Chevani Agra
Seorang janda beranak satu yang diceraikan oleh suaminya tanpa sebab.
Menjadi janda bukan lah satu hal yang menyenangkan apalagi dia harus mengurus seorang anak dan nenek reot yang mulutnya pedas bak cabe rawit.
Saban harinya ia bekerja sebagai babu dan tukang cuci dengan gaji tak seberapa, hingga suatu saat ia dipertemukan kembali dengan mantan suaminya melalui sebuah cara yang sakitnya melebihi perceraiannya kala itu.
Bagaimana kisahnya?
Yuk mampir 😉
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wanda Handayani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
GARA-GARA SUP AYAM
“Ma ma ma ta ma.” Suara ocehan seorang bayi sontak membuat tubuhku terlonjak kaget dan membeku. Apa-apaan ini! Pemandangan sejenis apa yang saat ini sedang kulihat?
Pricil. Bayi itu tergeletak di atas lantai bersamaan dengan sebuah kain panjang yang terlilit-lilit pada bagian tubuhnya. Bocah berusia delapan bulan tersebut terlihat asyik memegangi ujung kakinya seraya mengoceh-ngoceh tidak jelas.
Aku berhambur lari dan menggapai badan mungil tersebut, menelisik setiap inci dari tubuhnya. Dugaanku benar. Anakku telah jatuh dari atas ranjang saat aku tengah berada di luar. Aku menemukan lebam merah yang berada tepat di belakang kepalanya. Aneh, tapi kenapa ia sama sekali tidak menangis? Atau jangan-jangan ia sudah berhenti menangis karena aku yang terlalu lama pulang dan tak bisa menjangkau kondisinya. Ck sial! Kemana neneknya? Apa ia sengaja membiarkan cucunya seorang diri di kamar ini? Hei! Aku mencari makanan sesuai perintahnya, seharusnya ia paham akan hal itu.
Pricil menarik-narik kera bajuku takkala ia telah bermukim di atas gendongan. Aku membawanya ke arah dapur untuk mencari keberadaan si reot yang tak tahu diuntung itu.
“Ma!” Seorang perempuan setengah abad sedang menikmati susu panas bersama siaran radio favoritnya.
Wanita itu sama sekali tak menjawab, ia hanya menoleh lalu kembali membuang pandangannya ke sembarang arah.
“Pricil jatuh dari kasur. Apa mama tak menjaganya suwaktu aku pergi?” Aku membuat jarak dengan mertuaku.
“Ma aku sedang berbicara denganmu bukan dengan tembok!”
“Hei!” Sontak wanita tua itu beranjak dari tempatnya setelah mendengar penuturanku. “Kau ibunya! Kaulah yang menjaganya bukan aku.” Aku dapat menyaksikan dengan jelas deretan giginya yang sudah keropos itu menggeletuk dengan keras, matanya melotot persis seperti mata capung yang biasa ditangkap oleh anak-anak.
“Aku membelikan makanan untukmu. Setidaknya kau berinisiatif untuk menjaga anakku. Lihatlah, kepalanya terbentur lantai.” Aku mungkin bisa meredam emosi apabila kekejamannya hanya terpaut untuk diriku. Tapi apabila sudah merembet pada bayi mungil yang tak berdosa ini sungguh aku tak dapat menerimanya. Mau tidak mau ini adalah cucunya sendiri dan seharusnya ia memiliki akal untuk ikutcampur menjaganya terlebih di saat aku sedang menunaikan perintahnya di luaran sana.
“Kenapa tidak kau bawa saja anakmu itu sekalian? Kau takut dia kenapa-napa bukan?”
“Dia cucumu juga ma. Seharusnya kau lebih jeli untuk hal itu.”
“Dia akan menjadi cucuku saat anakku berada di rumah ini. Sekarang ke mana dia? Bahkan batang hidungnya saja pun tak pernah kelihatan?”
“Aku sungguh lelah dengan sikapmu!”
“Pergilah! Kau kira aku juga senang hidup satu atap dengan menantu tidak berguna sepertimu?”
Apa?
Apa katanya?
Dia mengusirku? Aku tidak berguna?
Hei apa-apaan ini!
Kepalaku rasanya ingin meledak. Aku terdiam seraya mencerna kata demi kata yang barusan ia layangkan. Bagaimana mungkin ia menganggap bahwa aku adalah seorang menantu yang tidak berguna sedangkan segala kebutuhannya aku yang memenuhi? Bagaimana mungkin juga ia sanggup mengusirku sedangkan ada cucunya yang harus ikut menderita bila aku tidak memiliki tempat tinggal. Dan bagaimana bisa ia menganggap bahwa Pricilia akan menjadi cucunya bila hanya ada anak kandungnya di rumah ini? Lalu bagaimana jika aku juga akan menganggap ia sebagai menantu dan memenuhi kebutuhannya apabila hanya ada suamiku saja di sini? Ah bisa mati berdiri dia! Di mana akal wanita renta ini? Apa ada setan baru lagi yang berhasil masuk ke dalam jiwanya?
Ah tidak-tidak. Bagaimana pun perlakuan singa betina ini terhadapaku aku harus tetap berada di rumah ini hingga Tuhan mengambil nyawaku. Aku tidak boleh pergi, aku tidak boleh meninggalkan segala kenanganku bersama Hero di rumah ini. Tidak! Jangan sampai hal itu terjadi. Lebih baik aku mengalah saja.
“Kau sudah paham tugasmu sebagai ibu dan menantu bukan? Sekarang masakkan supku karena aku sudah sangat lapar.” Singa betina itu melanjutkan kata-katanya setelah sebelumnya membiarkan aku membeku atas ucapannya. Aku memperhatikan setiap gerak gerik badan bengkoknya itu, tangannya meraih radio dan mematikannya kemudian beranjak menuju ruang tengah.
“Aku sudah membelikannya untukmu. Supnya ada di meja itu.” Aku membidik sebuah meja persegi panjang dengan jari telunjuk.
Objek yang sedang diajak bicara pun mangambil langkah ke arah yang dituju. Ia meraih plastik hitam yang di dalamnya terdapat sup ayam siap makan.
Entah kesalahan apa yang baginya kuperbuat lagi, ia kembali menatapku tajam. Tersirat ledakan umpatan yang akan menyembur dari bibirnya yang mulai lisuh itu.
“Hei menantu bodoh! Apa kau tak mendengar apa yang kukatakan?”
“Apa lagi ma? Aku sudah menjalankan semua perintahmu.”
“Aku ingin sup yang dimasak oleh tanganmu sendiri, bukan seperti ini!”
Hal yang mengejutkan terjadi. Dengan gamblangnya wanita tua tersebut mengambil kemudian mencampakkan sup tersebut hingga terberai lah semua isinya di atas lantai. Aku yang menyaksikan pemandangan menjijikkan tersebut sontak mendelik dan terkejut bukan main.
Benar-benar jahannam nenek reot ini. Aku sudah lelah mencari sup ayam itu untuknya bahkan mengahbiskan uangku satu-satunya. Dan dia! Dengan gampangnya ia membuang sup itu hingga tercecer di permukaan lantai dan tak bisa lagi untuk dimakan. Aaaaaaaa! Aku benar-benar meledak!
“Aku sudah menuruti semua permintaanmu. Aku sudah mencarikan sup ayam itu untuk kau makan meskipun uangku telah habis tak bersisa. Dan kau dengan tega membuang itu semua? Apa kau masih pantas dikatakan sebagai seorang manusia ma?” Jantungku terpompa tiga kali lebih kencang. Bulir-bulir air bening keluar dari pelupuk mataku dan mulai merembet membanjiri pipi. Aku kecewa! Aku igin marah! Aku ingin sekali merobek-robek tubuhnya yang keriput itu lalu kubuang ke bibir sungai!
“Kau dapat dikatakan menuruti permintaanku apabila sup ayam itu kau masak, bukan kau beli.”
“Aku sudah tidak memiliki uang lagi untuk membeli bahan-bahannya. Bukannya kau tahu bahwa uangku sudah habis untuk membayar kontrakan rumah ini tadi?”
“Katamu aku bekerja di dua tempat. Seharusnya kau memiliki uang yang banyak.”
Ya Tuhan.
Mengapa sulit sekali rasanya jalan hidup yang kau beri untukku? Pernah melakukan dosa apa aku hingga untuk nernapas lega pun sudah tak kau izinkan.
Kemana kehidupanku yang dulu?
Kemana kesenangan yang pernah kurasakan bersama keluarga kecilku?
Kenapa kau cabut dan memberi aku penderitaan yang begini hebatnya?
Aku tersiksa Tuhan.
Apa kau mendengarku?
Aku menatap wajah wanita itu lekat-lekat, mencari titik kelembutan dari sorot matanya yang mulai sayu. Nihil! Sama sekali aku tidak menemukan apa yang kucari. Mungkin perempuan ini telah ditakdirkan Sang Ilahi untuk menguji kesabaranku sebagai seorang hamba.
“Kau pergilah dan beli bahan-bahan sup ayam untukku!”
Apa!
Setelah ia membuang sup yang telah kuberi, setelah ia tahu bahwa tidak ada lagi uang yang tersisa dirumah ini untuk dibelanjakan lalu dengan entengnya ia menyuruhku untuk membeli semua bahan-bahan sup demi memuaskan perutnya yang sejengkal itu?
Oh Tuhan, sudahlah. Bunuh saja diriku ini.
...***...
Bersambung
Jan sampe dah dapat mertua kaya begitu kikikik🤣
Ikuti terus cerita aku yaa
Comment, like & vote
Semoga kalian sehat selalu 🤗
masukin pavorit ah...biar tak lupa...
namax yg hero kok dibenci amat ?