"Mulai dari sekarang kamu adalah putraku, kamu yang akan menduduki tahta naga. Gantikan posisi kaisar, injaklah keparat itu."
Sang permaisuri berbisik sembari tersenyum, menatap ke arah seorang pangeran kecil berpakaian lusuh di istana terbuang.
Lin Krisan, merupakan putri tunggal dari jendral yang berkuasa. Diangkat menjadi permaisuri, setelah mendukung suaminya dari status pangeran hingga menjadi kaisar.
Namun, kasih sayang tidak didapatkannya. Kaisar lebih menyayangi para selirnya. Hingga pada akhirnya permaisuri Lin meninggal di istana dingin, setelah diracuni oleh kaisar.
Wanita yang terlahir kembali, kembali mengulangi waktu.
"Aku tidak akan berusaha merebut cintamu lagi. Tapi aku akan merebut tahtamu."
Menjadikan istana bagaikan papan catur, melucuti kekuasaan kaisar pengkhianat. Menjadikan putranya yang manis sebagai kaisar baru.
Tapi lebih dari itu, mata perdana menteri mengawasinya...atau menginginkannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon KOHAPU, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Memotong
Begitu banyak hidangan yang terlihat di atas meja. Daging ayam panggang, daging babi, daging sapi, bahkan udang, semuanya dimasak dengan begitu sempurna oleh koki kerajaan.
Anak kecil yang menelan ludahnya berkali-kali. Bahkan sayurannya pun terlihat begitu enak. Namun anak itu, hanya meremas pakaian lusuh yang dikenakan olehnya. Bagaikan ketakutan dan ragu untuk mengambilnya.
“Kamu adalah pangeran kelima. Makanlah yang banyak, jangan pernah ragu dan jangan pernah membuatku malu.” Anak itu bergerak dengan cepat, tangannya yang kotor meraih paha daging ayam. Mulutnya masih penuh, tapi di jejali makanan yang lain olehnya.
“Yang mulia, anak ini sama sekali tidak tahu etika makan.” Sang dayang berbisik.
Tapi anehnya sang permaisuri hanya tersenyum.”Dia adalah putraku. Dia adalah peraturan, dia adalah etikanya. Putra dari seorang permaisuri, sekaligus cucu dari Jenderal Lin, siapa yang akan berani menceramahinya?”
“Tapi—” kalimat sang dayang disela.
“Etika makan bisa dipelajari pelan-pelan olehnya. Tidakkah kamu begitu bahagia, melihat anak kecil kurus ini makan begitu lahap. Jika kamu menasehatinya sekarang tentang etika makan, maka dia akan berhenti mengunyah, dan hanya makan sedikit. Putraku harus menjadi anak yang kuat.” Kalimat yang diucapkan oleh sang permaisuri kepada dayangnya.
Sedangkan sang dayang hanya dapat menghela nafas.
Hingga anak itu tersedak. Sang permaisuri mendekat, memeluknya dari belakang, kemudian sedikit menekan dadanya, lebih tepatnya menariknya berkali-kali. Hingga pada akhirnya tulang ikan yang tersangkut keluar dari mulut anak itu.
“Maafkan hamba yang mulia permaisuri.” Sang anak menunduk ketakutan, karena mengira dirinya berbuat tidak pantas.
Tentu saja rumor tentang sang permaisuri sudah masuk ke dalam telinganya. Di dalam khayalannya, permaisuri adalah sosok penyihir yang begitu kejam. Orang yang bahkan bisa menampar para selir. Wanita yang paling kejam dan ditakuti di istana belakang.
Tapi, wanita itu malah mengusap kepalanya. Wajah pangeran kelima memerah. Anak berusia 5 tahun itu selalu iri melihat pangeran-pangeran lain begitu disayangi oleh ibu dan pengasuhnya. Perlakuannya sama seperti ini, mengusap kepalanya pelan.
Bagaikan seorang ibu yang tidak pernah dimiliki olehnya.
“Lain kali makan perlahan. Makan terlalu cepat, dapat membuatmu tersedak dan mati. Kalau kamu tidak ada, siapa yang akan menjaga Ibu nanti…” kata-kata nan lembut dari sang permaisuri.
Membuat anak kecil itu tertegun, matanya bagaikan mengeluarkan kilapan cahaya. Begitu manis dan lembut. Imajinasi tentang wanita jahat yang mirip dengan penyihir lenyap seketika.
“Bolehkah aku memanggil yang mulia permaisuri—” kalimat penuh harap dari anak itu disela.
“Mulai sekarang panggil aku ibu, Aku adalah ibu mulai saat ini. Dan kamu adalah satu-satunya pangeran yang dimiliki oleh istana Phoenix. Satu hal yang harus kamu ingat, kamu memiliki status yang lebih tinggi daripada pangeran-pangeran lainnya. Kamu adalah putra tunggal permaisuri, sekaligus cucu tunggal dari Jenderal agung Lin….ha…haa…ha…” suara tawa jahat permaisuri terdengar.
Anak itu mengerutkan keningnya, kemudian ikut tertawa. Tentu saja seorang anak harus mengikuti ibunya. Seperti apa yang dilakukan oleh pangeran lain, selalu mengikuti ibu.”Ha…ha…ha…ha…” anak sekecil itu ikut tertawa jahat.
Wajahnya yang imut dan baik hati, malah dirubah seperti ini oleh ibu angkatnya. Atau kita sebut saja ibu tiri. Entahlah, yang jelas permaisuri sudah cukup puas dengan anak ini.
“Sekarang saatnya anak ibu untuk mandi. Bersihkan dirimu dan ganti pakaian. Nanti kita akan keluar istana untuk membeli mainan. Juga membeli peralatan untuk belajar.” itulah yang diucapkan oleh sang permaisuri kepada putranya.
Anak yang terlihat mengangguk begitu bahagia. Memeluk sang permaisuri begitu erat.
Sedangkan sang dayang begitu ketakutan. Jubah Phoenix milik permaisuri yang begitu glamour, malah dikotori oleh anak ini. Dengan pakaian begitu rusuh.
“Anak Ibu memang paling pintar. Saat besar nanti kamu harus berbakti kepada ibu, mengerti?” Permaisuri malah membalas pelukannya.
Sedangkan Riri, sang dayang hanya dapat menghela nafasnya. Setidaknya permaisuri bukan tipikal ibu yang buruk. Dirinya pada awalnya mengira anak ini hanya akan menjadi mainannya saja.
“Riri! Cepat atur dayang untuk melayani putraku mandi. Kemudian siapkan pakaian sutra untuknya. Harus sutra yang terbaik, hiasan rambut juga, pernahkah kamu melihat hiasan rambut seorang pangeran seperti ini?” Wanita yang menatap tajam kepada dayangnya.
Riri segera bergerak dengan cepat, memerintahkan sebagian dayang untuk menyiapkan pakaian. Sebagian lagi untuk menyiapkan bak mandi.
“Nah sekarang…ikuti Kak dayang ya?” Anak itu benar-benar penurut, meraih bunga yang ada di atas vas. Kemudian memberikannya kepada permaisuri. Lebih tepatnya menyelipkannya di telinganya.
“Terima kasih yang mulia…ibu…” kalimat dari anak itu penuh senyuman.
Benar-benar manis menggetarkan hati. Inilah rasanya punya anak. Inilah rasanya memiliki harapan untuk hidup yang lebih baik. Inilah rasanya memiliki harapan untuk menginjak Kaisar di bawah telapak kakinya suatu hari nanti.
Anak yang kemudian pergi dibimbing oleh dayang.
“Yang mulia, jubah Anda begitu kotor.” Riri menghela nafasnya.
“Ada hal yang harus dipelajari dalam mendidik anak. Bagaimana caranya merebut simpatinya. Setelah merebut simpatinya, baru didik pelan-pelan. Untuk membenci ayahnya…ha…ha…ha .. ha …” permaisuri kembali tertawa jahat.
Sedangkan sang dayang hanya dapat menghela nafas kasar.
“Kirimkan surat kepada kediaman jenderal. Gunakan titah yang diberikan oleh kaisar anjing itu, untuk mengangkat pangeran kelima sebagai anak sahku. Dan minta juga Ayah, agar mengirimkan berbagai perhiasan dan mainan untuk pangeran kelima. Sebarkan berita, tentang pengangkatan pangeran kelima sebagai putraku. Kirimkan juga beberapa bingkisan kepada keluarga beberapa keluarga bangsawan besar, katakan sebagai syukuran karena aku telah memiliki putra saat ini. Aku ingin putraku mendapatkan dukungan dari para bangsawan.” Itulah yang diucapkan oleh sang permaisuri, meraih kue bunga kemudian memakannya.
Wajahnya tersenyum, Kaisar boleh saja menduduki tahta naga. Itu karena dukungan dari keluarga Lin dan darah naga yang ada di tubuhnya. Tapi, ketika keluarga Lin berpihak kepada orang lainnya yang memiliki darah naga. Bagaimana Kaisar akan bertahan, di tengah tekanan dan kekacauan politik. Yang akan segera diciptakan olehnya.
“Baik yang mulia?” Sang dayang menunduk memberi hormat. Sama sekali tidak mengerti dengan keputusan permaisuri.
***
Permaisuri yang telah mengganti pakaiannya, tengah duduk seorang diri, menatap ke arah berkas-berkas pengaturan kas dari istana selir. Benar! Dirinyalah sebagai pemegang stempel Phoenix, memiliki kekuasaan untuk mengatur pengeluaran para selir.
Wanita yang mengerutkan keningnya, bahkan pengeluaran selir biasa setara dengan istana Phoenix.”Tidak boleh! Sama sekali tidak boleh!”
Sang permaisuri segera memperbaikinya. Sekarang dirinya memiliki seorang putra, anggarannya juga harus ditambah.
“Anggaran untuk selir Wen harus dipangkas habis…cukup dengan 25 tael perak.”
“Anggaran untuk istana selir agung…wanita gila itu, cukup 10 tael perak.”
Tawa sang permaisuri terdengar ketika mengutak-atik pembekuan. Selama ini dirinya berpikir, jika mengikuti selera kaisar yang mengatakan menyukai wanita yang sederhana. Menyukai wanita yang berhemat, maka sang Kaisar akan mencintainya. Karena itu dirinya mengizinkan anggaran istana selir lebih tinggi daripada istana Phoenix.
Tapi malah berakhir seperti ini.
“Dan anggaran untuk istana Phoenix 1000 tael emas…” lagi-lagi wanita itu tertawa sembari mengutak-atik pembekuan.
Hingga, Riri tiba-tiba memasuki tempatnya.”Yang mulia permaisuri, ada masalah…”
kalau Indomie baru selera ku🤭🤣🤣
🤣🤣🤣