Lima tahun setelah kepergian sang istri, Wijaya berusaha menjadi ayah sekaligus ibu bagi kelima anaknya. Di balik sosoknya yang tampak tegar, ia menyimpan rahasia yang tak pernah diketahui anak-anaknya hubungan dengan seorang perempuan yang telah lama hadir dalam hidupnya.
Owen, si sulung yang selalu memikul tanggung jawab keluarga. Rafa, yang keras kepala dan mudah terbakar emosi. Lily, putri kesayangan ayahnya yang selalu berusaha menjadi penengah. Wafa, anak yang selalu tenang dengan senyum dan tawanya. Dan Ell, si bungsu yang menjadi pelipur lara keluarga.
Ketika satu per satu rahasia mulai terungkap, ikatan keluarga yang selama ini terlihat baik-baik saja perlahan retak. Penyesalan datang terlambat, sementara waktu terus berjalan tanpa pernah menunggu siapa pun.
Di antara cinta, amarah, dan pengorbanan, mereka akan menyadari bahwa tidak semua kesempatan datang untuk kedua kalinya. Sebab, ada seseorang yang diam-diam sedang menghitung... waktu yang tersisa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tabina Lutfi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
gara-gara mie instan
“Iya, Kak! Dulu boro-boro dia mau belajar. Tapi setelah tahu Lily mau lanjut kuliah ke Universitas More, dia mendadak ikutan rajin belajar. Dan alhasil... sekarang malah dia yang lebih pinter dari Lily!” jelas Lily dengan nada bangga bercampur gemas.
Owen mengangguk-angguk paham, akhirnya mengerti benang merah dari kegigihan Julian. Tanpa bertanya lagi, Owen kembali menyandarkan kepalanya. Usapan lembut jemari Lily di rambutnya sukses membuat Owen memejamkan mata hingga perlahan-lahan terlelap.
Di sudut kasur lantai, Ell yang matanya masih sangat segar menepuk-nepuk bahu Kino. “Kino! Bantuin Ell pasang Lego yuk!”
Kino yang matanya sudah memerah dan sayu menggeleng lemah. “Kino ngantuk, Ell...”
“Sebentar aja, No!” paksa Ell.
Sean yang melihat itu berniat melerai. “Ayo sama Kakak aja, Ell,” tawar Sean lembut. “Kamu tidur aja, No.”
Mendengar tawaran penyelamat itu, Kino mengangguk lega lalu merebahkan tubuhnya dan langsung tertidur dalam hitungan detik.
Lily yang menyaksikan interaksi itu dari sofa hanya bisa tersenyum hangat. Tak terasa, waktu sudah menunjukkan larut malam. Semua orang di ruang tengah telah terlelap dalam mimpi masing-masing, menyisakan Lily, Ell, dan Sean yang masih terjaga.
Sean terlihat mengusap matanya berkali-kali, menahan kantuk yang amat sangat demi menemani Ell.
Lily bangkit dari sofa lalu berjalan menghampiri kedua anak itu. “Udah malam... ayo pada tidur.”
Sean mengangguk cepat, mengucek matanya yang berat.
“Tapi Ell belum ngantuk...” gerutu Ell pelan.
“Tapi ini udah malam banget, Sayang. Ayo, Kakak temenin Ell sampai tidur ya?” ajak Lily lembut. Gadis itu menggandeng jemari adiknya, menuntunnya menuju remahan kasur empuk di ruang tengah.
Lily mengusap-usap lembut puncak kepala Ell.
“Kak Lily... masih marah ya sama Ell?” tanya bocah itu polos, menatap wajah kakaknya dengan raut bersalah.
Lily menggeleng pelan seraya mengulas senyum hangat. “Enggak, tapi Ell nggak boleh mengulangi perbuatan kayak gitu lagi, ya? Kalau sampai terulang, Kakak bakal marah lama banget sama Ell,” nasihat Lily lembut namun tegas.
Mendengar itu, Ell mengangguk mantap. “Ell janji enggak bakal ngulangin lagi!”
Selang lima belas menit kemudian, napas Ell perlahan teratur bocah itu akhirnya terlelap damai. Setelah memastikan adiknya benar-benar tidur, Lily bergegas menuju kamar mandi untuk mencuci muka dan menggosok gigi.
Selesai membilas diri, Lily kembali ke ruang tengah yang remang-remang.
Di sudut kasur lantai, Javin mendadak terbangun gara-gara cacing di perutnya yang mendadak meronta. Cowok itu mendudukkan tubuhnya malas, mengacak rambutnya yang berantakan.
“Kamu belum tidur, Ly?” tanya Javin serak begitu mendapati sosok Lily yang melintas.
“Belum, Kak. Kakak sendiri kenapa bangun?” tanya Lily balik.
“Lapar,” jawab Javin terkekeh kaku seraya memegang perutnya.
Lily menyunggingkan senyum tipis. “Lapar, ya? Tadi kayaknya masih ada sisa makanan deh.”
Lily berjalan menuju dapur untuk memeriksa meja makan, dan Javin mengekor santai di belakangnya. Namun, begitu membuka tudung saji, wadah-wadah di sana sudah bersih tanpa sisa.
“Yah... ternyata udah habis, Kak. Kayaknya tadi dimakan Wafa deh,” ujar Lily saat tak mendapati sepiring makanan pun.
Javin menggaruk tengkuknya. “Ada mi instan enggak, Ly?”
“Ada,” jawab Lily singkat. Ia membuka pintu lemari gantung, menyambar satu bungkus mi instan, lalu menyodorkannya pada Javin.
Javin menerimanya dengan senyum tipis. “Udah, sana kamu tidur.”
“Ya udah, Lily tidur duluan ya, Kak,” pamit Lily. Gadis itu kembali ke ruang tengah lalu merebahkan tubuhnya di atas sofa empuk.
Namun, baru saja Lily memejamkan mata dan hampir terlelap, tiba-tiba...
“ARGHH!”
Sebuah erangan kesakitan melengking dari arah dapur. Sontak mata Lily terbuka lebar. Tanpa berpikir panjang, ia langsung berlari menghampiri sumber suara.
“Kenapa, Kak?!” tanya Lily panik begitu sampai di ambang pintu dapur.
Javin tak menjawab. Wajahnya mengernyit hebat menahan sakit seraya mengepalkan tangan kanannya erat-erat.
Lily mendekat cepat, meraih dan memeriksa jemari Javin. Jari telunjuk sebelah kanan laki-laki itu tampak kemerahan dan melepuh.
“Kenapa, Kak? Kena panci?” cecar Lily. Javin mengangguk.
Tanpa buang waktu, Lily langsung menarik pergelangan tangan Javin ke arah wastafel, memutar kran air, lalu menadahkan jemari cowok itu di bawah kucuran air dingin.
“Udah tahu panas, kenapa malah dipegang sih, Kak?! Sekalian aja tanganmu masukin ke dalam air mendidih!” omel Lily tak henti-hentinya, gemas dengan kebodohan laki-laki di sampingnya itu.
“Enggak sengaja, Ly... Udah, sana kamu tidur aja,” ujar Javin berusaha mengalihkan perhatian.
“Udah, sana kamu tidur~” cibir Lily menirukan nada bicara Javin dengan raut muka kesal bercampur mengejek. “Udah! Kakak diam di sini aja. Biar Lily yang masakin mienya!” tegas Lily tak bantah.
Melihat raut galak gadis itu, Javin akhirnya menurut pasrah.
Setelah mi matang, Lily memindahkannya dengan hati-hati ke dalam mangkuk. “Lily ambil salep dulu ya, Kak,” pamit Lily sebelum melangkah keluar dari dapur.
Beberapa menit berselang, Lily kembali dengan salep di tangannya. Namun, tepat sebelum ia melangkah mendekati Javin...
Dug...
Dug...
Dug...
Lily meloncat kaget, matanya membelalak. “S-suara apa itu, Kak?”
Javin mempertajam pendengarannya, raut wajahnya mendadak berubah serius. “Suara dari arah pintu depan kan, Dek?”
Lily mengangguk kaku.
Tanpa ragu, Javin memutar badan dan melangkah bergegas meninggalkan area dapur.
“Mau ke mana, Kak?!” panggil Lily panik, refleks mengekor di belakang Javin.
“Mau cek ke luar,” jawab Javin pelan.
Mereka berdua melangkah hati-hati menuju pintu utama. Sampai di depan daun pintu, Javin tertegun sejenak. Ia memberanikan diri mengetuk kayu tebal itu dari dalam.
“Siapa di luar?” tanya Javin setengah berbisik.
“Ini... Papi...” sahut sebuah suara berat yang terdengar sangat kacau dari balik pintu.
Mendengar suara itu, Javin refleks menoleh ke arah Lily dengan tatapan bingung. Tanpa pikir panjang, Lily langsung menarik slot dan membuka sebelah daun pintu.
“Papi? Kok enggak—” Lily mendadak bungkam begitu mendapati area teras depannya kosong melompong.
Namun, pandangannya merunduk ke arah daun pintu yang belum terbuka sepenuhnya. Di sana, Papi Jaya terduduk terkulai di atas ubin cold, bersandar kaku sambil berulang kali membenturkan kepalanya pelan ke permukaan kayu pintu.
Melihat kondisi memprihatinkan itu, Javin bergegas memegang salah satu lengan Jaya. “Ayo kita bawa masuk, Ly!”
Lily yang syok langsung menyambar lengan Papi Jaya dari sisi lainnya. Dengan susah payah, mereka berdua memapah tubuh Jaya yang terasa amat berat untuk memanjat tangga menuju kamar utama di lantai atas.
Di tengah perjalanan yang terseok-seok, Jaya sesekali tertawa konyol dan bergumam meracau. “Ha-Hana... haha... Hana...”
Dahi Lily berkerut dalam, butuh penjelasan. “Hana siapa, Pih?” Namun, bukannya menjawab, Jaya justru makin tertawa lepas seperti orang kehilangan kesadaran.
Javin melirik Lily ragu. “Om Jaya... memangnya masih suka minum-minum ya, Ly?”
“Enggak! Papi udah berhenti sekitar satu tahunan lalu, Kak! Waktu itu gara-gara kepergok Kak Owen!” jelas Lily cepat.
Padahal, aroma alkohol yang sangat menyengat jelas-jelas menguap kuat dari pakaian sang papi.
Sesampainya di dalam kamar, mereka berdua melempar dan merebahkan tubuh Jaya ke atas kasur empuk. Meski sudah berbaring, Jaya masih sibuk bergumam nama 'Hana' secara berulang. Lily bergerak cekatan melepas jas dan sepatu papinya.
“Bau alkoholnya menyengat banget...” gumam Javin seraya mengibaskan tangan di udara, tak tahan dengan baunya. “Ayo kita turun, Ly.”
“Bentar, Kak,” potong Lily. Langkahnya terhenti saat matanya menangkap sesuatu di leher sang papi. Gadis itu membungkuk mendekat. “Ini... noda apa, Kak? Ciuman, ya?”
Javin yang sebenarnya tahu persis bercak merah keunguan itu langsung mengelak ngawur. “Bukan kayaknya Ly... paling bekas gigitan nyamuk.”
“Tapi ini jelas bekas lipstik, Kak!” seru Lily seraya menyapukan jemarinya di atas leher papinya. Di sana, noda merah samar menempel di ujung jarinya.
“Udah, ayo turun! Biar Om Jaya istirahat dulu. Besok pagi baru kamu tanyain baik-baik,” bujuk Javin seraya menarik lembut tangan Lily keluar dari kamar.
Lily akhirnya menurut pasrah. Namun, begitu pintu kamar Jaya tertutup rapat, langkah Lily kembali terhenti di depan koridor.
'Papi... kenapa minum-minum lagi?' batin Lily penuh kecamuk tanya.
Javin menoleh. “Kenapa lagi, Ly?”
“Kakak... kamu beneran enggak percaya kalau itu bekas lipstik? Kenapa Papi harus minum-minum lagi sih?!” tanya Lily dengan nada suara bergetar menahan kekecewaan yang amat mendalam.
Javin menghela napas berat. “Kakak enggak yakin, Ly. Udah, ayo turun dulu...”
“Apa ini gara-gara Papi punya pacar baru?” bisik Lily, dan detik itu juga air matanya lolos membasahi pipi.
Javin mulai kehabisan kesabaran menghadapi pikiran liar gadis di depannya. “Jangan mikir yang aneh-aneh dulu, Lily!” tegas Javin. “Ayo turun!” Javin meraih pergelangan tangan Lily.
Namun, Lily tetap mematung, menolak bergeming. “Iya... pasti ini karena Papi punya pacar...” gumamnya makin melantur.
Tanpa aba-aba, Javin langsung menyusupkan tangannya ke bawah lutut dan punggung Lily, menggendong gadis itu ala bridal style membawa tubuhnya turun ke lantai bawah menuju area dapur.
Lily yang terkejut setengah mati mulai memberontak. “Turunin Lily, Kak! Turunin!”
Javin sama sekali tak menghiraukan rengekan itu. Begitu sampai di dapur, ia mendudukkan Lily di atas salah satu kursi meja makan.
“Udah! Jangan mikir yang macam-macam dulu! Om Jaya mungkin cuma lagi stres kerjaan biasa,” ujar Javin berusaha menenangkan. “Sekarang, tugas kamu itu obatin tangan Kakak yang luka ini.”
Javin lalu memiringkan kepala, tersenyum jahil. “Udah, jangan nangis. Muka kamu jelek banget kalau lagi nangis.”
Seketika itu juga Lily melayangkan tatapan tajam nan membunuh. “Ngeledek ya?!”
PLAK!
Lily memukul lengan atas Javin cukup keras.
“ARGHH!” Javin mengerang dramatis seraya memegangi jari telunjuk kanannya. “Sakit, Ly... kena luka yang tadi!” keluhnya berpura-pura kesakitan setengah mati.
Raut wajah Lily seketika berubah panik luar biasa. “Aduh! Maaf, Kak!” Matanya refleks tertuju pada jari telunjuk Javin yang membiru.
Melihat kepanikan yang menggemaskan itu, senyum puas terukir samar di bibir Javin.
Lily mengambil tabung salep lalu memoleskan obat itu ke atas luka bakar Javin dengan sangat hati-hati.
Di tengah keheningan dapur, Javin menatap lekat wajah polos di depannya. 'Semoga apa yang kamu khawatirin itu enggak beneran kejadian ya, Ly...' batin Javin iba.
“Dah, selesai!” Lily mendongak kaku. “Kenapa Kakak lihatin Lily terus dari tadi?”
“Enggak apa-apa. Oh ya... tangan Kakak kan sakit nih, Kakak minta disuapin mi instannya boleh enggak?” goda Javin mencoba mencairkan suasana yang kaku.
“Enggak,” jawab Lily cepat dan dingin.
“Please... Boleh ya, Ly? Kakak kan pasien kamu sekarang, jadi kamu harus merawat pasien dengan baik,” cerocos Javin tak berhenti menagih.
Lily memutar bola matanya pasrah. “Ya udah, iya!” desih Lily malas, menyuapkan sendok mi demi menghentikan ocehan panjang laki-laki itu.
Setelah mi instan di mangkuk habis tak bersisa, Javin menatap Lily. “Kamu udah ngantuk, Ly?”
Lily menggeleng pelan. “Belum, Kak... Temenin Lily nonton sebentar ya?”
Javin mengangguk setuju.
Mereka berdua berjalan menuju ruang tengah lalu duduk berdampingan di atas sofa. Namun, baru sepuluh menit layar televisi menyala...
Zzz...
Kepala Lily terkulai menyandar ke bahu Javin, napasnya terdengar halus teratur.
Javin terkekeh pelan. “Lah... tadi katanya belum ngantuk? Ini baru juga sepuluh menit udah tumbang,” bisik Javin gemas, mengusap lembut pipi gadis di sampingnya sebelum akhirnya ikut memejamkan mata.
Keesokan paginya, sinar matahari mulai menerobos masuk lewat celah gorden ruang tengah. Seluruh anak bujang yang tidur bergelimpangan di kasur lantai masih terlelap kecuali Owen.
Owen mendudukkan tubuhnya malas, menguap lebar seraya merenggangkan otot-otot badannya yang kaku. Saat memutar badannya hendak bangkit dari lantai menuju sofa... matanya seketika membelalak sempurna.
“LILY! JAVIN!!!” jerit Owen nyaring menggelegar, memecah ketenangan pagi rumah Jaya.
kalimat berderet panjang
konflik lambat terasa kurang tajam
penutup agak samar kurang kuat
alur terasa berjalan lambat