NovelToon NovelToon
Dokter Yang Mengatur Takdir

Dokter Yang Mengatur Takdir

Status: sedang berlangsung
Genre:Crazy Rich/Konglomerat / CEO / Mafia
Popularitas:325
Nilai: 5
Nama Author: Nvlin888

Alya adalah perawat muda paling berdedikasi di rumah sakit terbesar di negeri ini, RS Prawira Husada. Namun diam-diam pemilik sekaligus dokter Rumah Sakit tersebut, dr. Raze, telah mengawasi setiap langkahnya selama dua tahun terakhir. Promosi yang ia dapatkan secara tiba-tiba, apartemen "murah" yang kebetulan aman, bahkan tunangannya sendiri, semua sudah diatur, disingkirkan, atau dipertahankan sesuai kehendak Raze. Saat pertunangan Alya diumumkan, topeng dr. Raze runtuh. Dalam semalam, Alya "hilang" dari hidupnya sendiri. Dikurung di rumah yang megah, dipaksa menikah, dan dipaksa mengerti bahwa cinta pria ini tak pernah tahu batas.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nvlin888, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kekosongan yang Diisi Tanpa Izin

Bayu berangkat hari Kamis pagi, dan Alya menyempatkan diri mengantarnya sampai ke stasiun sebelum shiftnya dimulai. Kereta yang akan membawanya ke kota pusat sudah menunggu di peron tiga. Mereka berdiri berdekatan di antara kerumunan penumpang lain yang sibuk dengan urusan masing-masing, seolah dunia di sekitar mereka sengaja memberi ruang untuk perpisahan kecil itu.

"Dua minggu, paling lama sebulan," Bayu berkata, memeluk Alya erat, wajahnya terbenam di rambutnya, menghirup dalam-dalam seolah ingin menyimpan aromanya untuk dibawa sepanjang perjalanan. "Kalau kelamaan, aku bakal minta cuti paksa, terserah apa kata bos."

"Jangan sampai dipecat gara-gara aku, Sayang," Alya tertawa kecil, meski suaranya sendiri terdengar lebih rapuh dari yang dia inginkan. "Aku bisa nunggu. Fokus aja beresin masalahnya."

"Aku tahu kamu bisa nunggu," Bayu menjawab, melepaskan pelukan itu sedikit untuk menatap wajah Alya, tangannya mengusap pipinya lembut. "Tapi aku nggak suka ninggalin kamu pas keadaan lagi aneh kayak gini. Aku tahu ada yang kamu sembunyiin dariku, Sayang. Aku nggak maksa kamu cerita sekarang. Tapi kalau ada apa-apa, kabarin aku duluan, sebelum siapa pun."

Kalimat itu menusuk lebih dalam daripada yang seharusnya. Alya hanya bisa mengangguk, memeluknya lebih erat, menyembunyikan wajahnya di dada Bayu supaya dia tidak perlu menjawab dengan kata-kata yang mungkin akan terdengar seperti kebohongan.

"Aku sayang kamu," bisiknya, dan itu adalah kalimat paling jujur yang bisa dia ucapkan pagi itu.

"Aku juga, Sayang. Selalu," Bayu mengecup keningnya lama, lalu keningnya sendiri, lalu bibirnya sekali. Singkat, hangat, sebelum akhirnya melangkah mundur ketika pengumuman keberangkatan kereta terdengar dari pengeras suara. "Jaga diri baik-baik, ya."

Alya berdiri di peron sampai kereta itu benar-benar menghilang dari pandangan. Tangannya masih melambai meski dia tahu Bayu sudah tidak bisa melihatnya lagi. Ketika akhirnya dia berbalik untuk pergi, dia merasakan kekosongan yang jauh lebih besar daripada yang biasa dia rasakan setiap kali Bayu pergi bekerja ke kota lain.

Di ruang ganti, Tia langsung menyadari sesuatu yang berbeda begitu Alya masuk, wajahnya lebih pucat dari biasanya. Gerakannya lebih lambat saat mengganti sepatu. "Bayu udah berangkat?" tanyanya, meski sudah tahu jawabannya dari raut wajah Alya sendiri.

"Udah," Alya menjawab pendek, duduk di bangku kayu sambil menatap lokernya sendiri tanpa benar-benar melihatnya.

"Sebulan itu lama juga, ya," Tia berkata lagi, mencoba berempati meski nadanya tetap ringan seperti biasa. "Tapi kan ada kita di sini. Nanti kalau kangen banget, kabarin aja, kita nemenin."

Wulan, yang baru masuk dari arah lain, mendengar percakapan itu dan menambahkan tanpa menoleh, "Atau kerja aja yang bener. Biar waktunya kepake, dan nggak sempet mikir yang lain-lain." Kalimatnya terdengar dingin seperti biasa. Tapi Alya sudah cukup lama mengenalnya untuk tahu itu adalah caranya sendiri menunjukkan perhatian.

"Makasih, Lan," Alya tersenyum tipis, meski di dalam hatinya, dia sendiri tidak yakin pekerjaan akan cukup untuk mengalihkan pikirannya dari kekosongan yang baru saja ditinggalkan Bayu di dadanya.

Kekosongan itu, ternyata, tidak dibiarkan bertahan lama.

Sore itu, ponselnya bergetar dengan pesan dari nomor tidak dikenal, hanya berisi alamat dan waktu, tanpa nama pengirim. Alya hampir mengabaikannya sebagai spam sebelum menyadari alamat itu adalah kompleks perumahan elite di pinggir kota. Di bawahnya tertera satu baris tambahan. Bawa peralatan pemeriksaan tekanan darah portable. Ada pasien VIP yang perlu dikunjungi malam ini. — R.

Dia tidak perlu bertanya siapa "R" itu.

Rumah itu lebih besar dari yang pernah Alya bayangkan untuk ukuran kunjungan medis biasa. Gerbangnya dijaga dua orang berseragam yang memeriksa identitasnya dengan teliti sebelum mempersilakannya masuk. Begitu pintu utama terbuka, dr. Raze sudah berdiri di sana, bukan mengenakan jas putihnya yang biasa, melainkan kemeja gelap yang lebih santai. Lengan digulung sampai siku, membuatnya terlihat begitu berbeda dari sosok yang selama ini Alya kenal di lorong rumah sakit.

"Pasiennya di mana?" Alya bertanya, langsung ke inti, berusaha menjaga profesionalitas meski jantungnya sudah mulai berdegup lebih cepat hanya dengan melihatnya berdiri di ambang pintu seperti itu.

"Tidak ada pasien," katanya, tenang, membuka pintu lebih lebar sebagai isyarat untuk masuk.

"Apa maksudnya nggak ada pasien? Kamu bilang ada yang perlu—"

"Aku bilang ada yang perlu dikunjungi malam ini," katanya, memotong dengan senyum tipis yang jarang sekali muncul di wajahnya. "Aku tidak pernah bilang pasien."

Alya berdiri diam di ambang pintu, antara ingin marah dan entah kenapa, tidak sepenuhnya bisa memaksa dirinya untuk benar-benar marah. "Ini nggak lucu, Raze. Aku pikir ada kondisi darurat."

"Satu-satunya kondisi darurat adalah aku. Yang sudah tiga hari tidak bisa berpikir jernih karena tahu pria itu sudah pergi dan kamu sendirian di kos itu," katanya. Suaranya turun jadi nada yang begitu Alya kenali sekarang. Versi tanpa topeng, versi yang hanya keluar ketika mereka benar-benar sendirian. "Masuklah. Aku sudah menyiapkan makan malam. Kamu belum makan sejak siang, aku tahu itu."

Ruang makan itu diterangi lilin. Meja panjang yang seharusnya cukup untuk sepuluh orang hanya diisi dua set peralatan makan di salah satu ujungnya, berhadapan cukup dekat hingga lutut mereka bisa saling bersentuhan di bawah meja. Alya duduk kaku di kursinya, mencoba mencerna situasi yang sama sekali tidak dia duga akan terjadi malam itu.

"Kamu nggak perlu setegang ini," Raze berkata, menuangkan air ke gelasnya sendiri lebih dulu sebelum menuangkan ke gelas Alya. Gestur kecil yang entah kenapa terasa lebih personal daripada seharusnya. "Aku cuma ingin makan malam biasa. Dua orang. Tanpa gelar, tanpa jarak."

"Ini bukan 'biasa', Raze," Alya berkata, meski dia mulai menyuap makanannya sendiri. Rasa lapar yang sejak siang dia abaikan akhirnya menang atas kewaspadaannya. "Kamu manggil aku ke rumahmu, bohong soal pasien, terus masak makan malam sendiri?"

"Aku tidak masak," katanya, dengan nada yang begitu jujur hingga terdengar hampir lucu. "Aku menyuruh koki pribadiku memasak, lalu menyuruhnya pulang sebelum kamu datang. Aku tidak sebaik itu untuk berpura-pura bisa memasak."

Alya tertawa kecil, tanpa sengaja, dan begitu suara tawa itu keluar, sesuatu di wajah Raze melunak. Seolah mendengarnya tertawa adalah pencapaian yang lebih berharga daripada apa pun yang bisa dia beli dengan sepuluh perusahaannya.

"Kenapa rumah sebesar ini cuma dihuni satu orang?" Alya bertanya, memandangi ruang makan yang jauh lebih luas dari yang dibutuhkan siapa pun yang tinggal sendirian.

"Karena aku membangunnya dengan asumsi suatu hari akan ada alasan untuk mengisinya," Raze menjawab, matanya menatap lurus ke arahnya tanpa berkedip. "Aku cuma belum pernah seyakin ini sebelumnya, soal siapa alasannya."

Alya memilih untuk tidak menanggapi kalimat itu secara langsung. Meski pipinya sudah memerah, dan dia menyembunyikan senyumnya di balik gelas air yang baru saja dia angkat ke bibirnya.

"Kamu jarang ketawa di depanku," katanya, pelan. "Aku suka suaranya."

"Kamu jarang ngasih alasan buat ketawa," Alya membalas. Untuk pertama kalinya malam itu, dia membiarkan dirinya benar-benar rileks. Membiarkan bahunya turun dari ketegangan yang sejak tadi dia pertahankan.

"Coba cerita," Raze berkata, menyandarkan dagunya di atas tangan yang bertumpu pada meja, matanya tidak lepas dari wajah Alya. "Sesuatu tentang dirimu yang belum pernah kamu ceritakan ke siapa pun di rumah sakit."

"Kenapa harus?"

"Karena aku ingin tahu bagian dirimu yang bukan Suster Nireva," katanya. Sederhana, seolah itu alasan paling wajar di dunia.

Alya berpikir sejenak, memutar-mutar gelasnya sendiri. "Waktu kecil, aku pengen jadi guru, bukan perawat. Tapi kakakku bilang gaji guru kecil, jadi aku disuruh masuk keperawatan. Sampai sekarang, kadang aku masih kepikiran, gimana ya jadinya kalau aku ambil jalan itu."

"Kamu masih bisa mengajar," Raze berkata, tanpa jeda, seolah sudah memikirkan jawabannya sebelum pertanyaan itu selesai diucapkan. "Rumah sakit ini punya program pelatihan perawat baru. Aku bisa menempatkanmu jadi pengajar di sana, kalau kamu mau."

"Aku nggak minta itu, Raze," Alya berkata, setengah tertawa, setengah heran betapa cepatnya dia menawarkan solusi untuk sesuatu yang bahkan belum sempat dia anggap sebagai masalah.

"Aku tahu kamu nggak minta," katanya, menatapnya lurus. "Aku menawarkan, karena aku bisa, dan karena aku ingin melihatmu bahagia, bahkan untuk hal-hal yang belum sempat kamu minta."

Kalimat itu terdengar begitu sederhana. Tapi entah kenapa membuat dada Alya sesak oleh sesuatu yang sulit dia beri nama. Sebagian karena tersentuh, sebagian karena ngeri betapa mudahnya pria ini menyusupkan dirinya ke setiap celah kecil dalam hidupnya. Bahkan ke dalam mimpi yang sudah lama dia kubur sendiri.

Setelah makan malam, Raze mengajaknya duduk di teras belakang yang menghadap kolam kecil dengan lampu-lampu taman yang berkelip lembut di sekelilingnya. Udara malam yang sejuk membuat Alya tanpa sadar merapatkan cardigan tipisnya. Raze, memperhatikan gerakan kecil itu, melepas jaketnya sendiri dan menyampirkannya ke bahu Alya tanpa bertanya terlebih dahulu.

"Aku bisa ambil punyaku sendiri," Alya berkata. Meski dia tidak menolak, membiarkan kehangatan jaket itu dan aroma kayu cendana yang menempel di kainnya menyelimuti tubuhnya.

"Aku tahu kamu bisa," katanya, duduk di kursi sebelahnya, cukup dekat hingga lengan mereka bersentuhan. "Tapi aku ingin melakukannya. Biarkan aku, sesekali, tanpa kamu mempertanyakan alasannya."

Mereka duduk diam beberapa menit. Hanya suara jangkrik dan gemericik air kolam yang mengisi keheningan, sampai akhirnya tangan Raze bergerak, menemukan tangan Alya di antara mereka. Menautkan jemarinya perlahan seolah menguji apakah dia akan ditarik menjauh.

Alya tidak menariknya.

"Aku suka ini," Alya berbisik, matanya menatap ke arah kolam, jujur tanpa sempat menyaring kalimatnya sendiri. "Duduk kayak gini. Tenang. Nggak ada yang perlu dijelasin."

"Aku bisa memberimu ini setiap malam, kalau kamu mau," Raze berkata, jarinya mengelus punggung tangan Alya dengan gerakan yang lambat, hampir seperti hafalan. "Kamu cuma perlu bilang ya, sekali saja."

"Ini nggak sesederhana itu, Raze," Alya menjawab, meski suaranya sendiri kehilangan sebagian besar keyakinannya.

"Aku tahu," katanya, dan untuk pertama kalinya, ada sesuatu yang mendekati kesedihan di suaranya, cepat muncul, cepat pula dia sembunyikan kembali. "Kamu tahu," Raze berkata, suaranya nyaris berbisik, matanya menatap ke arah kolam alih-alih ke arah Alya, seolah lebih mudah mengucapkan kejujuran ketika tidak harus melihat langsung reaksinya. "Aku sudah membayangkan momen seperti ini lebih lama daripada yang pantas kuakui. Kamu, duduk di sini, di rumahku, tanpa perlu berpura-pura kita cuma atasan dan bawahan."

"Raze—"

"Aku tahu kamu akan pulang ke tunanganmu," potongnya, tidak dengan nada marah, melainkan dengan kepastian dingin yang justru lebih menakutkan. "Aku tahu kamu akan menikah dengannya, kalau semuanya berjalan sesuai rencananya. Tapi aku ingin kamu tahu, sejujur-jujurnya aku tidak berencana membiarkan itu terjadi tanpa perlawanan."

Alya menoleh cepat, jantungnya berdegup keras mendengar kalimat itu. Tapi sebelum dia sempat bertanya lebih jauh, tangan Raze yang bebas terangkat, ibu jarinya mengusap pelan garis rahangnya, dan dia mencondongkan tubuhnya. Kali ini tanpa jeda, tanpa peringatan, bibirnya menyentuh bibir Alya dengan lembut. Seperti pertanyaan yang menunggu jawaban, bukan tuntutan yang memaksa jawaban itu keluar.

Alya membeku sesaat, pikirannya berperang antara semua alasan untuk mundur dan satu bagian dari dirinya yang, entah sejak kapan, sudah lama menunggu momen ini tanpa dia sadari sendiri. Ketika akhirnya dia tidak mendorongnya menjauh, ciuman itu berubah lebih dalam, tangan Raze bergerak dari rahangnya ke tengkuknya. Menariknya lebih dekat dengan kelembutan yang, entah bagaimana, terasa jauh lebih posesif daripada kekerasan mana pun.

Ketika akhirnya mereka berpisah untuk mengambil nafas, dahi mereka masih bersentuhan. Alya bisa merasakan detak jantung Raze yang, untuk pertama kalinya, terdengar sama sekali tidak terkendali seperti biasanya.

"Aku seharusnya nggak biarin ini terjadi," Alya berbisik, matanya masih terpejam, suaranya lebih untuk dirinya sendiri daripada untuk Raze.

"Tapi kamu membiarkannya," katanya, bukan sebagai kemenangan, melainkan sebagai fakta yang dia ucapkan dengan hati-hati, seolah takut fakta itu akan pecah kalau dipegang terlalu keras. "Dan aku tidak akan minta maaf untuk itu, Alya. Tidak malam ini, tidak kapan pun."

Raze mengantarnya pulang malam itu. Sepanjang perjalanan, Alya duduk diam menatap ke luar jendela. Jaket Raze masih membalut bahunya, bibirnya masih terasa hangat, pikirannya berkecamuk antara rasa bersalah yang seharusnya lebih besar dari yang sebenarnya dia rasakan. Dan sesuatu yang jauh lebih berbahaya. Perasaan yang mulai terasa seperti rumah, di tempat yang seharusnya paling dia hindari.

Dia memikirkan Bayu, entah sedang apa dia sekarang di kereta yang membawanya semakin jauh, memikirkan janji-janji yang sudah mereka buat, memikirkan cincin sederhana yang masih melingkar di jari manisnya. Untuk pertama kalinya, dia membiarkan dirinya bertanya, sepelan mungkin. Seolah takut pertanyaan itu punya kekuatan untuk menjadi nyata hanya karena dipikirkan. Apakah dia masih pantas disebut setia, kalau hatinya sendiri sudah mulai meragukan jawabannya.

Di depan kosnya, sebelum turun, Raze menahan tangannya sebentar. "Simpan jaketnya," katanya. "Aku ingin ada sesuatu milikku yang tinggal di kamarmu malam ini."

Alya tidak membantah.

Di lantai dua puluh dua, buku bersampul kulit hitam itu terbuka untuk terakhir kalinya minggu itu. Tulisan di dalamnya, untuk pertama kalinya, tidak lagi berupa pengamatan atau perhitungan, melainkan sesuatu yang jauh lebih dekat dengan pengakuan.

Aku menciumnya malam ini. Dia tidak mendorongku menjauh.

Aku sudah menunggu bertahun-tahun untuk momen sesederhana itu. Dan sekarang setelah terjadi, aku sadar menunggu tidak pernah cukup mempersiapkanku untuk rasanya yang sesungguhnya. Ada perbedaan besar antara membayangkan sesuatu dan merasakannya sungguhan. Yang kedua jauh lebih sulit dilepaskan.

Aku memberinya jaketku. Hal sekecil itu, dan aku merasa lebih memiliki dirinya daripada seluruh dokumen kepemilikan yang pernah kutandatangani seumur hidupku.

Pria itu punya waktu dua minggu, mungkin sebulan. Aku hanya butuh separuh dari itu.

•┈┈┈•┈┈┈•┈┈┈ℒᵒᵛᵉ ᵧₒᵤ .•ᰔᩚ•┈┈┈•┈┈┈•┈┈

Ada ciuman yang diberikan untuk merebut, dan ada ciuman yang diberikan untuk bertanya. Yang paling berbahaya adalah saat keduanya terasa sama persis di bibir orang yang menerimanya, hingga dia sendiri lupa cara membedakan mana yang seharusnya ia tolak.

1
falea sezi
mending putus ma bayu klo lu uda gk ada rasa jangan php trs jangan Terima raze dlu soalnya kayak gk beres ini si rezek🤣
Nvlin888: tenangkan dirimu kaa 🤣🤣
total 1 replies
falea sezi
alya uda kayak lacur gampangan🤣🤣🤣 sebel liat cwek gatel gini serakah
falea sezi
serakah amat ini cwek😒
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!