[[ TAMAT ]]
IG : @rumaika_sally
Menikahi temen sebangku semasa SMA. Bagaimana rasanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rumaika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Panggilan Mas
"Ini apa, Bima?" Mayang menunjuk alat yang asing di samping meja.
"Oh, ini afdruk namanya. Hadiah dari Om Wira. Ini langka. Mayang tahu ini apa?"
Mayang menggeleng, tapi wajah penasarannya tak bisa disembunyikan.
"Ini untuk nyetak foto analog. Kamu pernah lihat nggak di film-film jaman dulu orang suka cetak foto kilat? Yang pakai klise." Bima menjelaskan sembari menujukkan contoh klise. Lembaran mengkilat berwarna hitam transparan.
Mayang mengangguk, nampak paham.
"Nah, ini fungsinya untuk kamar gelap. Lihat ini, dua papan berkaca pembesar, selubung kain warna hitam, lensa, papan pembatas dan yang terakhir kertasnya. Nyetak fotonya itu kayak ngerekam cahaya. Nanti kalau Mayang mau, Mayang boleh lihat Bima dan nyoba sendiri."
Mayang tampak antusias."Ini cairan-cariannya. Ada macam-macam. Mayang mungkin pernah dengar orang jaman dulu menyebut cetak foto dengan cuci foto."
"Jadi fotonya beneran dicuci," Mayang bertanya.
Bima menanggapinya dengan tertawa. "Cairan kimia yang ini untuk memunculkan gambar, yang ini untuk mengawetkan gambar. Nah, nanti kalau udah dicuci sama air tawas biar kotorannya hilang. Terakhir dicuci pakai air bersih lalu dikeringkan," Bima menjelaskan panjang lebar.
Mayang tampak tertarik. "Ini langka ya sekarang."
Bima mengangguk cepat. " Ini Oom Wira yang kasih. Katanya dapat dari Jogja."
"Om Wira siapa, Bima?"
"Adiknya Mama. Adik satu-satunya. Mama ngak punya keluarga lagi, orangtuanya udah lama meninggal. Cuma Om Wira sama Mama aja. Dia tinggal di Bali. Seniman, keliling Indonesia sedari umurnya masih muda. Bima pengin ikut Om Wira. Sama Mama nggak boleh."
Mayang manggut-manggut. Ternyata ini alasan Bima enggan sekolah. Dan ruangan ini. Ini taman bermainnya. Semua lengkap di sini. Bima memang berbeda. Jiwanya tak tertarik pada pelajaran sekolah. Tapi ia tahu apa yang dia suka.
"Bima suka fotografi?"
"Suka. Kamu tahu, Om Wira pernah jadi sutradara video klipnya Band Dewa. Dia keren. Bima pengen jadi kayak Om Wira. Belajar pelan-pelan, fotografi, vodeografi. Belajar sendiri dari youtube. Mama nggak ngasih Bima kontak ke Om Wira. Cuma beberapa kali aja ketemu kalau dulu dia ada acara di Jakarta. Takut Bima dibawa kabur," Bima tertawa pelan.
Mayang mengerti. Papanya tak pernah memaksanya menyukai sesuatu. Semua yang Mayang ingin coba selalu Papanya fasilitasi. Ia ikut les catur dengan Guru pilihan Papanya, seorang Grand Master kenamaan Indonesia. Ia ikut les piano di tempat musisi terkenal. Papanya memberikan yang terbaik, tanpa Mayang sadari. Kini ia merasa beruntung.
"Mama kayaknya udah nyerah nyuruh aku kuliah abis lulus. Tapi Bima udah janji bakalan lulus SMA. Ya, seenggaknya lulus SMA. Mama pengin Bima ngambil sekolah bisnis kayak Mama. Katanya kalau jadi seniman masa depannya susah. Mau makan apa Bima nanti. Mama juga takut Bima kayak Om Wira. Nggak mau menikah. Mama takut Bima jadi tua sendirian. Mama jauh banget pikirannya," Bima kembali tertawa.
Mayang terdiam. Bima juga punya banyak luka. Tapi dia ringan saja mengatakannya pada Mayang. Mayang biasa memendam sedari kecil. Yang ia punya hanya Bibi Emily. Mayang kecil tak banyak bicara, ia tak pernah merajuk atau semacamnya. Tapi Bibi Emily selalu paham. Dia menenangkan, dia selalu menghibur. Dia selalu bilang kalau Papa sayang Mayang. Papa hanya sibuk kerja. Papa nggak pernah gendong Mayang atau ngajak bermain karena Papa capek. Bibi Emily selalu ada untuknya.
Mayang sekarang punya Papanya seutuhnya. Apa gunanya diungkit masa lalu itu. Tapi dalam hati kecilnya, ia ingin seseorang tahu perasaannya. Ia ingin menangis sekali saja mengungkapkan semuanya. Pada papanya jelas tak sanggup. Papa akan sangat terluka.
Papa mendorong kursi roda Tante Asti menuju kamar Bima. Mereka melihat Mayang dan Bima asyik mengobrol di studio Bima.
"Tuh, pada akur loh Ris mereka. Biarin dulu Mayang di sini. Nanti sore kamu jemput lagi sepulang kantor. Atau Bima yang antar pulang. Tenang aja."
Biasanya Papanya memang kadang kembali lagi ke kantor setalah menjemput Mayang sekolah kalau ada pekerjaan yang perlu ditangani.
"Gimana, Mayang?" Papanya bertanya.
Mayang melihat ke arah Bima. Bima menaikan alisnya ke atas sembari tertawa.
"Katanya Mayang mau nyobain cetak foto Om," Bima menjawab sembari menunjuk ke arah afdruk dan perkakasnya.
Papanya melirik cepat. Ia tahu putrinya sangat tertarik dengan hal-hal yang baru.
"Oke, kalau Mayang mau Mayang bisa tinggal di sini sampai Papa jemput."
"Tenang aja, Haris. Nanti Bima juga bisa antar kok. Iya kan, Bim?"
Mayang menyadari keduanya semakin akrab memakai nama panggilan nama masing-masing. Tapi tak rasa ada kekhawatirannya seperti saat Papa dekat dengan Tante Erika.
Tante Asti mengajak Bima dan Mayang makan bersama. Mayang berganti baju. Dipinjami kaos band Bima yang tentu saja kebesaran di badannya.
Tante Asti merasa senang karena akhirnya Bima punya teman. Tak pernah sekalipun Bima merasa tertarik berteman. Dia asyik dengan dunianya sendiri. Studio itu adalah kamar sakralnya. Melihat Bima merasa nyaman dan mengajak Mayang ke studio adalah hal yang agak mengherankan. Bima Juga banyak tertawa saat mengobrol dengan Mayang.
Mereka mengobrol sembari makan. Tante Asti mengungkapkan kejengkelannya pada Bima. Bima yang enggan bersekolah sampai usianya jauh dibandingkan anak seumurnya yang harusnya sudah masuk kuliah. Berbanding terbalik dengan Mayang yang 14 tahun tapi sudah hampir lulus SMA.
"Oh iya, usia Mayang kan jauh lebih muda dari Bima ya. Harusnya manggilnya Mas Bima," Tante Asti menyeletuk.
"Apaan sih, Ma," Bima nampak protes di seberang meja.
Tante Asti tertawa. Mayang nampak malu. Dan Bima yang jelas keberatan.
Mayang menyadari. Tante Asti sebegitu sayangnya dengan Bima. Bimapun, meskipun ada rasa kejengkelan tiap kali membicarakan Mamanya, Mayang tahu Bima juga sayang. Bima menyaksikan Mamanya hancur ssdari usianya belia. Bima menyaksikan sendiri bagaimana Mamanya terluka ditinggalkan Papanya sekaligus kehilangan bayi. Pasti tak mudah. Tahun-tahun yang sulit. Yang membuat Bima membenci dan mendendam pada Papanya hingga kini. Itu sebabnya ia kurang suka Mamanya membuka komunikasi dengan Papanya. Sekalipun hanya sekedar mengirim hadiah saat Bima ulang tahun. Bagaimanapun Bima tetap anak Papanya.
Ada begitu banyak orang yang punya luka. Ada yang disimpan semacam Mayang. Ada yang dibiarkan hingga sembuh sendiri, seperti Susi mungkin. Tante Asti dan Bima lain lagi. Bima yang masih mendendam. Dan Tante Asti yang mungkin sudah berlapang hati memaafkan. Tapi hati orang siapa yang tahu. Kalau dipikir, Tante Astilah yang paling terluka.
Sorenya Papanya menelpon, dia bilang akan pulang agak larut. Ada pekerjaan penting yang tak bisa ditinggalkan. Di rumah nanti, Mbok Jum sudah diminta untuk menginap menemaninya, Papa sudah titip pesan lewat telepon ke Pak Darman.
Tante Asti meminta Bima untuk mengantar Mayang pulang sebelum malam datang.
"Pakai mobil aja ya, Bim. Jangan naik motor. Oke," Tante Asti berpesan sebelum mereka meninggalkan rumah.
"Iya, Ma."
Mereka berjalan beriringan. "Karena kaki Mama sakit, besok Bima bisa sekolah naik motor," Bima tersenyum penuh kemenangan.
"Bima seneng kaki Mamanya sakit?"
"Ya nggak dong. Cuma Bima kan udah gede. Malu lah diantar jemput macam anak TK."
"Berarti Mayang kayak anak TK dong. Kan diantar jemput Papa."
Bima menghentikan langkahnya dan berbalik menghadap Mayang. Lalu bertingkah seolah menjitak kepala Mayang dengan gemas. "Tapi kan kamu memang masih kecil, Non. Masih 14 tahun." Bima melanjutkan kata-katanya sembari tertawa.
Mayang nampak cemberut. Ia tahu. Usianya memang masih muda dibandingkan teman sebayanya. Tapi ia merasa sudah dewasa.
"Iya Mas Bima yang udah gede," Mayang berkata meledek.
Bima nampak kesal. Tapi Mayang tahu itu hanya dibuat-buat saja. Ia semakin meledeknya dengan memanggilnya Mas Bima berulang kali. Bima nampak tak suka tapi akhirnya dia tertawa juga. Mereka tertawa sembari berjalan menuju garasi.
"Itu motor Mas Bima?" Mayang menunjuk motor trail Kawasaki berwarna hitam.
"Iya. Dulunya bukan itu. Tapi pindah ke sini lebih enak pakai motor trail. Medannya kan pegunungan, naik turun. Mayang pernah naik motor?"
"Belum. Mayang mau coba boleh? Kayaknya seru ya naik motor."
"Boleh. Yaudah naik," Bima menyerahkan kunci motor ke tangan Mayang.
Mayang mendelik kesal. "Kan Mayang nggak bisa naik motor, Mas Bima. Maksudnya Mayang mau dibonceng." Diserahkannya kembali kunci motor ke tangan Bima.
Bima tertawa. "Yaudah, Mayang mau diantar pulang naik motor? Tapi nanti Mama marah kalau ketahuan. Lagian helmnya cuma ada satu."
"Nanti biar Mayang yang bilang. Ya? Mas Bima juga pelan-pelan aja bawa motornya."
Bima meminta Mayang berpegangan di pinggangnya. Mayang nampak bingung dan canggung. Namun Bima dengan cepat menarik tangannya. Motor melaju pelan menuruni bukit. Langit di ufuk barat berwarna oranye. Semburat yang indah menuju gelap.
Rambut Mayang berkibar lembut tertempa angin sore. Tangannya berpegangan erat di pinggang Bima. Ini pengalaman naik motor pertamanya. Dan kali pertamanya ia berkontak sedekat ini dengan lelaki selain Papanya. Dadanya bergemuruh, pipinya panas. Ada perasaan aneh menjalari perutnya. Ia berdebar, tapi rasanya menyenangkan.
Sore yang indah. Pemandangan sempurna sebagai latar belakangnya. Senja dengan langit cantik dan ada Bima yang mengantarnya pulang. Hatinya berbunga.
Apapun karya mu bagus thor,,Aku salut sgn perjuangannya Bima 👍🏻👍🏻👍🏻⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️🌺🌺🌺🌺🌺🌹🌹🌹🌹