Dijodohkan dari sebelum lahir, dan bertemu tunangan ketika masih di bangku SMA. Aishwa Ulfiana putri, harus menikah dengan Halim Arya Pratama yang memiliki usia 10tahun lebih tua darinya.
Ais seorang gadis yang bersifat urakan, sering bertengkar dan bahkan begitu senang ikut tawuran bersama para lelaki sahabatnya.
Sedangkan Halim sendiri, seorang pria dingin yang selalu berpembawaan tenang. Ia mau tak mau menuruti permintaan Sang Papi.
Bagaimana jika mereka bersatu? Akankah kehangatan Ais dapat mencairkan sang pria salju?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erna Surliandari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jika ini mimpi, maka bangunlah
"Baru kali ini, seseorang bisa menjawab Papi dengan argumentnya sendiri. Kamu, memang fotocopy dari Papamu, Ais. Dia lah, Satu-satunya orang yang berani berbicara lantang dengan Papi." ucap Papi Tama dengan bangga.
Ais hanya menundukkan kepala. Antara senang dipuji, dan takut di cap sebagai pembangkang dalam keluarga. Karena, hampir semua orang memang mencap Ais sebagai gadis yang terlalu banyak protes ketika ada sesuatu yang tak sesuai nuraninya. Padahal, Ia hanya berpendapat sesuai apa yang Ia tahu.
Ais kemudian digandeng sang Mama untuk kembali ke kamarnya..
"Jangan terlalu banyak menentang."
"Ma, Papi itu ngejelekin orang kampung."
"Tidak. Papi ngga ngejelekin, Beliau hanya berbicara fakta. Karena, memang orang-orang seperti itu mudah sekali terprovokasi oleh sesuatu." balas Mama Linda.
"Ais belum makan? Mama ambilin, ya?" tawar sang Mama, lalu keluar sebentar.
Ais merebahkan dirinya, sembari menatap baju kebaya yang telah terpajang dimanekin yang ada dikamarnya. Entah kapan baju itu datang, dan di sebelahnya ada gaun yang telah Ia pilih untuk resepsi nya malam besok.
"Aaarrghhh! Kalau ini mimpi, bangunlah." keluhya, dengan menyentakkan kakinya diatas tempat tidur.
Ais pun tertidur. Ia bahkan lupa dengan makan siangnya yang tertunda begitu lama. Kegalauan, membuatnya lupa segalanya.
"Eh, anak ini. Katanya laper, malah tidur." ucap sang Mama, lalu menyelimuti tubuhnya yang bahkan masih mengenakan seragam sekolah.
***
Seluruh isi kantor lembur hari ini. Menyiasati hari esok, ketika mereka akan libur bersama untuk menghadiri pesta pernikahan Bos besarnya.
" Lim, bagaimana dengan rapat besok? Itu sudah direncanakan sejak sebulan lalu." tanya Daniel, yang masuk tanpa mengetuk pintu.
"Batalkan. Atau tunda dengan ganti rugi ongkosnya kemari. Papi lebih penting."
"Itu pernikahanmu, atau Papimu?"
"Tak usah mempertanyakan hal, yang kau tahu jawabannya." jawab Lim, menatapnya tajam dengan segala aura dinginnya.
"Bagaimana dengan Ayu? Dia sahabatmu, mencintaimu sejak dulu."
"Aku tak mencintainya. Dia tahu itu. Aku......"
"Ya, kau masih belum bisa lupa akan Almira."
"Daniel, cukup! Jangan bahas dia disini." sergah Lim, dengan nada keras.
"Baiklah... Aku tak membahasnya lagi sampai kapanpun. Aku, akan menemanimu besok sebagai saksi pernikahan. Semoga kau bahagia dengan dia." ucap Daniel, lalu keluar dari ruangan itu.
Jam menunjukkan pukul Sembilan malam. Beberapa karyawan telah pulang, hanya tinggal Lim dan beberapa yang lainnya.
"Tuan, belum pulang?" tanya Dimas.
"Ya, sebentar lagi. Biarkan menemani kalian dulu.
" Tuan pulang saja, karena besok.... "
Ucapan Dimas terpotong oleh lirikan dingin Lim padanya. Ia pun diam, dan kembali ke ruang kerjanya.
Lim menghela nafas panjang, menyandarkan kepala di bahu kursi dan berputar-putar beberapa kali. Besok hari pernikahannya. Dan itu tandanya, kenangan nya bersama Almira harus Ia hapus sepenuhnya dari ingatan. Meski sulit, karena Ia pun tak ingin mempermainkan sebuah pernikahan yang sakral.
"Al, maaf. Aku harus bersamanya." batin Lim.
Ia memijat dahinya beberapa saat. Lalu, Ia berdiri dan segera pulang agar sang Papi tak khawatir dengan keadaannya.
"Pi, Lim pulang." lapornya via Voice note.
Sang Papi tak membalas, meski Ia tahu jika pesan itu telah di baca. Ya, mungkin Papinya tengah tidur dengan begitu pulas, apalagi esok adalah hari yang membahagiakan untuknya.
Lim menyetir mobilnya dengan kencang, ingi. Segera sampai dan mengistirahatkan dirinya. Ia bahkan sudah begitu lancar dengan hafal ijab qabulnya untuk esok hari. Meski terpaksa, Ia selalu serius dengan apa yang akan Ia lakukan.
biar je...