Arga Mahendra dikenal sebagai CEO termuda sekaligus paling menyebalkan di kota. Wajahnya tampan, hartanya melimpah, tetapi sifatnya dingin, arogan, dan perfeksionis. Semua orang takut padanya… kecuali satu orang. Namanya Nayla Pramesti. Gadis pemberani yang mulutnya lebih cepat daripada otaknya. Saat pertama kali bertemu, Nayla tanpa sengaja menyiram kopi ke jas mahal Arga. Bukannya minta maaf, ia malah berkata, “Kalau jalan jangan kayak punya trotoar sendiri, Pak CEO.” Sejak hari itu, Arga bersumpah akan membuat hidup Nayla sengsara. Takdir justru mempertemukan mereka lagi ketika Nayla diterima bekerja di perusahaan Arga. Setiap hari kantor berubah menjadi medan perang. Mereka saling mengejek, saling menjahili, dan tak ada yang mau mengalah. Namun di balik pertengkaran itu, Arga mulai melihat sisi lembut Nayla yang selalu disembunyikan di balik sikap bar-barnya. Sementara Nayla mulai menyadari bahwa di balik wajah dingin CEO itu, ada luka masa lalu yang belum sembuh. Saat cinta mulai tumbuh, muncul seorang tunangan pilihan keluarga Arga dan mantan kekasih Nayla yang berniat merebutnya kembali. Akankah dua orang keras kepala ini akhirnya mengakui perasaan mereka, atau justru kehilangan satu sama lain karena gengsi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syah_runi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ledakan yang Mengubah Segalanya
Biiip… Biiip… Biiip…
Suara alarm dari van hitam semakin cepat.
Wajah Arga langsung berubah pucat.
“SEMUA MENJAUH!”
Tanpa berpikir panjang, Arga meraih tangan Nayla dan menariknya menjauh.
“Pak, ada apa?”
“Lari!”
Petugas keamanan segera berteriak kepada semua orang di area parkir.
“Evakuasi!”
“Cepat!”
Lukas masih berdiri di tempat sambil tersenyum puas.
“Kau masih sama, Arga.”
“Selalu memilih menyelamatkan orang lain.”
Arga menatap tajam ke arahnya.
“Kamu sudah gila.”
“Bisa jadi.”
“Tapi kegilaan ini kau yang ciptakan.”
Belum sempat Arga membalas…
BOOOOM!
Ledakan keras mengguncang seluruh basement.
Api langsung membubung dari bagian belakang van.
Gelombang kejut membuat kaca-kaca pecah.
Arga refleks memeluk Nayla dan melindungi kepalanya.
Mereka berdua terjatuh di lantai.
Asap hitam memenuhi udara.
Alarm kebakaran berbunyi di seluruh hotel.
Orang-orang berlarian menyelamatkan diri.
Beberapa menit kemudian…
Mobil pemadam kebakaran dan ambulans berdatangan.
Petugas medis memeriksa kondisi semua orang.
“Nayla.”
Suara Arga terdengar serak.
“Kamu terluka?”
Nayla menggeleng pelan.
“Hanya lecet.”
“Lengan Bapak!”
Barulah Nayla menyadari lengan kanan Arga berdarah akibat terkena serpihan kaca.
“Pak!”
“Ini harus dijahit!”
Arga hanya melihat lukanya sekilas.
“Aku tidak apa-apa.”
“Mana bisa begitu!”
Nayla hampir menangis melihat darah yang terus mengalir.
Petugas medis datang menghampiri.
“Pak, kami harus membersihkan luka ini.”
Arga mengangguk.
Namun matanya tetap mencari satu orang.
“Lukas mana?”
Dimas datang dengan napas memburu.
“Pak…”
“Dia kabur.”
Arga mengepalkan tangannya.
“Sial.”
Di rumah sakit…
Luka Arga ternyata tidak terlalu parah.
Hanya membutuhkan beberapa jahitan.
Namun Nayla tetap duduk di samping tempat tidur sejak tadi.
Ia sama sekali tidak mau pulang.
“Nay.”
Suara Rina yang baru datang membuat Nayla menoleh.
“Kamu belum makan?”
Nayla menggeleng.
“Nggak lapar.”
“Kalau kamu sakit, Pak Arga malah tambah khawatir.”
Nayla tersipu.
“Apaan sih.”
Saat itu juga, Arga membuka matanya.
“Nayla.”
“Iya, Pak?”
“Kamu belum pulang?”
Nayla menggeleng.
“Saya mau memastikan Bapak baik-baik saja.”
Arga tersenyum tipis.
“Kalau begitu…”
“Aku baik-baik saja.”
Nayla menghela napas lega.
“Syukurlah.”
Melihat ekspresi Nayla yang begitu tulus, hati Arga terasa hangat.
Ia sadar…
Tidak pernah ada orang yang menunggunya di rumah sakit seperti ini.
Sementara itu…
Di sebuah gudang tua di pinggir kota.
Lukas melempar remote ke lantai hingga hancur.
“Dasar bodoh!”
Ia memarahi anak buahnya.
“Aku menyuruhmu mengulur waktu.”
“Bukan meledakkan mobil saat aku masih di dekat sana!”
Maaf, Pak…”
“Saya panik.”
Lukas memukul meja dengan keras.
“Arga masih hidup.”
“Dan sekarang polisi pasti memburuku.”
Ia menarik napas panjang.
Kemudian membuka sebuah brankas kecil.
Di dalamnya terdapat sebuah map tua berwarna cokelat.
Di bagian depan tertulis:
PROYEK GARUDA – RAHASIA
Lukas tersenyum tipis.
“Kalau kau ingin bermain, Arga…”
“Aku akan membuka rahasia yang selama ini disembunyikan keluargamu.”
Dua hari kemudian…
Arga akhirnya kembali bekerja.
Seluruh karyawan menyambutnya dengan lega.
Namun Nayla langsung berdiri ketika melihat Arga masuk.
“Pak.”
“Apa?”
“Boleh lihat tangan Bapak?”
Arga mengangkat alis.
“Untuk apa?”
“Memastikan Bapak nggak bandel.”
Beberapa karyawan langsung menahan tawa.
Arga menghela napas kecil lalu memperlihatkan lengannya yang masih diperban.
“Nah.”
“Masih harus istirahat.”
“Kamu sekarang jadi dokter?”
“Bukan.”
“Tapi pasien saya keras kepala.”
Untuk pertama kalinya di depan banyak orang…
Arga tertawa kecil.
Seluruh ruangan langsung hening.
Rina sampai berbisik,
“Astaga…”
“Pak Arga sekarang sering senyum.”
Dimas hanya tersenyum kecil.
“Bukan sering.”
“Tapi hanya kalau ada Nayla.”
Menjelang sore…
Arga menerima sebuah amplop tanpa nama di ruang kerjanya.
Di dalamnya hanya ada satu flashdisk.
Ia memasangnya ke laptop.
Layar langsung menampilkan rekaman video lama.
Seorang pria sedang berbicara di depan kamera.
Pria itu adalah…
Ayah Arga.
Dengan wajah panik, pria itu berkata,
“Kalau suatu hari video ini ditemukan…”
“Berarti semuanya sudah terlambat.”
“Keluarga Mahendra menyimpan rahasia yang tidak boleh diketahui siapa pun…”
Video tiba-tiba berhenti.
Layar menjadi hitam.
Arga membeku di kursinya.
Apa sebenarnya rahasia keluarga Mahendra?
Dan mengapa Lukas begitu yakin rahasia itu bisa menghancurkan semuanya?
jd senam jantung🤧