NovelToon NovelToon
Suamiku Bukan Ojol Biasa

Suamiku Bukan Ojol Biasa

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Wanita Karir / Rumah Tangga
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: santi damayanti

"Aaaaaaa!"
Pekikan Amira membumbung tinggi begitu ia menyibak selimut. Pandangannya bergeser ke samping, dan jeritannya makin melengking melukai udara.
"Aaaaaa!"
"Aaaaaaaa!" Seorang pria di sebelahnya mendadak ikut berteriak panik. "Bajuku... bajuku mana?!"
Keduanya saling menoleh dengan napas memburu.
"Aaaaaaa!" jerit mereka bersamaan.
"Bajingan!" maki Amira seraya menunjuk pria itu.
"Kamu!"
"Kamu yang bajingan! Dasar Tante girang gila!" balik pria itu tak mau kalah.
"Apa katamu?!" Mata Amira membelalak lebar. Tangisnya mendadak pecah tanpa bisa ditahan. "Kamu pria bajingan! Kamu udah merusak aku!"
"Kamu yang mengambil keperjakaanku! Kenapa malah kamu yang menangis?" kata pria itu dengan santai. Tangannya meraba-raba area lantai, sibuk mencari celana tanpa peduli pada Amira yang terisak. Namun, gerakannya terhenti saat jarinya menyentuh cairan pekat berwarna merah. "Apa ini? Darah?"
Detik berikutnya, wajah pria itu pucat pasi. "Mamahah..." Giliran pria itu yang menangis sesenggukan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santi damayanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 12

"Siap, Pak," jawab Luki tenang.

Pak Handoko menjabat erat telapak tangan Luki. Tatapan mata pria tua itu begitu dalam dan bergetar. "Saya nikahkan dan kawinkan engkau, Luki Perdana bin Dimiyati Perdana, dengan cucu saya, Amira binti Salim almarhum, dengan mas kawin berupa cincin berlian dan seperangkat alat shalat, dibayar tunai!" Pak Handoko menghentakkan genggamannya.

Dengan satu tarikan napas dan suara lantang tanpa ragu, Luki menjawab, "Saya terima nikah dan kawinnya Amira binti Salim dengan mas kawin tersebut, dibayar tunai!"

"Bagaimana para saksi? Sah?" tanya Pak Penghulu.

"SAH!" sahut para saksi dan tamu serempak.

Pak Penghulu memanjatkan doa suci untuk kedua mempelai, lalu melanjutkan proses penandatanganan berkas administrasi kenegaraan. "Karena pernikahan kalian mendadak, buku nikahnya silakan diambil seminggu kemudian, ya," ujar Pak Penghulu seraya merapikan berkasnya.

"Baik, Pak. Terima kasih," jawab Luki sopan.

Di sampingnya, Amira hanya bisa terdiam dengan air mata yang menetes perlahan. Ia benar-benar tidak pernah membayangkan jalan hidupnya akan seperti ini—menikah dengan pria yang baru semalam dikenal, seorang pengemudi ojol yang penuh gaya dan pretensi. Dalam kepala Amira sudah berputar deretan rencana darurat: ia harus segera menjual berlian itu dan menyewakan gaunnya demi melunasi biaya sewa tiga Alphard serta pasukan pengawal. Jangan sampai Luki dikejar-kejar utang oleh bos aplikasi atau komunitas ojolnya.

Sementara itu, Luki menundukkan kepala dan berdoa khusyuk dalam hati, Ya Allah, walau caranya kurang wajar, sekarang aku sudah punya istri. Ampuni dosaku... Berikan aku petunjuk untuk menjadi suami yang baik.

Luki mengusap kedua telapak tangannya ke wajah—kebiasaan refleksnya setiap kali selesai berdoa.

Amira berbisik sangat pelan di telinga Luki, "Jangan khawatir... nanti kita bisa jual berlian itu. Aku yang bakal bayar semua biaya sewa mobil kamu. Jangan sampai kamu punya utang sama bos aplikasi atau komunitas ijo-ijo itu."

Luki menoleh, mengerutkan dahi. "Kamu mau bayar utang?"

"Iya. Kamu kelihatan stres banget sampai mengusap muka begitu."

Luki terkekeh pelan. "Aku itu lagi berdoa, bukan stres."

"Kamu stres! Makanya, hidup itu apa adanya saja, jangan memaksakan kehendak cuma demi gengsi."

"Kenapa kalian malah bisik-bisik, hah?" potong Pak Handoko tegas. "Cepat sungkem dulu sama Kakek dan Mamahmu, Amira!"

Luki bangkit berdiri lalu menggandeng jemari Amira, membawanya melangkah ke hadapan Pak Handoko. Amira berlutut mencium tangan kakeknya. Pak Handoko membelai lembut rambut cucu kesayangannya seraya membisikkan doa-doa kebaikan. Luki pun melakukan hal yang sama—sungkem dengan sangat takzim pada Pak Handoko, persis seperti tata krama keluarga terpandang yang sudah mendarah daging padanya, meski orang-orang di ruangan itu menganggapnya cuma anak kampung beruntung.

Saat Luki beralih sungkem pada Ratna dan kemudian bersiap menuju Angga, Amira mendadak berdiri tegak.

"Lututku sakit. Aku mau duduk di pelaminan saja," potong Amira dingin.

"Amira! Jangan tidak sopan kamu!" tegur Ratna dengan nada menahan geram.

"Kakiku benar-benar sakit, Mah."

"Amira!" bentak Ratna lagi.

Luki dengan sigap menepuk pelan punggung Amira, lalu tersenyum manis pada Ratna. "Sudah, Mamah Mertua. Lagipula kalian kan setiap hari ketemu. Sepertinya para tamu juga sudah tidak sabar mau foto bersama kami. Nanti Mamah malah tidak jadi membangun relasi hanya karena hal kecil seperti ini."

Tanpa menunggu balasan, Luki membawa Amira melangkah menuju pelaminan sederhana di sudut ruangan.

"Maafkan Amira ya, Mas..." keluh Ratna pada Angga setelah kedua pengantin menjauh.

"Iya, aku paham dia belum bisa menerima kehadiranku," sahut Angga dengan raut wajah terluka buatan. Lalu ia berbisik memanas-manasi, "Tapi... kamu lihat sendiri kan? Penampilan Amira boros sekali malam ini. Apa yang dia pakai semuanya barang mahal. Kamu enggak takut nanti Amira malah merusak keuangan?"

Risma ikut menimpalinya, "Iya, Mah... Mamah enggak takut Amira nantinya makin boros?"

"Mamah sudah cek, Amira tidak memakai jasa butik langganan Mamah, jadi dia jelas tidak pakai uang Mamah," terang Ratna.

"Enggak pakai uang Mamah?" gumam Risma membelalak. "Jangan-jangan... Kak Amira pakai uang perusahaan, Mah!"

Angga mengangguk cepat. "Benar juga! Tadi beberapa kali Ayah Handoko tidak mengaku membiayai kemewahan Amira. Jangan-jangan Amira nekat menyalahgunakan kas perusahaan?"

"Jangan punya pikiran buruk dulu, Sayang..." ucap Angga dengan suara berpura-pura bijak di depan kerabat lain. "...mungkin saja dia terpaksa menggunakan uang perusahaan untuk gengsinya malam ini."

"Nggak bisa! Besok pagi aku harus tegur dia dan audit seluruh keuangan yang dipegang Amira!" desis Ratna penuh kedengkian.

Meski hatinya terbakar amarah, Ratna tetap menebar senyum manis kepada para tamu demi menjaga martabat keluarga. Pesta sederhana itu akhirnya benar-benar usai saat jarum jam menyentuh angka 12 malam.

para tamu telah pulang, Luki merangkulkan tangannya di pinggang Amira. "Istriku, kita tidur di mana?"

"Di kamarkulah!"

"Barengan, kan?"

"Berisik!" ketus Amira. "Kita harus ke kamar secepatnya, kunci pintu rapat-rapat, lalu matikan lampu."

Mata Luki berbinar goda. "Wow... kamu semangat sekali. Aku jadi bergairah nih."

"Dasar mesum!" umpat Amira dengan wajah memerah. "Kita harus cepat tidur karena besok pagi bakal terjadi Perang Dunia!"

"Sebelum Perang Dunia, bagaimana kalau kita main perang-perangan dulu di kamar?" bisik Luki terkekeh.

Amira tidak melayani godaan itu. Ia melangkah cepat menaiki tangga menuju kamarnya di lantai atas.

Begitu pintu dibuka, Luki mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan yang luas dan tertata rapi. Di sudut kamar, terdapat meja kerja besar yang dipenuhi tumpukan berkas dan laptop.

"Kamu menjadikan kamar ini sebagai kantor juga?" tanya Luki.

"Iyalah. Hanya dengan bekerja keras aku bisa maju," jawab Amira seraya melepas mahkotanya.

"Untuk maju... atau cuma buat mengalihkan rasa sakit atas ketidakadilan di rumah ini?" sahut Luki pelan namun menohok.

Amira menggigit bibir bawahnya. Entah kenapa, tebakan pria ojol di hadapannya ini selalu saja tepat sasaran. Amira memang sengaja menenggelamkan diri dalam pekerjaan agar punya alasan untuk menghindari pertengkaran dengan ibu dan saudara tirinya.

"Sudahlah! Aku mau ganti pakaian," tegas Amira mengalihkan pembicaraan. "Baju pengantin mahal ini bakal aku sewakan ke wedding organizer buat bayar utang-utang kamu. Dan berlian ini... bakal aku jual lagi."

Luki menghentikan langkahnya. "Kalau kamu sewakan, lebih baik gaun ini aku bakar saja."

"Bakar?!" Amira melotot kesal. "Kamu bisa enggak sih jangan banyak gaya?! Coba sesuaikan gaya hidup kamu sama isi saldo rekeningmu! Aku bisa terima kamu sebagai tukang ojol, Luki! Tapi aku enggak bisa terima kalau kamu memaksakan diri pura-pura jadi orang kaya!"

Luki menatap Amira lekat-lekat dengan senyum tipis. "Aku beneran kaya, Sayang."

"STOP!" potong Amira gemas. "Aku enggak masalah kamu cuma ojol. Yang penting kamu bekerja menghasilkan uang halal! Jangan pura-pura kaya terus!"

"Ya sudah kalau begitu..." Luki melangkah mendekat, mengikis jarak di antara mereka. "Sudah malam, mari kita tidur bersama."

"Tidur... bersama?" ulang Amira dengan bibir mendadak gemetar hebat.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!