Afgans Radithia Zafran harus menikah dengan wanita bernama Alisya, gadis yang tidak dikenal dan merupakan calon pengantin dari adiknya sendiri. Sang adik yang bernama Vincent hilang entah kemana sehari sebelum seharusnya dia menikahi kekasihnya tersebut.
Karena keluarga Afgan sudah mengeluarkan banyak uang untuk acara pernikahan dan undangan pun sudah di sebar, maka terpaksa Afgan menggantikan sang adik.
Satu tahun pernikahan mereka, Vincent tiba-tiba kembali dan meminta kakaknya itu mengembalikan wanita yang seharusnya menjadi istrinya, sementara benih-benih cinta sudah terlanjur hadir di hatinya dan dia sudah bisa menerima Alisya sebagai istrinya.
Seperti apa kisahnya? Mampukan Afgan mempertahankan wanita yang bernama Alisya itu sebagai istrinya? dan apakah istrinya itu masih bisa setia setelah sang adik yang seharusnya menjadi suami gadis itu kembali dan menggoyahkan biduk rumah tangga yang sudah susah payah mereka bangun?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reni t, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cuci Piring
Milan perlahan membuka mata, menarik kelopak matanya secara paksa meski pelupuknya masih terasa berat. Kepala gadis itu pun terasa pusing, membuat dia seketika mengerutkan kening dan meringis secara berbarengan.
''Auw ... berapa banyak yang aku minum tadi malam,'' ringis Milan bangkit lalu duduk.
Seketika, gadis itu pun menatap sekeliling, kembali mengerutkan keningnya kali ini merasa heran karena dia berada di sebuah kamar luas, mewah dan juga lengkap dengan isinya.
''Dimana aku?'' gumamnya, dengan tangan yang memijat pelipisnya pelan.
Meski tubuhnya masih terasa berat, Milan pun mencoba untuk turun dan keluar dari dalam kamar.
Ceklek ...
Pintu pun di buka, gadis bernama Milannita itu perlahan melangkahkan kakinya keluar dengan mata yang menatap sekeliling, dengan tatapan heran menatap setiap sudut rumah. Dimana sebenarnya dia berada saat ini? dan Milan sama sekali tidak mengingat kejadian tadi malam.
''Kamu sudah bangun ...?'' terdengar suara pria, suara bas-nya menggelar di seisi ruangan luas nan megah itu.
Mata Milan nampak menatap sekeliling mencari sumber suara, sampai akhirnya dia pun menemukan si pemilik suara bas itu.
''Uhuk ...! kepalamu pasti pusing?'' tanya Zergo berdiri di depan kompor yang sedang menyala, dia nampak sedang memasak sesuatu.
''Kamu ...?'' Milan membulatkan bola matanya lalu berjalan ke dapur.
''Iya, ini aku. Orang yang kamu kasih hadiah muntahan, dan aku juga yang nolongin kamu saat kamu mabuk semalam.''
''Apa semalam aku semabuk itu sampai-sampai aku sama sekali tidak ingat apapun? hanya kepala aku saja yang masih terasa pusing.''
''Tentu saja kamu gak akan ingat, kamu minum seperti orang gila, aku sampai kewalahan, tau.''
''Hmm ... Ini rumah siapa?'' tanya Milan masih menatap takjub sekeliling.
''Rumah aku'lah, tapi tepatnya rumah orang tua aku. Karena semalam aku gak tau harus bawa kamu kemana, terpaksa aku bawa kamu ke sini,'' jawab Zergo mengangkat masakan yang sedang dia masak.
''Tunggu ...! Kamu gak ngapa-ngapain aku 'kan? secara 'kan aku gak ingat apapun semalam.''
''Coba cek pakaian dalam kamu, masih lengkap apa tidak? kalau masih lengkap dan menempel di tempatnya, itu berarti aku gak ngapa-ngapain kamu.''
Sontak, Milan seketika mengintip ke dalam pakaian yang dia pakai dan bernapas lega saat melihat kedua gunung kembarnya masih tertutup sempurna.
Gadis itupun mengintip ke dalam celana jeans yang dikenakannya, dan tersenyum lega seketika melihat bukit miliknya pun masih tertutup rapat oleh segitiga berwarna hitam, tidak ada yang berubah sedikitpun.
''Gimana? masih lengkap?'' tanya Zergo cengengesan.
''He ... he ... he ...! iya-iya masih lengkap, tapi tetap saja, aku harus hati-hati sama kamu, kita 'kan baru kenal semalam, tapi kamu sudah baik seperti ini sama aku.''
'Karena aku tertarik sama kamu, Milan ...' ( jawab Zergo di dalam hatinya )
''Hey, kenapa diam saja?''
''Eu ... Anu ... Aku hanya merasa kasian sama kamu, kamu baru aja di tinggal nikah sama pacar kamu, dan lagi kamu masih punya hutang sama aku, lima juta ...! dan aku gak akan pernah lepasin kamu sebelum kamu membayar lunas hutang kamu itu,'' tegas Zergo penuh penekanan.
''Iya-iya, sini bajumu yang semalam biar aku masukin laundry.''
''Gak usah, baju itu sudah aku buang,'' jawab Zergo dengan entengnya.
''Apa ...? baju seharga lima juta kamu buang gitu aja, hanya karena terkena muntahan aku?'' Milan membulatkan bola matanya seketika.
''Iya, emang kenapa? baju seperti itu bisa aku beli kapanpun. Tapi bukan berarti kamu gak usah bayar ganti rugi ya, aku akan tetap menagih kamu sampai kamu bayar lunas.''
Milan mendengus kesal lalu duduk di kursi meja makan, matanya masih nampak menatap sekeliling, dapur mewah lengkap dengan kitchen berwarna abu membentang senada dengan meja makan tempat dimana dia duduk sekarang.
''Kalau dilihat-lihat kayaknya kamu orang kaya, tapi cuma karena baju seharga lima juta aja kamu sampai ngejar-ngejar aku kayak gitu, hah ...? dasar orang kaya pelit,'' Milan memasang wajah masam.
''Ha ... ha ... ha ... aku 'kan sudah bilang tadi kalau ini semua milik kedua orang tua aku, aku hanya anak manja yang tidak punya apa-apa, jadi wajar dong kalau aku ngejar kamu kemanapun sampai kamu membayar uang ganti rugi itu, lagipula baju itu baju kesayangan aku, lho ...''
''Hmmm ... Alasan ...''
''Udah-udah jangan di bahas lagi. Kamu pasti pusing 'kan? aku sudah masakin kamu sup penghilang pusing ...'' Zergo berjalan mendekat lalu meletakkan mangkuk berisi sup panas di atas meja tepat di depan wajahnya.
''Apa ini?''
''Apa kamu tidak denger, ini namanya sup, sup penghilang pengar alias pusing,'' jawab Zergo dengan tersenyum.
''Ini kamu sendiri yang bikin?''
Zergo mengangguk masih dengan tersenyum.
''Hmm ... Aku cobain ya,'' Milan perlahan mengaduk sup di dalam mangkuknya, lalu memasukan satu sendok ke dalam mulut lalu tersenyum seketika.
''Hmmm ...'' gumam Milan pelan.
''Gimana, enak?''
''Lumayan ...'' jawab Milan berbohong.
'Rasanya enak juga,' (Batin Milan)
''Bohong ...''
''Siapa yang bohong, rasanya memang bias aja, ko. Di Restoran-restoran aku sudah sering makan makanan kayak gini.''
''Wah berarti masakan aku rasanya setara masakan Restoran dong,'' Zergo tersenyum senang.
''Ya, kalau kamu mau menganggap seperti itu ya terserah ...'' jawab Milan, semakin lahap memakan sup tersebut, hingga dalam sekejap mangkuk itu terlihat kosong.
''Hmm ... cepet banget habisnya, lapar apa enak?''
''Enak ..." jawab Milan refleks.
"Nah 'kan akhirnya ngakuin juga kalau masakan aku enak.''
''Iya-iya, masakan kamu enak, Zergo. PUAS ...''
''Ha ... ha ... ha ...! gitu dong.''
''Aku pamit, ya. Aku harus segera pulang. Makasih atas masakannya.'' Milan bangkit lalu hendak pergi.
''Eh, enak aja. Udah kenyang main pulang-pulang aja.''
''Terus ...?''
''Ya ... bekas makan-nya beresin dulu dong, tuh piring kamu cuci lagi,'' pinta Zergo beralasan.
''Masa rumah segede gini gak ada pembantu sih?''
''Gak ada, pembantu aku lagi pada libur. Kenapa? jangan-jangan kamu gak bisa cuci piring ya?''
''Apa ...? enak aja, bisa tau.''
''Ya udah buruan cuci piringnya dulu, setelah itu baru kamu boleh pulang.''
Dengan bibir cemberut, Milan terpaksa mengikuti keinginan Zergo. Selain karena dia sudah numpang makan di rumahnya, pria ini juga telah menolongnya semalam.
Sebagai seseorang yang baru saja dikenalnya tentu saja hal yang dilakukan oleh pria itu sungguh diluar dugaan, karena jika tidak ada pria yang bernama Zergo itu tentu saja dia pasti akan mengalami malam yang berat tadi malam.
🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀