Dijebak oleh kakak tiri dengan seorang pemuda pada malam ulang tahun teman. Siapa sangka, orang yang satu kamar dengan dia ternyata seorang tuan muda yang paling berpengaruh di kota itu.
Bagaimana kelanjutan kisahnya? Ikuti terus kelanjutan kisah mereka di sini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#10
Merlin terlihat begitu kaget dan kesal saat ini. Dia tak menyangka akan mendapatkan kabar yang tidak menyenangkan seperti ini. Karena sebelumnya, dia tidak diberi tahu oleh Dicky bahwa ada tradisi seperti ini. Lagipula, pernikahan mereka bukan pernikahan sungguhan. Melainkan, hanya sebatas sandiwara untuk sama-sama mengambil keuntungan dari sebuah pernikahan saja.
"Nona ... kita sudah sampai," ucap sopir itu membuyarkan lamunan Merlin.
"Hah! Sudah sampai?"
"Iya, nona. Kita sudah sampai sekarang."
Merlin segera mengikuti apa yang sopir itu katakan, turun dari mobil secepat yang ia bisa. Karena saat ini, kedua utusan yang membawanya sudah turun duluan.
Merlin mengedarkan pandangannya ke vila indah nan asri yang ada di hadapannya saat ini. Begitu sejuk dan menenangkan hati. Membuat pikirannya yang sedang kusut, terasa tenang seperti tanpa beban.
"Silahkan, nona. Ikuti pak Alek masuk ke dalam. Karena saat ini, nona sedang di tunggu oleh nyonya besar untuk ngobrol."
"Ba--baiklah."
Sedikit gelagapan tentunya. Karena saat ini, hati Merlin sedang berdebar-debar, memikirkan reaksi nyonya besar, alias oma Dicky yang sedang menantinya di dalam sana.
'Kurang ajar sekalu kamu, Dicky. Tidak ngomong padaku dulu jika ada halangan seperti ini. Jika tahu dari awal, mana mau aku setuju dengan tawaran kamu. Ah .... ' Merlin bicara dalam hati sambil terus mengikuti pak Alek masuk lebih dalam ke dalam vila.
Mereka sampai di ruang tamu vila megah itu. Merlin semakin berdebar-debar saat melihat seorang wanita yang sedang duduk di atas sofa dengan tatapan tajam melihat ke arahnya.
"Selamat sore menjelang malam, nyonya besar. Saya datang mengantarkan calon istri tuan muda Prasetya ke kediaman, nyonya besar." Pak Alek bicara sambil membungkuk memberi hormat pada wanita tua yang begitu kuat aura orang terkenalnya.
"Kamu boleh pergi, Alek. Aku ingin bicara berdua saja dengan dia."
"Baik, nyonya besar. Saya pergi sekarang. Permisi."
"Hm .... " Oma Ratih berucap sambil menganggukkan kepalanya.
Sepeninggalan pak Alek, Merlin di tatap oma Ratih selama beberapa saat. Lalu kemudian, dia tersenyum melihat Merlin yang terus tertunduk dengan wajah yang terlihat sedang menahan rasa takut.
"Kamu! Siapa namamu?"
"Merlin, nyonya besar."
"Nyonya besar?" tanya Oma Ratih sambil menaikkan satu alisnya.
"Iy--iya. Maaf jika ada yang salah dengan ucapan saya barusan."
"Jangan terlalu formal, Merlin. Panggil aku oma Ratih. Sama seperti Dicky memanggil aku. Oh iya. Hampir lupa mempersilahkan kamu untuk duduk. Ayo sini, Merlin! Duduk di sampingku."
"Tapi ... nyonya ... maksudku, oma .... "
"Kenapa? Kamu takut padaku? Apa aku terlihat sangat menyeramkan buat kamu? Apa aku seperti nenek sihir yang tua dan menakutkan. Tenang saja, Merlin. Aku tidak akan memakan mu. Memarahi kamu saja tidak mungkin."
"Tapi ... jika kamu bikin ulah dan buat salah. Maka aku wajib memarahi kamu."
"Ayo sini! Duduk." Oma Ratih bicara sambil mengerakkan tangannya untuk melambai Merlin.
"Baik, oma."
Rasa takut itu seketika memudar. Sedikit rasa berani yang sejak tadi menghilang, kini kembali lagi. Merlin berjalan maju mendekat ke arah oma Ratih. Lalu, dengan perasaan canggung, dia duduk di samping wanita tua namun terlihat begitu anggun walau sudah berusia saat ini.
Saat Merlin duduk di sampingnya, oma Ratih memperhatikan wajah Merlin dengan seksama. Lalu, dia mengernyitkan dahi ketika melihat pipi Merlin yang terlihat sedikit memerah, dan matanya yang agak sedikit bengkak.
"Kamu ... baru selesai menangis?"
"Ti--tidak, oma."
"Jangan bohong, Merlin. Aku tidak suka orang bohong padaku meski itu untuk kebaikan."
Merlin tertunduk. Lalu perlahan, dia menganggukkan kepalanya.
"Iya, oma. Aku baru saja menangis. Maaf untuk kebohongan barusan. Aku hanya tidak ingin memperlihatkan kelemahan ku pada siapapun."
"Merlin. Menangis bukan sebuah kelemahan. Terkadang, kita butuh menangis untuk menenangkan rasa hati dan menentramkan pikiran yang berkecamuk."
"Oh ya, sebaiknya, kamu istirahat sekarang. Kamu pasti sangat lelah saat ini, bukan? Nanti malam, oma akan panggil kamu untuk bicara lagi."
"Murni! Murni!"
"Iya, nyonya besar."
"Antar kan dia ke kamar samping kiri."
"Baik, nyonya. Siap laksanakan."
"Nona kecil. Ayo ikut saya!"
"Merlin. Ikut dia."
"Baik, oma. Saya permisi."
"Jangan terlalu formal, Merlin. Tidak enak."
"Maaf, oma."
"Gak papa. Aku maklum karena kamu masih baru pertama kali bertemu denganku. Kamu bisa pergi sekarang. Ada perlu apa-apa, tinggal panggil Murni saja."
"Baik, oma. Permisi."
"Silahkan."
Merlin mengikuti langkah kaki Murni meninggalkan ruang tamu. Sambil berjalan, Murni mengajak Merlin ngobrol.
"Kamu beruntung, nona kecil. Di perlakukan dengan manis oleh nyonya besar yang terkenal galak."
"Benarkah begitu, mbak?"
"Panggil aku ibu saja. Karena aku sudah terlalu tua untuk nona panggil dengan sebutan, mbak."
"Tentu saja, nona. Kamu adalah gadis yang sangat beruntung. Karena gadis yang sudah nyonya Intan jodohkan dengan tuan muda, itu sama sekali tidak mendapatkan perlakuan sebaik nona saat ini."
"Apa? Dicky sudah punya calon? Maksudku, dia sudah dijodohkan oleh mamanya dengan gadis lain?"
"Iya. Dia sudah punya calon istri pilihan mamanya. Tapi sayang, dia sepertinya tidak suka. Nona beruntung bisa dicintai oleh tuan muda. Karena selain ganteng, dia juga sangat setia. Dia tidak sama dengan tuan muda pada umunya. Yang punya wajah tampan, tapi mata keranjang."
Merlin hanya bisa menarik senyum tipis dari sudut bibirnya. Kata-kata yang wanita paruh baya itu ucapkan terdengar lucu di telinganya saat ini.
nikah muda ny
dpt jodoh putri cengeng lagi 😁😁😁
siapa dia...
wlu pun kau serang nyonya,
tapi kau terlalu Egois, ingin ter lalu mengatur hidup nak mu
picik sekali pemikiran mu
toh yg buat kepurltusan dan bunuh diri kan adek mu sendiri.
tich dicky blom nogmong ke adk mu.
kenapa hrs dicky yg di salah kan atas kematian ny .
uang 20 M, gak ada apa2 ny buat mereka...
ah..awaq wong misqin iki 100 rebu sdh sangat berarti 😁😁😁
klu hdp Meelyn bakal sengsara
dasar emak sana anak sama aja.
sama2 gak tau diri
ini lg papa Merlyn kok bisa nuta y mata hati ny, pada anak kandung Sendiri
target ny salah sasaran ..😀😀😀
malah bunuh diri 😱