NovelToon NovelToon
Duren Sawit

Duren Sawit

Status: tamat
Genre:Romantis / Cintapertama / Nikahmuda / Duda / Tamat
Popularitas:2.5M
Nilai: 4.9
Nama Author: Adisty Rere

DUREN SAWIT (duda keren sarang duwit)


Menceritakan seorang duda yang mati-matian mengejar cinta seorang remaja delapan belas tahun yang bernama Rianti. Gadis sederhana yang wajahnya begitu mirip dengan mendiang sang istri.

Hayu kepoin.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adisty Rere, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Coca-cola (cowo cakep, cowo idol) (Revisi)

Di teras rumah, Veno dan sang kekasih yang bernama Susi tengah duduk menatap jalanan komplek.

"Kamu kenapa? Ada yang salah? Coba cerita," tanya Veno yang mulai penasaran dengan perubahan sikap Susi. Tak biasanya gadis kesayangannya itu bungkam. Seperti risih, menunjukkan ketidaksukaan. Padahal mereka sudah hampir setengah jam bersama. Namun tak ada pembicaraan yang serius. Hanya terdengar helaan napas panjang dari bibir Susi.

Menggeleng cepat, gadis berambut panjang dan tergerai itu menampik perkataan Veno. "Enggak kok, aku gak pa-pa."

Manggut-manggut, Veno mulai mengusir rasa penasarannya. "Oh, iya. Orang tua kamu ke mana? Kok sepi," tanyanya seraya celingak-celinguk.

"Lagi kerumah paman, ada pesta pernikahan di sana."

Menautkan alis, tampak senyuman terukir di wajah Veno. Ia yang sudah dua mingguan berpacaran dengan Susi merasa ini adalah waktu yang tepat. "Benarkah? Kapan mereka pulang?" tanya Veno lagi. Ada niat terselubung dibalik pertanyaanya itu.

"Gak tau," jawab Susi sekenanya.

"Baiklah, kalau gitu, ayo." Veno berucap seraya menarik tangan Susi. Menuntunnya masuk kedalam rumah dan duduk di sofa ruang tamu rumah itu.

"K-kenapa?" Susi mulai gugup.

Tanpa menunggu jawaban, Veno mulai mendekatkan wajahnya. Ia begitu tak sabar. Namun sayang, tanpa diduga, Susi mendorong dadanya hingga ia terjungkal.

"Kenapa?" Veno terlihat agak kesal. Mood romantisnya hilang karena penolakan yang Susi berikan.

"Maaf, aku gak sengaja," jawab Susi seraya menekan bibir bawahnya. Kegugupan jelas kentara di wajah orientalnya itu.

"Yaudah, gak pa-pa. Kita jalan, yuk. Kamu mau kemanapun pasti aku antar."

Terkembang, Bibir merona Susi makin merekah sempurna. Ia bersyukur Veno tidak marah padanya. "Kalau begitu kita ke toko baju milik temenku, ya?" pinta Susi.

****

Jam sudah menunjukkan pukul 8 malam.

Karena tidak ada pengunjung, Shinta mulai berjalan dan menghampiri meja kasir Rianti. "Oy Neng, jangan ngelamun terus, dong. Entar yang ada, ayam tetangga mati," ucap Shinta, berharap sahabatnya itu tersenyum mendengar lelucon darinya.

"Ih, apaan sih kamu, garing tauk," sahut Rianti.

Shinta tersenyum kecut, walaupun leluconnya tak berhasil, paling tidak Rianti mau bicara kepadanya. Mengingat betapa nelangsanya sahabatnya itu akibat masalah kaca mobil. Ia tidak tau harus berbuat apa. Yang terpikirkan olehnya adalah ingin menghibur dan menghalau kegilasahan yang seharian ini seperti mengakar kokoh di wajah Rianti.

"Bosen banget nih, jadi ngantuk, mana masih sejam lagi baru boleh pulang," gerutu Shinta sambil memencet-mencet kalkulator yang ada di meja kasir.

Mendengkus, Rianti mulai memutar matanya, malas. "Kamu ini gimana, sih. Dikasi rame pelanggan ... kamu ngeluh, gak ada pelanggan ... juga ngeluh. Udah, balik sono. Entar dimarah pak Haikal, lho."

"Iya deh iya."

Namun, tiba-tiba pintu toko terbuka dan masuklah seorang wanita cantik yang menggandeng tangan seorang pria tampan bertubuh tegap dengan rambut bergaya undercut.

"Dek, mas Haikal ada gak?" tanya wanita itu kepada Shinta. Namun, Shinta bergeming. Ia mematung seakan tidak mendengar apapun.

Matanya hanya tertuju kepada wajah si pria.

Rianti yang sadar akan tingkah sahabatnya itu langsung mengambil alih kendali. "Pak Haikal ada di dalam, Mbak. Ayo, ikut saya."

"Mas Veno gak pa-pa 'kan aku tinggal bentar. Aku mau nyapa mas Haikal dulu," ucap Susi.

"Iya gak pa-pa. Santai aja." Veno berucap seraya tersenyum.

Sementara Shinta, masih setia dengan keterpanaannya. Ia baru tau bahwa pria Coca-cola-nya itu bernama Veno. Pria tampan yang ia lihat beberapa hari lalu. Pria yang membuat hatinya menggila. Dan malam ini bongkahan merah di dadanya kembali berulah seakan siap meledak kapanpun itu.

"Kamu kenapa? Kamu gak apa-apa, kan?" tanya Veno yang keheranan. Gadis didepannya seaksn hilang keseimbangan hingga dia refleks memegang pundak gadis itu.

Oh tuhan ... tangan ini, suara ini, tatapan ini, membuatku seakan ingin terbang.

Shinta tersenyum senang. Ia pun mencoba berdiri dan mengumpulkan kesadarannya.

"Iya aku gak apa-apa, kok, Kak. Dan aku juga rela kok kalo di apa-apain sama kamu," kata Shinta sambil tersenyum genit.

Veno terlihat kaget mendengar kata-kata itu.

Ia tidak menyangka kalau gadis kecil di hadapannya itu berani mengatakan susuatu yang begitu vulgar.

Tiba-tiba.

"Ehemm."

Terdengar suara Susi dari arah samping.

Veno berjengkit, ia lupa kalau tangannya masih ada di pundak Shinta. "Sayang, kamu jangan marah ya ... tadi itu aku cuma mau nolongin dia biar tidak jatuh."

"Iya, aku tau. Aku gak apa-apa, kok," sahut Susi. Ia pun meninggalkan Veno dan berjalan menuju tempat di mana pakaian wanita berada. Ia begitu asyik memilih pakaian yang hendak dibelinya. Sementara Veno, menatap penuh tanya. Bingung akan reaksi Susi yang tak merasa marah ataupun kesal. Bukankah seharusnya dia cemburu? Tapi kenapa dia begitu santai?

****

Di meja kasir.

"Shin, kamu kenapa sih? Kok aneh gitu, untung aja pak Haikal gak liat," ucap Rianti.

Ia penasaran kenapa Shinta seperti orang yang sedang kehilangan kewarasan.

"Coca-cola Ri ... itu si Coca-cola yang ad di mall," jawab Shinta tanpa menoleh Rianti yang ada di sebelahnya. Mata Shinta masih tertuju kepada Veno.

"Ooo pantesan," ucap Rianti singkat.

Setelah kurang lebih 30 menit, Veno dan Susi menuju kasir untuk membayar belanjaan mereka.

Tanpa malu Shinta dekati tubuh Veno yang sedang berdiri di depan meja kasir. Ia ketuk-ketukkan ujung kuku telunjuknya seraya tersenyum. "Kak, kamu ganteng banget sih, mirip kayak Hyun Bin," selorohnya.

"Apa?! Yang bener aja. Masak mukaku kamu sama-samain dengan ubin." Terdengar ketus, wajah Veno pun tampak memerah, harga dirinya terluka karena ucapan Shinta.

"Bukan ubin, Mas, tapi Hyun Bin. Aktor tampan asal Korea Selatan," ungkap Susi sambil menunjukkam foto yang ada di ponselnya.

Mendengar penjelasan kekasihnya itu membuat Veno merasa malu. Ia pun langsung menggenggam tangan Susi untuk keluar dari toko baju itu.

Sementara Shinta, masih berdiri menatap pintu. Tak rela pria pujaan menghilang dari pandangan matanya. "Oh Mas Veno ...."

"Ya ampun ni anak, kesambet setan kali ya," gerutu Rianti. "Shin, orangnya tu udah pulang. Kamu mau tetap menatap pintu itu atau mau ikut aku pulang? Bentar lagi waktunya pulang," kata Rianti mengingatkan.

Ternyata, tanpa mereka sadari, Haikal dari tadi mengawasi tingkah laku Shinta. Ia begitu terlihat marah, matanya memerah dan tangannya mengepal. "Pantesan sikapmu berubah. Kamu maen mata sama laki-laki laen. Awas kamu ya. Kamu itu hanya buatku. Senyummu harus untukku."

1
Muna Dziroh
ahhh mas Ardi gombal biar ntar malem bisa belah duren🤭🤭
Heryta Herman
si ardi sakit mental...kasihan rianti hanya di jadikan wanita bayangan stela..
Qaisaa Nazarudin
Ckk BAIK apanya thor..gak sesuai dengan ekspetasi aku..akhir dr Shinta mau pun Rianti..🙇🙇🙇
Qaisaa Nazarudin
Ckk gak rela banget aku Shinta dapat barang bekas,teh celup,apapun alesannya..🙄🙄🙄🤦🤦
Qaisaa Nazarudin
Sok jadi pahlawan utk menarik perhatian sinta,Sinta juga pasti gampang banget luluhnya
,Heran aku..Gitu aja udah luluh aja..
Qaisaa Nazarudin
Bagus Shin..jangan mau lagi terjebak dgn TEH CELUP,BARANG BEKAS tuh(VENO)..
Qaisaa Nazarudin
Ckk Halu mu thor,terlampau berlebihan..
Qaisaa Nazarudin
SEMOGA SAJA SHINTA MENJADIKAN APA YG TLAH BERLAKU KEPADA RIANTI SEBAGAI PENGAJARAN,MENDING MENJAUHI VENO JANGAN LAGI PERNAH BERHUBUNGAN DGN ORANG2 KAYA,MEREKA MELAKUKAN APAPUN SEENAKNYA,YG PENTING MEREKA BAHAGIA..
Qaisaa Nazarudin
Mahendra kamu juga bersenkokol dgn anak mu,membohongi Rianti..Tgu aja setelah besan kamu dtg..
Qaisaa Nazarudin
Mending Rianti Amnesia kekal,biar dia tdk bisa mengingat lagi kehidupannya yg penuh luka,kasian banget Rianti..Pasti Amnesia karena jatoh tangga kan..
Qaisaa Nazarudin
KARMA IS REAL..DARI AWAL RENCANA MU MENJEBAK RIANTI AKU UDAH KU BILANG,KAMU GBAKAN PERNAH BAHAGIA,KALO NIAT MU DARI AWAL AJA UDAH SALAH,MENJADIKAN RIANTI PELAMPIASAN MU, KARENA DIA MIRIP STELLA..NAH SEKARANG BENAR KAN...
Qaisaa Nazarudin
Rianti udah sekarat tuh jatoh dari tangga,Sial banget nasib Rianti setelah menikah dgn mu..
Qaisaa Nazarudin
Kabur aja lah,ngapain madih di situ ogeb..🙄🙄
Qaisaa Nazarudin
Pikiran kita sama Shin..CINTA BOLEH,BODOH JANGAN..BUCIN BOLEH TAPI PAKE OTAK..
Qaisaa Nazarudin
Ckk sekarang aja kek gini,Ntar saat di pujuk2 Oleh ortu dan Ardi sendiri malah dgn gampangnya kamu maafin,Biasanya alur novel kan kek gitu..
Qaisaa Nazarudin
Rianti keguguran,KARMA untuk Ardi..Dengan apa yg tlah Rianti lalui,kalo dia madih mau memaafkan Ardi,Rianti emang Bodoh,Ardi itu cuman mikir jebahagiaannya sendiri,gak pernah mikir perasaan mu Rianti..
Qaisaa Nazarudin
Sekarang kamu udah tau kan alesan Ardi nikahin kamu..
Qaisaa Nazarudin
Pasti Rianti akan kecewa dan terluka banget saat itu alesan Ardi menikahinya.. Pernikahan seperti ini biasanya gak akan bertahan lama,..
Qaisaa Nazarudin
Wkwkwkwk dasar Bodoh,Kamu itu ternyata salah paham,Dia tau kamu itu si Cassanova,Jadi dia bisa jadiin kamu kambing hitam nya,utk menutupi hubungan lesbiannya dr ortunya..
Qaisaa Nazarudin
OMG SUSI LESBIAN KAH??😳😳😳
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!