Demi membalas budi kepada orang tua angkat yang membesarkannya, Eros Forger, CEO muda sukses, rela menerima perjodohan meski sudah memiliki kekasih yang dicintainya, Lura.
Ternyata, calon istrinya adalah Zenaya Harper, supermodel internasional yang cantik, mempesona, dan berhati tulus.
Awalnya Eros berusaha setia pada Lura, tetapi kebersamaannya dengan Zenaya perlahan menggoyahkan hatinya. Akankah ia tetap bertahan pada cinta pertamanya, atau justru jatuh cinta pada wanita yang semula tak pernah ia inginkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lalalicious, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KABAR YANG TERLAMBAT
Malam perlahan menyelimuti kota Sydney dengan udara dinginnya yang menusuk.
Gemerlap lampu kota terlihat dari balik jendela apartemen mewah yang berdiri di tengah pusat kota.
Eros baru saja menginjakkan kakinya di apartemen pribadi miliknya. Tempat itu sengaja ia beli hanya untuk digunakan ketika dirinya berkunjung ke Sydney, terutama saat ingin menemui Lura.
Apartemen tersebut memiliki desain yang elegan dengan interior modern yang mencerminkan kemewahan dan selera pria itu.
Dengan langkah lelah, Eros menjatuhkan tubuhnya ke sofa empuk di ruang tengah.
Ia menyandarkan kepalanya sambil mengembuskan napas panjang.
Seharian penuh ia menghabiskan waktunya di rumah sakit bersama Lura. Ia mendengarkan segala keluh kesah wanita itu, menemaninya, sekaligus meluapkan rasa rindunya yang selama ini ia pendam.
Namun, ketika tubuhnya mulai merasa sedikit lebih tenang, sebuah pikiran tiba-tiba menghantam dirinya.
Zenaya.
Mata Eros langsung terbuka lebar. Ia baru menyadari bahwa sejak tiba di Sydney, dirinya sama sekali belum memberikan kabar kepada istrinya itu.
Bahkan sepanjang hari ini, ia begitu tenggelam dalam pertemuannya bersama Lura hingga melupakan bahwa kini ada seseorang yang menunggunya di rumah.
Rasa bersalah perlahan memenuhi hatinya.
"Bagaimana bisa aku melupakannya..." gumam Eros pelan.
Dengan gerakan sedikit terburu-buru, ia segera mengambil ponselnya. Jemarinya langsung mencari nama Zenaya di daftar kontak, lalu tanpa menunggu lebih lama ia menekan tombol panggilan.
Beberapa detik terasa begitu panjang bagi Eros hingga akhirnya terdengar suara lembut yang sangat ia kenal dari seberang telepon.
"Halo?"
Suara Zenaya membuat dada Eros terasa semakin sesak. Ia merasa bersalah karena wanita itu masih bisa menjawabnya dengan lembut meskipun dirinya telah membuatnya khawatir.
"Zenaya, maafkan aku. Aku baru sempat menghubungimu," ucap Eros dengan suara rendah.
"Aku terlalu sibuk dengan pekerjaan di sini, jadi tidak sempat memberikan kabar."
Sebuah kebohongan kecil keluar dari bibirnya. Padahal alasan sebenarnya bukan hanya pekerjaan, melainkan karena waktunya lebih banyak ia habiskan untuk menemani Lura.
Namun, ia tidak sanggup mengatakan hal itu kepada Zenaya.
Syukurlah kalau kau baik-baik saja. Lain kali kabari aku, ya. Aku benar-benar khawatir,
Jawab Zenaya dengan suara penuh perhatian.
Mendengar ucapan itu, jantung Eros berdegup semakin kencang.
Perhatian sederhana dari wanita itu justru membuat rasa bersalahnya semakin besar. Zenaya tidak marah, tidak menuntut, bahkan masih mengkhawatirkan dirinya meskipun ia telah lalai sebagai seorang suami.
"Oh iya, bagaimana kabarmu hari ini?" tanya Eros, berusaha mengalihkan pikirannya.
"Hariku berjalan lancar", jawab Zenaya pelan.
"Sebenarnya ada sesuatu yang ingin aku bicarakan denganmu."
Eros sedikit mengernyit penasaran.
"Bicaralah."
Namun, Zenaya terdiam sejenak sebelum akhirnya menjawab.
"Nanti saja kalau kau sudah pulang. Aku merasa tidak enak membicarakannya lewat telepon."
Eros menghela napas kecil.
"Baiklah. Kalau begitu tunggu aku pulang. Setelah pekerjaanku selesai, aku akan langsung kembali."
Mendengar ucapan itu, senyum kecil terukir di wajah Zenaya. Entah mengapa, kalimat sederhana itu mampu membuat hatinya terasa lebih tenang.
"Baik. Istirahatlah, kau pasti lelah," ucap Zenaya penuh perhatian.
"Kau juga. Jangan terlalu memaksakan diri menjadi seorang model. Kau harus menjaga kesehatan dan beristirahat," balas Eros.
Perhatian dari Eros membuat hati Zenaya terasa hangat.
Kegelisahan yang sejak siang menghantuinya perlahan mulai mereda.
Malam itu, meskipun mereka berada di tempat yang berbeda, keduanya akhirnya merasa sedikit lebih dekat setelah mendengar suara satu sama lain.
Setelah percakapan itu berakhir, Eros dan Zenaya pun memilih untuk beristirahat di tempat masing-masing.
Di luar sana, kota Sydney semakin sunyi ditemani udara malam yang begitu dingin. Namun, di balik jarak yang memisahkan mereka, ada dua hati yang perlahan mulai menyadari arti kehadiran satu sama lain.