"Angie Thio hanyalah seorang gadis biasa yang terpaksa bekerja sebagai pengasuh bayi di kediaman keluarga Liem — salah satu konglomerat paling berkuasa di Indonesia.
Tugasnya sederhana: merawat Guai, bayi mungil yang menolak semua susu formula dan terus menangis sepanjang malam.
Tapi Angie menyimpan rahasia yang bisa menghancurkan segalanya.
Diam-diam, di tengah kegelapan malam, dia menyusui Guai dengan ASI-nya sendiri. Bayi itu langsung tenang di pelukannya — seolah mengenali sentuhan ibunya. Angie tidak mengerti kenapa tubuhnya masih memproduksi ASI, kenapa hatinya terasa begitu terikat pada bayi yang bukan anaknya.
Atau... benarkah Guai bukan anaknya?
Sementara itu, sang Tuan Muda — Hansen Liem, CEO Liem Corporation — menyimpan rahasianya sendiri. Selama setahun, tubuhnya tidak pernah bereaksi terhadap wanita mana pun. Dokter memvonisnya mengalami disfungsi. Dingin. Mati rasa.
Sampai Angie datang.
Setiap kali gadis itu mendekat, jantungnya berdebar tak terkendali. Setiap kali aroma tubuhnya tercium, seluruh pertahanannya runtuh. Hansen tidak mengerti kenapa hanya Angie — seorang pengasuh bayi biasa — yang bisa membuat tubuhnya bereaksi seperti ini.
Di balik dinding mansion mewah Keluarga Liem, Celine Lau duduk di singgasananya sebagai ""ibu"" Guai dan calon istri Hansen. Tapi setiap kali Guai menangis, bayi itu hanya mau Angie. Setiap kali Hansen menatap seseorang, matanya hanya mencari Angie.
Celine tahu posisinya terancam. Dan Nyonya Lau — dalang di balik segalanya — tidak akan membiarkan seorang pengasuh menghancurkan rencana yang sudah disusun sejak setahun lalu."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arka R., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 17
Bab 17 Ba!
Kabar tentang pemeriksaan DNA menyebar sebelum sarapan.
Para pekerja berbisik di dapur dan halaman. Sebagian mengira Hansen sedang mencari pengkhianat. Sebagian lain yakin tes itu berkaitan dengan Guai.
Celine mengunci diri di kamar. Jika sampelnya dibandingkan dengan Guai, kebohongan yang dipelihara hampir setahun akan runtuh dalam satu lembar hasil laboratorium. Ia mengirim tiga pesan kepada Nyonya Lau, tetapi belum mendapat jawaban.
Ia lalu memanggil Angeline dan meminta jadwal petugas laboratorium. Angeline menggeleng.
"Pengambilan dilakukan tim eksternal. William sendiri yang membawa segel sampel."
"Cari cara menukar milikku."
"Setiap tabung memakai kode QR dan foto saat penyegelan."
Celine menggigit kuku. Sistem itu dibangun setelah Hansen sadar ada terlalu banyak tangan di dalam rumah. Jalan mudah untuk mengganti hasil semakin sedikit.
"Kalau aku jatuh, kamu juga ikut," bisiknya.
Angeline tidak menjawab. Ancaman itu membuat kesetiaannya kepada keluarga Lau mulai terasa seperti jerat.
Di ruang keluarga, Hansen duduk di karpet bersama Guai. Sebuah mobil mainan berada di tangannya. Ia mendorongnya perlahan, lalu menghentikannya di depan kaki bayi itu.
Guai tertawa dan merangkak mendekat. Ia mencoba berdiri dengan berpegangan pada lutut Hansen, gagal, lalu duduk lagi tanpa menangis.
"Pelan," kata Hansen. "Belum waktunya lari."
Angie berdiri dekat sofa sambil melipat pakaian bayi. Melihat direktur Liem Corporation duduk di lantai dengan dasi terlepas masih terasa aneh.
Guai mengangkat kedua tangan. "Ba!"
Hansen berhenti menggerakkan mobil.
"Ba!" ulang Guai, lalu menjatuhkan tubuh ke arahnya.
Hansen menangkapnya dengan gerakan canggung. Tangannya sempat salah menopang, dan Angie refleks maju untuk memperbaiki posisi.
"Satu tangan di punggung, satu di bawah tubuhnya," kata Angie.
"Aku tahu cara menggendong anakku."
"Kalau tahu, kenapa tangannya seperti sedang memegang koper?"
Hansen menatapnya. Guai justru tertawa dan menepuk dagu ayahnya.
"Ba."
Sesuatu di wajah Hansen berubah. Lapisan dingin yang selalu menutupinya menghilang beberapa detik. Ia mendekap Guai lebih aman, lalu menyentuhkan dahi ke rambut bayi.
"Ya," katanya pelan. "Papa di sini."
Guai memasukkan dua jari ke mulut Hansen, lalu menarik bibirnya. Hansen tidak tahu harus tertawa atau melepaskan tangan kecil itu. Angie akhirnya berjongkok dan menunjukkan cara mengalihkan perhatian dengan mainan.
"Jangan langsung menarik jarinya. Gusi bayi bisa sakit."
"Dia sedang mencoba mencabut bibirku."
"Itu cara Guai memeriksa sesuatu yang baru."
"Wajah ayahnya bukan mainan."
Guai menjawab dengan tawa nyaring. Hansen pun tersenyum, kecil tetapi nyata.
Angie melihat kemiripan di antara keduanya untuk pertama kali. Bentuk alis, cara menatap sebelum tersenyum, bahkan kerutan kecil di hidung ketika tidak setuju. Tidak diperlukan hasil DNA untuk mengetahui Hansen adalah ayah Guai.
Namun saat memikirkan ibunya, mata Angie tanpa sadar jatuh pada tangan sendiri.
Mata Angie terasa panas.
Pemandangan itu seharusnya hanya manis, tetapi ada rasa kehilangan yang tidak bisa ia jelaskan. Guai di pelukan ayahnya tampak seperti bagian dari gambar keluarga yang pernah direnggut dari Angie sebelum ia sempat melihatnya.
Ponselnya bergetar.
Pesan datang dari nomor Mama Thio.
`Mama hari ini kondisinya kurang baik. Cepat datang.`
Angie langsung berdiri. "Saya harus ke rumah sakit."
Hansen tidak menatapnya. "Pakai mobil rumah."
Di RS Medistra, Angie berlari masuk ke kamar VIP dan menemukan Mama sedang menonton acara memasak sambil makan buah.
"Mama sakit apa?"
Mama menatapnya heran. "Mama baik."
"Lalu pesan tadi?"
"Ponsel Mama dipinjam Pak Hansen."
Angie menutup mata. "Saya akan membunuh dia."
Mama tertawa sampai batuk kecil. "Jangan. Buahnya enak."
Di meja terdapat sekeranjang pir, apel, dan jeruk. Hansen rupanya datang pagi tadi, menanyakan hasil rontgen paru, berbicara dengan dokter, lalu menemani Mama sarapan.
"Dia datang setiap hari?" tanya Angie.
"Hampir." Mama mengambil sepotong pir. "Tetap menyebalkan. Tapi dia mendengar waktu Mama bicara."
"Apa saja yang dia lakukan?"
"Membawa salinan hasil pemeriksaan, bertanya kepada dokter, lalu duduk di kursi itu sambil menjawab surel kantor. Kemarin dia membantu Mama berjalan sampai taman."
"Mama membiarkannya?"
"Mama mengawasi."
Angie mengangkat alis.
"Baiklah, dia juga membawakan kopi tanpa gula yang tepat." Mama menghela napas. "Anak itu belajar cepat."
Nada Mama masih keras, tetapi kata `anak itu` tidak lagi terdengar seperti menyebut musuh.
"Dia berbohong agar saya datang."
"Itu memang harus dimarahi." Mama menunjuk kursi. "Tapi kamu datang dengan wajah seperti dunia mau runtuh. Mungkin dia ingin melihat apakah kamu masih ingat punya ibu setelah sibuk dengan bayi dan bosmu."
Angie mengirim pesan kepada Hansen.
`Jangan pernah memakai kesehatan Mama untuk memancing saya lagi.`
Jawaban datang cepat.
`Baik, Ngie.`
Panggilan itu membuat kemarahannya tersangkut sesaat. Hansen kini menggunakannya dengan sadar.
Ketika meninggalkan rumah sakit, Angie berjalan melewati lobi utama. Seorang perempuan anggun dengan pakaian mahal berhenti di dekat pintu putar.
Itu Nyonya Lau.
Tatapan perempuan tersebut menelusuri wajah Angie, lalu membeku pada bentuk mata dan garis rahangnya.
Sesuatu yang gelap melintas di sana sebelum senyum sosial muncul.
"Kamu..." Nyonya Lau mendekat satu langkah. "Kamu mirip sekali dengan seseorang."
Di bawah lengan blusnya, gelang batu hijau berkilat ketika terkena cahaya lobi.
Kepala Angie berdenyut. Bayangan ruang bersalin melintas, terlalu cepat untuk dipahami.
Nyonya Lau melihat perubahan wajah itu. Ia segera menarik lengan bajunya menutupi gelang, lalu mempertahankan senyum.
"Kita pernah bertemu?" tanya Angie.
"Sepertinya tidak." Jawaban Nyonya Lau datang terlalu cepat. "Mungkin hanya kebetulan."
Namun setelah melewati Angie, ia langsung mengambil ponsel dari tas dengan tangan yang tidak setenang wajahnya.