Assalamualaikum...
Ini karya pertama ku dari penulis pemula seperti ku
Mohon bantuan kritik dan sarannya
Terima kasih
Dua wanita
Dua cincin
Tapi hanya ada satu cinta
Siapakah yang akan dipilih Sameer??
Humaira gadis hijab bercadar lulusan pesantren ataukah Elena gadis cantik dan modis??
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SunRise510k, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 10
Jangan lupa dukung karyaku ya..
√ LIKE
√ KOMEN
√ RATE 🌟🌟🌟🌟🌟
√ VOTE seikhlasnya
Dukungan kalian sangat berarti..
Terima kasih ❤❤❤
*****
Ting ling tung...
Terdengar bunyi notifikasi ponsel. Beberapa kali ponsel Sameer berbunyi, tapi Sameer tampak tidak memperdulikannya. Sameer masih sibuk memeriksa berkasnya yang sudah menumpuk apalagi kesibukannya kali ini karena dia sedang menangani proyek besar.
Tok...tok...tok...
"Masuk!" perintah Sameer.
Seorang pria berkulit sawo matang datang menghampiri meja Sameer. Sejenak Sameer mengalihkan perhatiannya pada sosok pria itu, yang tak lain adalah asisten pribadinya yang bernama Doni.
"Iya ada apa Don?"
"Saya ingin melaporkan kalau Nyonya Humaira melakukan transaksi seberat 200 juta" jelas Doni. Sameer mengambil ponselnya yang sedari tadi berbunyi, mengecek notifikasi yang masuk. Dan benar notifikasi itu menunjukan semua transaksi yang sedang Humaira lakukan.
"200 juta?" Sameer membulatkan matanya terkejut. Ingatannya seakan kembali ke 2 hari yang lalu saat dia melakukan perbincangan santai bersama Humaira didalam mobil.
"Nyonya muda, mentransfer uang itu ke beberapa panti asuhan dan membagikan sembako ke fakir miskin" lanjut Doni.
Mendengar laporan Doni. Sameer terdiam. Ini sebuah kejutan tersendiri bagi Sameer, dia tidak menyangka kalau Humaira akan menyumbangkan uangnya ke panti asuhan dan fakir miskin. Hati istrinya begitu mulia, masih mau memikirkan orang lain.
"Biarkan saja Don" kata Sameer tersenyum
"Baik Tuan" Doni membungkukkan tubuhnya berlalu meninggalkan ruang kerja Sameer.
***
Pukul 07.00 malam. Sameer mengarahkan mobilnya menuju arah sebuah cafe, tempat dia membuat janji bersama teman-temannya.
"Assalamualaikum" sapa Sameer menghampiri ke tiga sahabatnya yang setia menunggu kedatangannya.
"Waalaikumsalam" balas mereka serempak sembari saling berpelukan untuk melepas rindu.
"Ini bos kontrakan baru datang" ujar Hasan menyambut kedatangan Sameer. Begitulah julukan yang sering disandang Sameer dari ketiga sahabatnya karena memang Sameer bekerja pada bidang properti dan real estate.
"Dasar kau ini" Sameer memukul pundak Hasan
"Bagimana kabar mu bro?" sapa Sameer menatap Akbar yang duduk dihadapannya tepat didamping Hasan.
"Alhamdulillah sehat, Selamat atas pernikahan mu. Aku turut bahagia dan maaf waktu itu aku tidak bisa datang"
"Tak masalah Bar, kau menitip salam saja aku sudah senang"
"Kenapa kau tidak mengajak istri mu kesini untuk dikenalkan ke kami?" tanya Damar
"Lain kali saja kita membuat acara bersama pasangan kita masing-masing"
"Kalau kalian datang dengan pasangan kalian, bagaimana dengan ku?" protes Akbar
"Ah ya..tuan jomblo sekarang disandang oleh Akbar, kau harus sabar dengan kejombloan mu itu" goda Hasan menepuk pundak Akbar yang disambut gelak tawa mereka.
Mereka pun menikmati waktu berkumpul bersama. Canda tawa terdengar dari ke empat pria tampan itu. Apalagi hal seperti ini sudah sulit mereka lakukan karena kesibukan yang mereka miliki.
***
Humaira duduk seorang diri diruang keluarga ditemani TV yang menyala, matanya sesekali menatap jam dinding yang sudah menunjukkan pukul sembilan malam tapi sang suami belum juga tiba dirumah. Ada rasa khawatir yang mendesah saat sang suami belum tiba dirumah. apalagi ponsel Sameer tidak bisa dihubungi.
Bukan ingin berprasangka buruk, tapi kebiasaan pulang sang suami yang tidak biasanya membuat Humaira sedikit cemas bahkan sesekali ia menguap, tidak bisa menahan rasa kantuknya.
"Zauya hati-hati dijalan, semoga tidak terjadi apapun" gumamnya membaringkan tubuhnya disofa. Humaira yang sudah mengantuk pun akhirnya memejamkan matanya.
Satu jam kemudian tepat pukul 10.00 malam, terdengar deru suara mobil Sameer memasuki garasi.
Sameer membuka pintu rumahnya yang belum dikunci Humaira. Saat kakinya melangkah menuju ruang keluarga dilihatnya Humaira sedang meringkuk disofa. Dipandangi wajah teduh Humaira. Ada sedikit goresan nyeri dihatinya melihat Humaira menunggunya pulang sampai ketiduran.
Rasa bersalah tiba-tiba menghampiri Sameer, dielusnya wajah Humaira pelan. Ditatapnya lekat wanita berkulit putih itu.
'Maaf'
Satu kata yang mampu terucap dari bibir Sameer. Hanya maaf dan maaf yang bisa dia katakan untuk saat ini. Di lubuk hatinya yang paling dalam, sungguh dia tidak menginginkan berada disituasi saat ini. Dimana hatinya belum mencintai Humaira seutuhnya, yang justru itu bisa menyakiti perasaan Humaira.
Sameer menggendong tubuh Humaira membawanya menuju kamar mereka.
"Selamat tidur Dinda" ucap Sameer sesaat membaringkan tubuh Humaira diranjang, dengan kecupan selamat tidur yang Sameer berikan di kening sang istri.
***
Pagi yang cerah suasana tampak bersahabat. Di dapur terlihat Humaira berteman dengan spatula dan beberapa sayuran yang sedang dia masak. Humaira biasa melakukannya seorang diri tanpa bantuan asisten rumah tangga karena memang sejak menikah Humaira memilih mengurus sendiri segala keperluan rumah.
"Assalamualaikum" sapa Sameer memasuki rumahnya, membawa langkah kakinya menuju dapur.
"Waalaikumsalam Zauya" balas Humaira menghampiri sang suami dengan membawa sebotol air putih yang memang sengaja dia siapkan untuk Sameer.
"Terima kasih sayang"
"Zauya segera mandi ya, badannya sudah berkeringat habis olahraga"
"Iya sayang, sudah gerah. Apa hari ini kamu mau jalan-jalan?" tanya Sameer
Hari ini adalah hari libur, dimana dia mengistirahatkan diri dari segala pekerjaan kantornya menikmati waktu berliburnya bersama sang istri.
Semenjak Humaira menetap di Bandung, Sameer memang belum sempat mengajak Humaira keliling Bandung. Menikmati pesona kota Bandung yang terkenal dengan julukan Paris Van Java.
"Boleh, Dinda mau ke kawah putih" kata Humaira antusias.
"Siap tuan putri, hari ini pangeran akan mengantar tuan putri kemanapun tuan putri mau" ujar Sameer mengangkat tangannya hormat bak seorang tentara.
"Dengan senang hati" Humaira membungkukkan sedikit tubuhnya memberi hormat. "Tuan putri akan segera menyiapkan bekal dan pangeran harus segera mandi. Masa pangerannya bau"
"Baik tuan putri ku sayang" Sameer mencuri ciuman kilat dibibir Humaira dan langsung berlari kearah tangga menuju kamarnya.
Humaira hanya tersenyum dengan tingkah abstrud Sameer.
***
Mereka berdua masuk kedalam mobil siap berkendara menuju kawah putih lokasi kunjungan wisata mereka berdua kali ini.
"Zauya sarapan dulu ya, tadi Dinda sudah menyiapkan sandwich" kata Humaira membuka kotak bekal yang sudah dia siapkan sejak dari rumah tadi.
"Suapi ya"
"Iya, sini buka mulutmu" Humaira menyuapkan sepotong sandwich kedalam mulut Sameer, sedangkan Sameer masih fokus menyetir.
"Masakan mu tidak pernah mengecewakan sayang" puji Sameer menggenggam tangan Humaira
"Tentu, siapa dulu koki nya?" senyum Humaira
"Dasar narsis"
Mereka mengiringi perjalanan wisata mereka dengan canda tawa, apalagi hobby Sameer yang suka menggoda Humaira sampai wajah Humaira bersemu merah. Membawa kesenangan tersendiri bagi Sameer.
Setibanya di lokasi kawah putih, Humaira melangkahkan kakinya menuju lokasi wisata dengan tangan yang di genggam erat Sameer. Humaira sudah tidak sabar ingin melihat keindahan alam itu. Wajah berbinar dan senyuman terus tersungging dari bibirnya.
"Dari dulu Dinda ingin kesini Zauya, lihatlah Zauya danau dari letusan Gunung Patuha yang begitu indah. Subhanallah..Allah Maha besar" ucap Humaira kagum dengan salah satu keindahan alam itu. Dibalik sebuah letusan Gunung Patuha, menghasilkan sebuah keindahan alam yang dapat di nikmati semua umat manusia dibumi ini.
"Sekarang susah terwujud keinginan mu, Apa kamu bahagia?" tanya Sameer memeluk pundak Humaira, memberikan kehangatan pada sang istri. Apalagi suhu udara di kawah putih memang cukup dingin. Suhunya bisa mencapai 8 derajat sampai dengan 22 derajat, maka dari itu sejak dari rumah Humaira sudah menyiapkan pakaian tebal untuk mereka kenakan.
"Dinda sangat bahagia, terima kasih Zauya" ucap Humaira membenamkan kepalanya tepat di dada Sameer. Sameer membalasnya dengan memeluk erat Humaira.
Seharian ini Sameer benar-benar memanjakan Humaira. Sameer membuat binar bahagia selalu terlihat di wajah Humaira.
Dimulai menikmati keindahan kawah putih, sampai menikmati wisata kuliner khas Bandung. Sameer sungguh menjadikan Humaira ratu sehari, mengabulkan semua keinginan Humaira. Bahkan dia sampai rela menemani sang istri makan kembang gula dipinggir jalan sambil bersepeda berkeliling di kawasan gedung sate.
***