NovelToon NovelToon
ISTRI RAHASIA SANG MAFIA

ISTRI RAHASIA SANG MAFIA

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / CEO / Nikah Kontrak
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Jefika Isabell

“Dia menikahiku untuk menyelamatkan kerajaannya. Aku menikahinya untuk menyelamatkan keluargaku. Namun, tak satu pun dari kami menyadari bahwa cinta akan menjadi pengkhianatan paling berbahaya.”

• Dante Alessandro Vieri (32 tahun): Bos mafia Italia yang tampan, gagah, bermata biru safir, dingin, penuh perhitungan, dan tidak pernah memaafkan pengkhianatan. Di balik kekuasaannya, ia menyimpan luka lama yang membuatnya tidak percaya pada cinta.

• Bianca Elena Laurent (24 tahun): Gadis cantik keturunan Spanyol dan Timur Tengah, bermata cokelat keemasan, berambut hitam panjang, cerdas, berani, serta memiliki harga diri yang tidak mudah dihancurkan. Ia tidak pernah membayangkan akan menjadi istri rahasia seorang mafia.

• Luciano Vieri: Adik tiri Dante yang menginginkan takhta keluarga.

• Isabella Moretti: Perempuan dari masa lalu Dante yang menyimpan rahasia tentang kematian ibunya.

• Adrian Laurent: Kakak Bianca yang menghilang setelah membawa sebuah dokumen berbahaya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jefika Isabell, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 3 — HARGA SEBUAH PERNIKAHAN

Roma, Italia — Pukul 08.15 pagi

Bianca Laurent tidak tidur semalaman.

Setiap kali memejamkan mata, ia kembali melihat sepasang mata biru safir milik Dante Alessandro Vieri. Tatapan dingin itu seolah menembus pikirannya, mengingatkannya bahwa ia baru saja menyetujui sebuah pernikahan dengan pria yang mungkin lebih berbahaya daripada semua cerita buruk yang pernah didengarnya.

Pernikahan yang bahkan tidak didasari cinta.

Bianca berdiri di depan jendela kamar hotel, memandangi matahari yang perlahan menyinari atap-atap bangunan Roma. Kota itu tampak begitu indah pada pagi hari, seakan tidak pernah menyimpan rahasia gelap di balik bangunan-bangunan megahnya.

Ponselnya tergeletak di atas meja.

Tidak ada kabar dari Adrian.

Tidak ada panggilan dari ayahnya.

Hanya satu pesan singkat dari nomor tak dikenal yang terus menghantui pikirannya.

Jangan menikahi Dante Vieri.

Bianca meremas ponselnya.

“Siapa sebenarnya dirimu, Dante?” bisiknya.

Ketukan di pintu membuatnya menoleh.

“Signorina Laurent?” Suara perempuan terdengar dari luar. “Saya Sofia. Tuan Vieri meminta Anda sarapan bersamanya.”

Bianca menghela napas.

Tentu saja pria itu tidak akan membiarkannya menikmati pagi dengan tenang.

“Beri tahu Tuan Vieri bahwa saya tidak lapar.”

Hening sejenak.

Kemudian Sofia menjawab dengan sopan, “Beliau mengatakan Anda boleh tidak sarapan, tetapi Anda tetap harus menghadiri pertemuan pukul sembilan.”

Bianca memejamkan mata.

“Pria menyebalkan.”

“Saya tidak akan membantah Anda, Signorina.”

Bianca hampir tersenyum mendengar jawaban jujur itu.

Lima belas menit kemudian, ia mengenakan blus putih dan celana panjang hitam, lalu keluar dari kamar dengan rambut hitamnya yang dibiarkan tergerai. Ia tidak berniat berdandan demi seorang pria yang telah mengatur hidupnya tanpa meminta izin.

Namun, ketika memasuki ruang makan pribadi, ia mendapati Dante sudah duduk di ujung meja panjang.

Pria itu mengenakan kemeja hitam dengan dua kancing teratas terbuka. Rambutnya sedikit berantakan, tetapi justru membuatnya terlihat semakin menawan.

Dante mengangkat pandangan.

“Kau terlambat tujuh menit.”

“Dan Anda terlalu sibuk menghitung waktu saya.”

“Ketepatan waktu adalah kebiasaan yang menyelamatkan nyawa.”

“Kalau begitu, semoga kebiasaan Anda juga bisa menyelamatkan kesabaran saya.”

Seorang pelayan menunduk, berusaha menyembunyikan senyumnya.

Dante hanya menunjuk kursi di hadapannya.

“Duduklah, Bianca.”

Ia duduk dengan enggan.

Di atas meja telah tersedia roti hangat, buah-buahan, telur, kopi, dan berbagai hidangan yang tampak lebih cocok untuk jamuan keluarga bangsawan daripada sarapan biasa.

Dante menuangkan kopi ke cangkirnya.

“Bagaimana tidurmu?”

“Buruk.”

“Karena aku?”

“Karena saya baru saja setuju menikahi orang asing yang mengancam keluarga saya.”

Dante meletakkan teko kopi.

“Setidaknya kau masih memiliki selera humor.”

“Itu bukan humor.”

“Aku tahu.”

Untuk beberapa saat, mereka makan dalam diam. Bianca berusaha mengabaikan kehadiran pria itu, tetapi tatapan Dante beberapa kali tertuju kepadanya.

Akhirnya, ia meletakkan garpunya.

“Apa lagi yang harus saya lakukan?”

Dante mengeluarkan sebuah kotak beludru hitam dari saku jas yang tergantung di sandaran kursinya.

“Pernikahan kita akan berlangsung besok malam.”

Bianca nyaris tersedak kopinya.

“Besok?”

“Ya.”

“Anda mengatakan tiga hari!”

“Keadaan berubah.”

“Keadaan berubah atau Anda memang tidak pernah berniat memberi saya waktu?”

Dante membuka kotak itu.

Di dalamnya terletak sebuah cincin berlian dengan batu safir biru di bagian tengah, dikelilingi berlian kecil yang berkilauan terkena cahaya pagi.

Cincin itu sangat indah.

Dan entah mengapa, Bianca justru merasa sesak melihatnya.

“Ini milik keluarga Vieri,” kata Dante. “Cincin ini diwariskan kepada perempuan yang menikah dengan kepala keluarga.”

Bianca menatap batu safir tersebut.

“Apakah semua istri Anda mendapatkan cincin seperti ini?”

“Tidak pernah ada istri sebelumnya.”

Jawaban itu membuat Bianca terdiam sesaat.

Ia tidak tahu mengapa pengakuan sederhana tersebut terasa begitu pribadi.

Dante menggeser kotak itu ke arahnya.

“Cobalah.”

“Saya tidak mau.”

“Bianca.”

“Saya bilang tidak mau.”

Dante bersandar di kursinya.

“Kau boleh membenciku sebanyak yang kau inginkan. Namun, besok malam, kau akan berdiri di sampingku sebagai istriku. Dunia mungkin tidak mengetahui pernikahan itu, tetapi keluarga Vieri akan mengetahuinya.”

Bianca memandangnya dengan tajam.

“Dan setelah itu? Apa yang Anda harapkan dari saya? Menjadi istri yang patuh? Tersenyum setiap kali Anda pulang? Berpura-pura bahagia di depan keluarga Anda?”

“Tidak.”

Dante menjawab terlalu cepat hingga Bianca terdiam.

“Aku mengharapkanmu tetap hidup,” lanjutnya. “Dan tidak melakukan sesuatu yang membahayakan dirimu sendiri.”

“Bagaimana kalau saya ingin pergi?”

“Kalau kau ingin pergi ke suatu tempat, katakan kepada pengawalmu.”

“Bukan itu maksud saya.”

Dante memahami maksudnya, tetapi memilih diam.

Bianca mencondongkan tubuh ke depan.

“Saya tidak ingin menjadi burung di dalam sangkar emas, Dante. Saya tidak peduli seberapa besar rumah Anda atau seberapa mahal pakaian yang Anda berikan. Saya ingin tetap memiliki hidup saya sendiri.”

Tatapan Dante mengeras.

“Kau akan mendapatkan kamar sendiri, akses kepada uangmu sendiri, dan kebebasan untuk melanjutkan pekerjaanmu. Namun, selama ancaman terhadap keluargamu belum selesai, kau tidak boleh pergi tanpa pengamanan.”

“Jadi, Anda tetap akan mengawasi saya.”

“Aku akan memastikan tidak ada yang membunuhmu.”

“Apakah Anda selalu menyebut pengendalian sebagai perlindungan?”

Pertanyaan itu membuat ruangan mendadak sunyi.

Dante menatap Bianca cukup lama sebelum menjawab.

“Tidak. Tetapi aku pernah kehilangan seseorang karena mengira membiarkannya pergi adalah bentuk perlindungan.”

Ada luka yang melintas begitu cepat di wajahnya.

Bianca hampir menanyakannya, tetapi Dante telah menutup kotak cincin dan berdiri.

“Habiskan sarapanmu. Setelah itu, kita akan menemui pengacara keluarga.”

Pukul sepuluh, sebuah mobil hitam membawa mereka menuju sebuah gedung tua di pusat kota Roma.

Di dalam mobil, Dante duduk di samping Bianca, sementara dua pengawal berada di kursi depan.

Bianca memandang jalanan melalui jendela. Ia berusaha mengingat setiap belokan, setiap bangunan, dan setiap persimpangan yang mereka lewati.

Dante menyadarinya.

“Kau sedang menghafal jalan?”

“Ya.”

“Untuk apa?”

“Supaya saya tahu cara pulang.”

Dante menoleh kepadanya.

“Pulang ke mana?”

“Ke tempat yang tidak ada Anda di dalamnya.”

Salah seorang pengawal di depan berdeham pelan.

Dante justru tersenyum tipis.

“Kau akan membuatku menyesali keputusan ini.”

“Bagus. Berarti kita sudah memiliki sesuatu yang sama.”

Mobil berhenti di depan sebuah bangunan berarsitektur klasik. Di lantai dua terdapat kantor hukum milik Lorenzo Bianchi, pengacara yang telah menangani urusan keluarga Vieri selama lebih dari dua puluh tahun.

Mereka memasuki ruangan dengan dinding kayu gelap dan rak-rak penuh dokumen.

Lorenzo, pria berusia enam puluhan dengan rambut perak, menyambut Dante dengan anggukan hormat.

“Tuan Vieri. Nona Laurent.”

“Jelaskan perjanjiannya,” perintah Dante.

Lorenzo membuka dokumen baru dan mulai membacakan ketentuan pernikahan mereka.

Sebagian besar berhubungan dengan aset, kerahasiaan, perlindungan keluarga, dan kepemilikan saham.

Namun, ketika sampai pada sebuah pasal tertentu, Bianca mengangkat tangan.

“Tunggu.”

Lorenzo berhenti.

Bianca menunjuk paragraf di hadapannya.

“Di sini tertulis bahwa setelah pernikahan, sebagian hak pengelolaan perusahaan keluarga saya akan dialihkan kepada Dante.”

“Itu benar,” jawab Lorenzo. “Sebagai bagian dari kesepakatan penyelesaian utang.”

“Tidak. Dante mengatakan perusahaan ayah saya akan tetap memiliki hak atas bisnisnya.”

Bianca berbalik menatap pria di sampingnya.

“Anda mengatakan pernikahan ini akan menyelamatkan perusahaan keluarga saya.”

“Dan memang demikian.”

“Kalau begitu, mengapa Anda mengambil kendalinya?”

Dante tidak segera menjawab.

Lorenzo tampak gelisah.

“Peralihan itu hanya bersifat sementara, Nona Laurent.”

“Berapa lama?”

“Tidak ada batas waktu yang ditentukan.”

Bianca menatap Dante dengan kemarahan yang perlahan berubah menjadi kekecewaan.

“Anda sengaja menyembunyikan ini.”

“Aku belum selesai menjelaskan.”

“Tidak perlu. Saya sudah cukup mendengar.”

Bianca bangkit dari kursinya.

Dante ikut berdiri.

“Duduklah.”

“Jangan memberi saya perintah!”

Kali ini suaranya bergetar, tetapi ia tidak peduli.

“Jika saya menikahi Anda, saya tidak akan menyerahkan seluruh hak keluarga saya begitu saja. Saya ingin klausul ini diubah. Kendali perusahaan tetap berada di tangan keluarga Laurent, dan Anda tidak boleh menjual atau mengalihkan sahamnya tanpa persetujuan tertulis dari saya dan ayah saya.”

Lorenzo menatap Dante, menunggu keputusan.

Dante memandang Bianca.

Ada sesuatu yang hampir menyerupai kekaguman di balik mata birunya.

“Kau tahu apa yang sedang kau lakukan?”

“Saya sedang memastikan Anda tidak mengambil keuntungan dari keadaan keluarga saya.”

“Dan kalau aku menolak?”

Bianca menarik napas panjang.

“Kalau begitu, tidak akan ada pernikahan.”

Hening.

Dua pengawal di dekat pintu saling bertukar pandang.

Tidak ada seorang pun yang berbicara seperti itu kepada Dante Vieri.

Namun, pria itu tidak berteriak. Ia tidak memukul meja. Ia bahkan tidak mengancam Bianca.

Ia hanya memandangnya, lalu menoleh kepada pengacaranya.

“Ubah klausul tersebut.”

Lorenzo berkedip.

“Maaf, Tuan?”

“Kau mendengarku. Hak pengelolaan perusahaan Laurent tetap berada pada keluarga Laurent. Tambahkan klausul yang melarang pengalihan saham tanpa persetujuan Bianca.”

Bianca tidak menyangka Dante akan menyetujuinya.

“Kenapa?” tanyanya pelan.

Dante menatapnya.

“Karena aku tidak membutuhkan seorang istri yang merasa dirinya telah dijual kepadaku.”

Kalimat itu membuat Bianca kehilangan jawaban.

Untuk pertama kalinya, ia melihat sesuatu yang berbeda pada pria tersebut. Dante memang berbahaya, tetapi ia tidak sepenuhnya seperti monster yang dibayangkannya.

Sayangnya, perubahan itu tidak cukup untuk menghapus rasa curiganya.

Ketika mereka hendak menandatangani dokumen tambahan, Lorenzo mengeluarkan sebuah amplop cokelat dari laci.

“Ada satu hal lagi yang perlu Anda ketahui, Tuan Vieri.”

Dante menatap amplop itu.

“Apa?”

“Dokumen ini ditemukan pagi tadi di kantor lama ayah Nona Laurent.”

Lorenzo menyerahkannya kepada Bianca.

Dengan jari gemetar, Bianca membuka amplop tersebut.

Di dalamnya terdapat selembar surat yang ditulis tangan oleh ayahnya.

Bianca, jika suatu hari kau membaca surat ini, berarti aku gagal melindungimu dari masa lalu keluarga kita.

Air mata menggenang di mata Bianca.

Ia melanjutkan membaca.

Jangan pernah mempercayai nama Vieri sepenuhnya. Ada darah keluarga kita yang mengalir di dalam kerajaan mereka. Pernikahanmu dengan Dante mungkin menjadi satu-satunya jalan untuk menemukan kebenaran, tetapi juga bisa menjadi awal kehancuranmu.

Bianca menurunkan surat itu.

Wajahnya pucat.

Dante mengambil surat tersebut dan membaca bagian terakhirnya.

Rahangnya mengeras.

“Apa maksudnya?” tanya Bianca. “Darah keluarga kami? Apa yang sebenarnya terjadi antara ayah kita?”

Dante menatap surat itu seakan-akan tulisan tersebut baru saja membangkitkan hantu dari masa lalunya.

“Aku tidak tahu.”

Namun, dari caranya menggenggam kertas itu, Bianca tahu pria tersebut sedang menyembunyikan sesuatu.

Sesuatu yang jauh lebih besar daripada utang, perusahaan, atau pernikahan rahasia mereka.

Ponsel Dante berdering.

Ia mengangkatnya.

“Bicara.”

Suara seorang pria terdengar dari seberang, cukup keras hingga Bianca menangkap beberapa kata.

“Tuan, kami menemukan keberadaan Adrian.”

Dante langsung menegakkan tubuh.

“Di mana?”

“Di sebuah gudang tua di pinggiran kota. Tetapi ada masalah.”

“Apa?”

Pria di seberang terdiam sesaat.

“Kami menemukan darah di dalam bangunan itu. Dan ada pesan yang ditinggalkan khusus untuk Anda.”

Dante menggenggam ponselnya erat.

“Bacakan.”

Suara di seberang terdengar semakin pelan.

“Biarkan Bianca menikah denganmu, Dante. Namun, sebelum matahari terbit pada hari pernikahan kalian, salah satu dari kalian akan mati.”

Panggilan terputus.

Bianca menatap Dante dengan jantung berdebar kencang.

Untuk pertama kalinya sejak mereka bertemu, pria itu tidak berusaha menyembunyikan kemarahannya.

Ia memandang Bianca, lalu berkata dengan suara rendah yang membuat seluruh ruangan terasa membeku.

“Pernikahan ini bukan lagi sekadar kesepakatan.”

Dante memasukkan ponselnya ke saku.

“Sekarang, ini adalah perang.”

Bersambung ke Bab 4 — Pengantin di Tengah Malam.

1
nnda
ceritanya dipercepat kah kak? kok tiba² udah punya anak si Bianca sama Dante
Isabell: iya kak mohon maaf update hari ini agak amburadul 😖 ada bab yang hilang, nanti aku ubah dulu kak 🙏
total 1 replies
Frida
💪
Yiruma Nitya
Bagus loh kak sumpah, semangat terus, jangan lupa mampirin aku jg ya
Yiruma Nitya
Jadi penasaran
Zendyaa4
aku baca baca ini kak,tapi pelan pelan. semangat kakk💪
jangan lupa mampirr🤭
niaww
semngat trus kak isabelll
Isabell: terima kasih kak 😍semangat juga untuk mu kak 🥰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!