NovelToon NovelToon
Sistem Ayah Level Dewa

Sistem Ayah Level Dewa

Status: sedang berlangsung
Genre:Perubahan Hidup / Sistem / Kaya Raya / Bapak rumah tangga
Popularitas:16k
Nilai: 5
Nama Author: Surya Mandala

"Arya Pratama adalah mahasiswa miskin yang hidup pas-pasan. Satu-satunya kebanggaannya adalah Kirana, pacar tercantik di kampus.

Namun segalanya hancur saat Kirana datang dengan kabar: ""Aku hamil."" Keluarga Kirana yang kaya raya menghina dan mengusirnya.

Dunia Arya runtuh—hingga sebuah sistem misterius aktif di kepalanya: [Sistem Ayah Level Dewa]. Setiap langkah tanggung jawabnya sebagai ayah diganjar hadiah luar biasa: uang miliaran, saham, teknologi canggih.

Kini Arya berjuang melawan preman, fitnah, dan musuh politik, sambil membangun kerajaan bisnis. Bisakah ia membuktikan bahwa menjadi ayah muda bukanlah akhir—melainkan awal dari segalanya?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Surya Mandala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 32

Bab 032: Perang Rekrutmen

Aula kampus ITS penuh sebelum acara dimulai.

Banner PT Surya Teknologi berdiri di depan panggung. Logo biru putihnya tampak sederhana, namun deretan mahasiswa yang antre di pintu membuat panitia kampus beberapa kali harus menambah kursi.

Dimas berdiri di belakang panggung sambil melihat layar ponsel.

"Bro, video rekrutmen kita sudah 600 ribu views."

Rizky yang sedang memasang kabel presentasi hanya menjawab singkat.

"Bagus."

"Kamu kurang ekspresif. Ini 600 ribu, jauh di atas angka 600."

Rizky menoleh pelan.

"Aku tahu angka."

Dimas memegang dada.

"Jawabanmu melukai departemen kreatif."

Bayu datang membawa kotak air mineral.

"Departemen kreatif bantu angkat ini dulu."

Dimas langsung mundur setengah langkah.

"Aku menjaga energi panggung."

"Angkat."

"Siap."

Arya melihat mereka dari samping panggung dan tersenyum. Ketiganya masih seperti anak kos yang dulu berebut lauk, hanya sekarang masing-masing memegang bagian penting dari perusahaan.

Panitia menghampiri.

"Pak Arya, lima menit lagi."

"Baik."

Arya merapikan jas. Ia mengambil napas, lalu teringat Kirana tadi pagi.

Kirana berdiri di pintu apartemen, memegang gelas susu hamil, dan berkata, "Mas, jangan lupa sarapan. Kalau gugup, ingat saja dua bayi di rumah sedang bangga."

Ia sempat menjawab, "Mereka masih di perut."

Kirana mengangkat alis. "Tetap bisa bangga."

Kalimat itu menemaninya sampai sekarang.

Panel sistem muncul.

【Aura Pesona Lv.3 aktif】

【Konteks: Presentasi publik dan rekrutmen talenta】

【Efek: Kepercayaan audiens +25% | Kejelasan pesan +20%】

Lampu panggung menyala.

Nama Arya dipanggil.

Tepuk tangan memenuhi aula.

Ia berjalan ke tengah panggung. Di hadapannya, ratusan wajah muda menatap penuh rasa ingin tahu. Ada mahasiswa teknik informatika, sistem informasi, manajemen, teknik industri, bahkan beberapa dosen duduk di baris depan.

Slide pertama muncul.

Foto lama motor bekas Arya.

Ruangan langsung berbisik.

"Ini motor saya," kata Arya. "Dulu, saya pakai motor ini untuk kuliah, kerja sampingan, antar dokumen, dan kadang mendorongnya saat mogok."

Beberapa mahasiswa tertawa.

Arya ikut tersenyum.

"Saya berdiri di sini sebagai Direktur Utama PT Surya Teknologi. Namun sebelum itu, saya mahasiswa yang pernah bingung bayar kos. Jadi kalau kalian merasa jalan kalian masih sempit, saya paham rasanya."

Ruangan menjadi lebih tenang.

Slide kedua muncul: foto gudang penuh kardus, catatan stok manual, dan pekerja yang memeriksa barang satu per satu.

"Indonesia punya banyak usaha hebat. Gudang, toko, distributor, pabrik kecil, semuanya bergerak setiap hari. Masalahnya, banyak yang masih bekerja dengan sistem yang membuat mereka lambat. SuryaWMS lahir dari sana."

Ia mengangkat remote.

"Kami mencari orang yang mau membangun solusi untuk masalah nyata. Orang yang bisa menulis kode dengan rapi, menjual dengan jujur, mendengar keluhan klien, dan berani tumbuh cepat."

Seorang mahasiswa di baris tengah mengangkat tangan.

"Pak, perusahaan Bapak masih baru. Kenapa kami harus memilih PT Surya Teknologi dibanding perusahaan besar?"

Pertanyaan itu tajam.

Dimas di belakang panggung hampir maju. Rizky menahannya dengan satu pandangan.

Arya menatap mahasiswa itu.

"Karena di perusahaan besar, kalian mungkin menjadi roda kecil dalam mesin yang sudah jadi. Di sini, kalian ikut membangun mesinnya."

Hening satu detik.

Lalu tepuk tangan pecah.

Pertanyaan berikutnya datang lebih cepat.

"Apakah fresh graduate diberi proyek serius?"

"Kalau mampu, iya."

"Bagaimana budaya kerja?"

"Cepat, transparan, dan semua orang bisa ditanya hasilnya."

"Apakah lembur sering?"

Arya tersenyum.

"Saat fase produk, bisa terjadi. Kami bayar sesuai aturan, kami atur ritme, dan saya juga ikut turun."

Di belakang panggung, Dimas berbisik.

"Jawaban CEO sejati."

Bayu menyenggol sikunya.

"Kamu siap turun?"

"Aku turun ke konten."

Setelah sesi selesai, meja PT Surya Teknologi diserbu.

Mahasiswa mengantre membawa CV. Ada yang menunjukkan portfolio aplikasi. Ada yang membawa proposal riset. Ada yang langsung meminta jadwal wawancara.

Mega mengatur antrean melalui video call dari kantor.

"Nama, jurusan, posisi, lalu scan QR. Jangan terima berkas tanpa data digital."

Dimas bertugas di meja marketing. Ia memegang pulpen bekas warna biru.

"Tugas cepat," katanya kepada kandidat pertama. "Jual pulpen ini kepada saya dalam tiga puluh detik."

Kandidat itu bingung.

"Pulpen ini murah dan..."

Dimas mengangkat tangan.

"Waktu. Berikutnya."

Kandidat kedua tersenyum.

"Pak, saya tidak menjual pulpen. Saya menjual rasa aman saat Bapak harus tanda tangan kontrak miliaran dan semua orang mencari alat tulis."

Dimas menepuk meja.

"Masuk shortlist."

Rizky punya gaya berbeda.

Ia duduk di sudut aula dengan laptop terbuka.

"Buat query sederhana untuk mencari selisih stok antara sistem dan data fisik."

Seorang kandidat mengetik cepat.

Rizky melihat hasilnya, lalu bertanya, "Kalau datanya dua juta baris?"

Kandidat itu terdiam.

"Belajar indexing dulu. Kamu punya dasar bagus. Kirim ulang portfolio minggu depan."

Lima orang berhasil membuat Rizky mengangguk. Itu sudah termasuk keajaiban kecil.

Sore hari, mereka pindah ke Universitas Airlangga untuk sesi kedua. Antusiasmenya sama besar. Kali ini banyak kandidat customer success dan bisnis.

Di akhir hari, Mega mengirim laporan.

Lamaran baru: 389.

Shortlist awal: 43.

Kandidat prioritas: 13.

Arya membaca angka itu di mobil.

"Bagus."

Dimas mengangkat kedua tangan.

"Kita panen talenta, Bro."

Rizky menatap layar.

"Jangan terlalu cepat senang. Talenta bagus juga diincar orang lain."

Ucapan itu terbukti keesokan paginya.

Pak Budi masuk ruang Arya dengan wajah berat.

"Pak, tiga kandidat prioritas mundur."

Arya meletakkan cangkir kopi.

"Alasan?"

"Sama. Mereka mendapat penawaran lebih tinggi."

"Dari siapa?"

Pak Budi menyerahkan tiga tangkapan layar email.

Arya membaca nama perusahaan di bagian bawah.

Hartono Group.

Udara di ruangan seperti turun beberapa derajat.

Dimas yang baru masuk langsung berhenti.

"Hartono? Keluarga Denny?"

Pak Budi mengangguk.

"Salah satu anak perusahaan mereka membuka divisi digital baru. Gaji yang ditawarkan tiga kali lipat dari standar fresh graduate."

Bayu bersiul pelan.

"Itu bakar uang."

Rizky memeriksa email itu.

"Mereka menarget kandidat yang kemarin paling bagus. Berarti ada yang memantau acara kita."

Arya berdiri dan berjalan ke papan kaca.

Ia menulis tiga nama kandidat yang mundur. Lalu ia menulis satu kata di bawahnya.

Pancingan.

Dimas mengerutkan dahi.

"Maksudnya?"

"Mereka ingin kita panik dan menaikkan gaji sembarangan."

Pak Budi mengangguk lambat.

"Kalau kita ikut perang gaji, struktur internal rusak."

"Benar."

Arya menatap semua orang.

"Kita tahan. Untuk kandidat penting, tawarkan jalur pertumbuhan, saham kinerja kecil setelah masa tertentu, dan akses proyek inti. Gaji tetap wajar. Kalau mereka hanya mengejar angka bulan pertama, biarkan pergi."

Dimas membuka mulut.

"Keras juga."

"Perusahaan ini butuh orang yang mau tumbuh bersama. Uang penting. Arah juga penting."

Rizky tersenyum tipis.

"Saya setuju."

Bayu mengangguk.

"Saya juga."

Pak Budi mencatat.

"Saya revisi paket penawaran."

Hari itu, PT Surya Teknologi bergerak cepat. Mega menghubungi kandidat prioritas lain. Rizky membuat tes teknis tambahan. Dimas merekam video baru, kali ini tanpa candaan berlebihan.

Dalam video itu, Dimas berdiri di depan kantor.

"Kami tahu ada perusahaan besar yang menawarkan angka tinggi. Bagus. Talenta Indonesia memang layak dihargai. Di PT Surya Teknologi, kami menawarkan tempat untuk membangun sesuatu dari awal, bersama tim yang namanya akan kalian ingat bertahun-tahun lagi."

Video itu lebih tenang.

Lebih tajam.

Komentar mulai masuk.

Anak muda butuh tempat tumbuh juga.

Ini baru startup lokal yang berani.

Saya daftar.

Menjelang malam, satu kandidat yang tadi mundur mengirim pesan langsung ke Mega.

Bu, saya ingin ikut proses PT Surya Teknologi lagi. Tawaran mereka besar, tetapi saya merasa hanya akan menjadi angka. Di perusahaan Bapak Arya, saya ingin belajar membangun.

Mega meneruskan pesan itu ke Arya.

Arya membaca sambil berdiri di jendela ruangannya.

Di bawah, lampu kota mulai menyala.

Panel sistem muncul.

【Perang Rekrutmen: Fase Pertama】

【Talenta yang kembali karena visi: 1】

【Efek kepemimpinan meningkat】

【Ikatan tim inti +10】

Arya belum sempat tersenyum ketika ponselnya bergetar lagi.

Nomor asing.

Kali ini pesannya lebih pendek.

Kamu bisa mengambil beberapa anak pintar. Saya bisa membeli satu pasar penuh.

Tanda tangan di akhir tetap sama.

H.

Arya menatap layar cukup lama.

Lalu ia mengetik balasan.

Silakan beli pasar. Saya akan membangun industrinya.

Ia menekan kirim.

Malam itu, perang rekrutmen berubah menjadi perang harga diri.

Dan Arya sudah memilih medan yang lebih besar.

1
Ria Gazali Dapson
kirana bnyak tanya ya, udh untung arya mo tanggung jawab, dg fasilitas wow , ga da rasa syukur nya ,cuma penasaran⁹ doang , liatin ja dulu , bersama dg waktu akn mnjawab semua , karena suatu anugerah, sedang tercurah k arya
Maulana Sejati
buruk
Maulana Sejati
ni yg nggak masuk akal, punya sistem,sdh tau ada ancaman tpi trnyata msh dbuat cerita yg bgini...prettt
penggemar_Uangkecil?!
👍👍👍
penggemar_Uangkecil?!
👍👍
penggemar_Uangkecil?!
👍👍
sitanggang
gak seru, kok system org Lain ad yg tau🤣🤣🤣🤣🤣
σяιмσтσ (^• . •^)
.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!