Area Dewasa 17+
Bryan Hendrawan, Seorang CEO Arogan dari perusahaan Hendrawan.
Suatu hari, ia dijebak seseorang hingga ia merenggut kesucian seorang gadis yang sangat dibenci nya.
"kau manusia brensek Bryan!!" teriak gadis itu.
"mari kita membuktikan ucapan mu. aku akan membuat kata 'brensek' itu menjadi kenyataan" jawab Bryan dengan seringai licik nya.
gadis yang dibenci Bryan ternyata menyimpan sejuta luka dimasa lalu nya.
apa yang menyebabkan Bryan begitu membenci gadis itu?
bagaimana nasib gadis malang itu setelah di renggut kesucian nya oleh Bryan?
dan bagaimana reaksi Bryan ketika tau bahwa gadis yang dibenci nya hanya dijadikan kambing hitam oleh orang tua nya?
nantikan kisah nya di Tuan Arogan Suamiku.
Dilarang plagiat.. jika tidak suka, nggak usah baca.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ANIVITA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Apa salahku?!
Setelah acara selesai, Mia dibawa ke kediaman Bryan.
Ia memasuki kamar utama yang tak lain adalah kamar Bryan.
Mia segera membersihkan tubuhnya yang sudah terasa lengket dan pegal karna terus saja berdiri seharian.
Setelah selesai, Mia memakai baju biasa yang sudah disiapkan di walk in closet.
Mia mulai memunguti heels dan juga gaun yang baru saja dikenakan nya tadi.
Ia menyerahkan pada kepala pelayan agar di laundry di tempat khusus karna gaun itu sangatlah spesial.
Mia adalah gadis yang tau diri.
Ia merasa ia hanya menumpang hidup dengan Bryan. Setidaknya ia harus melakukan kewajiban kewajiban nya sebagai istri sebagai ganti makanan yang ia makan tiap hari.
Mia menyiapkan air mandi untuk Bryan.
Tak lama kemudian Bryan masuk ke kamar.
"Mandilah kak, aku sudah menyiapkan air hangat untuk mandi" ucap Mia.
Bryan mengangguk lalu segera masuk ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.
Otak nya memikirkan berbagai rencana yang dibuatnya untuk menghancurkan gadis yang baru saja menjadi istrinya beberapa jam yang lalu.
"Lihatlah, kau akan menderita di genggamanaku" batin Bryan menyeringai.
Mia segera membantu pelayan untuk memasak menu makanan untuk makan malam.
"Tidak usah nyonya, sebaiknya anda istirahat saja" ucap pelayan itu.
"Tidak apa apa, lagian aku bosan jika berdiam diri terus" ucap Mia.
Bryan yang kebetulan turun ke lantai bawah melihat Mia sedang memasak bersama pelayan.
Hatinya mengeram marah melihat Mia yang sedang membantu para pelayan.
Ia segera mendekat ke Mia lalu menarik kasar tangan Mia.
Ia menyeretnya menuju lantai 3 tempat kamarnya berada.
Bryan menghempaskan Mia ke sofa kamar itu lalu mencengkram pipi wanita itu.
"Kau mau cari muka dengan mama ku?" Bentak Bryan.
Bryan melepaskan cengkraman itu hingga menimbulkan bekas kemerahan di pipi Mia.
"Kenapa kau tega terhadapku kak? Apa salahku? Aku hanya membantu pelayan" teriak Mia.
"Kau bertanya apa salahmu? Kau sudah merusak hidupku" bentak Bryan.
"Bukankah kebalik? Justru kau lah yang merusak hidupku" teriak Mia.
"Apa kau lupa yang dilakukan ibumu 20 tahun silam?" Bentak Bryan
"Bukankah sudah kubilang tidak usah menikahiku jika hanya karna rasa kasihan" teriak Mia lagi.
"Kau kira aku akan melepaskanmu begitu saja? Hah?!!"
"Kau tau kan rasanya memiliki seorang adik perempuan yang disiksa suaminya!! Sekarang kau yang ingin menyiksaku?!!" Bentak Mia.
"Aku memiliki alasan yang kuat untuk itu"
Ditengah perdebatan mereka, terdengar ketukan pintu dari luar.
"Tuan, makan malam nya sudah siap"ucap pelayan dari luar kamar Bryan.
Bryan dan Mia pun ie lantai bawah untuk sarapan.
Dengan sigap Mia mengambilkan lauk pauk untuk suami nya.
Mata mama Gita menatap setiap pergerakan Mia.
"Sepertinya dia tak seburuk yang orang orang katakan" batin mama Gita menatap Mia.
Pandangan mama Gita tertuju pada pergelangan tangan Mia yang me merah, juga dagu gadis itu yang memerah membentuk jari.
"Ada apa dengan tangan dan dagumu Mia?" Tanya mama Gita.
"Ti tidak apa apa tante, cuma gatal gatal, mungkin tadi makeup pengantin nya nggak cocok" jawab Mia masuk akal.
"Panggil aku mama" titah mama Gita.
"I iya ma"
Mama Gita tak sepenuhnya percaya pada ucapan Mia. Ia yakin ada yang tidak beres dengan Mia dan Bryan.
Makan malam selesai dengan penuh keheningan.