NovelToon NovelToon
Anak Suamiku

Anak Suamiku

Status: tamat
Genre:Romantis / Contest / Tamat
Popularitas:6M
Nilai: 5
Nama Author: Nara

Safira menyayangi Zaini, bocah manis berumur 4 tahun. Pipi tembem dari bocah yang terlantar akibat orang tuanya bercerai itu selalu Safira rindukan.

Safira pikir Zaini akan bersama dia selamanya, tapi tiba-tiba ayah kandung Zaini mengambil bocah malang itu. Membuat mental Zaini terguncang. Satu-satunya cara supaya Zaini bisa kembali normal adalah memiliki keluarga lengkap.

Pada akhirnya Safira dan Ashqar terpaksa menikah demi kesembuhan mental Zaini, akankah pernikahan itu akan menjadi obat ataukah racun untuk kehidupan mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Alasan

“Jadi nama kalian siapa?” Safira menuangkan cola ke gelas Alvin dan Zaini.

“Tadi ‘kan aku udah kasih tahu namaku, Tante lupa?”

 Safira menghembuskan napas perlahan. Menghadapi Alvin  sangat menguji kesabarannya. “Coba kenalan yang benar, ya? Namaku Safira, kalau kalian siapa namanya?”

 “Nama aku Alvino, tapi panggil aja Alvin. kalau ini Zaini, dipanggilnya Zain,” ucap Alvin menerangkan.

 Safira memperhatikan bagaimana Zaini langsung tertunduk begitu ia melihat wajah anak itu. “Alvin, Zain, aku mau tanya boleh?”

Alvin menatap Safira ragu, tapi akhirnya mengizinkan Safira. “Tapi tanyanya sama aku aja.”

 Safira mengerutkan kening. “Kenapa?”

 “Soalnya Zain pemalu.”

 Safira semakin heran, apa hubungannya kedua hal itu? Tapi dia tidak ingin ambil pusing. “Jadi, kenapa kalian bisa ada di alun-alun sampai larut malam?”

 Alin tidak langsung menjawab. Anak itu terlihat kebingungan merangkai kata yang tepat. “Eum … kita lagi cari

mamahnya Zain.”

Safira berkedip. Mendadak kepalanya menjadi pusing. “Mamahnya Zain? Itu artinya mereka bukan saudara kandung?” batin Safira menerka-nerka. “Memangnya mamahnya Zain ke mana?”

 Alvin melirik Zaini yang hanya diam menunduk, lalu menaikan wajah menatap Safira. “Katanya kerja di alun-alun.”

 “Terus kamu tahu di mana tempat kerjanya?”

 “Nggak.”

 Safira menepuk jidat, jika bisa ia mungkin akan membenturkan kepalanya ke tembok mendengar jawaban polos Alvin. Mereka entah dari mana, hanya berdua tanpa pengawasan orang tua dan mencari orang dewasa di tempat yang bahakan tidak diketahui. Kenakalan macam apa yang sebenarnya tengah ia hadapi?

 Menahan rasa gemasnya, Safira menanyakan hal lain. “Terus, orang tua kamu di mana? Memangnya mereka nggak tahu kalau kamu pergi berdua sama Zain? Mereka pasti khawatir.”

“Nggak. Mereka nggak akan khawatir, Tante,” jawab Alvin mantap.

 Dengan gemas Safira mengacak-acak rambut Alvin, walaupun ingin sekali rasanya menjitak bocah itu. “Orang tua kamu pasti khawatir, bocah.”

 “Ih! Tante!” Alvin menepis tangan Safira lalu menatapnya sebal. “Tante sok tahu!”

 “Apa?” Safira terlihat tidak ingin mengalah dalam berdebat dengan Alvin. Namun, ketika Alvin mengatakan alasannya, Safira seketika kehilangan suara.

 “Orang tuaku udah meninggal,” ucap Alvin tenang, membenahi rambut ikalnya yang berantakan. “Jadi mereka nggak mungkin khawatir.”

 Dada Safira berdesir, hatinya mencelos mendengar penuturan Alvin yang terdengar enteng. Seakan-akan mengatakan orang tuanya telah meninggal sama seperti mengatakan berapa usianya atau memberitahu apa saja makanan kesukaannya. Dan Safira pikir anak itu berasal dari keluarga yang lengkap dan keluarganya tidak mengetahui tingkah Alvin.

 Safira berdeham demi menghilangkan kecanggungan. “Kalau Zain? Kenapa cari mamah? Papahnya Zain kemana?”

Zaini mengangkat kepala sebentar lalu kembali menunduk dan bungkam. Hal itu membuat Safira bingung, lalu ia melirik ke arah Alvin.

 “Kata Zain, mamahnya dia hilang. Kalau pa—”

 “Mamah udah ketemu, Mas,” sergah Zain. “Itu mamahnya Zain.” Tunjuk Zaini pada Safira.

 Safira berkedip, bingung. Anak ini bener-bener berpikir bahwa Safira adalah mamahnya?

 “Zain, tante ini bukan mamahnya Zain,” terang Safira.

 Zaini mengerutkan kening, menatap Safira lekat. “Kenapa mamah bukan mamah?”

 Safira memjamkan mata, menghirup napas dalam-dalam dan mengeluarkannya perlahan. Pertanyaan polos Zaini benar-benar mengusik ketenangannya. Bagaimana bisa anak itu mengira jika ia adalah mamahnya? Apakah Safira semirip itu dengan wanita yang telah melahirkan Zaini?

♪♫•*¨*•.¸¸❤¸¸.•*¨*•♫♪

 

Safira menghampiri tempat tidur lalu menatap tubuh mungil Alvin dan Zaini, senyum tipisnya terselip getir. Safira menjulurkan tangannya, mengusap surai ikal Alvin dan rambut halus Zaini yang tengah tertidur bergantian.

 “Yang kuat, ya, kalian.”

Walaupun benak Safira masih berjejalan banyak pertanyaan, tapi ia tidak cukup tega untuk mengorek informasi dari Alvin dan Zaini. Setidaknya ia harus melakukannya perlahan-lahan demi menjaga perasaan kedua anak itu.

 Pandangan Safira beralih pada Zaini yang tidur di samping Alvin dengan posisi mendekap guling menghadap Alvin. Safira sedikit mencodongkan tubuhnya melewati tubuh Alvin agar bisa menyelimuti Zaini. Namun, baru saja Safira menaikan selimut, Zaini tiba-tiba menepis selimut itu. Safira kembali mencoba menaikan selimut dan kali ini anak itu menendang selimut yang membungkus tubuhnya.

 “Persis seperti anak kucing.” Safira menggerutu dan membiarkan Zaini tidur tanpa selimut.

 Setelah urusannya dengan Alvin dan Zain selesai, Safira langsung beranjak dari kamar dan kembali ke ruang tamu, bercumbu dengan karpet tipis dan televisi yang masih menyala tanpa suara.

Safira menaikan volume televisi sembari menandaskan teh lemon yang sudah terasa jauh lebih dingin dari pertama kali ia buat. Pukul menunjukan 02.37 dan acara televisi berganti dari berita malam menjadi tajuk olahraga.

 Safira merasa heran, siapa pula yang mau menonton berita seputar olahraga pada dini hari seperti ini. Kalau bukan karena tidak bisa tidur, Safira pun enggan untuk membuka mata hanya untuk menonton laporan yang sudah disiarkan di hari sebelumnya.

1
365 degree channel
bagus masi jadi favorit
Massunamiyatha
jangan kata nanti si zain bukan anak kandung asqar, kayak dinovel2 yg laen...
Massunamiyatha
nah betolkan blm selesai kasus penculikan skrg datang kasus baru rebutan hak asuh kasian jiwa alvin sm zain.....
Massunamiyatha
aduh mulai puyeng bc novel ni dah kayak sinetron ditv2 alurnya kemana2
Massunamiyatha
waaaahhh ternyata vera polisi intel ya....mantappppp seru ni kisa rafa sm vera ni
Massunamiyatha
terus aja nasib alvin dama zian kenabculik ntar lagi diculik ama nita kan thor.....
Massunamiyatha
kok alvin sm zain tak lepas dr penculikan ya....kapan bahagianya kasian mereka b2 blm sembuh trauma dah kena lagi
Massunamiyatha
baru mampir thor....
Indriyani
baik
Badardi Badardi76
mungkin safira sdh menyerah kan kesucian nya pada kekasih nya waktu masih remaja..
Sulati Cus
entah mengapa para suami jk klh debat sm istri jln satu2nya y di bungkam 😂
Sulati Cus
kita senasib ternyata Fi
Sulati Cus
g akan berpikiran sama klu mereka jg mengalami apa yg pernah km alami
Uti Gaol
lanjuut baru baca tp kayaknya seru thor
Bunga Dwi Femina
kenapa?? ya ngapain bertahan ama perempuan kek gitu..mengerikan..
Bunga Dwi Femina
kecewa sari gak dipenjara..enak bener
Bunga Dwi Femina
pak edi klo masih bertahan ama lampir sari keterlaluan... perempuan kayak gini yg mengerikan..diam2 bikin tenggelam
Bunga Dwi Femina
sekarang ketauan kenapa maya bisa gitu... induknya aja begitu modelannya 🤣
Bunga Dwi Femina
memaafkan bukan berarti melupakan.. ibu tirinya bicara seolah2 paling mengerti.. cobain dulu diposisi shafira..dilupakan..diabaikan bertahun2..
Bunga Dwi Femina
untung ada alvin
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!