NovelToon NovelToon
Bangkit Sistem Penghakiman, Semua Penjahat Berlutut!

Bangkit Sistem Penghakiman, Semua Penjahat Berlutut!

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Sistem
Popularitas:0
Nilai: 5
Nama Author: Darma

"Raka Laksana — yatim piatu, detektif gagal, ditertawakan semua orang. Sampai malam itu, sebuah sistem bangkit dalam dirinya: “Sistem Penghakiman”. Mata Dosa yang bisa membaca dosa siapa pun. Buku Penghakiman yang bisa menjatuhkan hukuman di hadapan seluruh negeri. Kekuatan yang tak dimiliki polisi, jaksa, atau hakim mana pun.

Menyamar sebagai konsultan biasa di Satreskrim Kota Elang Biru, Raka membongkar kasus demi kasus — pembunuhan, sindikat perdagangan manusia, konspirasi elite — sambil menyembunyikan identitas aslinya sebagai eksekutor bayangan. Sistem terus naik level, skill terus bertambah, dan setiap penjahat yang lolos dari hukum biasa... tidak akan lolos dari tangannya.

Tapi ada satu kasus yang tak pernah bisa ia lupakan: dua puluh tahun lalu, kedua orangtuanya difitnah dan dihancurkan oleh **Keluarga Halim** — konglomerat paling berkuasa di kota ini. Setiap kasus yang ia selesaikan membawanya selangkah lebih dekat pada kebenaran itu.

Dan pada hari penghakiman tiba, seluruh bangsa akan menyaksikan."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Darma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 29

Bab 29: Penghakiman Diam-Diam untuk Bardi

Bardi duduk di ruang interogasi seperti pelanggan yang menunggu pesanan.

Borgol di tangannya. Bibirnya bengkak akibat pukulan Dimas. Baju bersihnya sudah diganti pakaian tahanan sementara. Tapi senyum itu masih ada, tipis, sabar, seolah semua yang terjadi di Bakpao Surya hanyalah kesalahpahaman yang lucu.

Di balik kaca satu arah, Yudha berdiri bersama Andi dan Nadia.

Dimas ada di ruang interogasi, duduk di seberang Bardi, rahangnya kaku.

Nadia sudah menyerahkan laporan awal.

Laporan itu tidak hanya mengunci Bardi pada ruang bawah tanahnya. Ia juga mengunci polisi pada tanggung jawab yang lebih besar. Jika ada DNA tambahan, berarti ada keluarga di luar sana yang mungkin masih menunggu orang pulang tanpa pernah tahu orang itu sudah menjadi nomor sampel di freezer.

Yudha memerintahkan Andi membuat daftar orang hilang tiga tahun terakhir yang cocok dengan pengakuan potensial Bardi. Tidak ada konferensi pers. Tidak ada kebocoran ke media. Sebelum nama korban dipastikan, mereka tidak akan mengubah tragedi menjadi tontonan.

DNA jaringan di freezer cocok dengan Siska dan Melani.

Ada sampel tambahan yang tidak cocok dengan keduanya.

Belum diketahui identitasnya.

Korban ketiga, keempat, mungkin lebih.

Raka membaca laporan itu tanpa bicara. Setiap baris terasa seperti batu kecil dimasukkan ke dalam dadanya.

Yudha membuka interogasi resmi.

"Bardi Sucipto. Anda diduga melakukan pembunuhan berantai, mutilasi, penyimpanan bagian tubuh korban, dan penggunaan jaringan manusia dalam produk makanan yang Anda jual. Anda berhak didampingi penasihat hukum. Pemeriksaan ini direkam. Apakah Anda mengerti?"

Bardi tersenyum. "Saya jualan bakpao, Pak. Pelanggan saya puas."

Dimas mengepalkan tangan di bawah meja.

Yudha tidak bereaksi. "Berapa korban?"

"Saya jualan bakpao."

"Siapa saja selain Siska dan Melani?"

"Bakpao saya paling laris yang isi daging."

"Di mana bagian tubuh lain?"

Bardi menatap kamera di sudut ruangan. "Kalau Bapak mau pesan, besok warung tutup. Sayang sekali."

Dimas berdiri mendadak.

Yudha mengangkat satu tangan.

"Duduk."

Dimas duduk lagi, napasnya berat.

Interogasi berjalan hampir satu jam. Bardi tidak membantah dengan benar. Tidak mengaku. Tidak marah. Ia hanya mengulang kalimat tentang bakpao, pelanggan, resep, dan kebersihan. Setiap kata seperti sengaja dirancang untuk membuat orang waras kehilangan kendali.

Akhirnya Raka berkata, "Komandan, izinkan saya bicara dengannya."

Yudha menatapnya.

"Sendiri?"

"Dengan kamera menyala. Andi bisa monitoring. Saya tidak akan menyentuh dia."

Yudha tidak langsung menjawab. Kecurigaan lamanya muncul lagi di mata itu. Tapi kasus ini butuh pengakuan lengkap. Butuh lokasi korban lain. Butuh nama.

"Lima belas menit," kata Yudha. "Pintu tidak dikunci dari dalam."

Dimas keluar, melewati Raka. "Jangan dengarkan senyumnya terlalu lama."

Raka masuk.

Pintu ditutup.

Bardi menatapnya seperti melihat pelanggan lama.

"Mas Raka. Bakpao kemarin benar enak, kan?"

Raka duduk di depannya.

"Berapa korbanmu?"

"Saya pedagang kecil. Korban saya cuma harga tepung yang naik."

"Kau memilih perempuan yang orang lain kira tidak akan dicari."

Senyum Bardi tidak berubah. "Orang datang ke warung saya karena lapar. Saya memberi makan. Itu amal kecil."

Di bawah meja, Buku Penghakiman muncul di pangkuan Raka, tak terlihat kamera. Halamannya terbuka sendiri.

【Target: Bardi Sucipto.】

【Kasus aktif: #002.】

【Penghakiman Diam-Diam tersedia.】

【Biaya: 5.000 Poin Penghakiman.】

【Saldo saat ini: 0.】

【Mode pinjaman dari reward kasus dapat diaktifkan.】

【Saldo setelah aktivasi: -5.000 Poin.】

【Lanjutkan?】

Raka menatap Bardi.

Di balik kaca, Yudha melihat Raka diam dan menunduk sedikit, mungkin mengira ia sedang menyusun pertanyaan.

Bardi bersandar. "Kau tahu, Mas? Orang-orang selalu bilang mereka jijik pada perempuan seperti itu. Tapi kalau jadi makanan enak, mereka memuji. Dunia lucu sekali."

Rasa kasihan yang sempat muncul pada beberapa penjahat tidak hadir kali ini.

Tidak ada ruang.

Raka menulis di halaman yang tidak terlihat.

Bardi Sucipto. Rasakan semua ketakutan korbanmu. Semua sakit. Semua detik saat mereka tahu tidak ada yang datang menolong.

Stempel Hitam muncul.

CAP.

【Penghakiman Diam-Diam dimulai.】

Awalnya, Bardi masih tersenyum.

Lalu senyum itu retak.

Matanya melebar. Napasnya tersangkut. Tubuhnya menegang di kursi seolah ada tangan tak terlihat yang menariknya ke tempat lain.

Di dalam kepalanya, warung Bakpao Surya menghilang.

Ia tidak lagi menjadi pria dengan pisau, meja potong, dan resep.

Ia menjadi Siska yang tangannya terikat, mencoba mencakar sesSatu yang bertepung sambil mencium bau rempah yang akan menjadi tanda terakhir.

Ia menjadi Melani yang menyadari senyum pelanggan tetap berubah menjadi pintu terkunci.

Ia menjadi perempuan-perempuan lain yang namanya bahkan belum masuk berkas polisi, yang ketakutannya tidak pernah menjadi laporan orang hilang.

Setiap napas yang putus.

Setiap permohonan yang diabaikan.

Setiap detik ketika mereka tahu tubuh mereka akan diperlakukan sebagai bahan.

Bardi menjerit.

Di luar, Dimas langsung berdiri.

Andi menatap monitor, wajahnya kehilangan warna. "Dia tidak menyentuhnya. Raka tidak menyentuh apa pun."

Yudha tidak berkedip.

Di dalam ruang, Bardi melipat tubuhnya sejauh borgol mengizinkan.

"Hentikan! Hentikan! Bau itu... jangan ikat! Jangan potong! Saya tidak mau! Saya tidak mau!"

Senyumnya hilang.

Benar-benar hilang.

Raka duduk diam, wajahnya keras.

"Berapa korban?"

"Lima!" Bardi menangis seperti anak kecil. "Lima! Tiga tahun! Siska, Melani, Wulan, Rere, satu lagi saya tidak tahu nama aslinya! Dia pakai nama Tari! Tolong hentikan!"

Di balik kaca, Nadia menutup mata sebentar.

Yudha berkata rendah, "Rekam semuanya."

Andi sudah melakukannya.

Raka bertanya lagi, "Apa yang kau lakukan pada mereka?"

Bardi menggeleng, tapi penghakiman tidak memberinya tempat bersembunyi.

"Saya... saya kunjungi mereka. Saya bayar. Saya bawa makanan. Mereka percaya. Saya bawa ke warung setelah tutup. Saya bilang ada uang tambahan. Saya ikat. Saya... saya bunuh. Saya potong. Saya campur dengan daging babi. Sedikit-sedikit. Orang tidak tahu. Mereka makan dan bilang enak."

Dimas memukul kaca dari luar dengan telapak tangan.

Yudha tidak menghentikannya kali ini. Hanya sekali. Lalu Dimas menurunkan tangan.

Raka merasa perutnya kosong.

"Kenapa?"

Bardi menangis dan tertawa bersamaan, suara yang rusak.

"Mereka kotor. Saya membersihkan mereka. Dan orang-orang memakannya tanpa tahu. Lucu, kan? Dunia bilang mereka menjijikkan. Tapi saat jadi rasa, semua orang suka."

Raka berdiri.

Untuk satu detik, ia melihat Bardi sebagai manusia kecil yang menemukan cara paling busuk untuk merasa berkuasa.

Lalu ia mengingat Siska, Melani, dan tiga nama lain yang keluar dari mulut itu seperti sisa makanan.

Rasa kasihan yang mungkin ada mati sebelum tumbuh.

【Penghakiman Diam-Diam selesai.】

【Target mengalami keruntuhan mental dan pengakuan lengkap.】

【Saldo Poin Penghakiman: -5.000.】

Pintu terbuka.

Yudha masuk lebih dulu.

Bardi masih menangis, memeluk tubuhnya sendiri, bergumam agar bau itu pergi.

Yudha menatap Raka.

"Bagaimana kau membuatnya bicara?"

Pertanyaan itu tidak keras.

Justru karena tidak keras, ia lebih berbahaya.

Raka menatap kaca satu arah, lalu kembali pada Yudha.

"Kadang yang dibutuhkan hanya... keheningan, Komandan."

Yudha tidak percaya.

Raka tahu.

Tapi Yudha juga tidak bertanya lagi.

Belum.

Di luar ruang interogasi, Dimas duduk di kursi besi dengan kepala tertunduk. Ketika Raka keluar, ia tidak bertanya apa yang terjadi. Ia hanya berkata, "Dia menyebut lima. Kita cari tiga nama lainnya. Sampai ketemu."

Nadia berdiri di ujung lorong, map laporan dipeluk di dada. Matanya sedikit merah, tetapi suaranya tetap datar saat berkata, "Saya akan prioritaskan sampel tambahan. Korban tanpa nama tetap korban."

Raka mengangguk.

Bardi sudah hancur. Tapi kasus belum selesai sampai semua orang yang ia hapus mendapat nama kembali.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!