Kumpulan cerita horror yang tak pernah dialami oleh orang awam.
Cover by Mpuk
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon V a L L, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bangunan Lama 1
Namaku Ayu, seorang mahasiswi di salah satu kampus di daerahku. Dan aku anak semester dua. Karena peraturan baru yang diadakan oleh kampus, yang mengharuskan mahasiswa harus berada di asrama lingkungan kampus. Aku pun bersiap-siap dan mengemas barang-barangku dari rumah ke asrama kampus.
"Ma ... Ayu pamit ya, semua barang udah siap soalnya," pamitku terhadap mamaku.
"Hati-hati, Sayang. Tidak ada yang ketinggalan kan? Udah di cek barang apa yang mau dibawa?" tanya mamaku memastikan.
"Sudah beres semua, Ma... oh iya, Papa mana? Aku langsung pamit aja," ucapku.
"Ya sudah kalau gak ada barang yang tertinggal. Papa ada di depan nungguin kamu. Katanya papa mau antar kamu," ujar mamaku kemudian.
"Iya, Ma. Aku berangkat ya, Ma," sambil menciumi pipi kanan dan kiri ibuku serta menyalami punggung tangan ibuku. Dan aku pun beranjak ke depan mendatangi ayahku.
"Pa, aku sudah siap. Ayo," ajakku kepada ayahku yang sedang duduk membaca koran di ruang tamu.
"Semua sudah siap?" tanya ayahku lagi.
"Siap, Pa," jawabku singkat.
"Baiklah, ayo kita berangkat. Ibu, aku berangkat dulu ya nganterin Ayu," ajak ayah sekaligus berpamitan dengan mamaku.
Mamaku pun menyambangi ayah dan aku untuk mengantarkan kami ke depan pintu. Dan aku melambaikan tanganku menandakan perpisahan sementara dengan keluargaku. Ayahku pun memasukkan semua barang ke joke mobil dan segera meraih handle pintu kemudi menandakan bersiap untuk berangkat. Tak lupa aku juga menarik handle pintu depan penumpang dan menurunkan kaca mobil seraya melambaikan tanganku kepada mamaku. Kami pun berlalu meninggalkan pelataran rumahku.
Sesampainya aku dilingkungan kampus, ayahku yang bertanya di mana letak asrama kampus kepada seorang satpam penjaga gerbang kampus.
"Permisi, Pak. Pak, numpang bertanya, di mana letak asrama wanita ya, Pak?" tanya ayahku.
"Iya, Pak. Bapak langsung masuk saja lurus, setelah itu bapak bisa langsung ambil kanan jalan, dan kiri lagi. setelah itu lurus 25 meter dari situ sudah kelihatan bangunannya, Pak," terang satpam itu panjang lebar.
"Baik, Pak, terima kasih banyak. Permisi," ucap ayahku mengakhiri percakapannya.
Ayahku pun mengemudikan mobil sesuai petunjuk arah yang baru saja beliau dapatkan. Tetapi ayahku sedikit lupa sehingga kami sedikit tersesat.
"Aduh lupa, kenapa ane gak kasih tau ya tadi, kan gak boleh belok kiri pas belokkan pertama. Aduh... semoga gak papa deh itu bapak dan anak," ucap pak satpam itu.
Sementara ayahku masih berputar-putar, "Ayu, tadi kamu dengerkan kata bapak satpam itu, katanya belok kanan kan?" tanya ayahku.
"Lah, kan bilangnya tadi belok kiri pas belokkan pertama," jawabku dengan jelas karena aku menyimak apa yang dikatakan oleh satpam itu.
"Aduh, kita salah belok nih. Gimana dong? Ya udah, kita putar balik aja," ucap ayahku.
Aku pun tak menjawab apa yang diucapkan ayahku itu. tiba-tiba saja bulu romaku naik, merinding seketika. Aku memanggil ayahku dan memberitahu sesuatu yang ada di depan saat ayahku ingin putar balik.
"Pa, itu bukannya kuburan? Kok ada di sini sih? Kita di mana, Pa?" tanyaku panik.
"Tenangkan dirimu tidak akan terjadi apa-apa," ucap ayahku menenangkan ku yang saat itu panik seketika.
Ayahku terperanjat dengan apa yang ia lihat. 'Benar kata Ayu. Di depan ada kuburan. Tapi masa iya di Universitas ternama seperti ini ada kuburan? Untuk apa?' batin ayahku bergejolak.
'Permisi, kami numpang lewat. Tidak berniat apapun, hei para wali kubur. Tunjukkan jalan yang benar untuk kami,' batin ayahku lagi meminta izin kepada wali kubur.
Seketika kami seperti ditujukkan jalan oleh yang tak kasat mata, sehingga kami pun kembali ke jalan yang benar sesuai dengan arahan satpam kampus. Tak berapa lama dari insiden itu, kami pun sampai tepat pada pukul 17.00 WIB. Hari pun sudah sore, ayahku segera pamit karena telah mengantarkanku sampai di depan kamar asrama itu.
...****************...
bersambung ...