NovelToon NovelToon
HUKUM SEPULUH SENTI: SANG PENGGULUNG WAKTU

HUKUM SEPULUH SENTI: SANG PENGGULUNG WAKTU

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / Fantasi / Tamat
Popularitas:219
Nilai: 5
Nama Author: Mara Nata

Langit di atas dataran utara tidak pernah benar-benar bersih. Di bawah kekuasaan Perguruan Pedang Langit, salju yang turun tidak berwarna putih suci, melainkan abu-abu pekat cenderung hitam, terkontaminasi oleh jelaga ribuan tungku penempaan baja dan pembakaran dupa energi yang tak pernah padam. Bagian luar sekte itu adalah hamparan lumpur beku yang dingin, tempat di mana kasta terendah manusia—para budak dan pekerja paksa—merangkak demi menyambung nyawa

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mara Nata, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6: Kehancuran Sektor Luar

Tuan Muda Liu tidak lagi memiliki keangkuhan seorang jenius dari Perguruan Pedang Langit. Di atas salju hitam yang kini dipenuhi oleh tumpukan tulang belulang murid-muridnya, dia merangkak mundur. Napasnya memburu, membuang semua harga diri jubah biru sutranya ke dalam lumpur beku. Di depannya, Kala berdiri bagai patung kematian—ramping, sunyi, dan memiliki sepasang mata yang sanggup menelan jiwa.

"Jangan... Jangan mendekat! Ayahku adalah Tetua Agung Sekte! Jika kau membunuhku, seluruh master di Ranah Raja Bumi akan memburumu sampai ke ujung dunia!" jerit Liu, suaranya melengking tinggi dipenuhi keputusasaan.

Kala melangkah maju. Setiap langkahnya tidak menyisakan bekas di atas salju, seolah gravitasi bumi sendiri menolak untuk menahan beban tubuhnya. "Ranah Raja Bumi?" Kala menggumam datar. "Bahkan jika seluruh dewa di langit turun, mereka tidak akan bisa membeli kembali nyawamu hari ini."

Tangan kanan Kala kembali bergerak menuju gagang pedang Jian hitam yang tipis.

Melihat gerakan tangan itu, ketakutan Liu mencapai puncaknya. Insting bertahan hidup memaksa tubuhnya meledakkan seluruh energi Qi yang dia miliki. Sebagai kultivator Ranah Pengendali Jiwa Tingkat Awal, Liu mampu memadukan energinya dengan alam sekitar.

"Mati kau, iblis!!!"

Liu menghentakkan kedua tangannya ke tanah. Qi berelemen angin meledak, menciptakan pusaran badai vertikal setinggi sepuluh meter di sekeliling tubuhnya. Ratusan bilah angin yang setajam silet berputar kencang, menebas batu-batu kuno di jalanan hingga hancur menjadi bubuk. Dengan lambaian tangannya, badai angin raksasa itu bergerak menerjang Kala, siap mencacah tubuh kurus pemuda itu menjadi serpihan daging.

Menghadapi serangan tingkat Pengendali Jiwa, Kala tidak berkedip. Konstelasi bintang di dalam mata kiri Black Hole-nya berputar berlawanan arah jarum jam.

"Menelan," bisik Kala.

Ketika badai angin tajam itu berjarak satu jengkal dari wajah Kala, sebuah pusaran kegelapan hampa udara muncul dari pupil kiri matanya. Gaya tarik gravitasi yang sangat masif meledak. Badai angin raksasa yang sanggup meratakan sebuah desa itu mendadak terdistorsi, melengkung masuk ke dalam pusaran mata kiri Kala seperti air yang terhisap ke dalam lubang wastafel. Dalam tiga detik, seluruh energi Qi milik Liu lenyap tanpa sisa, ditelan habis ke dalam dimensi nihilisme kosmik di dalam mata Kala.

"Bagaimana... bagaimana mungkin?!" Liu mematung, tangannya gemetar di udara. Serangan terkuatnya bahkan tidak bisa menggores selembar benang di jubah hitam Kala.

Kala tidak memberikan waktu bagi Liu untuk meratap. Jari-jarinya kembali mencengkeram gagang pedangnya.

CHIIING!

Dentingan tipis itu kembali bergema. Bilah hitam tipis itu ditarik keluar sepanjang sepuluh sentimeter.

DENG!

Dunia kembali kehilangan warnanya. Badai salju membatu, dan tubuh Liu terkunci kaku di tempatnya berdiri dengan ekspresi ketakutan yang luar biasa.

Namun, kali ini Kala merasakan sedikit hambatan. Dada Liu memancarkan cahaya perak redup—sebuah jimat pelindung jiwa yang dipasang oleh ayahnya, seorang Tetua di Ranah Raja Bumi. Jimat itu bergetar hebat, mencoba melawan Hukum Waktu Kala yang membekukan ruang.

“Kala, jimat itu membawa sedikit kesadaran dari kultivator Ranah Raja Bumi,” suara anggun Pohon Akalbuana memperingatkan dari dalam kepala Kala. “Tingkat kekuatannya dua tingkat di atasmu saat ini. Hukum Sepuluh Senti tidak akan bisa menahannya lebih dari lima detik!”

"Lima detik... sudah lebih dari cukup," jawab Kala dalam keheningan waktu yang membeku.

Kala tidak menyedot usia Liu seperti murid luar tadi. Dia melangkah maju dengan kecepatan yang melampaui batas fana. Tangannya mendorong penuh pedang Jian tipisnya keluar dari sarung kayu Yggdrasil. Bilah hitam tipis tanpa bayangan itu menebas leher Liu dengan satu gerakan horizontal yang sangat halus. Karena bilah pedang itu terlalu tipis, ruang di jalur tebasannya bergetar, menciptakan celah hitam tipis yang memotong realitas.

Setelah menebas, Kala langsung memasukkan kembali pedangnya ke dalam sarung kayu.

KLIK.

Lima detik berakhir, dan waktu semesta kembali berputar normal.

Tuan Muda Liu berkedip. Dia merasa tidak ada yang terjadi pada tubuhnya. Dia memeriksa tangannya, lalu tertawa histeris. "Hahaha! Sialan! Kekuatanmu tidak bekerja padaku! Jimat ayahku melindungiku—"

Kalimat Liu terputus. Garis merah tipis muncul di sekeliling lehernya. Detik berikutnya, kepala Liu tergelincir jatuh dari bahunya, menghantam salju hitam dengan mata yang masih melotot. Tubuhnya menyusul ambruk, menyemburkan darah segar yang langsung membeku oleh hawa dingin utara. Jimat pelindung di dadanya retak menjadi berkeping-keping karena tidak sempat bereaksi terhadap tebasan yang terjadi di dalam waktu yang berhenti.

Kala berdiri di samping jasad Liu, menatap kereta kuda yang kini kosong. Di dalam salah satu kereta, dia menemukan tumpukan peti kayu berisi batu spiritual dan tanaman obat hasil jarahan dari desa-desa fana.

Kala mengambil sebuah botol salep kayu yang terletak di sudut peti—botol yang persis sama dengan yang dibawa oleh Ayla di malam kematiannya. Jari-jari Kala mencengkeram botol itu erat-erat hingga hancur menjadi bubuk di telapak tangannya.

"Ini baru awal, Liu," bisik Kala pada angin malam.

Dia berbalik, menatap jalur batu kuno yang mengarah langsung ke gerbang raksasa Perguruan Pedang Langit di puncak gunung. Dengan terbunuhnya murid inti dan hancurnya konvoi upeti, sekte tersebut pasti akan menyadari ada yang salah dalam hitungan jam. Namun, Kala tidak berniat bersembunyi. Dua tahun di dasar jurang telah menempanya menjadi pisau yang siap merobek dada siapa pun yang menindasnya.

Di bawah langit kelabu yang mulai menurunkan salju hitam yang semakin lebat, sosok berjubah hitam itu berjalan mendaki gunung, membawa pedang tipis yang haus akan darah para master sekte.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!