NovelToon NovelToon
Sistem Kebohongan Menjadi Kenyataan

Sistem Kebohongan Menjadi Kenyataan

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Dikelilingi wanita cantik / Mengubah Takdir
Popularitas:7k
Nilai: 5
Nama Author: kiyoe

Rizal, seorang pemuda yatim piatu yang baru saja dipecat dari pekerjaannya dan ditipu habis-habisan oleh mantan kekasihnya, mendapati hidupnya hancur berantakan di sebuah taman kota Jakarta. Namun, takdirnya berbalik seratus delapan puluh derajat ketika sebuah [Sistem Kebohongan menjadi Kenyataan] tiba-tiba masuk ke dalam kepalanya. Sistem ajaib ini mengubah setiap cacian, kebohongan, dan modus penipuan yang diarahkan padanya menjadi kenyataan yang sesungguhnya. Berawal dari pesan penipuan undian palsu, Rizal mendadak menjadi miliarder yang membuat semua orang yang pernah merendahkannya menyesal, sekaligus menarik perhatian banyak wanita cantik yang terpikat oleh kesuksesan dan pesonanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4

Ting.

Pintu lift berdenting lembut saat terbuka di lantai empat yang merupakan area khusus VVIP.

Rizal melangkah keluar dengan santai diikuti oleh Direktur Gunawan tepat di belakangnya.

Lorong lantai ini terasa sangat berbeda karena dijaga ketat oleh belasan pria berjas hitam.

"Mereka adalah pengawal pribadi dari Keluarga Wijaya."

Direktur Gunawan berbisik pelan memberikan informasi penting kepada Rizal.

Rizal hanya mengangguk pelan sambil terus berjalan menyusuri lorong berkarpet tebal tersebut.

Cklek.

Pintu kamar rawat paling ujung terbuka menampilkan ruangan yang lebih mirip seperti kamar hotel bintang lima.

Di tengah ruangan terdapat ranjang pasien dengan berbagai macam alat medis canggih yang berbunyi bip secara beraturan.

Seorang pria tua terbaring lemah dengan wajah pucat pasi dan selang oksigen menempel di hidungnya.

Di samping ranjang itu berdiri seorang wanita muda yang membuat langkah Rizal sedikit terhenti.

Wanita itu memiliki rambut hitam panjang yang dibiarkan tergerai sedikit berantakan.

Wajahnya sangat cantik mempesona namun matanya terlihat sembab karena terlalu banyak menangis.

Dia adalah Clara Wijaya, sang CEO muda dari Wijaya Group yang terkenal dingin.

"Bagaimana hasilnya Dokter Handoko? Apakah kakek saya masih bisa diselamatkan?"

Clara bertanya dengan suara serak kepada seorang pria paruh baya berseragam dokter spesialis.

Dokter Handoko menggelengkan kepalanya perlahan dengan raut wajah menyerah.

"Maafkan saya Nona Clara, kami sudah melakukan semua tes namun penyakit Tuan Besar ini sangat misterius."

"Lalu apa gunanya saya membayar mahal rumah sakit ini kalau kalian tidak bisa berbuat apa-apa?!"

Clara membentak marah karena rasa frustrasinya sudah mencapai puncaknya hari ini.

"Nona Clara harap tenang, kami benar-benar kehabisan cara medis untuk mengobatinya."

"Saya tidak mau tahu, saya akan memberikan apa saja asal kakek saya bisa sembuh hari ini juga!"

"Permisi, apakah saya boleh mencoba melihat keadaan pasien?"

Suara tenang Rizal tiba-tiba memecah ketegangan yang menyelimuti dalam ruangan tersebut.

Clara menoleh dengan cepat dan menatap tajam ke arah pemuda berpakaian kusam di ambang pintu.

"Siapa kamu? Bagaimana gembel sepertimu bisa masuk ke area VVIP ini?"

Dokter Handoko juga ikut mengerutkan keningnya melihat penampilan Rizal yang jauh dari kata pantas.

"Direktur Gunawan, kenapa Anda membawa orang sembarangan masuk ke ruangan penting ini?"

Direktur Gunawan langsung maju satu langkah untuk membela bos barunya dari hinaan tersebut.

"Jaga ucapan Anda Dokter Handoko, beliau ini adalah Tuan Rizal."

"Tuan Rizal? Siapa dia? Saya tidak pernah melihat namanya di daftar dokter spesialis kita."

"Beliau adalah pemilik baru dari Rumah Sakit Medika Sentosa ini."

Pernyataan Direktur Gunawan membuat Clara dan Dokter Handoko terdiam sejenak karena terkejut.

Namun keheningan itu langsung dipecahkan oleh tawa meremehkan dari mulut Dokter Handoko.

"Pemilik rumah sakit? Jadi dia hanya orang kaya baru yang kebetulan membeli gedung ini?"

Dokter Handoko melipat tangannya di dada dengan tatapan sangat arogan.

"Dengar ya anak muda, memiliki rumah sakit bukan berarti kamu mengerti ilmu kedokteran."

"Saya memang bukan dokter, tapi saya yakin bisa menyembuhkan Tuan Besar Wijaya."

Rizal menjawab dengan santai sambil menatap lurus ke sepasang mata indah milik Clara.

Clara menggigit bibir bawahnya karena merasa dipermainkan di tengah situasi yang sangat genting.

"Jangan bercanda, kakek saya sedang sekarat dan ini bukan saatnya bermain-main mencari sensasi!"

Dokter Handoko menunjuk wajah Rizal dengan jari telunjuknya yang gemetar karena marah.

"Kamu dengar itu? Penyakit ini sangat langka dan mustahil disembuhkan oleh ilmu medis modern."

"Jika medis modern tidak bisa, mungkin saya punya cara lain yang jauh lebih efektif."

"Cara lain apa? Memangnya kamu punya pil dewa ajaib yang bisa menyembuhkan segala penyakit dalam sekejap?"

Dokter Handoko mengucapkan kalimat itu dengan nada sarkas yang memekakkan telinga.

"Kalau gembel sepertimu benar-benar punya pil dewa seperti itu, aku akan berlutut dan memanggilmu kakek guru!"

Ting!

[Mendeteksi adanya omong kosong dan sarkasme yang diarahkan kepada Tuan.]

[Kebohongan: Anda memiliki pil dewa ajaib yang bisa menyembuhkan segala penyakit dalam sekejap.]

[Memproses manipulasi realitas...]

Layar biru transparan dari sistem tiba-tiba muncul melayang tepat di depan wajah Rizal.

Rizal menahan senyumnya agar tidak terlihat aneh oleh orang-orang di dalam ruangan itu.

[Manipulasi berhasil. Kebohongan telah diubah menjadi kenyataan permanen.]

[Sebuah Pil Pemulih Kehidupan telah ditambahkan ke dalam saku celana Anda.]

Rizal merogoh saku celana kusamnya secara perlahan tanpa memedulikan tatapan sinis sang dokter.

Jari-jarinya merasakan sebuah benda bulat seukuran kelereng yang terasa sedikit hangat di kulitnya.

"Kebetulan sekali Dokter Handoko, saya memang membawa pil ajaib yang baru saja Anda sebutkan."

Rizal mengeluarkan sebuah pil berwarna keemasan yang langsung memancarkan aroma herbal sangat harum.

Wangi herbal itu seketika menyebar dan memenuhi seluruh penjuru ruang rawat VVIP tersebut.

Clara membelalakkan matanya saat mencium aroma yang membuat pikirannya langsung terasa tenang.

"Benda apa itu? Kenapa aromanya bisa sangat menenangkan seperti ini?"

Dokter Handoko mendengus kasar dan mencoba menutupi rasa terkejutnya yang mulai muncul.

"Itu pasti cuma permen murahan yang sengaja diberi pewangi buatan."

"Nona Clara, tolong jangan biarkan orang gila ini meracuni kakek Anda dengan benda aneh itu."

Rizal mengabaikan ocehan sang dokter senior dan berjalan mendekati tepi ranjang pasien.

"Nona Clara, kakek Anda sudah tidak punya harapan lagi dari sisi medis kan?"

Clara terdiam membisu mendengar pertanyaan telak dari pemuda asing tersebut.

"Lalu apa ruginya Anda mencoba membiarkan saya memberinya pil ini sekarang?"

"Jika gagal saya bersedia menanggung semua akibatnya, tapi jika berhasil kakek Anda akan selamat."

Mata Clara menatap lekat ke wajah Rizal yang memancarkan kepercayaan diri luar biasa.

Entah kenapa, insting bisnis dan intuisinya mengatakan bahwa pemuda ini tidak sedang membual.

"Baiklah, aku izinkan kamu mencobanya pada kakekku."

"Nona Clara! Anda tidak bisa gegabah begini..."

"Diam Dokter Handoko! Aku yang berhak memutuskan apa yang terbaik untuk keluargaku!"

Bentakan keras Clara langsung membuat Dokter Handoko menutup rapat mulutnya karena ketakutan.

Rizal tersenyum tipis lalu meletakkan pil keemasan itu dengan hati-hati ke dalam mulut Tuan Besar Wijaya.

Dia kemudian mengambil segelas air hangat dari meja nakas dan membantu meminumkannya sedikit.

Glek.

Pil ajaib pemberian sistem itu tertelan mulus masuk ke dalam tenggorokan sang Tuan Besar.

Semua orang di ruangan itu menahan napas sambil menatap tajam ke arah layar monitor detak jantung pasien.

Tit... Tit... Tit...

Satu menit berlalu dan sama sekali tidak ada perubahan apa-apa pada tubuh pria tua itu.

Dokter Handoko kembali menyeringai lebar dengan raut wajah penuh kemenangan.

"Sudah kuduga, itu hanya permen murahan biasa."

"Bersiaplah dituntut hingga membusuk di penjara oleh Keluarga Wijaya, anak muda!"

Namun baru satu detik setelah Dokter Handoko menyelesaikan kalimat sombongnya, bunyi monitor tiba-tiba berubah.

Tit. Tit. Tit. Tit.

Grafik detak jantung yang tadinya sangat lemah kini melonjak naik menjadi normal dan stabil.

Tidak hanya itu, warna pucat pasi di wajah Tuan Besar Wijaya perlahan memudar digantikan oleh rona merah yang sehat.

Nafasnya yang tadinya tersengal-sengal dan berat kini menjadi teratur layaknya orang yang sedang tidur nyenyak.

"I-ini mustahil... ini benar-benar mustahil secara medis."

Dokter Handoko menjatuhkan papan rekam medisnya ke lantai saking terkejutnya melihat keajaiban tersebut.

Clara langsung menutup mulutnya dengan kedua telapak tangan sambil menangis terharu.

"Kakek... kakek bernafas dengan normal kembali!"

Ugh.

Sebuah erangan pelan tiba-tiba keluar dari mulut pria tua yang berbaring di atas ranjang itu.

Mata Tuan Besar Wijaya perlahan terbuka dan dia mengerjap beberapa kali untuk menyesuaikan cahaya lampu.

"Clara... kenapa kamu menangis begini cu?"

Suara Tuan Besar Wijaya terdengar agak serak namun sangat jelas dan penuh tenaga.

"Kakek! Kakek akhirnya sudah sadar!"

Clara langsung menghambur memeluk kakeknya dengan tangis bahagia yang benar-benar pecah.

Direktur Gunawan yang sejak tadi hanya diam kini ikut mengusap air matanya yang berkaca-kaca.

Beliau menatap sosok Rizal dengan pandangan penuh kekaguman dan rasa hormat yang semakin menebal.

Rizal hanya berdiri santai menikmati pemandangan itu dengan kedua tangan kembali masuk ke dalam saku celananya.

Dia lalu menoleh perlahan ke arah Dokter Handoko yang wajahnya kini sudah seputih kertas HVS.

"Nah Dokter Handoko, sepertinya permen murahan saya benar-benar bekerja dengan baik."

Rizal mengingatkan dengan nada yang terdengar sangat bersahabat namun memiliki aura mematikan.

"Bukankah tadi Anda berjanji akan berlutut dan memanggil saya kakek guru jika pasien ini sembuh?"

Tubuh Dokter Handoko bergetar hebat saat mendengar tuntutan janji dari Rizal.

Harga dirinya sebagai dokter spesialis paling senior di rumah sakit elit itu benar-benar hancur lebur hari ini.

"S-saya... tadi saya kan cuma bercanda saja."

Dokter Handoko mencoba mencari alasan konyol untuk kabur dari situasi yang sangat memalukan tersebut.

"Saya paling tidak suka dengan orang pengecut yang suka menarik kembali ludahnya sendiri."

Aura dingin nan mencekam tiba-tiba memancar dari tatapan mata Rizal yang menajam.

Direktur Gunawan langsung menangkap sinyal bahaya dari bosnya dan bertindak sangat tegas.

"Dokter Handoko, tepati janji Anda sekarang atau Anda saya pecat dengan tidak hormat hari ini juga!"

Ancaman keras dari Direktur Utama membuat Dokter Handoko tidak punya pilihan lain untuk menghindar.

Bruk.

Kedua lutut Dokter Handoko membentur lantai marmer kamar rawat dengan suara yang cukup keras.

Dia menundukkan kepalanya dalam-dalam di hadapan pemuda berpakaian kusam yang sempat dihinanya tadi.

"M-maafkan ketidaksopanan saya... Kakek Guru."

Dokter Handoko mengucapkan kata-kata itu dengan suara bergetar karena menahan rasa malu yang luar biasa.

Rizal tersenyum sangat puas melihat kesombongan musuhnya hancur tak bersisa di bawah kakinya.

"Anak pintar, sekarang menyingkirlah dari pandanganku sebelum aku berubah pikiran."

Dokter Handoko langsung bangkit dan berlari keluar ruangan secepat kilat untuk menyembunyikan wajahnya yang merah padam.

Di saat yang sama, Clara sudah selesai menenangkan kakeknya dan kembali menatap ke arah Rizal.

Namun kali ini, tatapan wanita cantik itu benar-benar jauh berbeda dari sebelumnya.

Tidak ada lagi tatapan keraguan maupun amarah di sepasang mata bulatnya.

Yang tersisa hanyalah rasa kagum, penasaran, dan rasa terima kasih yang teramat besar.

"Tuan Rizal, saya benar-benar tidak tahu harus bagaimana membalas budi yang sebesar ini."

Clara membungkukkan badannya dengan sangat anggun di hadapan Rizal sebagai tanda hormat.

"Seperti yang saya janjikan tadi, saya akan memberikan apa saja yang Anda minta hari ini."

Ting!

[Misi Sampingan Selesai: Sembuhkan Tuan Besar Wijaya dari penyakit mematikan.]

[Hadiah Diterima: Fungsi 'Mata Deteksi' terbuka dan Koneksi Emas dengan Keluarga Wijaya terjalin.]

Rizal membaca notifikasi sistemnya dengan senyum tipis yang memancarkan pesona misterius.

"Apa saja yang saya minta ya? Penawaran yang sangat menarik sekali, Nona Clara."

Rizal menatap wajah cantik jelita Clara yang kini sedikit memerah karena ditatap sedemikian rupa.

1
kinataa⁸
5m nya ksh aku juga/Smile//Smile/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!