Tan Keira bukan orang bodoh. Dia tahu dirinya bukan cucu kandung Engkong Budiman -- hasil tes DNA di tangannya sudah membuktikan itu. Dia juga tahu bahwa suatu hari, cucu asli keluarga Tan akan muncul dan merebut segalanya: rumah, warisan, nama keluarga, bahkan kasih sayang satu-satunya orang yang pernah mencintainya.
Tapi Keira tidak akan duduk diam menunggu kehancuran.
Di sebuah lounge mewah di SCBD Jakarta, dia mengeksekusi rencana pertamanya: menjebak Lim Renata -- mantan jenderal, CEO Lim Group, sahabat mendiang papanya, dan satu-satunya pria yang cukup berkuasa untuk melindunginya dari badai yang akan datang.
Renata dingin. Renata menakutkan. Seluruh Jakarta tunduk padanya.
Tapi di depan Keira yang gemetar (pura-pura) dan bermata basah (juga pura-pura), pria itu... lembek.
"Om, saya takut."
Satu kalimat itu mengubah segalanya.
Yang Keira tidak tahu: Renata bukan pria yang bisa dijebak. Dia pria yang *memilih* untuk masuk ke jebakan. Dan alasannya... jauh lebih dalam dari yang Keira bayangkan.
Saat cucu asli keluarga Tan akhirnya muncul, saat kebohongan Keira mulai terbongkar satu per satu, saat seluruh dunianya runtuh -- hanya ada satu pertanyaan yang tersisa:
*Apakah Renata akan tetap memilihnya, setelah tahu semuanya palsu?*
Jawabannya ada di dua kata yang akan menghancurkan dan menyembuhkan Keira sekaligus.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Olivia Renata, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 5
### Bab 5
Keira membaca pesan itu tiga kali sebelum membalas.
Baik, Om. Terima kasih.
Ia tidak menambahkan emoji. Tidak bertanya harus membawa apa. Tidak menjelaskan masalahnya lewat chat. Richard memintanya datang, berarti pria itu memilih mendengar langsung. Keira tidak akan merusak rasa penting itu dengan paragraf panjang di layar ponsel.
Keesokan paginya, mobil keluarga Tan berhenti di depan Lim Group Tower pukul sembilan empat puluh.
Gedung itu berdiri di jantung SCBD seperti balok kaca yang terlalu tinggi untuk peduli pada manusia di bawahnya. Lobby-nya setinggi beberapa lantai, lantai marmernya memantulkan langkah orang-orang berjas, dan di dinding belakang, logo Lim Group tampak sederhana tetapi menekan. Tidak perlu emas berlebihan. Kekuasaan yang sungguh besar justru tidak berteriak.
Keira turun dari mobil.
Beberapa orang menoleh, bukan karena ia membuat keributan, melainkan karena staf lobby sudah bergerak duluan. Seorang resepsionis menyambutnya dengan senyum profesional.
"Nona Tan? Pak Lim sudah menunggu."
Keira mengangguk. "Terima kasih."
Di dalam lift privat, ia melihat angka lantai naik tanpa suara. Tangannya memegang tali tas lebih erat. Tidak ada preman sewaan. Tidak ada Felicia yang bisa dijadikan alat. Kali ini, ia masuk ke wilayah Richard dengan membawa satu cerita yang harus cukup benar untuk dipercaya dan cukup menyedihkan untuk membuatnya bergerak.
Jason menunggu di depan lift.
"Selamat pagi, Nona Tan."
"Pagi, Ko Jason."
Jason menatapnya sekilas, seolah panggilan itu masih terasa sedikit aneh, tetapi ia membuka pintu ruang meeting tanpa komentar. "Pak Lim menunggu di dalam."
Ruang meeting itu tidak terlalu besar. Justru itu yang membuatnya terasa pribadi. Meja hitam panjang, dinding kaca menghadap Jakarta, dua cangkir kopi, dan Richard yang duduk di ujung meja sambil membaca dokumen.
Ia tidak berdiri ketika Keira masuk. Hanya mengangkat wajah.
"Duduk."
Keira duduk di kursi seberangnya.
Richard menutup map. "Ceritakan."
Tidak ada basa-basi. Tidak ada menanyakan kabar. Keira menyukai itu. Pria seperti ini membenci lingkaran. Maka ia memberi garis lurus.
"Kevin meminta saya membantu skripsi asistennya."
Mata Richard tidak berubah. "Membantu seperti apa?"
"Menulis ulang struktur, teori, analisis. Dia menyebutnya membantu. Saya menyebutnya menulis untuk orang lain."
Jason yang berdiri di sisi ruangan menurunkan pandangan ke tabletnya.
Richard diam beberapa detik. "Nama asistennya?"
"Vanya."
Keira sengaja mengucapkan nama itu dengan tenang. Di dalam dadanya, ada sesuatu yang bergerak seperti jarum.
"Kamu menolak?"
"Iya."
"Lalu?"
Keira menunduk. "Kevin bilang kalau saya tidak mau, dia akan bicara ke Engkong. Dia akan bilang saya mempermalukan dia, merusak hubungan kami, dan berubah sejak dekat dengan Om."
Untuk pertama kalinya, jari Richard berhenti di atas meja.
Gerakan itu kecil. Hampir tidak ada. Namun Keira melihatnya.
"Dia memakai nama saya untuk mengancammu?"
Keira mengangkat wajah, lalu cepat menunduk lagi. "Mungkin Kevin hanya marah."
Kalimat itu sengaja ia buat lunak.
Richard tidak perlu Keira menuduh Kevin. Pria itu cukup mendengar Keira membela orang yang jelas mengancamnya, lalu menyimpulkan sendiri betapa seringnya gadis ini dipaksa menelan sesuatu sendirian.
"Jason."
"Ya, Pak Lim."
"Minta jadwal Ong Gunawan hari ini."
Keira menahan napas.
Jason mengetik cepat. "Pak Ong ada rapat internal pukul satu, lalu kosong pukul tiga sampai empat."
"Ambil pukul tiga. Saya akan bicara dengannya."
"Baik."
Keira buru-buru mengangkat wajah. "Om, tidak perlu sampai begitu. Saya tidak mau masalah kecil jadi besar."
Richard menatapnya. "Kalau masalah kecil, dia tidak akan membawa nama Engkongmu."
Keira terdiam.
Kali ini, ia tidak perlu berpura-pura tersentuh. Richard menyebut Engkong dengan cara yang membuatnya terdengar seperti seseorang yang harus dilindungi juga, bukan sekadar orang tua kaya yang bisa dimanfaatkan.
"Terima kasih, Om."
"Jangan berterima kasih dulu." Suara Richard tetap datar. "Setelah ini, kalau Kevin menghubungimu soal skripsi itu, jangan jawab sendiri. Kirim ke saya."
Keira berkedip. "Ke Om?"
"Kamu yang meminta tolong."
Jawaban itu seharusnya dingin, tetapi anehnya membuat ujung jari Keira menghangat.
Ia mengangguk pelan. "Baik."
Richard belum selesai. "Ini pertama kalinya Kevin memintamu melakukan hal seperti itu?"
Keira menatap ujung meja.
Pertanyaan itu terlalu tepat. Kevin tidak pernah meminta hal sejelas skripsi Vanya, tetapi selama dua tahun pertunangan, ia sudah sering memakai kata keluarga untuk membuat Keira mengalah. Datang ke acara yang tidak ia sukai. Tersenyum pada relasi Ong yang merendahkan Tan. Menerima Felicia yang sengaja terlambat mengembalikan barangnya.
"Bukan dalam bentuk skripsi," jawab Keira akhirnya.
Jason berhenti mengetik sebentar.
Richard menatapnya lebih lama. "Dalam bentuk apa?"
Keira tersenyum kecil, seperti malu membicarakan keburukan calon tunangan sendiri. "Hal-hal kecil. Saya kira memang begitu caranya menjaga hubungan dua keluarga."
Ruangan itu menjadi lebih dingin.
"Hal kecil yang berulang bukan berarti kecil," kata Richard.
Kalimat itu membuat Keira terdiam sungguhan.
Untuk sepersekian detik, ia hampir lupa bahwa ia sedang memainkan peran.
Pertemuan itu berlangsung tidak sampai dua puluh menit. Richard menanyakan detail secukupnya, Jason mencatat, lalu Keira dipersilakan pulang. Tidak ada janji manis. Tidak ada kalimat panjang yang menenangkan. Namun saat keluar dari ruangan itu, Keira tahu Kevin baru saja menendang pintu yang salah.
Di koridor kaca, langkah Keira melambat.
Nama Vanya masih menempel di kepalanya.
Kemarin di kantor Kevin, saat perempuan itu berdiri dan memanggilnya Kak Keira, Keira belum sempat melihatnya dengan jelas. Kevin terlalu menyebalkan. Ruangan terlalu penuh dengan ancaman.
Sekarang, wajah itu kembali utuh.
Rambut dikuncir rendah.
Senyum manis yang membuat orang ingin percaya.
Kemeja putih sederhana, tas murah yang sengaja diletakkan di kursi agar terlihat apa adanya. Cara ia menunduk ketika bicara dengan Kevin. Cara matanya berubah dingin ketika melihat jam tangan Keira.
Keira pernah melihat wajah itu.
Bukan di dunia nyata.
Di dalam mimpi, perempuan itu berdiri di ruang tamu Rumah Keluarga Tan dengan gaun putih dan air mata palsu. Di belakangnya, Kevin memegang bahunya. Di sampingnya, dokumen DNA terbuka di meja. Semua orang menatap Keira seperti pencuri yang tertangkap.
"Aku cuma ingin kembali ke keluargaku," kata perempuan itu dalam mimpi.
Lalu semua yang selama ini menjadi milik Keira bergeser ke arah Vanya.
Nama keluarga.
Tunangan.
Kamar di lantai dua.
Tangan Engkong yang dulu hanya mengusap kepala Keira.
Keira berhenti di depan lift.
Udara dingin dari pendingin ruangan menyentuh tengkuknya, tetapi punggungnya terasa panas. Ia baru menyadari satu hal yang lebih menakutkan daripada Kevin bersikap mesra pada asisten baru.
Vanya bukan sekadar perempuan lain.
Vanya adalah gadis dari mimpi itu.
Gadis yang akan menggantikan posisinya.
Pintu lift terbuka. Keira masuk sendirian. Saat pintu tertutup, pantulan wajahnya di dinding logam tampak sangat tenang.
"Dialah yang akan menghancurkan hidupku," bisiknya.
Namun ketenangan itu pecah ketika ia keluar dari lobby Lim Group Tower.
Ponselnya bergetar.
Satu email baru masuk dari laboratorium swasta yang ia hubungi diam-diam dua hari lalu, setelah mengambil sisa sedotan kopi Vanya dari meja tamu kantor Kevin.
Subject: Hasil Tes DNA -- Vanya / Keluarga Tan
Jantung Keira berdebar begitu keras sampai suara lalu lintas SCBD mendadak terdengar jauh.