NovelToon NovelToon
Menyusui Anak Sang Komandan yang Dingin

Menyusui Anak Sang Komandan yang Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Janda / Menikahi tentara / Ibu susu
Popularitas:109
Nilai: 5
Nama Author: Dewi Sari

Suaminya gugur di medan tugas. Belum genap setahun jadi janda, Laras sudah harus menelan pahit: ibu dan adiknya sendiri menguras habis santunan, sementara bayi perempuannya, Nala, cuma bisa disambung hidup dengan air tajin di kampung.

Satu-satunya yang ia punya hanyalah air susu—dan tangan yang bisa menyulap beras seadanya jadi masakan sewangi surga.

Maka ketika seorang Letnan Kolonel berwajah dingin membutuhkan **ibu susuan** untuk bayi yatim yang hanya mau menyusu padanya, Laras menelan semua gunjingan tetangga dan masuk ke rumah dinas Danyon Bima Prakoso.

Kata orang, Sang Danyon itu keras, irit bicara, tak tersentuh.
Hanya Laras yang tahu: setiap fitnah yang dilempar padanya, diam-diam sudah ditahan lelaki itu di belakang punggungnya.

Dari dapur umum yang bikin satu batalyon terpana, sampai piring-piring yang menaklukkan para jenderal—Laras membalikkan keadaan, satu masakan demi satu masakan, menampar semua mulut yang pernah memandangnya rendah.

Tapi bayi yang ia besarkan dengan air susunya sendiri… menyimpan sebuah rahasia yang dijaga negara selama bertahun-tahun.
Dan hati Sang Danyon yang dingin itu, ternyata sudah lama hangat—hanya untuknya.

*"Kamu boleh jaga nama baikmu. Tapi malam ini, biar aku yang jaga kamu."*

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi Sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 21

Bab 21

Nekat

Syukuran tinggal satu malam ketika dapur umum berubah menjadi ruang perang.

Karung beras ditumpuk menurut penggunaan. Daging ditimbang dan dibagi. Kelapa parut datang dalam wadah tertutup. Setiap nampan diberi label waktu masak agar tidak ada bahan tertukar.

Parjo berdiri di tengah dapur dengan buku catatan bernoda minyak. “Mulai dari mana, Bu Guru?”

“Rendang.”

Laras memeriksa daging. Potongannya seragam, cukup besar agar tidak hancur setelah dimasak semalaman. Bumbu halus ditumis sampai bau mentah hilang, lalu santan dan rempah masuk bertahap.

“Panci meja utama dipisah,” katanya. “Bumbunya sama, tapi masak lebih lama dan pilih daging paling utuh.”

“Bukannya membeda-bedakan?” tanya prajurit muda.

“Bukan rasa, hanya penyajian. Semua orang tetap dapat rendang. Meja utama perlu potongan rapi.”

Laras menunjukkan lembar anggaran. Tidak ada bahan pribadi. Tambahan santan dan rempah ditukar melalui gudang dengan penghematan sayur kebun. Semua tercatat.

“Kalau ada yang tanya, buka kertas ini,” katanya.

Parjo menyelipkan salinan ke map plastik.

Setelah rendang mendidih, api dikecilkan. Dua prajurit bergantian mengaduk dasar panci. Laras mengatur giliran agar tidak ada yang kelelahan dan menaikkan api karena ingin cepat selesai.

“Kangkung jangan dicuci sekarang,” katanya pada regu sayur. “Besok siang baru. Tempe dipotong menjelang goreng. Ayam selesai ungkep malam ini, masuk pendingin setelah uap turun.”

Iwan datang membawa termos kopi. “Komandan bilang jangan ada yang bekerja tanpa makan.”

Parjo tertawa. “Komandan bilang untuk semua atau untuk satu orang?”

Iwan pura-pura tidak mendengar. Ia menyerahkan satu kotak khusus kepada Laras. Isinya nasi, telur, dan buah.

“Untuk ibu menyusui,” katanya cepat.

Laras tidak membantah. Ia sudah tahu siapa yang berada di balik alasan itu.

Menjelang pukul sepuluh, Bu Titin membawa Satya yang baru bangun. Laras menyusui di ruang istirahat perempuan, lalu kembali setelah bayi itu ditidurkan di ranjang lipat dekat pintu terbuka.

Rendang mulai berubah warna. Santan menyusut, minyak merah kecokelatan muncul di tepi.

Parjo mencicipi bumbu. “Kurang garam?”

“Jangan tambah dulu. Makin susut, rasanya makin kuat.”

Mereka beralih ke tumpeng. Beras dicuci, santan diukur berdasarkan tanda panci, kunyit dan daun salam disiapkan. Laras menunjukkan cara melapisi cetakan dengan daun pisang agar nasi tidak menempel.

Percobaan kecil pertama runtuh di satu sisi.

“Terlalu padat di atas,” kata Laras. “Isi bertahap. Tekan rata, bukan keras.”

Percobaan kedua berdiri tegak. Parjo mengangkat kedua tangan seperti baru memenangkan lomba.

“Kalau begini saya bisa pensiun.”

“Besok baru boleh bicara pensiun.”

Ayam kremes menjadi ujian berikutnya. Adonan encer dituangkan tinggi ke minyak panas. Serpihan keemasan menyebar seperti jaring, lalu diangkat sebelum gelap.

Prajurit muda mencuri satu serpih dan langsung meniup jarinya. “Panas, tapi enak.”

“Kalau tanganmu masuk lagi sebelum acara, saya potong jatahmu,” ancam Parjo.

Tawa pecah, mengurangi ketegangan.

Masalah datang pukul sebelas. Dua wadah santan yang seharusnya disimpan dingin mulai berbau asam karena pendingin gudang mati. Parjo memucat.

“Kalau ini rusak, rendang meja umum kurang.”

Laras mencium santan satu per satu. Satu wadah masih aman, dua tidak boleh dipakai.

“Jangan campur untuk menutupi bau. Singkirkan dan catat sebagai rusak.”

“Kelapa cadangan tidak cukup.”

Iwan menawarkan mengambil dari pasar malam, tetapi Laras menggeleng. Pembelian tanpa nota pada malam sebelum kunjungan akan membuka celah anggaran.

Ia memeriksa gudang. Kelapa untuk urap masih cukup banyak. Sebagian bisa dialihkan ke santan, sedangkan urap diperbanyak dengan tauge dan kacang panjang tanpa mengurangi rasa.

“Minta petugas gudang datang dan tanda tangan perubahan,” katanya.

Petugas dibangunkan. Di depan Parjo, Iwan, dan dua prajurit, santan rusak dicatat, difoto, lalu dibuang. Kelapa dialihkan resmi. Tidak ada bahan yang hilang tanpa jejak.

“Kalau Bu Ratna tanya kenapa urap berubah?”

“Tunjukkan catatan kerusakan. Jangan berdebat.”

Setelah kelapa diperas ulang, satu prajurit mengeluh tangannya kram. Laras menggantinya hanya sampai adonan aman, lalu memanggil prajurit lain. Ia tidak mengambil alih seluruh pekerjaan.

“Bu Guru masih sempat memikirkan kertas saat dapur hampir kacau,” kata Parjo.

“Justru saat kacau, kertas melindungi orang yang bekerja benar.”

Mereka juga memeriksa ayam satu per satu. Dua potong masih merah dekat tulang setelah ungkep pertama. Laras meminta semuanya kembali ke panci, bukan hanya bagian yang terlihat.

“Tamu tidak peduli kita lelah. Kalau ada yang sakit karena makanan, semua kemenangan selesai.”

Parjo membagi regu kebersihan. Talenan daging mentah dipisah dari sayur. Pisau dicuci dengan air panas. Wadah matang ditutup dan diberi waktu.

Menjelang tengah malam, krisis berlalu. Rendang tetap cukup, urap tetap seimbang, ayam matang sampai tulang. Dapur tidak lagi hanya berbau sedap, tetapi bekerja dengan urutan yang bisa dipertanggungjawabkan.

Lewat tengah malam, Laras kembali ke Satya. Bayi itu terbangun dan mencari dada. Ia duduk di ruang istirahat dengan punggung pegal, tangan masih berbau serai meski sudah dicuci.

“Ibu di sini, Le,” bisiknya.

Kata itu keluar tanpa ragu.

Laras menunduk. Satya menatapnya sambil menyusu, satu tangan menekan kulitnya. Ia teringat Nala, tetapi kali ini cinta kepada satu anak tidak terasa seperti pengkhianatan kepada yang lain.

Hatinya memiliki tempat untuk keduanya.

“Ibu akan bawa kakakmu ke sini,” bisiknya. “Kalian akan tumbuh bersama.”

Setelah Satya tidur, Laras kembali ke dapur. Rendang telah memasuki tahap paling lambat. Daging empuk, bumbu melekat, warna mendekati cokelat gelap.

Parjo menatap panci seperti menjaga bayi ketiga.

“Saya percaya Ibu,” katanya.

“Jangan percaya saya. Percaya proses yang sudah dilatih.”

“Saya percaya dua-duanya.”

Menjelang Subuh, adonan, bumbu, dan daftar tugas siap. Laras meminta semua orang salat bergantian dan istirahat tiga puluh menit. Tidak ada pahlawan dapur yang boleh pingsan saat tamu datang.

Iwan menerima kabar melalui radio bahwa kendaraan Kolonel Sutrisno berangkat lebih pagi dan diperkirakan melewati jalur pegunungan setelah siang.

Artinya waktu persiapan berkurang hampir satu jam. Parjo langsung mengubah jadwal goreng, sementara Laras memindahkan waktu cetak tumpeng agar nasi tidak mengering sebelum upacara.

Tak seorang pun lagi terlihat mengantuk.

Semua mata kembali pada panci dan jam dinding besar.

Langit di luar dapur mulai pucat.

Parjo berdiri di depan anak buahnya. Mata mereka merah karena kurang tidur, tetapi panci rendang mengeluarkan aroma yang membuat dada mengembang.

Ia mengepalkan tangan.

“Bulan lalu kita paling bawah. Hari ini jangan ada yang bekerja setengah hati.”

Prajurit muda mengangguk.

Parjo menatap Laras, lalu panci yang sudah gelap dan mengilap.

“Malam ini kita balik badan.”

Di kejauhan, suara mesin kendaraan mulai terdengar dari jalan besar, membawa kabar bahwa rombongan Kolonel telah mendekati jalur gunung.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!