Aulia merasa sangat kaget karena Andika tiba-tiba saja meminta dirinya untuk mengandung benihnya, awalnya dia tidak mau karena tidak mungkin dia mengandung benih dari pria yang sudah beristri.
Walaupun pada kenyataannya dia mencintai Andika dalam diam, tapi dia tidak mau menjadi perusak rumah tangga orang lain.
"Gue mohon, elu mau ya, hamil anak gue?"
"Ngga mungkin gue hamil anak elu, bini elu gimana entar?"
"Jangan sampai dia tahu, nyokap minta cucu. Mereka ngancem kalau bini gue ngga cepet hamil, gue disuruh cerai. Padahal, bini gue mandul."
Kuy pantengin kisahnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cucu@suliani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pagi Yang Indah
Pagi ini menjadi pagi yang begitu istimewa untukku, setelah melaksanakan ritual mandiku bersama Andika, kami langsung melaksanakan shalat subuh berjamaah.
Ini pertama kalinya aku menjadi makmum, ini hari pertama aku menjadi seorang istri. Rasanya sangat bahagia, walaupun pada kenyataannya aku hanya istri siri.
Lebih tepatnya, aku hanya wanita yang dinikahi untuk memberikan keturnan kepada Andika, miris kalau mengingat akan hal itu.
Namun, aku akan berusaha untuk tidak mengingat-ingat akan hal itu. Cukup jalani, nikmati dan tinggal pergi pada waktunya aku pergi nanti.
Setelah melaksanakan salat subuh bersama dengan Andika, aku berpamitan untuk melihat kondisi Ibu.
"Ka, aku mau keluar sebentar. Mau liat ibu, nanti setelah itu aku mau bikin sarapan buat kamu. Mau dimasakin apa?" tanyaku.
Hari pertama menjadi istri, aku ingin melakukannya dengan baik. Tentu saja aku menawarkan suamiku untuk dibuatkan sarapan.
Andika tersenyum, kemudian dia menarik pinggangku hingga akhirnya kini tubuh kami saling menempel.
Aku tidak percaya dengan apa yang Andika lakukan, maksudku... kami memang menikah, tapi menikah secara siri. Bahkan hanya aku di sini yang mencintai Andika.
Namun, kenapa aku malah merasa jika Andika yang terlihat begitu posesif dan penuh cinta kepada diriku? Apa akunya saja yang terlalu percaya diri?
Aku merasa tidak paham akan hal ini, Tuhan, tolong sadarkanlah diriku. Jangan membiarkan diriku memiliki pemikiran jika Andika sama sepertiku, mempunyai rasa yang sama.
Rasanya hal itu sangat tidak mungkin, karena Andika pasti melakukan ini agar aku merasa nyaman setelah menikah dengannya.
Hal ini pasti Andika lakukan agar kami terlihat seperti sepasang suami istri yang normal pada umumnya, atau mungkin Andika ingin memberikan pernikahan yang berkesan kepada diriku.
Walaupun pada kenyataannya pernikahan kami hanyalah pernikahan yang terjadi untuk proses keturunan.
Ya, sepertinya begitu. Jadi saat kami berpisah nanti, aku mempunyai kenangan yang indah bersama dengan Andika.
"Memangnya kamu bisa masak? Dulu kamu dadar telor aja gosong, masak mie instan aja masih mentah." Andika terkekeh.
Aku langsung mengerucutkan bibirku, karena merasa jika Andika sudah membuka aib lamaku.
Dari dulu memang aku tidak bisa memasak, karena aku terlalu fokus bermain bersama dengan dia.
Aku terlalu fokus pergi kemana pun bersama dengannya, sampai aku lupa terhadap kodratku sebagai perempuan untuk belajar memasak.
Namun, selama tiga tahun berpisah dengan Andika, tentu saja aku sudah belajar memasak. Aku tinggal sendiri dan aku melakukan apa pun sendiri.
Aku bahkan belajar menata hidupku sendiri, aku belajar belajar agar berpenampilan lebih cantik dan juga rapi.
Cantik dan juga rapi bukan berarti kita lakukan agar mendapatkan pujian dari orang lain, tapi untuk keperluan diri kita sendiri.
"Bisa, aku bisa masak. Lagian itu masa lalu, ngga usah diungkit-ungkit juga. Aku ngga bisa masak juga karena kamu selalu ngajakin aku pergi terus," ucapku tanpa sadar.
Tatapan mata Andika langsung berubah, senyum di bibirnya juga langsung tidak ada. Pria itu kini menatapku dengan serius, lalu dia berkata.
"Maaf karena terlalu banyak menyita waktu kamu, sampai untuk mengurus diri sendiri saja kamu ngga sempet. Maaf karena dulu aku terlalu bergantung kepada kamu, sehingga kamu lupa untuk memikirkan diri kamu sendiri," ucapnya tulus.
Aku menjadi bingung melihat Andika yang berbicara serius seperti ini, apalagi saat melihat tatapan matanya yang begitu tulus ketika mengatakan hal itu.
Aku seperti bukan melihat Andika, tapi melihat orang lain. Tatapannya kini seakan berubah, tapi aku belum bisa membaca arti dari tatapan itu.
Andika memang pemaksa, sejak dulu dia selalu memaksaku untuk pergi bersama dengannya. Namun, dia selalu mencukupi kebutuhanku sehingga aku selalu mau ikut pergi bersama dengan dirinya.
Selain itu, aku juga mencintai dirinya. Aku tidak pernah bisa menolak pesonanya dan benar apa yang dia katakan.
Aku selalu tidak mempunyai waktu untuk mengurus diriku sendiri, sehingga bobot badanku saja menjadi berlebih.
Bahkan, aku tidak mempunyai waktu untuk melakukan perawatan tubuhku. Walaupun pada kenyataannya aku memang tidak punya uang untuk melakukan perawatan kecantikan ke salon.
Namun, setidaknya aku bisa melakukan perawatan dengan alat make up seadanya bukan. Dulu aku tidak pernah mempunyai kesempatan untuk itu, karena Andika selalu saja menginginkan diriku bersamanya.
Ada saja alasan yang selalu dia ucapkan, belum mengerjakan tugaslah, belum makanlah dan banyak lagi alasan lainnya.
"Kok, malah bengong?" tanya Andika.
Tangan Andika terasa merambat ke atas punggung dan mengelusi punggungku itu dengan sangat lembut sekali.
"Eh? Tidak apa-apa, aku hanya kaget saja. Ternyata kamu bisa serius juga," ucapku seraya nyengir kuda.
Dia terlihat berdecak kala aku mengatakan hal itu, tapi tidak lama kemudian dia menunduk dan mengecupi bibirku berapa kali.
"Aku selalu serius dengan apa yang aku ucapkan, kamunya aja yang selalu menganggap aku bercanda. Udah sana kalau mau nemuin ibu, nanti aku malah mau kamu lagi," ucap Andika dengan tatapan matanya yang berkabut.
Aku melihat Andika kembali bergairah, dengan cepat aku pun melerai pelukanku bersama dengannya.
Aku benar-benar takut jika Andika akan meminta haknya lagi, karena milikku saja masih terasa sakit. Rasanya, kalau miliknya masuk kembali ke dalam inti tubuhku, aku benar-benar belum merasa siap.
"Ehm, baiklah. Aku akan keluar, kamu kalau sudah siap langsung ke ruang makan aja. Aku bikin sandwich sama susu aja biar cepet, biar kamu bisa cepat pulang. Eh? Maksudku, sarapan," ucapku kikuk.
Bagaimana aku tidak salah tingkah jika Andika terus saja menatap diriku dengan tatapan yang begitu sulit untuk aku artikan, tatapan mata yang biasanya terlihat selalu biasa saja, kini seakan berubah. Namun, aku tidak tahu apa artinya.
Andika langsung terkekeh mendengar apa yang aku katakan, dia bahkan langsung menggigit gemas ujung hidungku.
Padahal, ketika kami masih berteman dia selalu mencubit ujung hidungku. Lalu kenapa sekarang dia malah menggigitnya? Dicubit saja sudah sakit, apa lagi digigit. Rasanya lebih sakit lagi.
"Ouwh, ini sangat sakit!" keluhku.
Aku langsung mengerucutkan bibirku tanda protes, bahkan aku langsung menatap Andika dengan tatapan yang sangat kesal.
Hatiku bertambah dongkol ketika dia malah tertawa terbahak-bahak melihat ekspresi dari wajahku, ekspresi rasa kesalku.
"Sorry, Pimoy. Habisnya kamu tuh gemesin, dulu gemes pengen nyubit. Sekarang gemes pengen---"
Ya ampun, kenapa dia malah menggantungkan ucapannya seperti itu? Aku kan, jadinya penasaran. Aku jadu pengen tahu dengan apa yang sebenarnya ingin dia ucapkan, dia sangat menyebalkan.
***
Wilujeung enjing sadayana, semoga kalian sehat selalu dan murah rezeky. Happy Monday, love sekebon kembang.