18+
Namanya Somalia Wardana, orang sering memanggilnya Somi. Tak sedikit orang mencibir namanya karena dinilai sama dengan salah satu negara miskin di dunia. Namun, ia tak kecewa, karena nama itu adalah nama pemberian Alm papanya saat bertugas di negara tersebut. Papanya hanya pulang membawa nama dan nama tersebut ialah satu-satunya pemberian untuk Somalia, Oleh karena, itu ia sangat menghargai nama pemberian mendiang papanya.
Pekerjaannya? Somi sibuk mengurusi pernikahan kliennya. Sebagai WO, Somi dituntut untuk profesional dalam menangani pernikahan para kliennya. Somi sibuk mengurusi pernikahan orang dari pada pernikahannya kelak.
Area terlarang!!! teruntuk penikmat halu belaka 😋 Siapkan hati kalian karena itu poin utamanya.
Mau tahu kisahnya bukan?
Nggak ada salahnya mampir dan menjadikan novel ini bacaan favorit kalian 🙏
Maaf novel ini slow up ya manteman. Juru ketik sedang banyak kreditan panci 😁
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dheselsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 9
Senja telah datang, pertanda malam segera menyapa. Somalia berdiri di depan kantornya. Ia menatap langit di atas tempatnya berpijak saat ini. Langit senja dengan awan putih yang terlihat lembut bak permen gula kapas. Awan tersebut makin berkilau dengan sorot mentari di ufuk barat. Semilir dari angin mempermainkan rambut panjangnya, sentuhan lembut sang bayu mampu membuatnya nyaman hingga memejamkan matanya. Sungguh berat hidup yang harus ia jalani, hingga waktu untuk sekedar bersantai pun ia lewatkan.
Setelah pertemuan antara dirinya dengan Adit, lelaki casanova tersebut berkali-kali mengubungi dirinya. Pernah terbesit untuk menghindari Adit, bagiamana pun Adit bukan lah tipe idaman Somi. Namun rencana balas dendam mengubur dalam-dalam keinginan dirinya. Somi harus menjalin hubungan baik dengan Adit, bagaimanapun juga Adit adalah senjata yang akan ia pakai untuk menghancurkan Alex dan Amara.
Tak ingin berlama-lama menikmati sendu yang hinggap menjelang senja, Somalia melangkahkan kakinya menuju mobil yang biasa menemani langkahnya kemanapun. Wanita cantik itu begitu enggan meninggalkan kantor miliknya. Tak jarang bila ia tak berminat pulang ke rumahnya, ia lebih suka menghabiskan separoh malamnya di tempat yang sudah ia besarkan ini.
"Huh ... " Somi menghembuskan napas kasarnya sebelum ia menjangkau handphone di dalam tas miliknya. Ia tengah merencanakan sesuatu dengan handphone di tangan kirinya.
"Hallo, bisakah kita bertemu?" Sapa Somi dengan nada yang ia tak tahu berapa nilai oktannya. Ia sedang merencanakan pertemuan dengan Adit.
"Sure darling, pukul berapa dan di mana aku bisa menjemputmu?" cecar Adit dengan beberapa pertanyaan pada Somi. Lelaki tampan itu sangat antusias karena ini pertama kalinya Somi mendekati dirinya.
"Kamu mau kita ketemu di mana? Aku bawa mobil sendiri Adit!"
Adit menyiapkan tempat dan waktu untuk kencan pertamanya dengan Somalia. Wanita yang begitu ia idam-idamkan. Rencana ini tak boleh gagal, karena hal ini berhubungan dengan masa depannya.
*
Somi memarkir mobilnya tepat di depan sebuah cafe yang menyediakan tempat hiburan, salah satunya billiard dan karaoke.
"Huh ..." Somi menghempaskan napas kasarnya. Kalau bukan karena rencana balas dendamnya, ia tak mungkin sudi masuk ke tempat seperti ini. Tempat seperti ini sangat ia hindari, apalagi ia perempuan yang bermartabat, Somi harus bisa menjaga dirinya sendiri saat mengunjungi tempat hiburan seperti ini. Sudah lama ia meninggalkan kebiasaan buruknya, ia tak ingin kecanduan lagi dengan tempat maksiat seperti ini.
Dari sudut meja yang sudah dipesan sebelumnya, seorang lelaki tampan melambaikan tangan diiringi ulasan senyum indah dari sudut bibirnya. Ia adalah Adit, lelaki yang malam ini membuat janji kencan dengan Somalia.
"Apa kabar?" Sapa Somi lebih agresif pada Adit. Ia memang sengaja ingin mendekati pria tampan itu. Lalu pemilik bola mata indah itu mengulurkan tangannya pada Adit.
Sebelum keduanya duduk di tempat yang telah dibooking oleh Adit sebelumnya, tak lupa Adit mencium tangan Somi seperti biasa. Lelaki itu memang sungguh luar biasa berusaha ingin mendapatkan perhatian dari Somalia.
"Am fine, kamu selalu cantik darling,"
Bagai menenggak madu di cawan, ucapan Adit begitu manis di telinga Somi. Lelaki itu memiliki kemampuan menjerat mangsa, yakni setiap wanita cantik. Fani sudah mengingatkan pada Somi sebelumnya, bahwa Adit seorang playboy kelas kakap. Beda sekali dengan Gandhi, bahkan Fani mengira Gandhi adalah seorang gay karena tak pernah membawa seorang wanita.
"Bagiamana kalau kita bertanding billiard?" Ajak Adit di sela rayuannya pada Somi. Maniknya tak henti berkedip menatap wajah menawan wanita yang berbalut blouse berwarna peach tersebut. Senyum indah Somi seakan menusuk jantungnya. Entah mengapa ia tak ingin melepaskan Somi begitu saja.
"Boleh juga, akan lebih menantang bila ada taruhannya," sahut Somi dengan seringai liciknya. Ia sungguh ingin menjerat Adit dalam jangkauannya.
"Siapa yang kalah pada tiap putaran, harus menghabiskan segelas minuman ini!" tunjuk Adit pada salah satu minuman beralkohol lumayan tinggi di atas meja.
"Never mind," dan Somalia pun tak menolak ajakan Adit. Baginya rencana menjerat Adit adalah poin penting yang harus ia dapatkan.
*
Ini sangat jauh dari prediksi Adit, hal yang sangat ia inginkan yakni mendapatkan Somi seutuhnya harus ia musnahkan dari pikirannya. Adit tak menyangka bila Somalia, wanita yang ia ingin jebak dalam permainannya mampu menyapu bersih seluruh bola dalam jenis permainan English Billiard tersebut. Somalia begitu lihai dalam permainan yang biasa ditekuni oleh lelaki dewasa.
"Kamu hebat sekali!" Adit membelalakkan matanya ketika Somalia menyelesaikan akhir dari putaran pertama.
Adit terlihat kecewa ketika melihat Somalia mampu menyelesaikan dua putaran. Dan wanita itu mampu mengungguli dirinya dalam permainan bola sodok tersebut. Bukan hanya bola billiard saja yang sudah Somi sodok dengan sticknya, namun harga diri Adit juga telah disodok oleh wanita cantik tersebut. Akan sangat mudah memaksa Adit untuk memenuhi permintaannya karena ia kalah telak dengan dirinya.
"Lalu apa yang akan aku dapatkan karena aku telah mengalahkan anda Tuan?" Goda wanita berambut panjang tersebut. Ia sangat puas mampu mengalahkan lawannya dengan mudah kali ini. Siapa sangka Somi mahir dalam memainkan bola putih tersebut.
"Apapun yang kamu minta akan aku berikan darling!" meski terlihat sangat tak puas, namun Adit harus menerima kekalahan kali ini dengan lapang dada.
"Kenapa menyembunyikan ini dariku sayang?" tiba-tiba seorang lelaki memeluk Somalia dari arah belakang tubuhnya. Sambil membisikkan sesuatu lelaki itu menatap tajam ke arah Adit yang begitu kaget melihat pemandangan di depan matanya.
"Apa maksud kamu? Jangan berlaku sembarangan!" elak Somalia sambil melepaskan belenggu yang datang secara dadakan. Dan yang paling membuatnya heran adalah, orang yang memeluk dirinya dengan sengaja. Ia tak tahu dari mana datangnya lelaki sialan yang mengatakan dirinya calon istrinya di depan mamanya yang sedang sakit waktu itu.
"Aku tak tahu bila kalian sedang menjalin suatu hubungan," Adit terlihat kecewa atas apa yang sudah ia lihat dengan mata kepalanya sendiri. Rencana mendapatkan hati wanita cantik itu akan sia-sia bila sang lawan adalah Gandhi, bukan hanya lebih sepupunya namun Gandhi memiliki kekuatan lebih besar untuk menyerang dirinya.
"Ini hanya salah paham, aku tak menjalin hubungan dengan siapapun!" Somi menaikan suaranya ketika Adit merasa bersalah. Wanita berkulit putih langsat itupun tak ingin rencananya balas dendamnya berantakan.
"Aku tahu aku salah, kamu tak perlu menghukum ku dengan cara seperti ini sayang!" ujar Gandhi ingin menegaskan pada Adit, ia sungguh tak mengeri mengapa Somalia menginginkan pria payah seperti saudaranya untuk membantunya dalam rencana balas dendam Somi. Fani sudah menceritakan semuanya padanya. Ia sedikit tersinggung bila Somi berbalik arah dan memilih Adit dari pada dirinya.
Dengan wajah cantiknya, Somalia menatap Gandhi dengan herannya. Apa pria ini salah makan sesuatu? Atau memang dia memiliki kelainan jiwa?
Untuk membuat Adit semakin percaya padanya, Gandhi tak tinggal diam. Pria yang berprofesi sebagai pengacara tersebut melayangkan sebuah kecupan manis tepat di bibir merah Somi. Wanita yang dengan sengaja mengurungkan niatnya untuk mendekati dirinya. Gandhi masih tak terima Somi lebih memilih Adit sebagai sandaran dan alat balas dendamnya.
"Baiklah ... aku semakin percaya. Maafkan aku Kak, aku sudah menganggu hubungan kalian!" ucap Adit lalu pergi begitu saja meninggalkan kedua orang yang masih terpaku satu sama lain.
Sadar dari lamunannya, Somi bergegas mengikuti ke mana Adit pergi. Ia tak ingin melepaskan Adit begitu saja. Baginya Adit adalah kandidat terbaik.
"Tunggu Adit, kamu salah paham!" namun usaha Somi mengejar Adit sia-sia lantaran pria itu sudah pergi meninggalkan tempat ini.
Sial aku gagal, ini semua gara-gara bungkus mie instan itu. Dasar iblis! kenapa dia harus merusak rencanaku? gerutu Somi dalam hatinya. Emosinya tak bisa ia tahan, ingin sekali ia memotong leher Gandhi saat ini juga.
pas ketemu sama judul ini baca sinopsisnya dan ada tulisan #tamat serta episodenya yang gak panjang langsung tertarik...
tapi ternyata... judul ini belum tamat, bahkan dari komentarnya ditulis lebih dari setahun yang lalu yaitu bulan 2 tahun 2022, apa judul ini gak dilanjutkan lagi?
kecewa sih, karena udah terlanjur baca dan sebenarnya ceritanya bagus juga, sayang mandek di tengah jalan
penasaran gimana mereka berkhianat di belakang Somi