Ayunda Zhia Wijaya yang baru saja kehilangan calon suaminya, sedang mencoba untuk bangkit dari keterpurukan.
Kehilangan demi kehilangan yang dialami oleh Ayunda meninggalkan bekas trauma yang mendalam di diri gadis itu, hingga Ayunda selalu dilanda keraguan untuk menjalin sebuah hubungan.
Namun takdir malah mempertemukan Ayunda dengan Bennedic Rainer, seorang pemuda tanggung yang jiwa mudanya begitu berkobar.
Ben yang merupakan sepupu dari boss Ayunda di kantor, kerap menggoda Ayunda dan selalu kepo dengan hidup Ayunda.
Sekuat apapun Ayunda menghindari Ben, pemuda itu malah semakin mengejar Ayunda dengan gila.
Mampukah Ben yang juga masih labil menyembuhkan rasa trauma yang dialami oleh Ayunda dan memberikan kebahagiaan yang sesungguhnya untuk wanita yang usianya lebih tua dari Ben tersebut?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bundew, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KELUARGA BEN
Ayunda masuk ke lokasi acara malam ini dan sudah cukup banyak tamu yang hadir. Setelah mencari-cari, Ayunda akhirnya menemukan Liam yang malam ini menggandeng mesra Yumi dan pasangan suai istri tersebut mengenakan baju couple yang senada.
Benar-benar pasangan yang serasi!
"Kau baru datang, Ay?" Tanya Liam saat Ayunda menyapanya.
"Iya, sedikit terlambat, maaf!" Jawab Ayunda menampilkan raut bersalah.
Yumi segera menyentak lengan Liam.
"Santai saja, Ay! Ini kan acara di luar pekerjaan. Yang lain juga baru datang," ucap Yumi menenangkan Ayunda.
"Ada apa ini? Kenapa Ayunda murung? Abang memarahinya?" Cecar Benn yang baru datang seraya menunjuk-nunjuk pada Liam.
"Ck! Ada bocah sok-sokan jadi pahlawan!" Gumam Liam seraya berdecak berulang kali, dan Yumi hanya terkekeh.
"Nikmati saja acara malam ini, Ay! Santai dan jangan kau, ini acara pesta dan bukan meeting bersama klien!" Liam menepuk pundak Ayunda.
"Dan sebaiknya kau jauh-jauh dari bocah labil ini!" Liam memperingatkan Ayunda sekaligus menoyor kepala Ben yang langsung mendengus tak terima.
Ayunda dan Yumi langsung tertawa kecil melihat perseteruan Liam dan Ben yang kekanak-kanakan.
"Kami akan menemui tamu lain, Ay! Nikmati pestanya!" Pamit yumi pada Ayunda seraya mengulas senyum hangat.
Ayunda balas tersenyum hangat pada istri Liam tersebut.
Sekarang tinggal Ayunda dan Ben yang sedang merapikan jasnya.
"Kenalan sama Mama, yuk! Aja Gen yang tanpa basa-basi langsung menarik lengan Ayunda dan membawa gadus itu ke hadapan Mama Airin yang malam ini tampil anggun serta menggamit lengan Papa Theo.
"Ben! Ini?" Mama Airin menunjuk ke arah Ayunda.
"Ini Ayunda, Ma! Sekretarisnya Abang Liam yang Ben ceritakan tempo hari," jelas Ben to the point.
"Oh, jadi kamu yang namanya Ayunda." Mama Airin langsung memeluk Ayunda dengan hangat.
Sebenarnya ini bukan kali pertama Ayunda berjumpa dengan Mama Airin. Tapi yang sebelum-sebelumnya Ayunda tak pernah menyapa wanita paruh baya ini, dan memilih untuk berbaur dengan teman-teman sesama karyawan di acara perusahaan seperti ini.
Baru malam ini, Ayunda terpaksa berkenalan dengan Mama Airin karena Ben menyebalkan.
"Tadi dijemput Ben?" Tanya Papa Theo menyelidik.
"Iya, Pak! Tadinya saya mau naik taksi, tapi Ben malah sudah datang menjemput," jawab Ayunda merasa sungkan pada kedua orang tua Ben ini.
"Nanti pulang biar diantar juga sama Ben! Bahaya anak gadus pukang sendiri naik tajsi malam-malam," ujar Mama Airin seraya mengusap lembut punggung Ayunda.
"Tidak usah, Bu! Nantk biaf bareng teman-teman saja pulangnya," tolak Ayunda cepat.
"Takut merepotkan Ben," sambung Ayunda lagi sedikit ragu.
"Ah! Tidak repot, kok! Nanti aku antar, ya!" Ucap Ben santai yang kembali tersenyum aneh pada Ayunda.
Ayunda masih tak paham maksud dari senyuman aneh Ben tersebut.
Setelah berbasa-basi sedikit dengan Ayunda, Mama Airin dan Papa Theo lanjut menemui tamu lain yang hadir malam ini.
"Ayo gabung dengan yang lain!" Ajak Ben selanjutnya pada Ayunda.
"Aku akan gabung dengan karyawan yang lain saja, Ben!" Tolak Ayunda seraya celingukan mencari-cari karyawan Halley Development yang lain.
Tapi sepertinya tidak ada.
Aneh sekali!
"Karyawan yang mana?" Sergah Ben yang tetap keukeh menarik tangan Ayunda dan mengajaknya duduk di meja bundar yang dikelilingi oleh beberapa kursi yang sudah terisi.
"Ini acara ulang tahun perusahaan Halley Development, kan, Ben? Trus para karyawan pada kemana? Kok nggak ada yang hadir satupun?" Tanya Ayunda yang merasa asing dengan semua tamu yang hadir malam ini.
"Acara untuk karyawan diadakan di gedung Halley Development. Yang disini khusus kekuarga dan rekan kerja saja. Kata Abang Liam begitu," jelas Ben yang sontak membuat Ayunda ternganga tak percaya.
Bagaimana ceritanya Ayunda bisa tidak tahu kalau ada dua acara di dua tempat yang berbeda?
Apa ini sebuah prank?
"Aku salah tempat berarti?" Tanya Ayunda yang mendadak linglung.
"Ya enggaklah! Kamu kan masuk keluarga sebentar lagi," jawab Ben seraya nyengir.
Masuk keluarga sebentar lagi?
Apa maksudnya coba?
"Ciyeee! Ben udah bawa pacar baru sekarang!" Suara seorang wanita yang wajahnya mirip denagn Liam bergema dari seberang meja. Meskipun baru melihatnya beberapa kali, namun Ayunda langsung bisa mengenali putri bungsu di keluarga Halley tersebut.
Ya,
Itu adalah Anneke Halley, adik dari Liam Halley.
Dan yang duduk di sebelahnya Ayunda yakin kalau itu adalah suaminya.
Semua anak-anak di keluarga Halley memang sudah menikah dan mereka semja selalu terlihat rukun dan harmonis, apalagi saat di acara seperti ini.
"Berisik!" Sahut Ben seraya menarik kursi untuk Ayunda dan mempersilahkan wanita tersebut untuk duduk. Ben lalu mengambil posisi duduk di samping Ayunda.
"Valeria tidak pulang, Ben?" Tanya seorang wanita yang juga baru ikut bergabung di meja yang sama.
Wanita yang perutnya terlihat membuncit karena sedang hamil tersebut juga tak asing bagi Ayunda. Itu adalah salah satu kakak kembar Liam yang menikah dengan anak salah satu pemilik bisnis perhotelan yang ada di kota ini.
"Sedang ngidam, Kak! Jadi tidak bisa kemana-mana," jelas Ben pada Kak Thalita yang hanya tersenyum dan mengangguk paham.
"Kak!" Anne memanggil ke arah Ayunda sebelum kemudian adik Liam itu menutup mulutnya dan menahan tawa.
"Eh, panggilnya gimana, sih? Aku bingung," kekeh Anne seolah itu adalah hal yang lucu.
"Panggil saja Ayunda," jawab Ayunda cepat.
"Atau Ay! Itu panggilan akrabnya," timpal Ben yang kembali tersenyum pada Ayunda.
"Tapi kan Kak Ayunda seusia sama Bang Liam! Nggak sopan dong kalau aku panggil nama begitu. Kamu aja panggil aku juga Kak dan bukan Anne," sergah Anne menjelaskan silsilah membingungkan ini.
"Iya, kamu kan lebih tua dua tahun ketimbang aku! Ya aku panggil Kak wajar, dong! Biar nggak lancang!" Jawab Ben sebelum meneguk minuman di gelasnya.
"Yaudah panggil Ay saja! Abaikan umur, kan nanti kalau jadi istrinya Ben ujung-ujungnya tetap jadi adik sepupu kamu," ujar Thalita menengahi perdebatan dua anak bungsu di keluarga Halley dan keluarga Rainer tersebut.
Dasar anak bungsu!
Kalau berdebat selalu nggak ada yang mau mengalah.
Ayunda langsung terbatuk-batuk mendengar kalimat Kak Thalita tentang istri Ben tadi.
Siapa memangnya yang mau jadi istri Ben?
Pacaran saja tidak, masa iya mau jadi istri.
"Kamu kenapa, Ay?" Ben yang mendengar Ayunda batuk-batuk langsung mengusap punggung gadis itu dengan lembut.
"Nggak apa-apa, kok! Cuma tarsedak minuman saja," jawab Ayunda yang sedikit salah tingkah.
"Makanga pelan-pelan minumnya biar nggak tersedak" bisik Ben seraya mencondongkan tubuhnya ke arah Ayunda.
Terang saja hal itu malah membuat Ayunda semakin salah tingkah.
"Ehem! Ben, kalau udah kebelet langsung dilamar saja!" Celetuk Abang Zayn menggoda Be yang masih mencondongkan tubuhnya ke arah Ayunda.
"Nah! Cocok itu, Ben! Biar kamu nggak sibuk jadi baby sitter kalau lagi kumpul keluarga," sahut Anne menimpali celetukan Abang Zayn.
Semua orang yang duduk mengelilingi meja itupun tertawa bersama. Berbeda dengan Ayunda yang hanya tersipu malu dan terus menundukkan wajahnya.
Melihat keakraban di keluarga Ben dan keluarga Halley mendadak membuat hati Ayunda merasa sedih. Terlebih saat Mama Airin tadi memeluk Ayunda dengan sangat hangat, membuat Ayunda jadi merindukan sang Mama yang sudah berpulang.
Ayunda sudah kehilangan kehangatan keluarga sejak beberapa tahun terakhir ini. Satu-satunya keluarga yang kini Ayunda miliki hanyalah opa Ronny dan anak-anak di panti asuhan.
Ayunda memilih untuk diam sepanjang acara daj menyimak obrolan Ben bersama keluarga Halley yang seperti tidak ada habisnya.
Kehangatan dan keakraban di antara mereka semua malah membuat hati Ayunda merasa sesak.
Ayunda rindu pada Mama dan Papanya sekarang.
.
.
.
Terima kasih yang sudah mampir.
Dukung othor dengan like dan komen di bab ini.
biar agak hangat, suhu AC dinaikkan.