"Mentari, istri bocah ku......aku sangat mencintaimu. Taukah kau seberapa besar cinta ku pada mu?" (Arkana Anggara Wijaya)
"Memangnya seberapa besar pacar ku ini mencinta aku?" (Mentari)
"Tidak besar, kecil sekali!" (Arka Anggara Wijaya)
"Ngapain nanyak kalau gitu!" (Mentari)
"Mentari?" (Arkana Anggara Wijaya)
"Em!" (Mentari)
"Cinta ku pada tak seluas samudera dan tidak sedalam lautan biru, tapi aku lebih mencintai mu dari pada diri ku sendiri, dan aku cemburu walau yang memandang mu seorang wanita. Aku ingin mengurung mu dalam sangkar cintaku. Agar tidak ada yang dapat menyentuh mu, kau Mentari ku dan hanya boleh menyinari ku saja. Biarlah aku menjadi budak cinta mu," (Arkana Anggara Wijaya)
"Pacar ish.....Tari gemuszzzz, oppa sarangheo," (Mentari)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon IPAK MUNTHE, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 10
"Waw," mata Mentari melebar seketika ketika ia memasuki kamar dengan konsep serba biru, ia langsung saja masuk dan melompat ke atas ranjang yang berukuran cukup besar, "Om.....ini kamar Tari?" Mentari menatap Arka yang perlahan masuk setelah menutup pintu.
Arka meletakan koper Mentari, setelah itu ia masuk kedalam kamar mandi tanpa menjawab pertanyaan yang di utarakan Mentari.
"Ish....sok cool banget sih? Keren juga kagak!" gerutu Mentari, sambil memukuli udara, "Masa bodo....bodo amat.....dasar Om-om aneh," Mentari kembali merentangkan tubuhnya sambil berguling-guling dengan santainya.
Tidak lama kemudian Arka keluar dari kamar mandi hanya dengan balutan handuk hitam yang melilit di pinggangnya.
Mata Mentari kembali melebar, "Om apasih! Kenapa mandi di kamar Tari?" cepat-cepat Mentari menutupi matanya dengan telapak tangan, sementara mulutnya terus komat kamit tidak jelas.
Arka masih saja diam, ia memasuki ruang ganti baju dan setelah memakai kaos oblong dengan celana pendek selutut Arka mendekati ranjang. Ia mengambil bantal dan berencana tidur di sofa. Mata Arka menyapu sekitarnya, ia baru menyadari kamar nya sudah tidak ada sofa dan itu adalah ulah Linda.
Arka tidak ambil pusing, ia memutuskan naik keatas ranjang dan berbaring.
"Om.....ini kamar Tari," Mentari cepat-cepat mendudukan dirinya sambil menatap Arka dengan pandangan berapi-api.
Arka menutup mata sambil membelakangi Mentari, ia tidak ingin berdebat jadi ia lebih memilih diam karena jujur saja ia masih kecewa pada Rembulan.
"Om!" Mentari turun dari ranjang, ia memutari ranjang dan berdiri di hadapan Arka, "Om denger Tari ngomong nggak sih?! Tari bilang keluar dari kamar Tari!" tegas wanita yang belum genap tujuh belas tahun itu.
"Kau melihat itu," Arka menunjuk bingkai fhoto dimana ada fhoto dirinya di sana dengan ukuran cukup besar.
"Iya," Mentari mengangguk dengan cepat.
"Apa di sini ada fhoto mu?" tanya Arka dengan suara dingin dan dalam.
Mentari menarik napas dan menggeleng, "Nggak Om, kan Tari baru mulai malam ini tinggal di sini....Gimanasih?" kesal Mentari.
Arka kembali diam dan tidak ingin berdebat dengan Mentari, ia kembali memejamkan matanya dan itu membuat Mentari kesal.
"Om ini kamar Tari....." teriak Mentari.
Arka menutup telinganya dan menatap Mentari, "Sejak kapan kamar ini menjadi kamar mu?"
"Tapi kata Mami ini kamar Tari......" Mentari masih dengan keras kepalanya, ia sama sekali tidak mau mengalah.
"Apa kau tidak melihat ruangan ini dengan jelas, apa ada barang-barang milik mu yang terpajang di sini?"
Mentari menatap semua fhoto yang terpajang di dinding, "Nggak sih....." Mentari menggaruk kepalanya.
"Adanya fhoto siapa?" tanya Arka lagi.
"Fhoto Om," jawab Mentari dengan polosnya.
"Artinya ini kamar siapa?"
"Kamar Om......" Mentari cepat-cepat menutup mulutnya dan ia kini sadar kalau ia yang salah masuk kamar, "Terus kamar Tari di mana dong?" Mentari menggaruk kepala dan menatap Arka dengan bingung.
Arka menutup matanya, sementara Mentari keluar dari kamar itu sambil menarik kopernya hingga sampai di depan kamar ia bertemu dengan Linda yang melintas di sana.
"Tari kamu mau kemana?" Linda berjalan mendekati Mentari dan melihat tangan Mentari yang membawa koper.
"Mi kamar Tari dimana?" tanya Mentari sambil menggaruk tengkuknya, karena sebenarnya ia memang sudah sangat menggantuk.
"Kamar kamu ya itu," Linda menunjuk kamar Arka.
"Tapi itu kamar Om Arka Mi," jawab Mentari dengan lesu.
Linda menggaruk kepalanya, karena ia ingin tertawa dengan kelucuan Mentari, "Mama sama Papa kamu di rumah punya kamar masing-masing nggak?" tanya Linda yang berusaha menjelaskan dengan cara yang mudah di mengerti oleh Mentari.
Mentari menggeleng lemah, "Enggak Mi."
"Sama kamu juga sama Arka satu kamar Nak, satu ranjang juga," jelas Linda.
"CK....." Mentari mengusap wajahnya dan menatap Linda kembali, "Mi, Tari nggak usah sekamar sama Om Arka ya?" Mentari lagi-lagi memasang wajah melasnya.
"Tidak boleh begitu, ayo masuk......"Linda mendorong Mentari kembali masuk ke kamar Arka, "Kamu jangan melawan perintah orang tua, Mami juga bisa marah," Linda berpura-pura marah, padahal ia tidak marah sedikit pun hanya saja Mentari masih begitu polos hingga ia butuh sedikit pemahaman. Linda mengerti dengan kepolosan Mentari, menikah di usia belasan memang terlalu menyulitkan.
"Tapi Mi," Mentari kembali membawa kopernya masuk.
"Mami tidak mau mendengar alasan lain, sekarang kamu tidur....hari sudah malam besok sekolah," Linda langsung menarik pintu kamar tanpa mendengar alasan lainnya dari Mentari.
"Huuuufff......" sejenak Mentari diam dan memandangi Arka yang menutup wajahnya dari balik selimut, Mentari duduk di pantai dan memeluk kopernya, tubuh kecilnya bersandar pada pintu yang tertutup rapat.
"Kau sedang apa di sana?" terdengar suara Arka yang berat seketika memecahkan lamunan Mentari.
"Om, Tari ngantuk Om....." suara Mentari semakin terdengar lemah karena rasanya memang cukup melelahkan.
Arka diam saja dan ia kembali melanjutkan tidurnya, perasaan pria itu kembali menggebu mengingat wajah Rembulan. Malam indah yang ia bayangkan terasa begitu memilukan, namun ia pun tidak menyalahkan Mentari yang kini menggantikan posisi Rembulan. Hanya saja ia tidak bisa membohongi dirinya tentang hatinya belum bisa menerima Mentari.
Pagi harinya Mentari membuka mata, ia merasa tidurnya sangat nyaman sekali. Seketika matanya terbuka dan menatap jam dinding, "Jam delapan," kata Mentari, ia cepat-cepat bangun bangun dan melihat cahaya matahari yang mulai masuk melalui celah-celah. Mentari tersadar jika saat ini ia tengah berada di atas ranjang, sedangkan semalam ia tertidur di lantai. Mentari tidak terlalu memikirkan itu karena ia harus cepat-cepat pergi ke sekolah, Mentari berlari dan membuka pintu kamar Mandi.
"Aaaaaaa......" teriak Mentari saat melihat Arka yang tengah mandi di bawah guyuran air shower, kaki Mentari bergetar melihat Arka yang hanya menggunakan CD. Setelah itu ia berbalik dan berlari keluar dari kamar mandi, Mentari menyandarkan tubuhnya di dinding dengan napas yang menggebu. Tangannya memegangi dada yang naik turun dengan cepat. Tidak lama kemudian Arka kembali keluar dari kamar mandi, ia melilitkan handuk di pinggangnya dan melewati Mentari dengan santai seolah ia tidak terjadi apa-apa, "Om....jangan begini dong, mata suci aku kan jadi ternodai," omel Mentari sambil melihat matanya ke lain arah, setelah Arka menghilang dari pandangan matanya Mentari mulai memasuki kamar mandi. Ia terus membersihkan tubuhnya dan menyegarkan otak agar berpikir jernih, "Ampun deh....baru juga semalaman tinggal sama Om-om gila itu tapi udah seribet ini, Kak Ulan lu keterlaluan banget tau nggak," Mentari terus mengomel dan mengeluarkan sumpah serapahnya mengutuk Rembulan.
Paling tidak sekarang suami yg kayak es beku sdh mencair.
Tadinya cerita awal dimulai dari Arka dan Rembulan lalu masuklah sosok Mentari, dikupas Thor tentang mereka.