NovelToon NovelToon
Nikah Kilat Sang Mayor: Jatuh Berkali-kali dalam Pelukan Perwira

Nikah Kilat Sang Mayor: Jatuh Berkali-kali dalam Pelukan Perwira

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta setelah menikah / One Night Stand / Menikahi tentara
Popularitas:100
Nilai: 5
Nama Author: Vira Dusk

Laras terbangun dengan tubuh nyeri di ranjang asing—di sampingnya, seorang perwira TNI berdada bidang yang bahkan belum ia tahu namanya. Semalam adalah sebuah jebakan. Tapi lelaki dingin itu, **Mayor Bramantya**, justru bersikeras satu hal: *"Saya akan bertanggung jawab. Kita menikah."*

Laras cuma berniat "kerja sama dulu, lihat situasi, kalau tak cocok kabur." Ia punya rahasia: dulu anak angkat yang disiksa dan nyaris dijual ayah tirinya, kabur ke kota besar, menempa diri jadi desainer berbakat dengan tangannya sendiri. Yang tak ia duga—sang Mayor yang garang di luar itu ternyata memuja istrinya sampai ke ubun-ubun:

> *"Siapa pun kamu dulu, yang kucintai kamu yang sekarang."*

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vira Dusk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 12

Bab 12

Hidup dengan Caramu Sendiri

Tania benar tentang satu hal. Laras memang tidak punya keluarga darah yang bisa berdiri di belakangnya.

Namun Tania salah jika menganggap itu membuat Laras tidak punya apa-apa.

Di minggu kedua, pemeriksaan latar belakang mulai berjalan. Petugas perempuan dari satuan mewawancarai Laras di ruang tamu dengan Pak Hardjono berada cukup jauh agar percakapan tetap privat. Pertanyaannya jelas: alamat lama, riwayat kerja, alasan dokumen tertahan, hubungan dengan Pak Rusdi, dan perkara penginapan yang belum dilaporkan penuh.

Laras menjawab bagian yang relevan. Ia tidak menyembunyikan bahwa Pak Rusdi pernah mencoba menjualnya, tetapi ia menolak menjelaskan detail kamar 302 di depan siapa pun selain petugas pendamping.

Wawancara berlangsung hormat. Tetap saja, setelah petugas pergi, kedua telapak tangan Laras basah oleh keringat.

Di luar pagar, dua ibu yang lewat berhenti terlalu lama.

"Itu petugas litsus, ya?"

"Katanya calon istri Kapten Bram tidak jelas keluarganya."

Suara mereka pelan, tetapi jendela ruang tamu terbuka.

Kinan hendak keluar. Laras menahan lengannya.

"Jangan."

"Mereka membicarakanmu di depan rumah sendiri."

"Kalau kamu marah sekarang, besok mereka punya cerita baru. Biarkan hasil pemeriksaan menjawab."

"Kamu tidak sakit hati?"

Laras menatap map berisi salinan dokumen di meja. "Sakit hati tidak membuat NIK-ku selesai lebih cepat."

Kinan menggerutu, tetapi kembali duduk. Ia lalu membuka laptop dan membantu Laras menyusun presentasi desain sebagai cara diam-diam mengalihkan kemarahan.

***

Malam itu, Laras belum tidur ketika Bram pulang dari satuan.

Lampu kamar tamu masih menyala. Dua mockup Sari Boga berada di meja, berdampingan dengan daftar biaya alat yang dibeli Bram. Laras menambahkan kolom pembayaran meski belum ada satu rupiah pun yang masuk.

Bram mengetuk pintu terbuka. "Boleh masuk?"

"Boleh."

Ia duduk di kursi dekat meja, masih memakai kaus dalam dinas dan celana lapangan. Wajahnya terlihat letih.

"Petugas bilang wawancaramu lancar," katanya.

"Cepat sekali laporan sampai kepadamu."

"Saya tidak mendapat isi wawancara. Hanya konfirmasi bahwa tahap pertama selesai."

Laras mengangguk. Itu penting. Bram tidak meminta akses ke cerita yang diberikan secara privat.

Tatapannya jatuh pada daftar utang.

"Kamu masih mencatat semuanya?"

"Ya."

"Termasuk kertas seharga tiga puluh ribu?"

"Termasuk ongkos parkir dua ribu."

Bram menarik napas. "Laras, saya tidak menolongmu supaya kelak mengirim tagihan lunas dan pergi."

Pensil di tangan Laras berhenti.

"Aku tahu."

"Tidak kelihatan begitu."

"Karena kamu tidak pernah hidup tanpa uang untuk keluar dari tempat berbahaya."

Kalimat itu membuat Bram diam.

Laras menutup buku. Ia tidak ingin bertengkar, tetapi sesuatu yang dipendam sejak tinggal di rumah itu akhirnya menuntut keluar.

"Waktu bekerja di Bandung, aku selalu menyimpan uang untuk sewa kamar tiga bulan. Bukan karena aku suka menimbun. Karena kalau pemilik konveksi melecehkan pekerja, kalau teman kos membawa orang jahat, atau kalau Pak Rusdi muncul, aku bisa pergi hari itu juga."

"Di rumah ini kamu tidak perlu lari."

"Aku ingin percaya. Tapi rasa aman yang hanya bergantung pada kebaikan orang lain bukan rasa aman bagiku."

Bram menautkan kedua tangan. Ia mendengar, tidak buru-buru membantah.

"Aku mau menikah denganmu," lanjut Laras. "Aku juga ingin bekerja, punya penghasilan, menyelesaikan pendidikan kalau bisa, dan membangun usaha dengan namaku sendiri. Bukan karena aku meragukanmu. Karena aku tidak mau suatu hari bangun dan sadar seluruh hidupku hanya ada karena seorang lelaki memilih berbaik hati."

"Kalau lelaki itu suamimu?"

"Tetap."

"Kalau dia menyerahkan seluruh gajinya?"

"Tetap."

"Kalau dia sangat tampan?"

Laras menatapnya, tidak yakin baru mendengar lelucon dari Bram.

"Terutama kalau dia terlalu percaya diri."

Sudut bibir Bram terangkat. Ketegangan di kamar sedikit mencair.

Kemudian ia mengambil buku utang Laras, menutupnya, dan meletakkannya di samping.

"Baik. Kamu boleh membayar alat itu kalau memang ingin."

Laras mengangkat alis. "Boleh?"

"Saya salah bicara." Bram memperbaiki dengan tenang. "Itu pilihanmu. Tapi dukungan saya bukan utang. Saya akan membantu mengurus pendidikan, usaha, atau pekerjaan apa pun yang kamu pilih, selama caranya sah dan tidak menghancurkan kesehatanmu."

"Keluargamu mungkin ingin menantu yang fokus mengurus rumah."

"Ibu seorang dokter bedah. Bulik Endah kepala sekolah. Kinan kuliah teknik. Kamu sungguh mengira keluarga saya takut pada perempuan yang bekerja?"

Laras terdiam. Kekhawatirannya ternyata lahir lebih banyak dari pengalaman lama daripada keadaan rumah ini.

"Setelah KTP-mu terbit, buka rekening atas namamu sendiri," lanjut Bram. "Honor sayembara, penghasilan desain, semuanya masuk ke sana. Saya tidak perlu memegang kartu atau sandinya."

"Kamu tidak keberatan istrimu punya uang yang tidak bisa kamu awasi?"

"Mengawasi istri bukan tugas jabatan saya."

"Banyak suami tidak berpikir begitu."

"Saya tidak menikahi banyak suami. Saya menikahimu."

Laras hampir tertawa, tetapi Bram belum selesai.

"Kalau usaha nanti butuh modal dari saya, kita tulis jelas. Mana pemberian rumah tangga, mana investasi, mana pinjaman yang ingin kamu kembalikan. Bukan karena saya menuntut, melainkan agar kamu tidak merasa setiap bantuan adalah tali di leher."

Kalimat itu mengenai ketakutan yang bahkan belum mampu Laras jelaskan. Pak Rusdi selalu memberi makan, tempat tidur, atau biaya sekolah sambil menyebut semuanya utang. Setiap kali Laras menolak perintah, daftar kebaikan itu dilempar ke wajahnya.

"Aku mungkin tetap sulit menerima," katanya.

"Tidak apa-apa. Saya juga harus belajar memberi tanpa membuatmu merasa dikuasai."

"Kenapa kamu mau repot belajar sebanyak itu untuk orang yang baru dikenal?"

Bram menatap dua desain di meja. "Karena kamu juga sedang belajar mempercayai saya. Tidak adil kalau hanya kamu yang bekerja."

Ia juga menawarkan satu sudut ruang keluarga untuk meja kerja tetap, tetapi Laras meminta menunggu sampai mereka pindah ke rumah dinas. Keputusan kecil itu pun diterima tanpa perdebatan.

Bram berdiri dan berjalan ke jendela. Dua perempuan yang tadi bergosip sudah tidak ada. Hanya lampu pagar dan gerimis tipis.

"Orang kompleks mungkin bicara," katanya. "Biarkan. Litsus akan selesai dengan fakta. Setelah menikah, kalau ada yang mencoba membuatmu mengecil agar cocok dengan bayangan mereka tentang istri prajurit, datang kepada saya."

"Supaya kamu memarahi mereka?"

"Supaya kita memilih apakah perlu diabaikan, dijawab, atau dilaporkan. Bersama."

Kata terakhir itu menghangatkan bagian dada Laras yang selama ini selalu siap menanggung segalanya sendirian.

Bram berbalik. "Hidup dengan caramu sendiri. Tidak ada yang berhak menghalangimu."

Laras menunduk, menyembunyikan pertahanannya yang retak sedikit lagi.

"Bahkan kamu?"

"Terutama saya."

Bram mengangguk pelan.

Ia berhenti di ambang pintu, lalu menatap Laras dengan kesungguhan yang menghapus sisa gurauan.

"Kamu tidak perlu jadi siapa-siapa untuk saya. Jadi dirimu saja."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!