NovelToon NovelToon
Melahirkan Di Rumah Mertua

Melahirkan Di Rumah Mertua

Status: tamat
Genre:Romantis / Patahhati / Tamat
Popularitas:605.6k
Nilai: 4.8
Nama Author: Evi Listriani

Tulisan saya ini pernah dimuat di KBM dengan pembaca lebih dari empat belas ribu orang. Kisah tentang perempuan yang melahirkan di rumah mertua dengan segala suka dukanya.

Konfliknya menarik, dikemas dengan bahasa yang baik dan visualisasi mendalam sehingga pembaca seolah-olah masuk dalam cerita dan merasakan emosi tokoh dalam cerita.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Evi Listriani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pulang

#Melahirkan_di_Rumah_Mertua

#Part_10

Tubuhku terasa ringan, sangat ringan. Terdengar lamat-lamat suara jerit dan tangisan Mamah. Aku sadar, masih bisa mendengar. Hanya saja tak punya cukup tenaga untuk sekadar membuka mata.

"Ya Allah, Ning ... huuu huuu." Suara Mamah sekarang percis di dekat telinga kananku.

Kurasakan badanku melayang, aku diangkat oleh seseorang kemudian mendarat di permukaan yang empuk. Tak bisa lagi kucerna kata-kata orang di sekitarku, hanya serupa dengungan sekawanan lebah yang membuat kepalaku semakin pusing.

Entah berapa lama aku menikmati kesunyian. Tidur tapi tidak nyenyak, terjaga tapi tak bisa membuka mata hinga bau minyak telon menusuk hidung. Rasa sakit menyengat diantara telunjuk dan ibu jari karena tekanan yang sangat kuat, memaksa mataku terbuka.

"Ning, udah siuman!" pekik Mamah. Mamah memelukku, masih tergugu, isak tangisnya terdengar pilu.

"Minum dulu, Nak." Mamah menarik bahuku hingga aku bisa duduk bersandar. Teh manis hangat mengaliri kerongkongan, terasa hangat sampai ke perut.

"Ning makan ya, Mamah bawa ayam serundeng kesukaan kamu." Mamah mengeluarkan kantong hitam dari tas berwarna merah dengan variasi warna coklat, tas yang aku belikan dulu saat masih bekerja.

Nasi timbel berbungkus daun pisang sebesar lengan, tercium wangi khas yang menggugah selera. Potongan ayam serundeng dalam plastik bening dikeluarkan Mamah, membuat cacing di perutku bersorak sorai.

Aku makan disuapi Mamah, nikmat sekali. Sesekali Mamah menyeka sudut matanya yang berair, dia menyuapiku sambil berurai air mata. Aku pun tak kuasa menahan tangis, nasi yang masuk ke mulutku terasa asin.

Lebih dari setengah bagian nasi timbel telah berpindah ke perutku. Bapak datang dengan Marisa di pangkuannya. Aku meraih dan mencium tangannya dengan takdzim.

"Kita pulang ke rumah, Ning." Bapak berbicara dengan nada dingin. Rahangnya mengeras dengan mata yang berkaca-kaca. Bapak memang tak banyak bicara tapi, siapapun yang melihat wajahnya kini akan sangat tahu bahwa dia sedang bersedih.

"Mamah ke sini sama Mang Jael, sengaja mau jemput kamu. Semalam Mamah mimpi buruk Ning, kamu Mamah temukan di jalanan dengan pakaian compang-camping," tutur Mamah masih dengan air mata yang menganak sungai di pipinya.

Jika aku tetap di sini, mungkin mimpi Mamah akan menjadi nyata, kewarasanku akan hilang hingga terlunta-lunta di jalan. Naudzubillah.

"Tapi Ibu dan Bang Rafi belum pulang."

"Kita tunggu sampai Ibu mertuamu pulang, tapi gak usah nunggu Rafi. Kalau dia sayang anak dan istrinya dia akan datang menemui kamu." Masih terdengar amarah dalam kata-kata Bapak.

Aku tak perlu bercerita, kondisiku sudah menggambarkan semuanya. Tubuhku kurus kering, wajah tirus, tulang di bawah leherku tampak menonjol, lingkar mata hitam dan cekung dengan bibir pucat membiru, bagaimana aku akan bilang pada Mamah dan Bapak kalau aku baik-baik saja?

"Kita mulai berkemas. Bawa seperlunya saja, terutama perlengkapan Marisa," perintah Bapak.

Aku menghela napas. Bimbang menguasai hati. Aku ingin pulang ke rumah Mamah, lepas dari penderitaanku tapi, bagaimana nasib pernikahanku setelah ini? Apakah nanti Bang Rafi akan menemuiku atau justru melepaskanku.

Sebuah tepukan lembut di bahu menyadarkan lamunanku. "Rafi itu sayang sama kamu dan Marisa. Dia hanya belum dewasa. Dan kejadian ini akan menguji kedewasaannya. Jangan berpikir macam-macam, yang terpenting sekarang adalah kesehatan kamu dan Marisa." Mamah seolah dapat membaca isi hatiku.

Aku mandi dan bersiap setelah menyusui Marisa. Mamah turun dari tangga dengan setumpuk pakaian yang telah kering. Dia kembali mengusap matanya yang berair. "Mamah kenapa?" tanyaku.

"Kalau di rumah kita, kamu tak akan Mamah biarkan mencuci sebanyak ini, Ning. Turun naik tangga.... Kamu itu baru melahirkan, tak ada luka di tubuhmu bukan berarti kamu sehat. Huuu huuu...." Mamah menangis lagi. Dia terduduk dengan memeluk pakaian yang baru diangkatnya.

"Mamah menyesal, mempercayakan kamu pada Bu Sukma, mamah menyesal!" Mamah masih saja terisak. Aku pun duduk di sisinya. Bersandar pada bahu Mamah kemudian saling memeluk.

Pakaian dan perlengkapan Marisa yang sudah aku masukkan dalam tas besar. Aku hanya membawa baju seperlunya. Di rumah Mamah, masih ada beberapa pakaian yang aku tinggalkan. Pakaian saat aku gadis dulu. Dengan tubuhku sekarang, pakaian-pakaian itu akan bisa aku kenakan kembali.

Semua sudut rumah telah Mamah rapikan, tak tersisa piring dan gelas kotor. Kamarku pun telah rapi, sprei tanpa lipatan, bantal yang menumpuk, kasur pink Marisa telah siap kami tinggalkan. Pandanganku menyapu seluruh ruangan. Biarlah, apapun yang terjadi setelah ini aku pasrah.

Aku mengambil secarik kertas dan pulpen, menuliskan pesan untuk Bang Rafi. Jika saja ponsel yang kumiliki tak kujual untuk persiapan biaya persalinan dulu, komunikasi dengannya tentu lebih mudah. Tapi, tak apa, di rumah nanti aku bisa meminjam ponsel Wening.

Aku, Mamah, Bapak dan Mang Jael telah bersiap di teras rumah saat Ibu turun dari ojeg yang ditumpanginya. Dia tampak kaget, dan berjalan dengan tergesa ke arah kami.

"Apa-apaan ini?"

Kami terkesiap mendengar tingginya nada suara Ibu.

"Maaf Bu Sukma, Ning mau saya bawa pulang," ucap Mamah.

"Bawa saja, tapi jangan bawa Marisa, cucu saya!" tukas Ibu.

Bapak terlihat menahan marah. Bicara pada Ibu nyatanya tak semudah yang kami kira.

"Saya di sini bukan mau meminta izin, Bu. Hanya pamit. Saya menghargai Ibu sebagai besan walaupun Ibu sudah memperlakukan anak saya dengan begitu kejam." Mamah mulai sengit.

"Siapa yang kejam? Sudah untung saya tampung mereka di sini, tidak harus hidup di jalanan. Rumah nyaman, makan tinggal makan, nyuci pakai mesin, apa lagi?"

Mamah hendak menjawab tapi Bapak memegang tangannya. "Terima kasih Ibu sudah merawat anak dan cucu saya selama ini, sekarang giliran kami. Ibu dan Rafi boleh bertemu mereka kapanpun." Bapak mencoba menengahi.

Aku menggendong Marisa, menutup tubuhnya dengan selimut tebal, dia akan melakukan perjalan pertamanya hari ini. Aku pamit, menyalami tangan Ibu namun ditampiknya.

Mata Ibu menatap Marisa, egonya luluh. Ibu mengambil Marisa dari pangkuanku dan menciuminya, dia menangis. Kukira Ibu tak punya air mata, nyatanya dia bisa menangis juga.

Hari itu aku dan Marisa meninggalkan rumah Ibu. Lega, sedih, nelangsa, bimbang bercampur menjadi satu. Satu hal yang kuyakini, ini adalah pilihan terbaik untuk kesehatan jiwa dan ragaku. Marisa membutuhkan Ibu yang bahagia.

1
cookie_23
Heh abis lahiran makan nasi garam itu yang kau bilang makan, mending di rumah orang tua sendiri walaupun miskin pasti akan dicarikan untuk anak tercinta
Lilis Yuliningsih
Mengapa sih jadi ada selingkuh ? lebih baik sudah saja sampai disini buat keluarga mereka samawa karena Ning bisa membuat Rafi jadi lebih baik.... aur selingkuh ,aut pelakor🏃🏃🏃🏃
🔵✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻ ༄⃞⃟⚡ˢ⍣⃟ₛ ⏤͟͟͞RAsthee
wah ini ga di lanjut lagi?
Olive Livi
Dih org di tumah lo juga malah makannya mi mulu, sehat lo.. buat apa kaya tapi pelit
Olive Livi
Amit amit ya allah, mertuanya minta di ruqyah
Adi Ty
uajsisi
Adi Ty
apap
Nova Hasibuan
lanjutannya mana
Nova Hasibuan
bagus
Nova Hasibuan
ok
SNF
tuhkan bpknya pasti tau apa yg lagi terjadi
Sri Wahyuni
ia emang repot klo ngikutin ortu jadul.
anakku sekarang lahiran aku bebasin makan segala macam yg bergizi.😁
Mawar
kok gak ada lanjutannya kak?
Indah Taa
sama persis yg aku alami, bahkan aku pipis/bab/mandi dibantu sama suami saja dimarahi ibu mertua.
sarapan jam 10, makan sore jam 3, setelah jam 5 sore udah gaboleh makan.
makan cuma boleh nasi + sayur rebus (hambar gak ada rasa sama sekali).
gak boleh tidur siang, pdhl mlm harus melek nemenin adik.
bb lgsg anjlok 13kg selama 40hari ikut mertua, mau pulang kerumah setelah 7 hari lahirnya dedek tidak boleh. harus nunggu 40hari.
40 hari yg menyiksa, setelah skrg dirumah aku paling anti kalau diajak kerumah mertua, gak mau lagi. kecuali kesana pagi terus sore pulang
Indra Fiantikara
haduuuu udah semangat2 bc gantung pas seru lagi,thor semangat up dong😊
elisabeth sembiring
seru kayaknya
Yati Bae
othoure orangjawa ya kok adat melahirkan sama kaya di kampungku sama persis klo habis lahiran duduk di awu anget bungkus daun
Retno Ayu Puspitasari
kelanjutan nya mana thor
Nelli Susilawati
lanjjoit kk
Sulastri
lanjut kan
N@t@ D€ ©o©o: maaf mengganggu klo sempet mampir ya ke novel q judulnya

"Extraordinary Husband (Suami Yang Luar Biasa)"

thanks 🌸🌸🌸🍀🍀🍀🍀
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!