Lima tahun dipenjara. Enam puluh bulan tanpa satu pun kunjungan.
Keira Pratama keluar dengan kaki pincang, ginjal yang hilang, dan hati yang sudah membeku. Dia putri kandung keluarga konglomerat Pratama, tetapi sejak kecil dibuang ke panti asuhan, sementara Vanessa, anak orang lain, dimanjakan sebagai putri kesayangan.
Dulu, Vanessa mendorong seseorang dari tangga, tetapi Keira yang dipenjara. Mama-nya menghapus CCTV. Papa-nya menyuruhnya diam. Lucas, pria yang pernah dia cintai, justru menjadi orang yang mengirimnya ke balik jeruji.
Namun Keira yang kembali bukan lagi gadis penurut.
Saat rahasia mulai terbongkar, keluarga yang dulu membuangnya satu per satu hancur oleh penyesalan. Dan di saat semua orang meninggalkannya, Rayhan Hartono, pewaris Hartono Group, diam-diam berdiri di sisinya.
Kini mereka semua berlutut di bawah hujan.
Tapi bagi Keira, satu hal tetap belum terjawab: **apakah penyesalan mereka datang terlambat?**
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vira Dusk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 9
Bab 9
Ginjal yang Hilang
"Ginjal kirinya tidak ada."
Ryan mengulang kalimat itu kepada Kevin di ruang konsultasi, kali ini tanpa layar yang memisahkan mereka dari kenyataan.
Kevin duduk kaku. Kemeja bernoda darah Keira masih berada di tangannya.
"Maksudmu tidak berfungsi?"
"Tidak ada, Kev. Organ itu sudah diangkat."
Ryan meletakkan salinan CT di atas meja. Di sisi kanan, satu ginjal terlihat bekerja lebih keras dan sedikit membesar sebagai kompensasi. Di sisi kiri, ruang tempat ginjal seharusnya berada hanya menyisakan perubahan jaringan pascaoperasi.
"Mungkin dia lahir hanya dengan satu ginjal," kata Kevin. Bahkan ia sendiri terdengar tidak yakin.
Ryan menggeleng. "Ada bekas sayatan di pinggang kirinya. Jaringan parut internalnya juga sesuai dengan nefrektomi, bukan kelainan bawaan. Dari kematangan bekas luka dan perubahan jaringan, prosedurnya kemungkinan dilakukan dalam dua belas bulan terakhir."
Kevin berdiri. Kursinya jatuh ke belakang.
"Siapa yang mengambil ginjalnya?!"
Suara itu menembus dinding ruang konsultasi. Seorang perawat di luar berhenti berjalan.
Ryan menutup pintu. "Aku belum tahu."
"Dia berada di lapas setahun terakhir. Bagaimana mungkin seseorang mengangkat organ di sana?"
"Tidak mungkin dilakukan hanya oleh napi atau petugas biasa. Nefrektomi membutuhkan ruang steril, tim bedah, anestesi, darah cadangan, laboratorium, dan pemantauan setelah operasi. Mungkin dia dikeluarkan dengan alasan medis palsu, atau fasilitas tertentu dibawa ke lokasi yang dikendalikan."
"Berarti ada rumah sakit yang terlibat."
"Ada orang dalam sistem medis yang terlibat," koreksi Ryan. "Dan mereka punya cukup kekuasaan untuk menghapus catatan."
Kevin menekan kedua tangan ke meja. "Daniel?"
"Penyiksaan kaki mengarah kepadanya. Pencurian organ membutuhkan jaringan yang berbeda. Jangan menyimpulkan tanpa bukti."
"Seseorang mengambil bagian tubuh adikku saat kami semua hidup nyaman."
Ryan memandangnya dingin. "Ya. Dan selama lima tahun tidak ada satu anggota keluarga yang datang, jadi tidak ada yang melihat bekas operasinya."
Kevin menutup mata.
Pukulan itu pantas ia terima.
Di ruang pemulihan, Keira sadar menjelang siang. Tangan kirinya terbungkus perban tebal. Ia mencoba menggerakkan jari, lalu berhenti ketika menyadari ruang kosong di sisi kelingking.
Ryan duduk di kursi dekat ranjang.
"Operasinya selesai," katanya. "Pendarahan sudah terkendali. Kami tidak bisa menyambungkan kembali kelingkingmu. Setelah luka stabil, terapi tangan bisa membantu empat jari lain mempertahankan fungsi."
Keira mengangguk kecil.
Tidak ada tangis. Tidak ada pertanyaan.
Ryan melanjutkan dengan lebih hati-hati. "Ada temuan lain dari pemeriksaan sebelum operasi. Aku perlu menjelaskannya sekarang, karena akan memengaruhi obat dan perawatanmu."
Keira menatapnya.
"Ginjal kirimu sudah tidak ada."
Monitor di samping ranjang terus berbunyi teratur.
Sekali.
Dua kali.
Tiga kali.
Ekspresi Keira tidak berubah. Ia hanya menggeser pandangan ke langit-langit.
"Kapan diangkat?" tanyanya.
"Kemungkinan dalam setahun terakhir. Kamu tidak ingat pernah menjalani operasi?"
"Aku ingat bangun dengan luka di pinggang. Mereka bilang usus buntuku bermasalah."
"Siapa mereka?"
"Aku tidak tahu. Aku dibius sebelum keluar blok. Ketika sadar, aku sudah kembali di ruang klinik dan dijaga dua petugas."
"Apa tanganmu diikat?"
"Saat bangun, ya. Mereka bilang aku meronta ketika obat bius habis."
Keira masih berbicara seperti sedang menceritakan kejadian milik orang lain. "Selama dua minggu aku muntah setiap makan. Luka di pinggang terasa panas. Ketika aku bertanya, seorang petugas bilang narapidana tidak perlu tahu istilah medis."
Ryan menulis setiap kalimat dalam catatan klinis. Ia tidak menambahkan dugaan dan tidak mengubah kata-kata Keira.
"Mulai sekarang, semua obatmu harus mempertimbangkan ginjal yang tersisa," katanya. "Kamu perlu cukup cairan, pemeriksaan tekanan darah, fungsi ginjal berkala, dan penanganan cepat kalau ada infeksi. Tidak ada satu prosedur pun boleh dilakukan tanpa penjelasan serta persetujuanmu."
Keira melihat perban di tangan kirinya. "Aturan itu seharusnya berlaku sebelum mereka mengambilnya."
"Benar."
Ryan menahan napas. "Apakah kamu menandatangani persetujuan tindakan?"
"Tidak."
"Apakah ada dokter yang menjelaskan diagnosis?"
"Tidak."
Setiap jawaban pendek menambah satu pelanggaran baru.
Di balik pintu kaca, Tante Mira menutup mulut dengan kedua tangan. Punggungnya masih sakit akibat sabuk, tetapi tubuhnya melorot di kursi seolah tidak lagi memiliki tulang.
Air matanya jatuh tanpa suara.
Setelah Ryan mengizinkan, Tante Mira masuk dengan langkah kecil. Ia tidak langsung memeluk Keira karena takut menyentuh infus dan perban. Ia hanya duduk, membasahi kain lembut, lalu membersihkan sisa darah di pelipis Keira.
"Tante seharusnya melindungimu," katanya.
"Tante sudah melindungiku."
"Tidak cukup."
"Cukup untuk membuatku tahu bahwa setidaknya satu orang di rumah itu melihatku sebagai manusia."
Tangan Tante Mira berhenti. Air matanya jatuh ke punggung tangan Keira.
"Kenapa kamu tidak menangis, Nak?"
Keira menatap tetesan itu. "Mungkin air mataku sudah habis sebelum keluar dari lapas."
Tante Mira menunduk dan mencium ruas empat jari yang masih tersisa, jauh dari luka. Baru saat itu Keira mengalihkan wajah ke jendela. Otot di bawah matanya bergetar sekali, lalu diam.
Kevin menyaksikan dari luar. Ia tidak masuk sampai Tante Mira selesai. Kesedihan mereka bukan ruang yang berhak ia rebut dengan permintaan maafnya sendiri.
Kevin berdiri di sampingnya. Ia ingin masuk, tetapi telapak tangannya tidak sanggup menekan gagang pintu.
"Masuklah," kata Ryan dari dalam.
Kevin melangkah ke sisi ranjang. Keira tidak menoleh.
"Kei..."
"Jangan."
Kevin berhenti.
"Aku tidak tahu," katanya. "Tentang kakimu, tentang ginjalmu, tentang semua yang terjadi. Maaf."
Keira memandang jendela. Matahari siang jatuh pada perban di tangannya.
"Ko Kevin, kita tidak perlu berpura-pura. Lima tahun sudah cukup."
"Aku tidak berpura-pura."
"Kemarin Ko Kevin mencekikku dan mengancam dua orang yang kusayangi. Hari ini Ko Kevin menyesal karena CT menunjukkan satu organ hilang." Suaranya tetap datar. "Kalau ginjalku masih ada, apa ancaman itu menjadi benar?"
Kevin tidak bisa menjawab.
"Aku akan menemukan siapa pelakunya."
"Temukan untuk dirimu sendiri. Aku sudah terlalu sering dijadikan alasan orang lain merasa menjadi pahlawan."
Keira memejamkan mata.
Percakapan selesai.
Menjelang sore, Kevin kembali ke Pondok Indah untuk mengambil pakaian bersih dan makanan. Di dapur, ia membuka lemari penyimpanan bahan mahal yang biasanya hanya digunakan untuk Vanessa dan Yolanda.
Satu kotak sarang burung premium berada di rak atas.
"Mau dibawa ke mana?"
Edmond berdiri di pintu.
"Ke rumah sakit. Ryan bilang Keira butuh nutrisi, meski bukan ini saja yang penting."
"Taruh kembali."
"Kita punya belasan kotak."
"Itu bukan untuk dia."
Kevin memegang kotak lebih kuat. "Dia baru kehilangan jari. Ginjalnya juga dicuri di lapas."
Untuk pertama kalinya, ekspresi Edmond berubah sepersekian detik. Bukan terkejut, melainkan seperti seseorang yang mendengar pintu rahasia diketuk dari luar.
Lalu wajahnya kembali keras.
"Dia bukan keluarga kita. Jangan buang uang untuk dia!"
Telapak Edmond menghantam pipi Kevin.
Kotak sarang burung jatuh ke lantai. Tutupnya terbuka, kemasan kecil di dalamnya berhamburan.
Kevin menoleh perlahan. Rasa logam memenuhi mulutnya.
"Dia anak kandung Papa."
"Namanya bahkan tidak ada di Kartu Keluarga."
"Siapa yang memastikan namanya tidak masuk?"
Edmond tidak menjawab.
Kevin berjongkok, mengumpulkan kemasan satu per satu. "Aku akan membawanya. Kalau Papa mau menghentikanku, pecat aku dari Pratama Group."
"Kamu pikir perusahaan ini milikmu?"
"Tidak. Tapi Keira bukan milik Papa juga."
Kevin berjalan keluar membawa kotak itu.
Ketika kembali ke rumah sakit, Tante Mira menerima kotak sarang burung dan menaruhnya di lemari. "Kita tanyakan dulu pada Dokter Ryan. Nona Keira tidak boleh mendapat makanan atau suplemen sembarangan sekarang."
Kevin mengangguk. Ia bahkan tidak tersinggung ketika pemberiannya tidak langsung digunakan.
Keira terbangun dan melihat bekas merah di pipinya.
"Papa memukul Ko Kevin?"
"Bukan apa-apa."
"Begitu juga jawabanku setiap kali kalian bertanya tentang luka."
Kevin menyentuh pipinya, lalu menurunkan tangan. "Dia bilang kamu bukan keluarga."
"Dan Ko Kevin baru terkejut setelah kalimat itu ditujukan kepadamu."
"Aku tidak meminta dikasihani."
"Bagus. Satu tamparan tidak membuat kita setara."
Kevin duduk di luar jangkauan ranjang. "Aku tahu."
Keira menutup mata lagi. Kali ini Kevin tidak menambahkan janji. Ia hanya menunggu sampai napas adiknya kembali tenang, lalu meninggalkan ruang yang memang diminta Keira.
Malamnya, Ryan kembali ke kantor setelah memastikan kondisi Keira stabil. Pertanyaan tentang fasilitas medis terus mengganggunya. Ia membuka sistem arsip lama RS Pondok Indah dan memasukkan nomor identitas Keira.
Catatan terbaru hampir kosong.
Namun satu dokumen digital muncul dari delapan tahun lalu, sehari setelah Keira pertama kali tercatat tinggal bersama keluarga Pratama.
Pemeriksaan darah lengkap. Pemeriksaan fungsi ginjal. HLA typing. Crossmatch.
Ryan membuka metadata. Permintaan pemeriksaan diajukan atas nama Edmond Pratama sebagai wali, tetapi kolom persetujuan pasien kosong. Otorisasi direktur rumah sakit digunakan untuk melewati beberapa tahap administrasi. Hasil aslinya pernah diakses kembali sekitar setahun lalu, hanya tiga hari sebelum Keira mengingat operasi yang disebut sebagai usus buntu.
Ia menyalin berkas serta jejak akses ke penyimpanan terenkripsi sebelum siapa pun sempat menghapusnya. Lalu ia mencetak satu salinan dan memasukkannya ke amplop tanpa logo rumah sakit.
Ryan memperbesar judul formulir yang disamarkan sebagai pemeriksaan kesehatan keluarga.
Jemarinya mulai bergetar.
"Delapan tahun lalu... dia pernah melakukan pemeriksaan kecocokan ginjal."
Keira baru berusia lima belas tahun. Baru satu hari pulang dari panti asuhan.
Jika Edmond langsung membawanya untuk uji kecocokan, maka tujuan ia mencari Keira sejak awal mungkin tidak pernah berkaitan dengan kasih sayang seorang ayah.