kisah seorang wanita yang berusaha melupakan mantannya yang mengkhianati kepercayaan.
diperjalanan menemukan jati diri dan kehidupan baru
sebuah kisah cinta yang manis namun penuh komedi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irma Nirmala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
18
...****************...
Sinar matahari pagi menyelimuti Singapura dengan langit yang cerah. Di lobi hotel, Evelyn sudah berdiri lebih dulu sambil memegang tablet berisi jadwal kunjungan hari itu. Ia mengenakan setelan blazer krem dengan celana panjang putih yang membuat penampilannya terlihat elegan sekaligus profesional.
Beberapa menit kemudian, Arseno keluar dari lift bersama Kosta.
"Pagi," sapa Arseno singkat.
Evelyn menoleh sambil tersenyum tipis.
"Pagi. Hebat juga, hari ini kau tidak terlambat."
Arseno mengangkat sebelah alis.
"Aku memang tidak pernah terlambat."
"Hanya datang tepat waktu dengan wajah yang masih mengantuk."
"Aku tidak mengantuk."
"Kau baru minum kopi, kan?"
"Sudah dua cangkir."
Evelyn terkekeh.
"Nah, itu buktinya."
Kosta menggeleng pelan sambil berbisik kepada Naomi.
"Kalau dulu Pak Arseno ditanya seperti itu, orangnya sudah kena tatap dingin."
Naomi tersenyum.
"Sekarang beliau malah melayani."
"Perubahan yang mengerikan."
"Kau bilang mengerikan?"
"Eh... maksud saya... mengejutkan."
Naomi tertawa pelan.
Mobil membawa mereka menuju kawasan bisnis tempat proyek pertama akan dibangun.
Seorang arsitek lokal menyambut mereka.
"Selamat datang, Tuan Andreas, Nona Hills. Saya Benjamin Tan."
Arseno menjabat tangannya.
"Terima kasih sudah meluangkan waktu."
Benjamin kemudian menunjukkan maket proyek.
"Di lahan ini akan dibangun pusat teknologi terpadu. Lokasinya strategis karena dekat pelabuhan dan kawasan finansial."
Evelyn memperhatikan setiap detail.
"Bagaimana dengan akses transportasi umum?"
"Kami sedang menambah jalur pejalan kaki dan akses MRT."
"Bagus," jawab Evelyn.
Arseno menambahkan beberapa pertanyaan mengenai biaya operasional dan jadwal pembangunan.
Diskusi berlangsung hampir satu jam.
Benjamin tampak puas melihat kekompakan keduanya.
"Saya bisa melihat kenapa investor begitu percaya kepada kalian."
Evelyn tersenyum sopan.
"Kami hanya berusaha mengambil keputusan terbaik."
Setelah kunjungan selesai, mereka berjalan keluar menuju taman kecil di sekitar kawasan tersebut.
Angin sepoi-sepoi bertiup pelan.
Evelyn berhenti sejenak di dekat kolam.
"Tempatnya nyaman."
Arseno ikut berhenti.
"Kau suka taman?"
"Aku suka tempat yang tenang."
"Kukira kau lebih suka restoran."
Evelyn langsung melotot.
"Kau tidak akan berhenti mengungkit soal makan?"
"Itu salah satu cirimu."
"Itu namanya menikmati hidup."
"Kalau porsimu sedikit lebih kecil, mungkin aku percaya."
Evelyn menyilangkan tangan.
"Baiklah. Siapa kemarin yang diam-diam menghabiskan dua potong cheesecake setelah makan malam?"
Arseno terdiam.
Naomi menoleh cepat kepada Kosta.
"Pak Arseno makan dua cheesecake?"
Kosta mengangguk pelan.
"Saya juga baru tahu."
Evelyn tersenyum penuh kemenangan.
"Diam berarti mengaku."
"Itu karena kau memesan terlalu banyak."
"Jadi kau membantu menghabiskannya."
"Aku mengurangi pemborosan."
Evelyn tertawa.
"Alasanmu juga kreatif."
Menjelang siang, rombongan menuju pusat kuliner terkenal untuk makan siang sebelum melanjutkan agenda.
Begitu duduk, Evelyn langsung membuka buku menu.
"Aku mau nasi ayam Hainan, dim sum, laksa..."
Arseno menatapnya.
"Kau yakin hanya kita berempat?"
Evelyn pura-pura berpikir.
"Benar juga..."
Arseno mengangguk puas.
"...kalau begitu tambah chili crab."
Arseno menutup wajahnya dengan telapak tangan.
"Kau memang tidak bisa diselamatkan."
Naomi dan Kosta tak lagi mampu menahan tawa.
Di tengah makan siang, ponsel Evelyn berdering.
Nama yang muncul membuatnya tersenyum.
"Nora."
Arseno menyandarkan tubuhnya.
"Sahabatmu yang cerewet itu?"
"Cerewet sekali."
Evelyn mengangkat panggilan menggunakan pengeras suara.
"Halo?"
"EVEEEEELYN!"
Suara Nora langsung memenuhi meja restoran.
"Singapura bagaimana? Sudah ketemu pria tampan belum?"
Evelyn memejamkan mata.
"Nora..."
"Apa? Aku hanya bertanya."
"Aku sedang makan."
"Dengan siapa?"
Evelyn melirik Arseno.
"Dengan partner bisnis."
Nora langsung menggoda.
"Partner bisnis atau partner hidup masa depan?"
Arseno yang sedang minum air hampir tersedak, kali ini bukan karena kopi.
Evelyn buru-buru mematikan pengeras suara.
"Nora! Mulutmu!"
Terdengar tawa Nora dari seberang telepon.
"Baiklah, baiklah. Nanti cerita ya!"
Telepon ditutup.
Meja mendadak hening.
Arseno tersenyum tipis.
"Sahabatmu memang... unik."
Evelyn menghela napas panjang.
"Setiap hari seperti itu."
"Aku mulai mengerti kenapa kau bilang dia cerewet."
"Bahkan itu masih versi hemat."
Sore harinya, mereka kembali mengunjungi lokasi kedua.
Tanpa mereka sadari, sebuah mobil hitam berhenti tidak jauh dari lokasi.
Seorang pria berkacamata hitam memperhatikan mereka melalui kamera beresolusi tinggi.
"Hubungan mereka semakin dekat."
Pria di kursi belakang bertanya pelan,
"Yakin?"
"Lihat sendiri."
Ia memperlihatkan hasil foto.
Dalam salah satu foto, Arseno dan Evelyn sedang tertawa karena sesuatu yang dikatakan Evelyn.
Foto lain memperlihatkan mereka berdiskusi sambil berdiri sangat dekat di depan maket proyek.
Pria itu tersenyum tipis.
"Menarik."
"Apa langkah selanjutnya, Tuan?"
"Belum."
Ia menutup map berisi foto-foto itu.
"Biarkan mereka merasa semuanya berjalan lancar."
"Semakin mereka lengah..."
"...semakin mudah menjatuhkan mereka."
Mobil hitam itu pun perlahan meninggalkan lokasi.
Sementara di sisi lain, Arseno dan Evelyn sama sekali tidak menyadari bahwa setiap langkah mereka sedang diawasi.
Mereka justru masih sibuk berdebat kecil.
"Aku tetap yakin cheesecake kemarin enak."
"Itu bukan topik rapat."
"Tapi penting."
"Bagi perutmu, mungkin."
"Tidak, bagi persahabatan kita."
Arseno terkekeh pelan.
"Kita belum sampai tahap persahabatan."
Evelyn tersenyum jahil.
"Kalau begitu... rekan bisnis yang suka menghabiskan cheesecake bersama?"
Arseno menggeleng sambil tersenyum tipis.
"Itu lebih aneh."
Empat orang itu pun melanjutkan langkah menuju mobil.
Tidak ada yang tahu...
Bahwa bahaya yang mengintai mereka kini semakin dekat, dan lawan bisnis mereka sedang menyiapkan rencana yang dapat mengguncang bukan hanya proyek miliaran rupiah itu, tetapi juga nama baik kedua perusahaan.
...****************...