Sedang proses pembenaran naskah, isi, dan cerita. Sedang revisi bersekala besar!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sea starlee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tuan Sekertaris Rehan
Hari ini Nathan bangun pagi-pagi setelah puas dengan mengerjai Kasih tadi malam, tapi entah kenapa dia juga tidak puas. Niatnya untuk menikahi Kasih bukanlah untuk membangun keluarga, tetapi untuk membangun permainan balas dendam tanpa mengetahui awal mulanya.
Tapi awalnya dia tidak melihat sosok wanita yang tinggal di kamarnya, dia menyorot semua sudut ruangan, tapi wanita udik itu tidak muncul.
"Di mana si udik itu?" gumamnya.
Nathan keluar dari kamar ke ruang makan, semua orang telah berkumpul tetapi anak udik itu tidak terlihat.
"Selamat pagi," sapa Nathan.
"Adakah yang tahu dimana Kasih?" Nathan bertanya kepada orang-orang di sekitarnya.
"Oh, dia ada di rumah belakang, mengunjungi Ijah yang sakit," jawab sang nenek.
Sekretaris Rehan mengerang kesakitan, jari-jari kirinya terjepit pintu mobil saat dia hendak menutupnya, tangannya telah dilepaskan dari kait pintu tetapi rasa sakit itu menyiksa.
Kasih senang berjalan sambil membawa sekotak obat dari arah taman, tanpa sengaja melihat Rehan yang terluka, dengan cepat dia menghampiri.
"Tuan, Sekretaris, ada apa denganmu?" Kasih bertanya ketika dia melihat Rehan duduk sambil memegangi jarinya, bersandar di dinding mobil.
"Jari-jari saya terjepit saat menutup pintu mobil." Rehan menekan jarinya kesakitan.
"Astaga, sebaiknya Anda berhati-hati, Tuan Sekretaris."
"Iya, saya sangat ceroboh."
"Sini saya obatin!" Kasih mengambil tangan Rehan kebetulan dia juga membawa obat.
Kasih memperlakukan tangan Rehan dengan sangat baik, begitu tatapan Rehan tertuju padanya. Kasih mengabaikan sudut pandang ini dan hanya berfokus pada menghadapinya.
"Tuan Sekretaris, apakah Anda masih sakit?" Kasih memegang obat tersebut lalu memegang tangan Rehan yang dibalutnya dengan perban.
Rehan masih menatap wanita itu, entah apa yang dia perhatikan, seolah-olah dia telah melihat bintang jatuh dari langit.
"Tuan Sekretaris." Kasih menggoncang tubuh Rehan.
"Hah." Rehan tersadar merasakan goncangan kuat di tubuhnya.
"Selesai," kata Kasih sambil menunjukkan tangan Rehan.
"Terima kasih." Rehan berkata sejenak dan tersenyum lebar pada Kasih.
Tuan Sekretaris, kenapa tersenyum begitu? Ya wajar saja lah, pasti dia memperhatikan penampilan ku.
"Ya sudah Tuan Sekretaris, saya permisi dulu."
Kasih bangkit.
Sekarang kepala mereka bertabrakan satu sama lain saat mereka berdua berdiri, keduanya saling berpegangan kepala.
"Apakah Anda baik-baik saja, Nyonya?" Rehan memegangi kepala Kasih sambil menatap wajah itu lagi. Kasih terpancing akan tatapan Rehan, kini mereka saling menatap.
Sejenak mereka tatap-tatapan bak di dalam drama Korea, anggap saja itu adalah pandangan pertama kali mereka bertemu, sangking asik bertatap mata, tak lama mereka tersadar dengan suara.
Ada suara yang jelas dari seorang pria, suara yang terdengar familiar membuat mereka sadar.
"Tuan muda," kata mereka saat melihat ke arah Nathan, yang sedang berjalan ke arah mereka.
"Apa yang kalian lakukan di sini?" Nathan memandang kedua manusia itu seolah-olah ia telah menangkap mereka sedang tertangkap basah.
"Tidak ada, Tuan muda!" Hati Rehan seakan terguncang, gugup melihat Nathan, seolah-olah dia tertangkap basah mencuri.
"Kalian selingkuh, ya?" Tuduhan yang tak masuk akal Nathan ucapkan.
"Tidak, Tuan muda, saya hanya mengobati tangan tuan Sekretaris Rehan saja!" Kasih yang merasa terfitnah lebih baik menjelaskan apa adanya.
"Ya, Tuan muda, jangan salah paham, ini tangan saya yang terluka karena tersangkut di pintu mobil!" Rehan melanjutkan, menunjukkan tangannya.
"Siapa yang salah paham, lagi pula aku tidak peduli dia mau selingkuh atau tidak." Nathan menghindar, meskipun jelas bahwa yang dia katakan adalah kesalah pahaman.
"Masuk, masuk!" usir Nathan, dia memiringkan wajahnya dalam pengusiran Kasih.
"Baiklah, saya permisi." Kasih dengan sopan meninggalkan mereka berjalan menunduk.
Nathan dan Rehan secara bersamaan memperhatikan langkah kakinya dari belakang, sesuai dengan pemikiran mereka masing-masing. Saat Kasih telah pergi, Nathan berpaling untuk melihat Rehan.
"Nanti lain kali jangan minta bantuan darinya,l lagi, atau tidak gajimu akan aku potong 70%. Mana lihat tanganmu?" Nathan menarik tangan Rehan memastikan tangannya yang benar-benar terluka.
"Tapi sudah tidak apa-apa kok, Tuan." Rehan menarik tangannya lagi.
"Ya sudah, ayo pergi!"
Mereka pun pergi menaiki mobil seperti biasa menuju kantor, Rehan menyetir dengan tangan yang berbalut perban.
BERSAMBUNG