Felisia harus menerima nasibnya. Menikah disaat dia tidak menginginkannya. Dan setelah dia menerimanya, apa yang terjadi? Suaminya malah membawa seorang wanita dengan anak berusia tiga tahun kerumah.
"Mulai sekarang Wilona dan anak kami akan tinggal dirumah ini."
Anak kami?
Selanjutnya, bisakah Felisia menerima Wilona dan anak dari suaminya bersama wanita lain? Mampukah hatinya bertahan di rumah itu? Membagi suaminya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon L2080617, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BC:SAM? #10
Beberapa hari kemudian.
Felisia pulang dari rumah sakit ke rumah suaminya untuk memasak sarapan. Beberapa hari ini dia melakukan itu. Pulang dari rumah sakit saat pagi pagi buta untuk memasak dan membersihkan diri. Setelah itu kembali lagi kerumah sakit. Dan pulang saat pagi pagi buta lagi.
Begitulah seterusnya sampai sampai dia hampir tidak melihat suaminya, Wilona, dan Devan dalam beberapa hari ini.
Setelah selesai menyiapkan sarapan Felisia pergi ke kamarnya dan membersihkan diri.
Dia membawa sebuah tas yang di dalamnya ada baju ganti untuk dia gunakan saat sore hari.
Saat dia keluar dari kamar, dari sisi tangga Dafi, Wilona, dan Devan berjalan turun.
"Tante baik," panggil Devan girang saat melihat Felisia.
Felisia hanya tersenyum melihat Devan yang berlari ke arahnya.
"Devan jangan lari," teriak Wilona namun dihiraukan oleh Devan.
"Tante, Tante tahu tidak? Hali ini Devan akan sekolah" ucap Devan setelah tiba dihadapan Felisia.
"Oh ya, kalau begitu selamat ya" ucap Felisia.
"Telima kasih Tante," ucap Devan sangat sangat bahagia.
"Tante, ayo makan baleng Devan sama Mama dan Papa" ajak Devan.
Tanpa mendengar balasan Felisia, Devan menarik tangan Felisia menuju meja makan. Dimana disana Dafi dan Wilona sudah ada.
"Devan, Tante harus pergi sekarang ya. Tante juga sudah makan tadi" ucap Felisia jujur.
"Tante jangan pelgi ya. Kalau Tante sudah makan, Tante suapin Devan saja. Hari ini Devan mau kesekolah belsama Tante, Mama, dan Papa" ucap Devan.
"Tidak bisa Devan," tolak Felisia mentah mentah.
"Kenapa? Tante gak suka lagi sama Devan?" Tanya Devan sedih.
"Kamu ikut saja," ucap Dafi kepada Felisia dengan nada perintah.
"Baik," ucap Felisia nurut.
"Hole," Devan berteriak kegirangan.
Sarapan hari itu berbeda karena inilah pertama kalinya Felisia makan dengan tiga orang ini. Dia menyuapi Devan seperti seorang pengasuh. Papa dan Mama Devan yang duduk berdekatan layaknya suami istri. Hufs, memang suami istri.
Setelah selesai sarapan mereka pergi ke taman kanak kanak dengan mobil Dafi.
Dafi duduk di kursi pengemudi, disampingnya ada Wilona. Dan di kursi belakang Felisia duduk dengan Devan.
"Dafi, akhir pekan ini kamu ada urusan gak?" Tanya Wilona memecah keheningan di dalam mobil.
"Gak," jawab Dafi datar.
Senyum Wilona mengembang mendengar jawaban Dafi.
"Bagaimana jika kita liburan? Kita akan pergi nanti sore dan kembali pada hari Minggu," ucap Wilona mengusulkan.
"Kita akan libulan Ma?" Tanya Devan terlihat bahagia.
"Jika papa kamu mau, kita akan liburan" ucap Wilona.
Wilona sengaja berkata seperti itu di depan Devan agar Devan dapat membantunya. Dan karena Devan, Dafi akan menyetujui keinginannya itu.
"Papa, Papa mau kan libulan sama Devan dan Mama?" Tanya Devan penuh harap.
"Iya," jawab Dafi terpaksa.
"Yes," anak kecil berusia tiga tahun kembali bahagia.
Devan menatap Felisia dengan mata berbinar. Dan Felisia hanya tersenyum melihat binaran polos di mata anak itu.
"Tante, Tante ikut juga ya sama kami" ucap Devan tiba tiba.
Hal itu sontak membuat Wilona tersedak air liurnya sendiri.
"Uhuk uhuk," Wilona terbatuk batuk.
"Mama, mama kenapa? Mama sakit?" Tanya Devan.
"Iya Kak, Kakak sakit?" Tanya Felisia cemas.
"Tidak, aku tidak apa apa" ucap Wilona sambil menepuk nepuk dadanya.
"Ma, kalau Mama sakit. Mama dilumah aja ya. Mama gak usah ikut libulan. Nanti Mama tambah sakit," ucap Devan dengan penuh kekhawatiran.
"Kalau mama gak ikut siapa yang jagain Devan?" Tanya Wilona sedikit kesal dengan ucapan anaknya.
"Kan ada Tante baik," ucap Devan ringan.
Wilona mengigit bibir bawahnya kesal namun wajahnya tetap menampilkan senyum manis.
Sebelum Wilona berkata apa apa, Felisia membuka suara.
"Devan, jangan berkata begitu. Kalau Mama kamu sakit, terus kita liburan. Bukankah itu tidak adil? Dan nanti siapa yang akan jaga Mama kamu? Kasihan kan kalau Mama kamu jaga dirinya sendiri, sementara kita senang senang," ucap Felisia dengan lembut.
Devan mengangguk kecil menandakan dia mengerti maksud perkataan Felisia.
"Dan lagi, Mama kamu mau membuat liburan keluarga. Untuk membuat kenangan indah bersama Devan dan... Papa kamu," ucap Felisia.
"Tapikan Tante bukan olang asing. Tante sudah Devan anggap sebagai kelualga," balas Devan.
"Devan anak yang pintar bukan? Keluarga inti itu terdiri dari Papa, Mama, dan anak. Yaitu Papa kamu, Mama kamu, dan kamu sendiri. Tante tidak termasuk dalam keluarga inti kamu," ucap Felisia.
"Kalau begitu Tante kan bisa jadi Mama Devan juga," celetuk Devan.
"Devan," bentak Wilona kaget akan ucapan anaknya.
Sedangkan Dafi yang sontak langsung merem mobilnya. Untung saja Felisia memeluk Devan sehingga Devan tidak kenapa napa.
"Maaf," ucap Dafi lalu kembali menjalankan mobilnya.
Felisia mengangguk.
"Devan dengar ya. Mama kamu cuman ada satu di dunia ini. Ingat itu ya sayang" ucap Felisia lembut.
Devan hanya mengangguk pasrah. Banyak sekali yang dia ingin ucapkan tapi melihat kemarahan Wilona, anak kecil itu menjadi takut.
Sesampainya di sekolah, Devan langsung masuk ke dalam kelasnya.
Wilona dan Dafi menunggu dengan senantiasa di depan kelas Devan.
Sedangkan Felisia memilih menjauh. Dia hanya akan merasa seperti pengganggu jika dia ikut menunggu di depan kelas.
Selama dua jam Felisia duduk di ayunan sampai akhirnya Devan pulang sekolah.
Felisia berjalan mendekati Wilona dan Dafi yang ternyata sedang mengobrol dengan guru Devan.
"Anak Ibu dan bapak ini sangat cerdas. Dia dapat beradaptasi dengan cepat. Dan dalam waktu singkat dia sudah dapat bergaul dengan banyak orang. Bapak dan ibu pasti bangga memiliki anak seperti ini," ucap guru itu.
"Terima kasih atas pujiannya Bu. Saya sebagai Ibunya memang sangat bangga karena anak saya sangat hebat," ucap Wilona.
"Jika hubungan orang tuanya sangat harmonis seperti ini, anak manapun pasti akan tumbuh dengan baik dan cerdas. Karena setiap anak akan belajar dari orang tua mereka. Dan mengikuti apapun yang dilakukan orang tua mereka. Jadi itulah sebabnya sebagai orang tua anda harus menunjukkan sikap yang baik," ucap guru itu memuji kedekatan Wilona dan Dafi.
"Iya Bu," balas Wilona sambil tersenyum ramah.
Felisia hanya terpaku di tempatnya melihat dan mendengar semua itu.
Guru itu memang benar hubungan orang tua berpengaruh dengan pertumbuhan anak. Jadi bagaimana nanti jika seandainya Devan mengetahui apa statusnya yang sebenarnya dan apa arti dari status itu. Apakah Devan akan tumbuh menjadi sosok yang buruk? Apa dia akan mengikuti langkah Papanya yang memiliki dua istri?
Felisia menunduk sedih. Dia merasa bersalah karena posisinya ini. Sekarang dia mengerti, sebenarnya bukan Wilona yang menjadi orang ketiga, namun dia!
***
Jangan lupa like dan komen 🤗🤗🤗.
beda dgn IGD, pasien baru akan menerima tindakan, apakah itu mau di oprasi, atau tindakan lainnya, sesuai dgn keadaan pasien, apakah dia gawat, atau luka ringan..