berhubungan dengan kasusnya.
Namun sebelum mengejar kebenaran, ada satu tempat yang harus ia datangi.
Rumah.
Keesokan paginya, Ardi mengendarai motor bekasnya menuju Mojokerto. Jalanan keluar Surabaya padat oleh truk, angkot, dan pengendara yang saling menyelip dengan sabar yang tipis. Angin panas menampar wajahnya, membawa bau debu, bensin, dan sawah basah ketika kota mulai bergeser menjadi pinggiran.
Di dalam tas kecilnya, ada tiga benda yang terus ia jaga.
Surat undangan dari Profesor Sri Mulyani.
Foto Gatra dan Sari yang sudah kusut di pinggirnya.
Dan salinan dokumen hukum yang membuktikan hidupnya perlahan kembali berdiri.
Mojokerto tidak banyak berubah.
Alun-alun masih ramai oleh pedagang kaki lima. Masjid agung berdiri tenang di bawah matahari. Gang kecil menuju rumah orang tuanya tetap sempit, dengan tembok tetangga yang catnya mulai pudar dan pot tanaman yang diletakkan terlalu dekat ke jalan.
Ardi mematikan mesin motor di depan pagar hijau tua.
Untuk beberapa detik, ia hanya berdiri.
Dulu ia pulang ke rumah ini membawa jas dokter dan rasa bangga. Lalu satu hari, polisi datang, kabar menyebar, dan rumah itu menjadi tempat ibunya menundukkan wajah setiap kali pergi ke pengajian.
Ia mengetuk pintu.
Langkah kaki terdengar dari dalam.
Pintu terbuka.
Bu Endang berdiri dengan jilbab rumah warna cokelat muda. Wajahnya lebih kurus daripada ingatan Ardi. Kerutan di sekitar matanya seperti bertambah bukan karena usia, tetapi karena terlalu sering menangis diam-diam.
“Ardi...”
Suara itu pecah di tengah.
Ardi menunduk sedikit. “Assalamu'alaikum, Ibu.”
Bu Endang tidak langsung menjawab. Matanya bergerak ke gang, memastikan tidak ada tetangga yang sedang memperhatikan. Baru setelah itu ia menarik tangan Ardi masuk.
“Masuk dulu. Jangan sampai tetangga lihat kamu berdiri lama di luar.”
Kalimat itu menusuk, tetapi genggaman tangannya hangat.
“Wa'alaikum salam,” tambah Bu Endang pelan, seperti baru ingat menjawab salam.
Di ruang tamu, Pak Suroto duduk di kursi kayu dekat jendela. Koran terlipat di pangkuannya. Ia tidak berdiri cepat. Ia hanya menatap Ardi lama, lalu mengulurkan tangan.
Ardi mencium tangan ayahnya.
Pak Suroto menggenggam tangannya lebih lama dari biasa.
“Sudah makan, Nak?”
Hanya itu.
Tetapi telapak tangan yang menahan tangan Ardi sebentar lebih kuat daripada pelukan.
Rani muncul dari dapur membawa gelas teh. Adiknya itu berhenti di ambang pintu, bibirnya bergetar, lalu mencoba tersenyum.
“Mas Ardi tambah kurus.”
“Kamu tambah cerewet,” balas Ardi.
Rani memutar mata, tetapi ia cepat-cepat menghapus sudut matanya dengan punggung tangan. “Duduk. Ibu masak lodeh. Katanya nggak mau ribet, tapi dari subuh sudah motong labu.”
Bu Endang pura-pura sibuk merapikan taplak meja.
Makan siang berlangsung dengan suara sendok dan piring yang terlalu hati-hati.
Ada nasi hangat, sayur lodeh, tempe goreng, sambal, dan ayam kecap yang jelas dimasak lebih banyak daripada kebutuhan tiga orang. Bu Endang berkali-kali menaruh lauk ke piring Ardi, lalu berkali-kali pula menatap pintu depan.
Seolah takut tetangga datang.
Seolah takut masa lalu ikut masuk.
Di tengah makan, Bu Endang akhirnya tidak tahan.
“Kamu seharusnya tidak usah kembali ke rumah sakit itu,” katanya pelan. “Cari pekerjaan biasa saja. Yang penting halal, tenang. Ibu tidak kuat kalau nama kamu disebut-sebut lagi.”
Rani menunduk. Pak Suroto meletakkan sendok.
Ardi menatap piringnya.
Ia bisa memahami ketakutan ibunya. Bagi Bu Endang, rumah sakit bukan lagi tempat putranya menyelamatkan orang. Rumah sakit adalah tempat fitnah bermula, tempat polisi mengambil anaknya, tempat tetangga mulai berbisik.
“Ibu,” kata Ardi, “kalau saya cari pekerjaan biasa hanya supaya orang tidak bicara, Gatra dan Sari akan tumbuh dengan cerita bahwa ayahnya lari.”
Bu Endang menatapnya. Matanya merah.
“Saya tidak bisa biarkan itu,” lanjut Ardi. “Saya harus menjadi dokter yang lebih baik. Bukan untuk membalas semua orang. Tapi karena anak-anak saya butuh ayah yang bisa mereka banggakan.”
Tangannya masuk ke saku kemeja.
Ia mengeluarkan foto kecil itu.
Gatra dan Sari tersenyum di atas kertas yang sudah sering disentuh.
“Ini saya bawa sejak di dalam,” kata Ardi. “Setiap kali saya ingin menyerah, saya lihat foto ini.”
Bu Endang menutup mulutnya.
Air matanya jatuh tanpa suara.
Pak Suroto mengambil foto itu dengan hati-hati, seperti memegang sesuatu yang mudah pecah. Ia melihat wajah cucu-cucunya, lalu mengembalikannya kepada Ardi.
“Kami tidak punya banyak uang,” kata Pak Suroto. “Bapak juga tidak punya koneksi besar. Tapi kalau kamu mau berjuang untuk anak-anakmu, rumah ini ada di belakangmu.”
Bu Endang menangis lebih keras.
“Ibu takut, Nak,” katanya. “Takut kamu disakiti lagi. Takut tetangga bicara lagi. Takut Gatra dan Sari makin jauh.”
Ardi mengulurkan tangan dan menggenggam jari ibunya.
“Saya juga takut, Bu. Tapi saya lebih takut kalau mereka lupa suara saya.”
Rani tiba-tiba berdiri.
“Kalau soal suara, aku punya sesuatu.”
Ardi menoleh.
Rani mengambil ponselnya dari meja dapur. “Aku kenal Bu Nisa, orang tua teman TK Gatra. Dia tahu kondisi Mas, dan dia kasihan. Hari ini Gatra main di rumahnya setelah sekolah. Dewi nggak tahu. Tapi Bu Nisa bilang, kalau cuma video call sebentar, dia bisa bantu.”
Jantung Ardi seperti berhenti satu ketukan.
“Rani...”
“Aku tahu ini sensitif,” kata Rani cepat. “Aku nggak minta Gatra bohong. Aku cuma bilang, kalau dia mau lihat ayahnya, ada kesempatan.”
Ponsel bergetar.
Nama Bu Nisa muncul di layar.
Rani mengangkat, lalu mengaktifkan video.
Beberapa detik pertama hanya terlihat langit-langit rumah orang lain, suara anak-anak, dan seorang perempuan berkata lembut, “Gatra, sini sebentar. Ada yang mau ketemu.”
Lalu wajah kecil itu muncul.
Gatra.
Rambutnya sedikit berantakan. Matanya besar, curiga, lalu membeku ketika mengenali wajah di layar.
“Ayah?”
Ardi hampir tidak bisa bernapas.
Ia tersenyum sekuat yang ia mampu.
“Hai, Nak.”
Gatra menjerit, “AYAH!”
Di belakangnya, Sari muncul setengah wajah, memegang boneka kecil. Ia tidak sepenuhnya mengerti, tetapi ketika melihat Gatra melonjak, ia ikut mendekat.
“Yah! Yah!”
Bu Endang langsung menangis di belakang Ardi. Pak Suroto memalingkan wajah ke jendela.
Ardi mengangkat foto kusut itu ke depan kamera.
“Ayah selalu bawa foto kalian,” katanya. “Lihat? Ini Gatra. Ini Sari sayang.”
Gatra menempelkan wajahnya ke layar. “Ayah kapan jemput Gatra? Gatra nggak mau tinggal sama Nenek. Nenek galak. Sari juga suka nangis malam.”
Kalimat anak empat tahun itu merobek lebih dalam daripada semua hinaan Rangga.
Ardi menelan sesuatu yang panas di tenggorokannya.
“Ayah sedang berusaha, Nak. Ayah harus lewat jalan yang benar supaya nanti Gatra dan Sari aman. Gatra jaga Adik dulu, ya?”
Gatra mengangguk keras. “Gatra jaga Adik. Tapi Ayah jangan lama-lama.”
“Ayah janji tidak akan berhenti.”
Sari menepuk layar dengan tangan kecilnya. “Yah pulang.”
Ardi tersenyum, dan untuk pertama kalinya senyum itu retak di depan keluarganya.
“Iya, Sari sayang. Ayah pulang.”
Panggilan hanya berlangsung beberapa menit. Bu Nisa harus menutup sebelum ada masalah. Tetapi ketika layar gelap, ruang tamu rumah kecil itu tidak lagi sama.
Bu Endang memeluk Ardi dari belakang.
“Ambil mereka kembali, Nak,” bisiknya. “Ibu akan bantu apa pun yang Ibu bisa.”
Sore itu, sebelum kembali ke Surabaya, Ardi berdiri lama di halaman. Langit Mojokerto mulai berubah jingga. Dari masjid, suara azan magrib mengalir di atas atap-atap rumah.
Di jendela, Bu Endang memandang punggung anaknya.
Untuk pertama kalinya sejak vonis itu jatuh, ia tidak melihat Ardi sebagai aib yang harus disembunyikan dari tetangga.
Ia melihat seorang ayah yang sedang berjalan pulang lewat jalan paling sulit.
Dalam perjalanan kembali, jalanan mulai gelap ketika ponsel Ardi berdering.
Rudi.
Ardi menepi di dekat pom bensin kecil dan mengangkat panggilan.
“Bos,” suara Rudi terdengar tegang, “ada pasien baru di UGD. Kasus aneh. Pria tiga puluhan, tiba-tiba cardiac arrest setelah minum obat batuk biasa.”
Tangan Ardi mengencang di setang motor.
“Nama obatnya?”
Rudi menarik napas di ujung sana.
“Bronkosol.”
Angin malam mendadak terasa dingin.
Rudi melanjutkan, “Dokter jaga bilang ini cuma drug interaction biasa. Tapi CT-nya menunjukkan ada sesuatu yang salah dengan hatinya. Gue nggak yakin.”
Ardi menatap jalan gelap menuju Surabaya.
“Jangan biarkan rekam medisnya hilang,” katanya. “Saya ke sana sekarang.”
seperti menonton langsung teganggg brooo🤣🤣🤭🤭🤭