Tiga tahun mendekam di penjara, Annabella tak menyangka kebebasannya justru menjadi awal penderitaan baru.
Lucian Winston, CEO Wins IT yang menyimpan dendam atas penculikan adiknya, membebaskan Annabella demi satu tujuan: menjadikannya istri dan menghukumnya dengan caranya sendiri.
Annabella menolak, hingga Lucian mengancam keselamatan Aditya, pamannya yang sedang koma dan terancam kehilangan perawatan akibat kebangkrutan.
Demi menyelamatkan satu-satunya keluarga yang tersisa, Annabella terpaksa menerima pernikahan tanpa cinta dengan pria yang membencinya.
Namun, sampai kapan Annabella mampu bertahan di tengah dendam Lucian? Dan bagaimana jika di balik kebencian itu, ada rahasia yang mampu mengubah segalanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mom Ilaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sudah Bulat
“Aku tidak sudi perempuan ini menginjakkan kaki di rumah kita! Usir dia, Lucian! Kami tidak mau melihat wajahnya lagi!” bentak Adara dengan amarah yang meluap‑luap.
Lucian melepaskan jasnya, lalu menyerahkannya kepada pelayan yang sudah menunggu.
“Aku akan menikahinya besok.”
Adara terperanjat kaget.
“Apa katamu?” suaranya meninggi.
“Aku akan menikahi Annabella besok.”
“Tidak!”
Adara menggelengkan kepala dengan kuat.
“Kau tidak boleh melakukan itu! Aku tidak akan pernah merestuimu menikahi perempuan setan ini!”
“Pernikahan ini tidak membutuhkan izin kalian.”
“Lucian!”
“Keputusanku sudah bulat.”
Arsen melangkah mendekat dengan wajah memerah karena marah.
“Kau benar‑benar berkhianat terhadap keluarga sendiri! Setelah semua penderitaan yang dia berikan kepada adikmu, kau masih ingin menjadikannya istri?”
Lucian tidak menjawab. Ia justru memberi isyarat agar kedua orang tuanya ikut menjauh, supaya pembicaraan mereka tidak terdengar oleh Annabella.
“Aku belum memaafkannya, Mom. Aku tidak pernah melupakan apa yang dilakukannya kepada Luviana. Aku juga tidak berniat memberinya kehidupan yang bahagia.”
Adara menatapnya dengan tatapan tajam.
“Lalu kenapa kau tetap ingin menikahinya?”
Sebuah senyum miring muncul di bibir Lucian.
“Karena aku ingin menghukumnya sendiri.”
Arsen mengembuskan napas dengan kasar.
“Jangan bermain‑main dengan perempuan itu, Lucian.”
“Aku tahu apa yang kulakukan.”
“Tidak,” sahut Arsen dengan nada tegas.
“Kau tidak tahu betapa berbahayanya membiarkan perempuan itu terlalu dekat denganmu.”
Lucian tertawa pendek, tanpa ada sedikit pun kegembiraan.
“Dia tidak akan mendapatkan apa‑apa dariku. Setelah aku puas menghukum dan mempermainkannya, aku akan membuangnya dari hidupku.”
Adara mendecak kesal.
“Pastikan kau menepati perkataanmu.”
Arsen lalu membisikkan sesuatu tepat di telinga putranya.
“Dan satu hal lagi. Jangan sampai kau punya anak dengannya!”
Ekspresi wajah Lucian tidak berubah sama sekali.
“Tenang saja.”
Ia melirik sekilas ke arah Annabella yang masih berdiri dengan kepala tertunduk.
“Aku sudah menyiapkan kamar tidur terpisah untuknya.”
Adara dan Arsen saling bertukar pandang, lalu berjalan pergi meninggalkan putra mereka. Sebelum benar‑benar hilang, Adara sempat melirik Annabella dengan tatapan penuh kebencian.
“Annabella.”
Suara Lucian membuat Annabella perlahan mengangkat wajah.
“Besok kita menikah di KUA.”
Besok? Secepat itu?
“Siapkan dirimu, Annabella. Kau tidak perlu melakukan banyak hal. Aku hanya ingin semuanya selesai secepat mungkin,” lanjut Lucian.
Jari‑jari Annabella saling meremas erat.
“Baik.”
Lucian kemudian memanggil seorang pelayan yang baru muncul dari lorong samping.
“Ranti.”
Pelayan itu segera menghampirinya.
“Iya, Tuan?”
“Antar dia ke kamarnya.”
“Baik, Tuan.”
Annabella sempat berpikir bahwa Lucian akan membawanya ke kamar tamu, atau kamar yang dulu ia tempati saat masih menyamar sebagai Luviana. Namun pria itu sudah berbalik pergi sebelum ia sempat bertanya.
“Jangan buat masalah,” ucapnya tanpa menoleh ke belakang.
Annabella menunduk.
“Baik.”
Ranti memberi isyarat agar Annabella mengikutinya.
“Lewat sini.”
Mereka berjalan melewati lorong samping, sampai tiba di sebuah bangunan tua yang terletak di bagian belakang halaman. Pintu kayunya sudah usang, sedangkan dinding‑dindingnya tampak kusam dan penuh debu.
Ranti membuka pintu dengan kunci yang ia bawa.
“Kau masuk saja.”
Annabella melangkah masuk, lalu terdiam terpaku. Ruangannya memang luas, tapi benar‑benar kosong. Tidak ada ranjang, tidak ada lemari, dan tidak ada perabotan apa pun. Hanya beberapa alat kebersihan yang tergeletak di sudut ruangan.
Ia menoleh ke arah Ranti dengan bingung.
“Ranti… ini tempat apa?”
“Kandang anjing.”
Annabella seketika membeku di tempat.
“Kandang anjing?”
“Benar.”
“Tapi… ini bukan kamar tidur.”
Ranti mendecak lidah dengan nada meremehkan.
“Memangnya kau masih pantas meminta kamar tidur yang layak, setelah semua yang telah kau lakukan kepada keluarga Tuan Lucian?”
Annabella tidak bisa mengucapkan sepatah kata pun.
“Dengarkan baik‑baik. Mulai malam ini, tempat ini adalah kamarmu. Bersihkan semuanya sendiri. Jangan berharap ada orang yang akan melayanimu di sini,” lanjut Ranti dengan sikap angkuh.
“Tapi…”
Ranti mendorong bahunya hingga Annabella terhuyung ke dalam ruangan.
“Jangan bersikap manja! Kau pikir kau masih nona muda seperti dulu? Sekarang kau hanyalah mantan narapidana yang dibawa pulang bukan karena belas kasihan Tuan Lucian.”
Annabella hampir kehilangan keseimbangan tubuhnya. Saat ia berbalik, Ranti sudah berdiri di ambang pintu.
“Bersihkan semuanya sebelum tidur. Aku tidak mau melihat tempat ini masih kotor besok pagi.”
BRAK!
Pintu tertutup dengan bunyi keras, meninggalkan Annabella sendirian di dalam sana.
Ia menggigit bibir bawahnya. Ada keinginan untuk kembali ke rumah utama dan menuntut penjelasan kepada Lucian. Namun bayangan Paman Aditya yang terbaring tak berdaya di rumah sakit, membuatnya membatalkan niat itu.
Ia tidak boleh membuat pria itu marah.
Annabella mengambil sapu tua yang ada di sudut ruangan, lalu mulai menyapu lantai. Debu beterbangan ke mana‑mana, membuatnya terus‑terusan terbatuk, tapi ia tetap terus bekerja.
Air matanya mulai menetes saat ia sedang menyapu sudut ruangan. Ia berusaha menahannya, tapi semakin ia tahan, semakin deras tangisnya keluar.
Bukan bangunan kandang itu yang membuatnya begitu terluka, melainkan sikap Lucian.
Pria yang dahulu begitu menyayanginya. Pria yang selalu memastikan ia makan tepat waktu dan melindunginya dari segala ketakutan, ketika ia masih menyamar sebagai Luviana.
Dulu, Lucian membuatnya merasa memiliki seorang kakak yang bisa diandalkan.
Kini, pria itu memperlakukannya seolah‑olah ia bahkan tidak pantas mendapatkan sebuah tempat tidur.
Annabella berhenti menyapu, lalu menatap kedua tangannya yang memerah karena terlalu erat menggenggam sapu.
“Kenapa?”
Tetes air mata jatuh ke lantai yang baru saja ia bersihkan.
“Kenapa kau berubah sejauh ini?”
Ingatannya kembali melayang ke senyum dan tatapan hangat Lucian di masa lalu. Semua kenangan itu sekarang terasa sangat menyakitkan.
Mungkin bagi Lucian, perempuan yang pernah ia sayangi tidak pernah benar‑benar ada. Mungkin, semua kasih sayang selama lima tahun itu kini ia anggap sebagai kebohongan yang menjijikkan.
Annabella mengusap matanya, lalu kembali melanjutkan pekerjaannya menyapu. Ia memang sudah bebas dari penjara besi, tapi kebebasan itu justru membawanya ke penjara yang jauh lebih kejam. Bahkan kamar sel masih layak dibandingkan bangunan kandang ini.
__
ketika mantan napi menjadi istri CEO Hero Lucian Heroin Annabella.
dtggu kelanjutan ny mom ,,
dn apa bnr Erwin tu kk ny anabella???