NovelToon NovelToon
Sistem Bakat: Dari Pengangguran Menjadi Raja Bisnis

Sistem Bakat: Dari Pengangguran Menjadi Raja Bisnis

Status: tamat
Genre:System / Balas dendam. / Perubahan Hidup / Tamat
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Hadid

"Raka Pradana, pengangguran dengan uang pas-pasan, tiba-tiba mendapatkan Sistem Arsitek Talenta—kemampuan melihat potensi tersembunyi yang dibuang perusahaan besar.

Syaratnya: dirikan perusahaan legal, bayar karyawan layak, ubah bakat menjadi keuntungan. Dari pabrik kasur kecil di Cikarang, ia membangun PT Arunika Karya Nusantara menjadi jaringan bisnis raksasa.
Konglomerat lama panik dan melancarkan fitnah, perang harga, hingga sabotase ekspor. Namun setiap serangan justru membuka kekuatan baru. Ketika Arunika ekspansi ke Kuala Lumpur, musuh menawarkan harga yang bisa membuatnya kaya seumur hidup.

Dua pilihan: menjual semua orang yang percaya padanya, atau gunakan bakat yang dulu diremehkan untuk menumbangkan imperium. Kali ini, sistem tak akan memilihkan jawabannya."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hadid, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 24

Ruang media di Jakarta penuh sebelum acara dimulai.

Orang-orang datang bukan untuk mendengar penjelasan hak cipta. Mereka datang untuk melihat siapa yang akan mempermalukan siapa. Di layar belakang panggung, dua gambar konsep dipasang berdampingan: Saga Nusantara milik AKN dan proyek baru Titan Playworks.

Kapal.

Pasar.

Badai.

Kepulauan.

Sekilas, cukup mirip untuk membuat komentar internet merasa pintar.

Fajar Wirawan datang mewakili Titan. Jasnya rapi, senyumnya terukur, dan kalimat pertamanya langsung diarahkan ke panggung.

"Titan Playworks telah mengembangkan konsep permainan kepulauan sejak jauh sebelum video bocor AKN viral."

Ia menampilkan email internal bertanggal lebih tua, beberapa sketsa kapal, dan dokumen konsep umum tentang jalur dagang. Kamera langsung bergerak. Komentar live mulai berlari: Saga tamat, AKN ketahuan.

Reza duduk kaku di sebelah Raka. Tangannya mengepal di bawah meja.

Nadia mengambil mikrofon.

"Kami tidak membantah bahwa tema kepulauan, kapal, pasar, dan badai bisa dikembangkan oleh banyak pihak. Tema budaya dan geografis tidak dimonopoli oleh AKN. Yang dilindungi adalah ekspresi konkret: ilustrasi, teks kartu, aturan, urutan versi, dan file kerja."

Kalimat itu tidak sekeras tuduhan Fajar. Tetapi ruangan mulai mendengar karena Nadialah satu-satunya orang yang tidak terdengar ingin menang berteriak.

Ia menampilkan timeline Saga.

Foto kartu tangan dari rapat pertama.

Catatan Naya yang menghapus simbol agama dan stereotip.

Video v0.1 dengan aturan berantakan.

Daftar perubahan setelah Farhan mengalahkan Reza.

Hash file desain.

Tanda terima pendaftaran hak cipta.

"Kami tidak berkata Titan tidak boleh membuat permainan kepulauan," lanjut Nadia. "Kami berkata tuduhan bahwa Saga mencuri proyek matang Titan harus dibuktikan pada tingkat ekspresi, bukan tema."

Fajar mengubah arah. "Kalau begitu, bagaimana video internal kalian bocor? Mungkin masalahnya adalah karyawan AKN sendiri.".

Beberapa kamera langsung menyorot Dimas.

Raka mengambil mikrofon sebelum Dimas bergerak.

"Kami sedang mengaudit akses internal. Kami tidak akan mengumumkan nama orang tanpa bukti. Kalau ada pelanggaran proses, kami tangani. Tapi kami tidak akan menyerahkan karyawan sebagai tontonan hanya agar ruangan ini puas."

Pernyataan itu membuat beberapa wartawan menoleh. Mereka datang untuk drama; Raka memberi batas.

Fajar tersenyum tipis. "Menarik. AKN meminta publik percaya pada dokumen yang kalian pilih, tetapi menyembunyikan sumber kebocoran."

"Kami melindungi proses," kata Nadia. "Itu berbeda."

Seorang reporter dari kanal bisnis mengangkat tangan. "Pak Raka, ada yang bilang AKN hanya berani bicara dokumen karena sudah lebih dulu menghapus jejak. Bisa Anda buktikan file itu bukan dibuat tadi malam?"

Ruangan langsung riuh kecil. Pertanyaan itu kasar, tetapi tepat di titik yang disukai penonton.

Raka tidak marah. Ia menoleh ke Yusuf. Yusuf menghubungkan laptop ke layar kedua. Di sana muncul repositori versi internal, bukan folder cantik untuk presentasi. Ada catatan perubahan, komentar desain yang kadang berantakan, bahkan kesalahan ejaan di nama kartu yang belum diperbaiki.

"Ini bukan bukti tunggal," kata Raka. "Tapi ini jejak kerja. File buruk, file salah, file dibuang, semuanya ada. Kalau kami membuat panggung palsu, kami tidak akan menyimpan kegagalan sebanyak ini."

Beberapa wartawan tertawa pendek. Ketegangan pecah sedikit.

Raka menambahkan, "Kami tidak meminta publik mencintai AKN hari ini. Kami hanya meminta satu hal: tuduhan pencurian tidak boleh lebih cepat daripada pemeriksaan."

Komentar live yang tadi penuh ejekan mulai pecah dua.

Ada yang menulis, setidaknya mereka bawa bukti.

Ada yang tetap menuduh, bukti bisa dibuat.

Tetapi arah percakapan sudah berubah. Sebelumnya, AKN dipukul sambil duduk. Sekarang mereka berdiri.

Raka lalu mengusulkan hal yang membuat ruangan berubah: dua prototipe dimainkan di meja yang sama. Untuk menunjukkan apakah aturan inti benar-benar sama.

Titan membawa prototipe digital rapi. Saga membawa kartu cetak sederhana. Dua wartawan, satu pengamat game, dan satu perwakilan komunitas bermain masing-masing selama lima belas menit.

Hasilnya jelas.

Titan berfokus pada kontrol wilayah dan koleksi komoditas. Saga berfokus pada sirkulasi sumber daya, risiko perjalanan, dan efek buangan yang bisa kembali. Keduanya memakai kapal. Keduanya memakai pasar. Namun rasa mainnya berbeda.

Pengamat game berkata di depan kamera, "Tema mirip, tetapi core loop berbeda."

Kalimat itu lebih mematikan daripada hinaan.

Reza yang sejak awal menahan diri akhirnya bersandar ke kursi. Ia tidak boleh bicara sembarangan, itu sudah dipesankan Nadia tiga kali. Namun matanya berkata lebih banyak daripada konferensi pers.

Ia melihat dua wartawan yang tadinya menulis judul siap serang mulai mengganti angle. Kamera yang tadi mencari wajah Dimas kini kembali ke meja permainan. Orang-orang tidak lagi bertanya siapa pencuri. Mereka bertanya game mana yang lebih menyenangkan.

Itu medan yang jauh lebih aman bagi AKN.

Farhan, yang menonton live dari sekolah, mengirim pesan pendek ke grup internal.

Pak Reza, kartu Nelayan Tua dipakai reporter. Mereka ketawa pas kombo jalan.

Reza membaca pesan itu dan hampir gagal menyembunyikan senyum.

Kartu yang kemarin disebut sampah oleh dirinya sendiri sekarang menyelamatkan suasana di depan media.

Fajar tidak kehilangan kendali. Ia hanya menghapus satu kata dari pernyataan Titan yang disiapkan. Semula: AKN diduga kuat mencuri proyek Titan. Setelah konsultasi singkat, menjadi: Titan akan terus meninjau potensi pelanggaran ekspresi kreatif.

Tidak ada permintaan maaf. Tidak ada tunduk. Tetapi kata "mencuri" hilang.

Di sisi lain, waiting list Saga melonjak.

Nadia memberi sinyal kepada Raka. Pendaftaran hak dan kontrak cetak tahap pertama sudah cukup untuk membuka penjualan terbatas. Yusuf sudah mengunci jumlah. Tidak boleh lebih.

Pukul empat sore, AKN membuka penjualan legal pertama: sepuluh ribu booster pack Saga Nusantara edisi uji publik.

Raka berdiri di belakang laptop, tidak menyentuh tombol. Bima yang menekan rilis.

Angka bergerak.

Seribu.

Tiga ribu.

Enam ribu.

Sepuluh ribu.

Sold out.

Ruangan media yang tadi menunggu pertengkaran kini menonton dashboard kosong. Dimas menutup mulut dengan kedua tangan. Reza matanya menyala seperti orang yang baru melihat teori berubah menjadi uang tanpa melanggar garis.

Fajar melihat layar, lalu menyimpan tabletnya.

"Selamat untuk penjualan pertama," katanya formal. "Pasar akan menentukan siapa bertahan."

"Pasar menentukan banyak hal," jawab Raka. "Dokumen menentukan sisanya."

Kalimat itu menjadi potongan video paling banyak dibagikan malam itu.

Karena setelah dua jam dicap peniru, AKN masih bisa bicara seperti perusahaan yang punya tulang punggung. Dulu, ketika ia ditolak dari kantor ke kantor, Raka pernah dipaksa menunggu di lobi hanya untuk menerima kalimat "kami cari kandidat yang lebih cocok". Hari ini, ia berdiri di depan media nasional dan membuat perusahaan besar menghapus satu kata.

Kata kecil.

Mencuri.

Tetapi bagi AKN, kata itu cukup untuk menjadi garis hidup.

Malam itu, berita utama berubah. Saga dan Titan berebut tema kepulauan. Itu belum kemenangan akhir. Tetapi cukup untuk memindahkan AKN dari kursi terdakwa ke meja pemain.

Di kantor, tim yang menonton bersama pecah dalam tepuk tangan. Tidak ada pesta resmi. Tidak ada sampanye. Yang ada hanya kopi dingin, kabel berserakan, dan orang-orang yang baru sadar mereka ikut membuat sesuatu yang bisa dipertahankan di depan publik.

Bima berdiri paling belakang. Ia melihat dashboard pesanan, lalu melihat Raka dari layar. Beberapa bulan lalu, ia kehilangan pekerjaan dan menerima tawaran dari pria yang bahkan belum punya perusahaan. Sekarang perusahaan itu baru saja menjual sepuluh ribu pack dengan namanya ikut tercatat di sistem operasional.

"Dulu saya pikir saya cuma diberi kerja," gumamnya.

Dimas mendengar. "Sekarang?"

Bima tersenyum kecil. "Sekarang saya takut libur."

Tawa pecah. Pendek, lega, dan sedikit gila.

Satu jam kemudian, Farhan mengirim foto dari depan toko kecil.

Siswa antre di depan pintu. Seorang pria dewasa berdiri di samping antrean dengan beberapa paket Saga di tangan. Di marketplace, harga satu pack sudah tiga kali lipat.

Pesan Farhan pendek.

Pak, calo sudah mulai.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!