NovelToon NovelToon
Pendekar Pedang Langitan

Pendekar Pedang Langitan

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Epik Petualangan / Penyelamat
Popularitas:184
Nilai: 5
Nama Author: Heryando Palar Vinkoert

Kisah Pendekar Pedang Langitan, merupakan petualangan Bagaga di Jawa Dwipa bersama Ngo Cian, gadis cantik yang mungil dari negeri Champa.
Bagaga di Jawa Dwipa lebih dikenal dengan Pendekar Pedang Langitan, karena itulah senjata yang selalu dia gunakan.
Bagaga dan Ngo Cian terlibat dalam upaya menyelamatkan kelahiran bayi suci yang membawa takdir langit atas tanah Jawa Dwipa dan Nusantara.
Semua berawal dari Bagaga mengalami peristiwa barasihan dan menerima wangsit dari Maharesi Pawitra alias Maharesi Semeru Anakan.
Banjir darah melanda Jawa Dwipa bagian timur karena perbedaan cara pandang para Maharesi dan juga para Penguasa.
Mari nikmati kisah Pendekar Pedang Langitan Bagaga dan Dewi Pengendali Api Ngo Cian menjelang kelahiran Ken Arok, bayi suci yang akan membawa takdir langit atas tanah Jawa Dwipa.

Seperti biasa. Pendekar Pedang Langitan adalah sekelumit kisah fiksi dengan latar belakang sejarah.

Terimakasih

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heryando Palar Vinkoert, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10. Cukup dengan Satu Jurus

Whuiiiiiiiiing....

Kilauan cahaya pedang melintas berkeredep. Pedang melintas menebas dada Bagaga.

Bagaga menarik diri setengah langkah. Menarik tubuh  yang sedikit.

Whuuuuzzt....

Pedang putih Ni Kirana melintas setelah inci didepan dada Bagaga. Kesiut angin dingin menerpa dada Bagaga.

Melihat serangan pertama gagal. Ni Kirana memiuh pedangnya dan arah pedang berubah menjadi tusukan kearah tenggorokan. Bagaga membuat langkah serong dan sedikit merendahkan tubuhnya. Dia tiba-tiba muncul di belakang Ni Kirana. Tapi Bagaga tidak melakukan serangan apapun.

Mereka terus bertarung. Ni Kirana melakukan serangkaian serangan yang kuat, cepat dan ganas. Namun Bagaga dengan mudah menghindar dari semua serangan itu. Dua belas langkah ajaib memang sangat luar biasa. Serangan kuat dari jurus jurus tingkat tinggi yang dilakukan Ni Kirana dengan mudah dihindari Bagaga.

Sepuluh jurus berlalu dengan cepat. Ni Kirana menjadi jengkel dan berteriak setengah memaki.

"Apakah kau hanya seperti ayam sayur yang bisanya hanya melarikan diri...?"

Bagaga tersenyum mendengar ucapan Ni Kirana. Dia dengan sangat mudah melihat berbagai kelemahan dari jurus jurus yang dilakukan oleh Ni Kirana.

"Perhatikan Ni Kirana. Pegangan gagang pedang mu terlalu kuat. Robah sedikit, majukan jari telunjuk mu. Sehingga pedang mu lebih ringan dan lincah." Ni Kirana kaget mendengar ucapan Bagaga.

Selama ini saat merubah serangan, terasa kaku dan tertahan. Diam diam gadis itu merubah cara menggenggam pedang. Tiba-tiba Ni Kirana merasa gerakannya lebih halus dan lancar.

Ni Kirana kembali menyerang lebih cepat dan ganas. Bagaga berkata sambil menyentuh samping lutut Ni Kirana dengan ujung suling perak.

"Posisi kakimu terlalu membuka. Itu mengurangi kecepatan langkah dan sedikit menahan gerakan mu."

Wajah cantik Ni Kirana menjadi merah padam.

Gadis cantik itu memutar pedang dan membuat tebasan beruntun menuju leher, dada dan perut Bagaga. Ujung suling perak menyentuh pundak Ni Kirana.

"Jangan buat serangan dengan pundak terlalu maju. Itu akan mempengaruhi kecepatan perubahan arah serangan mu."

Bukannya senang. Ni Kirana jadi semakin kesal. Jangan hanya ngoceh seperti ayam habis bertelur. Serang aku kalau kau bisa." Ni Kirana kembali memarahi Bagaga Alam.

"Baiklah, kau bersiaplah gadis keras kepala. Lihat serangan..."

Bagaga Alam melakukan gerak tipu dari jurus dua belas langkah ajaib.  Setelah membuat langkah tak jadi. Suling perak menebas dengan cepat menuju perut Ni Kirana.

Melihat serangan itu. Ni Kirana segera mengayun pedangnya untuk menyambut kedatangan tebasan suling. Namun alangkah kagetnya Ni Kirana. Pedangnya tidak membentur suling perak milik Bagaga. Gadis itu sungguh tidak mengerti, Suling seakan melewati pedang begitu saja.

Baaaaammm...!  Aaaaaaahhh...!!

Suling perak dengan telak menghantam perut Ni Kirana. Gadis cantik itu menjerit. Dia merasakan perutnya ditabrak seekor banteng besar.

Tubuh indah sensual Ni Kirana terlempar jauh dan terhempas di halaman rumput. Sebuah cekungan besar terbentuk dan tubuh Ni Kirana tergeletak di tengah cekungan besar itu.

Ni Kirana terbelalak, sesaat dada nya terasa sesak dan dia sangat sulit bernafas. Dia menatap Pandeka Pedang Suling Kumala. Namun sorot mata gadis itu telah berubah menjadi sebuah kekaguman. Namun dia menutupi dengan meruncingkan bibirnya dan terlihat sangat jutek.

Bagaga hanya mengangkat bahu dan berpaling melihat kearah Danang Wesi yang tengah melesat menuju Ni Kirana.

"Kamu tidak apa apa Kirana ?"

Ni Kirana mengangguk. Dia masih mencoba mengatur nafas jadi belum bisa bicara.

Sebetulnya baik Danang Wesi maupun ki Ageng merasa takjub. Mereka tidak mengira hanya dalam satu kali serangan dari Bagaga. Ni Kirana langsung terhempas dan tidak berdaya. Ini benar benar gila dan tidak masuk akal. Bagaimana bisa hanya dengan satu serangan, Ni Kirana yang sudah berada ditingkat pendekar suci bisa dikalahkan. Tingkat pendekar suci bukanlah tingkatan yang rendah. Itu adalah tingkatan yang sangat tinggi. Hanya orang yang disayangi langit dan memiliki bakat luar biasa bisa mencapai tingkatan pendekar suci di usia dua puluh tahun.

Ki Ageng juga telah merubah cara pandangnya terhadap Bagaga. Jauh dalam hatinya dia berkata. Maha Resi Pawitra memang tidak salah memilih orang.

"Bagaga aku Danang Wesi mohon bimbingan."

Danang Wesi telah berdiri di tengah halaman dengan keris terhunus. Saat itu Ni Kirana telah berdiri di sebelah ki Ageng. Dia menatap tajam kepada Bagaga Alam.

"Tunggu...." Bagaga Alam dan Danang Wesi melihat kearah Ni Kirana. Wajah kedua pria muda itu heran melihat gadis cantik itu. Ki Ageng juga menatap Ni Kirana dengan tatapan heran.

"Kang mas Bagaga. Jika engkau mampu mengalahkan kakang Danang Wesi dalam satu serangan. Aku akan mengakui mu." Wajah cantik Ni Kirana bersemu merah habis berucap.

Kang mas ??? Ki Ageng dan Danang Wesi melihat kearah Ni Kirana dengan mata membulat penuh makna. Hei hei apakah gadis ini....???

"Saudara Bagaga, apakah kau mampu ?" Danang Wesi bertanya dengan kening berlipat. Sedikit banyak dia merasa heran dengan ucapan Ni Kirana adik semata wayangnya.

Bagaga si Pandeka Pedang Suling Kumala hanya tersenyum dan mengangguk. "Yaa aku pasti bisa mengalahkan mu dalam satu serangan saudara Danang. Bersiaplah dan gunakan semua kemampuan mu."

Danang Wesi menyadari dia bukanlah lawan Bagaga. Namun dalam satu serangan ?  Itu berarti kurang dari satu jurus dan dia akan dikalahkan ??  Adakah penghinaan yang lebih besar dari itu ??

Perlahan rasa kesal merambat di hati Danang. Tadinya dia sudah berfikir akan langsung mengalah dalam satu serangan. Tapi mendengar ucapan Bagaga Alam, egonya muncul. Soal Ni Kirana mestinya masih bisa diperbaiki.

"Baiklah, mari kita mulai saudara Bagaga." Usai bicara, Danang Wesi langsung melesat sangat cepat.

Keris langit menikam gunung...

Keris hitam ditangan Danang Wesi bersinar terang. Energi mendalam yang sangat kuat menghentak seperti kilat menerjang Bagaga Alam.

Bagaga Alam tersenyum kecil. Dia tiba-tiba menghilang dan...

Baaaaammm...!  Heekc...!!

Terdengar ledakan keras dan suara tersedak.

Tidak ada yang bisa melihat bagaimana cara Bagaga melakukan serangan. Pada saat itu jelas sekali Danang Wesi sedang menerjang dengan sangat cepat.

Tiba-tiba tubuh Danang Wesi terpelanting lebih dari sepuluh tombak. Pemuda gagah itu terhempas dan mantul mantul beberapa kali. Tubuh Danang Wesi baru berhenti setelah menabrak pohon durian yang sangat besar. Untuk saat itu belum masuk musim durian. Kalau tidak...

Danang Wesi tersandar lemas di pangkal pohon durian. Ada darah diujung ujung bibirnya.

"Aku mengaku kalah." Danang Wesi berdiri setengah merangkak.

Bagaga menjura kepada Danang Wesi. "Terimakasih saudara Danang sudah mau mengalah."

Mata Ni Kirana berseri, bersinar seperti bintang melihat kepada Bagaga Alam. Pipi gadis cantik itu bersemu merah. Dia berucap dengan lemah lembut.

"Kang mas Bagaga, Ni Kirana mohon maaf atas kekasaran sikap sebelum ini pada Kang mas."

Bagaga Alam hanya tersenyum dan melambaikan tangannya.

"Baiklah, sekarang kalian sudah saling mengenal dengan baik. Mari kita segera makan. Mudah mudahan makanan kita masih hangat." Ki Ageng segera berbalik menuju rumah. Ni Kirana segera mengajak Bagaga Alam.

"Mari Kang mas, kita masuk."

"Hoi... Apakah aku akan kalian tinggal begitu saja disini ?" Danang Wesi berseru sambil bangkit dan segera berjalan di sebelah Bagaga Alam.

Malam itu mereka makan bersama dalam suasana yang akrab. Ni Kirana aktif mengambilkan makanan yang dia rasa enak untuk Bagaga.

"Kang mas Bagaga, aku pikir pikir. Karena kang mas tidak lagi menggunakan pedang. Mestinya gelar Kang mas Bagaga lebih cocok dipanggil dengan Pendekar Suling Perak.

Bagaimana menurut kakang Danang Wesi dan Romo ?"

Ki Ageng dan Danang Wesi mengangguk. Tapi kemudian Danang Wesi bertanya.

"Saudara ku Bagaga. Kamu membawa sebuah suling sebagai senjata. Aku yakin engkau seorang yang ahli meniup suling.

Adakah engkau berkenan memainkan sebuah nyanyian untuk kami ?" Danang Wesi berkata kepada Bagaga Alam seusai mereka makan.

Bagaga Alam tersenyum ramah. "Baiklah, mungkin ini akan menjadi kenangan indah untuk kita bersama."

Bagaga Alam mengeluarkan Suling perak dari kehampaan. Ni Kirana kembali melebarkan matanya melihat cara Bagaga mengambil suling perak nya.

\=\=\=\=\=***\=©

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!