elama dua belas tahun, Nan Shin Sim mengabdikan hidupnya untuk keluarga.
Ia bekerja sebagai perawat, melayani ibu mertua, membesarkan dua anak, sementara suaminya, dr. Cheng An Kho, diam-diam membangun keluarga lain bersama wanita yang dicintainya.
Ketika perselingkuhan itu terbongkar, Nan Shin kehilangan segalanya.
Rumah.
Harta.
Bahkan hak asuh kedua putranya.
Semua orang mengira wanita itu telah benar-benar hancur.
Namun tepat ketika ia meninggalkan keluarga Kho dengan tangan kosong, sebuah telepon misterius dari Singapura mengubah jalan hidupnya.
Sejak hari itu, Nan Shin mulai menyembunyikan sesuatu.
Sesuatu yang cukup besar untuk membalikkan nasibnya.
Dan ketika mantan suami, ibu mertua, serta orang-orang yang pernah menginjaknya mulai menyadari ada yang tidak beres...
sudah terlambat.
Karena wanita yang mereka kenal...
bukan lagi Nan Shin Sim yang dulu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Awan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 13
Bab 13
Karyawan Tetap dan Karyawan Kontrak
Bunyi mikrofon yang mendengung membuat percakapan di ruang rapat berhenti serempak.
Nan Shin duduk di baris ketiga bersama Suster Ayu dan Kak Sri. Kursi plastik memenuhi ruangan sampai ke pintu. Pegawai dari IGD, farmasi, laboratorium, administrasi, dan ruang rawat inap memegang salinan pengumuman yang sama.
Di depan, seorang manajer HRD mengetuk mikrofon sekali lagi.
“Terima kasih sudah hadir. Saya akan menjelaskan garis besar penataan sumber daya manusia yang mulai berjalan bulan ini.”
Slide pertama muncul di layar. Efisiensi layanan. Penyesuaian beban kerja. Optimalisasi tenaga.
Kata-kata yang tampak bersih dan netral.
“Tahap awal akan memetakan kebutuhan setiap unit,” lanjutnya. “Penilaian mencakup beban layanan, kinerja individu, catatan disiplin, kompetensi, masa kerja, dan status kepegawaian.”
Seseorang di belakang mengangkat tangan. “Apa ada pengurangan pegawai?”
Manajer itu tidak langsung menjawab.
“Ada kemungkinan penyesuaian jumlah tenaga pada unit yang dinilai melebihi kebutuhan.”
Ruangan berdesis oleh bisikan.
Nan Shin menatap slide kedua. Sebuah bagan membagi pegawai menjadi dua kelompok besar: karyawan tetap dan karyawan kontrak.
“Untuk karyawan tetap,” kata manajer HRD, “pilihan pertama adalah penempatan ulang, penyesuaian fungsi, atau pelatihan sesuai kebutuhan unit.”
Slide berganti.
“Untuk karyawan kontrak, evaluasi akan dilakukan terhadap kebutuhan perpanjangan kontrak. Kontrak yang dinilai tidak lagi sesuai kebutuhan organisasi dapat dihentikan atau tidak diperpanjang.”
Kak Sri menarik napas pelan.
Di sisi lain Nan Shin, Ayu menggenggam pulpen begitu kuat sampai buku jarinya memutih.
“Jadi karyawan tetap dipindahkan, sementara kontrak dikeluarkan?” tanya seorang petugas laboratorium.
“Setiap kasus akan ditinjau berdasarkan data.”
“Tapi urutannya begitu?”
“Prioritas organisasi adalah menjaga keberlanjutan pelayanan dan memenuhi kewajiban terhadap seluruh pegawai sesuai status hubungan kerja masing-masing.”
Jawaban itu panjang, tetapi tidak membantah pertanyaan.
Nan Shin mengangkat tangan.
Manajer HRD menunjuk ke arahnya. “Silakan.”
Ia berdiri. Puluhan wajah menoleh.
“Saya sudah bekerja sebagai karyawan kontrak selama dua belas tahun di IGD. Apakah masa kerja dan evaluasi tahunan bisa menjadi dasar untuk dipertahankan atau dialihkan menjadi karyawan tetap?”
Ruangan menjadi sangat sunyi.
Manajer tersebut melihat layar laptopnya sebelum menjawab. “Masa kerja masuk dalam data penilaian.”
“Apakah ada jalur pengalihan status dalam program ini?”
“Program yang sedang dibahas adalah penataan tenaga, bukan pengangkatan pegawai tetap.”
Nan Shin tetap berdiri. “Berarti dua belas tahun tidak memberi perlindungan tambahan?”
“Saya tidak bisa membahas kasus individu dalam forum umum. Nanti setiap pegawai yang terdampak akan dipanggil secara pribadi.”
Seorang pegawai farmasi mengangkat tangan. “Apakah kami menerima kriteria penilaian tertulis sebelum pemanggilan?”
“Pedoman umum akan dikirim melalui surel internal.”
“Sebelum keputusan atau sesudah?”
Manajer HRD melihat catatannya. “Jadwal pengiriman akan diinformasikan oleh unit masing-masing.”
Kak Sri mengangkat tangan. “Kalau pegawai tidak setuju dengan data masa kerja atau catatan disiplin, ada waktu untuk memperbaiki?”
“Pegawai dapat menyampaikan dokumen pendukung saat dipanggil.”
“Sebelum keputusan dibuat?”
“Pemanggilan dilakukan bertahap sesuai hasil pemetaan.”
Nan Shin kembali berdiri. “Apakah pegawai akan menerima salinan data yang dipakai menilai?”
“Data internal tidak seluruhnya dapat dibagikan.”
“Kalau begitu bagaimana kami membetulkan data yang salah?”
“Sampaikan riwayat kontrak, penilaian, atau sertifikat yang Ibu miliki. Tim akan mencocokkannya.”
Seorang petugas laboratorium menyela, “Ada jalur keberatan setelah hasil keluar?”
Manajer itu menatap jam. “Mekanisme tanggapan akan dijelaskan kepada pegawai yang terdampak.”
“Berapa lama waktunya?”
“Rinciannya belum dapat saya sampaikan hari ini.”
Beberapa orang menunduk. Seseorang berdeham. Nan Shin duduk kembali dengan telapak tangan dingin.
Ayu mendekatkan bibir ke telinganya. “Kak, pertanyaanmu benar.”
“Jawabannya juga sudah jelas.”
Di baris depan, Suster Putri menoleh sebentar. Folder orientasi berwarna hijau berada di pangkuannya. Pada sudut atasnya tertempel label karyawan tetap.
Dewi yang duduk satu baris di belakang menyentuh bahu Nan Shin setelah rapat selesai.
“Putri langsung masuk sebagai tetap,” bisiknya. “Katanya dari jalur rekrutmen baru.”
Nan Shin melihat perawat muda itu berdiri bersama kelompok pegawai baru. Wajah Putri juga tegang. Ia tidak tampak seperti pemenang. Namun label di foldernya berarti bila unit harus dikurangi, rumah sakit akan lebih dulu mencari tempat lain untuknya.
Sementara Nan Shin harus membuktikan bahwa dirinya masih perlu dipertahankan.
Putri rupanya mendengar bisikan Dewi. Ia menghampiri mereka sambil memeluk folder hijau di dada.
“Suster, saya baru tahu ada evaluasi sebesar ini,” katanya. “Waktu saya diterima, HRD cuma bilang penempatan saya di IGD.”
Dewi mengangkat alis. “Kamu nggak salah, Put. Kami cuma sedang hitung nasib masing-masing.”
Putri menatap Nan Shin. “Apa saya masuk untuk menggantikan seseorang?”
Pertanyaan itu terdengar takut, bukan menantang.
“Kami belum tahu,” jawab Nan Shin. “Jadi jangan buat kesimpulan sendiri. Kamu tetap belajar dan kerja sesuai prosedur.”
“Tapi kalau ternyata...”
“Yang menentukan jumlah pegawai bukan kamu.”
Putri mengangguk, walau rasa bersalah masih tertinggal di wajahnya. Nan Shin tidak ingin kemarahan yang seharusnya diarahkan pada kebijakan berubah menjadi permusuhan terhadap perawat muda yang bahkan belum menjalani satu shift penuh.
Di meja dekat pintu, petugas HRD membagikan dua formulir berbeda. Karyawan tetap menerima lembar kesediaan penempatan ulang. Karyawan kontrak menerima formulir pemutakhiran profil, tanggal akhir kontrak, dan pernyataan bahwa perpanjangan mengikuti kebutuhan organisasi.
Nan Shin membaca kedua judul itu dari kejauhan.
Bagi satu kelompok, perubahan berarti pindah tempat.
Bagi kelompoknya, perubahan bisa berarti tidak punya tempat sama sekali.
Di lorong, orang-orang mulai membentuk kelompok berdasarkan status masing-masing. Pegawai tetap membicarakan kemungkinan dipindahkan ke unit jauh dari rumah. Pegawai kontrak bertanya siapa yang masa kerjanya paling pendek, siapa yang pernah menerima teguran, dan kapan kontrak mereka berakhir.
Seorang perawat tetap yang dulu sering meminta Nan Shin menggantikan jadwal malam menghampirinya.
“Mungkin IGD aman, Nan. Pasien selalu banyak.”
“Kalau aman, kenapa mereka minta data satu per satu?”
Perawat itu tersenyum kaku. “Aku cuma mencoba berpikir positif.”
Lalu ia pergi ketika dua pegawai tetap lain memanggil.
Kak Sri berdiri di samping papan pengumuman dengan mata merah.
“Kalau kontrak saya tidak diperpanjang, usia saya sudah empat puluh dua,” katanya. “Rumah sakit mana yang mau menerima?”
Nan Shin tidak punya jawaban yang jujur sekaligus menenangkan.
“Kita lihat data dulu, Kak.”
“Tadi mereka sudah kasih tahu datanya tidak akan mengubah status kita.”
Bel dari IGD terdengar sampai lorong. Keduanya kembali bekerja.
Hari itu, Nan Shin menangani pasien lebih cepat dari biasanya. Bukan karena tubuhnya lebih kuat, melainkan karena setiap tindakan terasa seperti ujian. Ia mengecek nama dua kali, mencatat waktu obat sampai menitnya, dan tidak meninggalkan meja sebelum semua kolom terisi.
Saat seorang keluarga pasien mengucapkan terima kasih, Nan Shin hampir ingin meminta mereka menuliskannya. Bukan untuk dipuji. Hanya agar ada bukti bahwa dua belas tahun itu benar-benar menghasilkan sesuatu.
Menjelang pulang, ia membuka lokernya.
Di bagian bawah tersimpan map bening berisi salinan kontrak terakhir. Nan Shin membawanya ke ruang arsip kecil dan meminta petugas mencetak daftar riwayat kontraknya.
“Banyak sekali, Suster,” kata petugas itu setelah printer mengeluarkan lembar demi lembar.
“Dua belas tahun.”
“Belum pernah putus?”
“Tidak.”
Petugas itu membandingkan dua halaman. “Ada satu nomor kontrak yang tintanya pudar. Mau saya cetak ulang dari arsip?”
“Tolong. Saya juga perlu halaman yang memuat tanggal mulai dan berakhir.”
“Semuanya?”
“Semuanya. Jangan hanya kontrak terakhir.”
“Baik. Saya beri nomor urut supaya tidak tertukar.”
“Boleh minta cap arsip pada daftar riwayatnya?”
“Boleh, tapi harus ditandatangani penanggung jawab.”
“Saya tunggu.”
Petugas itu memandang tumpukan kertas, lalu memilih diam.
Nan Shin menyusun semua dokumen berdasarkan tahun. Dua belas kontrak. Dua belas tanda tangan. Dua belas kali rumah sakit mengatakan tenaganya masih dibutuhkan, tetapi tidak pernah cukup dibutuhkan untuk diberi kepastian.
Ia memasukkan seluruhnya ke dalam map.
Kali ini ia tidak pulang lebih dulu.
Dengan map dua belas tahun di pelukannya, Nan Shin berjalan menuju ruang Bu Ratna.