NovelToon NovelToon
Tale Of Mumei

Tale Of Mumei

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi / Kutukan
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Liang Hou

Setelah kematian Nobunaga Oda, selir keempatnya Ogen yang sedang hamil mengasingkan diri ke tepian hutan Kurama bersama beberapa pengawalnya. Dalam pengasingan selir Nobunaga itu melahirkan anak perempuan yang kelak di beri nama Mumei.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Liang Hou, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9. Darah di Celah Ohara

"Tetap merayap dan jaga jarak. Jangan sampai gesekan kainmu terdengar oleh angin gunung."

Suara bisikan itu nyaris tak berwujud, tenggelam sepenuhnya oleh deru angin malam yang menusuk tulang di tebing utara Lembah Ohara.

Rokusuke, pemimpin unit Suppa bentukan Kuroda Kanbei, menempelkan dada dan badannya rapat-rapat pada dinding batu yang licin oleh lumut basah. Di belakangnya, sembilan belas bayangan hitam merayap satu per satu seperti kelabang raksasa yang memanjat jurang. Pakaian mereka dirancang khusus tanpa celah longgar, dilapisi kulit tipis di bagian sendi agar tidak menimbulkan bunyi desau sedikit pun saat bergerak.

Sebagai unit penyusup tingkat tinggi yang disewa dari jaringan bayangan Kansai, pasukan Suppa ini dilatih untuk satu hal: efisiensi. Namun, ada satu hal yang mengganjal di benak Rokusuke sejak mereka meninggalkan Kyoto.

Mereka tidak diberi tahu siapa sebenarnya target utama di puncak Kurama.

Perintah dari Kuroda Kanbei sangat singkat dan dingin: Tembus celah utara, racuni seluruh mata air kuil tua di puncak barat, dan bantai siapa pun yang bernapas di sana tanpa sisa. Kanbei tidak menyebutkan nama, tidak menyebutkan klan, dan tidak menjelaskan mengapa sebuah kuil terlantar di atas gunung terpencil harus dimusnahkan dengan cara sehebat ini.

Bagi Rokusuke, ketidakjelasan itu adalah racun tersendiri. Bertarung melawan musuh tanpa wajah selalu menyisakan firasat buruk. Namun, imbalan emas dalam jumlah fantastis dari tangan kanan sang Kampaku cukup untuk membungkam segala keraguan.

"Tuan," bisik seorang prajurit Suppa di sebelah Rokusuke, jemarinya mencengkeram celah batu tebing. "Tiga puluh langkah lagi kita mencapai celah puncak. Tidak ada tanda-tanda penjagaan."

Rokusuke menyipitkan matanya menembus kabut malam yang pekat. "Jangan lengah. Jika tempat ini benar-benar tidak penting, Tuan Kanbei tidak akan mengirim kita."

Rokusuke mengangkat tangannya, memberi isyarat untuk mempercepat panjatan. Namun, tepat saat kaki prajurit terdepan menyentuh bibir jurang utara, takdir mereka berbelok secara mendadak.

Cring!

Sebuah gesekan logam tipis berbunyi di udara dingin, disusul oleh suara desing halus yang amat mematikan.

Dua jarum besi beracun meluncur dari balik kegelapan semak-semak puncak tebing, menembus tepat di tenggorokan prajurit terdepan. Pria itu bahkan tidak sempat memekik; matanya mendelik, napasnya tersumbat seketika, dan tubuhnya jatuh meluncur ke dasar jurang yang gelap gulita.

"Jebakan! Ada penyergapan!" teriak Rokusuke seraya mencabut chokuto—pedang lurus khas pembunuh—dari punggungnya.

Dari balik bayangan pohon-pohon sugi yang menghijau kusam di bibir tebing, belasan sosok hitam melompat keluar. Pasukan shinobi Iga yang dipimpin oleh Tanba Momochi telah menunggu di dalam kegelapan. Tanpa aba-aba bertubi-tubi, hujan shuriken meletus menyambut pasukan Suppa yang masih bergelantungan di dinding batu.

Baja bertemu baja. Percikan api menyala singkat di tengah kegelapan malam Ohara, menerangi wajah-wajah dingin para pembunuh yang saling beradu nyawa.

"Jatuhkan mereka kembali ke dasar jurang!" seru Tanba Momochi. Pedang pendeknya bergerak bagai kilat, menebas lengan seorang prajurit Suppa yang baru saja berhasil memanjat bibir tebing.

Pertempuran sengit meletus dalam ruang yang sangat sempit. Pasukan Iga memanfaatkan keunggulan medan, menghentak para penyusup tepat saat posisi mereka paling rentan—ketika kaki mereka belum sepenuhnya menapak di tanah datar. Dua, tiga, empat prajurit Suppa tewas secara berurutan, tubuh mereka roboh dan guling-gulingan menembus semak-semak beracun di lereng jurang.

Namun, Rokusuke bukanlah petarung sembarangan. Dengan kelincahan luar biasa, ia melemparkan bom asap berisi bubuk cabai dan belerang ke arah pasukan Iga.

Bum!

Gumpalan asap tebal meredam pandangan. Asap pekat itu memicu batuk dan perih di mata para ninja Iga. Menggunakan kesempatan beberapa detik tersebut, Rokusuke bersama sisa pasukannya berhasil meloncat melompati bibir tebing dan mendarat di tanah datar.

"Formasi melingkar! Bunuh mereka semua!" jerit Rokusuke.

Situasi berbalik dengan cepat dan mengerikan.

Meskipun beberapa prajurit Suppa telah tewas di awal penyergapan, jumlah mereka yang tersisa masih jauh melampaui dugaan awal. Peta dari Biksu Tenkai memang menyebutkan dua puluh orang, namun Rokusuke ternyata membawa unit cadangan yang merayap di rute terpisah. Total penyusup yang kini mengepung posisi pasukan Iga berjumlah hampir tiga puluh orang.

Sementara itu, Tanba hanya membawa delapan shinobi veteran Iga demi menjaga kerahasiaan pergerakan agar tidak memicu kecurigaan di area lain.

"Tanba-sama! Mereka terlalu banyak!" teriak Saburo seraya menangkis sabetan ganda dari dua pembunuh Suppa. Darah segar menetes dari pundak Saburo; kimono hitamnya terkoyak basah.

"Tetap bertahan! Jangan biarkan satu pun dari mereka melewati celah ini menuju sumber air!" balas Tanba dengan suara parau. Sang veteran bertarung bagaikan harimau terluka, mengayunkan pedangnya dalam lingkaran mematikan untuk menahan gempuran musuh.

Namun, hukum angka tidak bisa dihindari. Satu per satu prajurit Iga mulai terdesak dan tumbang. Genzo, shinobi veteran yang tadi pagi berdiri di sisi timur Kurama bersama Saburo, roboh setelah dua tombak pendek menembus dadanya dari belakang. Seorang ninja Iga lainnya tewas tertancap serangkaian pisau lempar saat berusaha melindungi rute menuju puncak barat.

Dalam hitungan menit, pasukan Iga terdesak hingga ke sudut tebing mati. Hanya tersisa Tanba, Saburo, dan dua prajurit Iga yang terluka parah, dikelilingi oleh lima belas prajurit Suppa yang tersisa.

Rokusuke melangkah maju dengan pedang berdarah di tangannya, napasnya terengah-engah namun matanya memancarkan kemenangan yang dingin.

"Kalian bertarung dengan gigih, serigala-serigala Iga," kata Rokusuke, menyadari logo klan rahasia yang terukir di gagang senjata Tanba. "Jadi... klan Iga yang tersisa bersembunyi di gunung ini? Kuroda Kanbei memang benar. Tempat ini harus dibersihkan hingga ke akarnya."

Tanba menancapkan pedangnya ke tanah untuk menopang tubuhnya yang bersimbah darah. Napasnya berat, dadanya naik turun, namun tatapannya sama sekali tidak gentar. "Kau tidak tahu apa yang sedang kau sentuh, Pembunuh. Tempat ini bukan milik kalian untuk diinjak."

"Siapa pun yang kalian sembunyikan di puncak sana, hari ini mereka akan mati minum racun," Rokusuke mengangkat pedangnya tinggi-tinggi, memberi isyarat pada pasukannya untuk menghabisi sisa-sisa pasukan Iga. "Habisi mereka!"

Para pembunuh Suppa bergerak maju bersamaan, siap mengayunkan bilah besi mereka untuk mengakhiri nyawa Tanba dan Saburo.

Namun, sebelum pedang pertama sempat terayun turun, seluruh angin di Lembah Ohara mendadak berhenti berembus.

Suhu udara merosot tajam secara tidak alami. Kabut putih yang tadinya tipis mendadak menebal, berubah warna menjadi keperakan yang aneh dan pekat bagaikan susu cair. Bau amis darah yang memenuhi celah tebing seketika tertutup oleh aroma abu dupa busuk dan tanah basah perkuburan.

Kring... Kring... Kring...

Suara gemerincing gelandangan besi tua berbunyi lunak dari arah kegelapan hutan di belakang pasukan Suppa. Suara itu teramat pelan, namun getarannya sanggup membuat jangkar pedang di tangan Rokusuke bergetar hebat.

Para pembunuh Suppa menghentikan langkah mereka secara serentak. Ketakutan naluriah yang primitif mendadak mencekat tenggorokan mereka.

"Suara apa itu?" bisik salah satu pembunuh dengan nada gemetar.

Di balik kabut keperakan yang menggulung rapat, pohon-pohon sugi raksasa mulai gemetar meliuk-liuk, padahal tidak ada angin sedikit pun. Dari dalam kegelapan hutan yang paling dalam, muncul sepasang mata besar berwarna merah menyala setinggi tiga meter dari permukaan tanah—menatap lurus ke arah mereka dengan kebencian yang murni.

Tak jauh dari mata merah tersebut, bayangan sosok-sosok jangkung berparuh burung dengan sayap hitam raksasa bertengger di atas dahan-dahan pohon yang patah. Langkah-langkah kaki berat berbulu terdengar menginjak rantak kayu kering, mengurung seluruh Lembah Ohara dalam cengkeraman keangkeran yang tak terjamah oleh nalar manusia.

Yokai-yokai Gunung Kurama... telah terbangun dari tidurnya.

1
Friend_A
bagus
Xiao Qiao
ngakak tengil bnget nih bocah wkwk🤣
Liang Hou: sesuai sifat aslinya kak 😭😭
total 1 replies
Xiao Qiao
bentar banget thor pertarungannya
Liang Hou: masih agak bingung bikin pertarungan panjang lawan Yokai 🙏
total 1 replies
Xiao Qiao
hmm lumayanlah untuk fiksi sejarah, tapi politiknya terlalu kental jadi agak susah dicerna
Liang Hou: thanks udah baca
total 1 replies
Liang Hou
🤏
penajalanan_
gak jelas banget authornya arc 1 gini doang
penajalanan_
kurang menarik
penajalanan_
bertele-tele sampah
penajalanan_
campur aduk, ini cerita sejarah apa fantasi sih. Sejak kapan tengu ikut perang, lagian mana ada tengu di desa tengu itu tinggal di gunung
penajalanan_
sotoi, Takenaka Hanbei aja udah meninggal tahun 1579 masa ketemu sama Hanbei saat menuju Yamazaki emangnya bisa hidup lagi?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!